Tag Archives: Indonesian Cinema

Review: Dejavu: Ajian Puter Giling (2015)

dejavu-posterSetelah Mirror (2005) dan The Real Pocong (2009), sutradara Hanny R. Saputra kembali ke ranah horor lewat Dejavu: Ajian Puter Giling. Dengan naskah cerita yang digarap oleh Baskoro Adi (Kampung Zombie, 2015), Dejavu: Ajian Puter Giling berkisah mengenai Mirna (Ririn Ekawati) yang bekerja sebagai seorang perawat pribadi bagi Sofia (Ririn Dwi Aryanti) yang menderita trauma akibat kecelakaan yang baru saja ia alami. Mirna tidak sendirian. Suami Sofia, Yudo (Dimas Seto), juga setia berada di rumah tua tersebut untuk menjaga sang istri. Semenjak pertama kali menginjakkan kakinya, Mirna selalu merasa bahwa dirinya dihantui akan berbagai kenangan masa lalu dari rumah itu. Keberadaan Mirna juga sering dibayangi oleh berbagai hal misterius, mulai dari sosok tak dikenal yang berada di kamarnya hingga suara-suara halus yang terus mengikutinya. Walau merasa takut, Mirna mulai mengumpulkan keberaniannya guna mengungkap misteri apa yang sebenarnya terjadi di rumah tua tersebut.

Naskah cerita Dejavu: Ajian Puter Giling yang digarap oleh Baskoro Adi harus diakui memiliki konsep yang cukup menarik dalam penceritaannya. Dengan memanfaatkan fenomena déjà vu – sebuah perasaan ketika seseorang merasa pernah mengalami atau menyaksikan suatu kejadian atau pernah berada di suatu tempat sebelumnya, naskah cerita Dejavu: Ajian Puter Giling berusaha untuk menyatukan dua buah kisah dalam dua linimasa yang berbeda untuk kemudian membalutnya dalam elemen horor tradisional khas Indonesia. Jelas sebuah sentuhan yang cukup menyegarkan jika dibandingkan dengan jalan cerita yang disajikan oleh kebanyakan film-film horor Indonesia belakangan. Sayang, konsep tersebut kemudian gagal mendapatkan pembangunan cerita yang kokoh. Baskoro Adi terkesan kebingungan untuk menghadirkan misteri demi misteri yang ada dalam jalan ceritanya sehingga Dejavu: Ajian Puter Giling akhirnya terasa membingungkan untuk diikuti pengisahannya, khususnya di paruh pertama dan kedua penceritaannya.

Tidak hanya dari segi penceritaan. Ketiga karakter utama yang dihadirkan dalam film ini juga terasa gagal untuk disajikan dengan lebih kuat. Deretan konflik yang terjadi diantara ketiga karakter tersebut seringkali terasa hambar akibat konflik demi konflik yang tersaji secara cukup dangkal. Hanny R. Saputra sendiri menyajikan Dejavu: Ajian Puter Giling dengan tempo penceritaan yang sederhana. Dua paruh awal penceritaan yang memang diniatkan untuk mengenalkan konsep déjà vu sekaligus mengenal konflik awal serta karakter-karakter yang hadir dalam film ini disajikan dengan tempo penceritaan yang cukup lamban sebelum akhirnya film hadir dengan penceritaan yang lebih lugas di paruh ketiganya. Cukup membutuhkan kesabaran ekstra tinggi untuk menikmatinya, khususnya ketika departemen penataan musik Dejavu: Ajian Puter Giling memutuskan untuk menyajikan kejutan-kejutan dalam penceritaan dengan cara meningkatkan volume musiknya secara berulang kali.

Dengan karakter yang memiliki latar penceritaan cukup terbatas, ketiga pemeran utama Dejavu: Ajian Puter Giling cukup mampu menampilkan penampilan akting terbaik dalam menghidupkan setiap karakter yang mereka perankan. Ririn Ekawati jelas menjadi perhatian utama dalam film ini ketika dirinya berhasil menyajikan sosok karakter yang begitu kebingungan tentang berbagai misteri yang ada di sekitarnya sekaligus membuat penonton terus menetapkan perhatian mereka pada karakter tersebut. Dimas Seto dan Ririn Dwi Aryanti juga tampil meyakinkan dalam peran mereka yang benar-benar terbatas. Seandainya dua karakter yang diperankan oleh keduanya diberikan kisah yang lebih mendalam lagi, mungkin Dejavu: Ajian Puter Giling akan mampu hadir dengan penceritaan yang lebih kuat. Secara keseluruhan, meskipun hadir dengan konsep cerita yang cukup segar serta beberapa momen horor yang mampu terkeksekusi dengan baik, Dejavu: Ajian Puter Giling masih belum mampu untuk tampil dengan kualitas penceritaan horor yang lebih istimewa. Cukup disayangkan. [C-]

Dejavu: Ajian Puter Giling (2015)

Directed by Hanny R. Saputra Produced by Firman Bintang Written by Baskoro Adi Starring Ririn Ekawati, Dimas Seto, Ririn Dwi Aryanti Music by Areza Riandra Cinematography Rizko Angga Vivedru Editing by Lilik Subagyo Studio BIC Pictures Running time 82 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: Epen Cupen the Movie (2015)

epen-cupen-the-movie-posterEmpat tahun setelah mengarahkan Lost in Papua – yang selamanya mungkin diingat sebagai salah satu pengalaman menonton film terburuk bagi kebanyakan penikmat film Indonesia, Irham Acho Bachtiar kembali membawa penontonnya ke wilayah paling timur Indonesia tersebut lewat Epen Cupen the Movie. Epen Cupen the Movie sendiri diangkat dari kesuksesan sebuah webseries berjudul Epen Cupen – akronim dari Emang Penting Cukup Penting – yang menyajikan deretan sketsa komedi singkat tentang kehidupan keseharian penduduk Papua yang digarap oleh Papua Selatan Film Community. Untuk versi filmnya, Irham Acho Bachtiar tetap menghadirkan sentuhan komedi khas masyarakat Papua seperti yang selalu tersaji dalam webseries Epen Cupen sekaligus mengemasnya dengan dukungan elemen aksi pada beberapa bagian penceritaannya.

Jalan cerita Epen Cupen the Movie sendiri dimulai ketika seorang pemuda asal Papua bernama Celo (Klemens Awi) ditugaskan oleh sang ayah untuk mencari saudara kembarnya yang telah hilang semenjak kecil. Dalam perjalanannya tersebut, Celo kemudian bertemu dengan seorang pemuda asal Medan, Babe (Babe Cabiita), yang sedang dalam pelarian dari para penagih hutang akibat usahanya yang telah mengalami kebangkrutan. Dengan janji akan memberikan sejumlah uang untuk membantu melunasi hutang-hutangnya, Babe akhirnya setuju untuk membantu Celo. Perjalanan keduanya lantas berlanjut ke Jakarta. Di kota tersebut, keduanya mendapatkan kejutan ketika mengetahui bahwa saudara kembar Celo merupakan seorang pemimpin salah satu kelompok preman yang kini tengah berseteru dengan pimpinan kelompok preman lainnya, John (Edward Gunawan).

Untungnya, dengan sentuhan komedi yang cukup kental, perjalanan ke ranah Papua yang dilakukan Irham Acho Bachtiar kali ini mampu tampil jauh lebih baik daripada Lost in Papua. Kekuatan utama film ini jelas hadir dari chemistry yang terjalin antara dua pemeran utamanya, Klemens Awi dan Babe Cabiita, yang mampu menyajikan benturan perbedaan budaya yang terdapat diantara kedua karakter mereka menjadi sumber komedi tingkat tinggi yang begitu menghibur. Tidak mengherankan jika paruh pertama film yang banyak mengeksplorasi lemparan guyonan antara Klemens Awi dan Babe Cabiita menjadi momen keemasan tersendiri bagi Epen Cupen the Movie. Tampil prima dengan sentuhan komedi yang begitu kental dan terasa hangat.

Sayangnya, seiring dengan kehadiran beberapa konflik dan karakter pendukung, Epen Cupen the Movie mulai terasa kehilangan fokus dan ketajaman dalam penceritaannya. Bukan berarti film ini lantas berubah menjadi demikian buruk namun, jika dibandingkan dengan paruh pertama film yang benar-benar bertumpu pada pembangunan kisah persahabatan antara karakter Celo dan Babe, paruh kedua film menghadirkan konflik yang terkesan datar dan kurang utuh penggalian kisahnya. Banyak diantara konflik pendukung tersebut hanya sekedar menjadi pemicu bagi kehadiran adegan aksi dalam jalan cerita film tanpa pernah benar-benar tersaji dengan menarik. Berbicara mengenai adegan aksi dalam film ini, Irham Acho Bachtiar mampu dengan baik mengeksekusi setiap adegan aksi dalam Epen Cupen the Movie. Tidak istimewa namun jelas jauh dari mengecewakan.

Selain Klemens Awi dan Babe Cabiita yang mampu tampil bersinar dalam elemen komedi mereka, departemen akting Epen Cupen the Movie juga diisi oleh beberapa nama lain seperti Marissa Nasution, Edward Gunawan hingga kehadiran beberapa comics – sebutan untuk para pelaku stand-up comedy – di beberapa bagian kisahnya. Tidak banyak hal yang dapat diungkapkan dari penampilan para pemeran pendukung film ini. Baik Marissa Nasution dan Edward Gunawan terasa canggung dalam memerankan karakter mereka. Edward Gunawan – yang tampil memukau dalam Arisan! 2 (Nia Dinata, 2011) dan Street Society (Awi Suryadi, 2014) bahkan hadir dengan penampilan akting yang terlalu dibuat-buat sebagai sosok pimpinan kelompok preman yang berkepribadian tangguh. Ruang penceritaan yang minimalis juga tidak banyak memberikan kesempatan bagi para comics untuk lebih meningkatkan adrenalin komedi pada paruh kedua film. Hasilnya, Epen Cupen the Movie yang awalnya terasa cukup menjanjikan sebagai sebuah film aksi komedi berakhir dengan tanggung dan gagal memberikan kesan yang lebih mendalam. [C]

Epen Cupen the Movie (2015)

Directed by Irham Acho Bachtiar Produced by Gope T. Samtani Written by Irham Acho Bachtiar Starring Klemens Awi, Babe Cabiita, Marissa Nasution, Edward Gunawan, Nato Beko, Fico Fachriza, Deddy Mahendra Desta, Pierre Gruno, Abdur Arsyad, Temon Templar, David Nurbianto, Uus, Fadly Jackson, Wita, Hengky Henggise, Cesilia Birio, Maria Fan Gebze, Vera Minipko, Thomas Kimko Music by Indra Q Cinematography Fachmi J. Saad Editing by Ryan Purwoko Studio Rapi Films Running time 95 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: LDR (2015)

ldr-posterFilm terbaru arahan Guntur Soeharjanto, LDR, memulai kisahnya ketika Carrie (Mentari De Marelle) yang semenjak kecil telah bermimpi untuk berkunjung ke Verona, Italia, akhirnya mendapatkan impiannya tersebut. Dalam perjalanannya menyusuri kota tempat kediaman Juliet dalam drama klasik karya William Shakespeare, Romeo & Juliet, tersebut, Carrie secara tidak sengaja berhasil mencegah tindakan bunuh diri yang akan dilakukan oleh Demas (Verrell Bramasta) akibat putusnya tali asmara antara dirinya dengan sang kekasih, Alexa (Aurelie Moeremans). Carrie kemudian berusaha membantu Demas untuk kembali mendapatkan perhatian Alexa yang juga tinggal di kota tersebut. Namun, di saat yang bersamaan, Carrie mulai merasakan bahwa ia mulai jatuh cinta kepada sosok Demas.

LDR sebenarnya memiliki potensi yang cukup untuk menjadi sebuah film drama romansa remaja yang mampu tampil menarik bahkan kepada mereka yang berada di luar pangsa pasar remaja yang menjadi target utama film ini. Paruh awal naskah cerita LDR yang digarap oleh Cassandra Massardi – yang sebelumnya juga pernah bekerjasama dengan Guntur Soeharjanto dalam Tampan Tailor (2013) – mampu membuktikan hal tersebut. Didukung dengan sajian sinematografi akan keindahan kota Verona, Italia yang kuat, paruh awal penceritaan LDR berhasil membangun awal perkenalan antara kedua karakter utamanya dengan cukup baik dan manis. Sayang, ketika hubungan antara karakter Carrie dan Demas telah mulai terbangun dengan baik dan ketika plot penceritaan mulai berpindah pada usaha karakter Carrie untuk membantu hubungan asmara antara karakter Demas dan Alexa, LDR mulai terasa begitu bertele-tele dalam penceritaannya.

Perubahan ritme penceritaan LDR yang lantas berjalan lamban tersebut jelas disebabkan atas keputusan untuk mengeksekusi naskah cerita LDR menjadi dua film yang berbeda. Akibatnya, bagian pertama dari LDR seringkali diisi dengan adegan maupun konflik yang sebenarnya terasa tidak memiliki kekuatan penceritaan yang mendalam dan dapat dihilangkan begitu saja. Keputusan untuk memanjang-manjangkan beberapa konflik yang tersaji dalam film ini juga tidak membuat penampilan LDR secara keseluruhan menjadi lebih baik. Seperti halnya Perahu Kertas (2012) arahan Hanung Bramantyo, adalah mudah untuk merasakan bahwa Naskah penceritaan LDR tidak memiliki materi pengisahan yang cukup untuk menjadikan dua film menjadi dua penceritaan yang sama-sama kuat dan tetap saling berhubungan satu sama lain.

Yang juga tidak cukup membantu kualitas presentasi keseluruhan film ini adalah pemilihan Verrel Bramasta dan Al Ghazali sebagai pemeran bagi dua sosok karakter dengan bagian kisah yang cukup krusial bagi LDR. Baiklah, adalah sangat dimengerti jika produser ingin memiliki dua aktor dengan penampilan fisik tampan guna menarik perhatian penonton remaja perempuan dalam menyaksikan film ini. Namun, dengan kemampuan akting keduanya yang (masih benar-benar) lemah, LDR menjadi terasa hadir tanpa detak kehidupan yang berarti. Datar. Chemistry yang dihasilkan oleh Verrell Bramasta dengan Mentari De Marelle benar-benar terasa gersang – suatu hal yang jelas seharusnya menjadi daya tarik utama dari film-film sejenis LDR. Verrell Bramasta dan Al Ghazali bahkan masih terlihat kaku di banyak adegan film – entah karena suhu Verona, Italia yang benar-benar membekukan mereka atau… yah… kemampuan akting mereka memang benar-benar hanya berada dalam tahapan begitu.

Untungnya film ini masih memiliki Mentari De Marelle. Layaknya nama yang disandangnya, Mentari mampu bersinar dan memberikan kehangatan tersendiri bagi kualitas departemen akting film ini. Begitu kuatnya penampilan Mentari, LDR lantas berjalan begitu semu setiap karakternya tidak berada dalam penceritaan film. Aurelie Moeremans sendiri juga tampil dengan kapasitas akting yang tidak mengecewakan. Namun, dengan porsi penceritaan yang tidak terlalu luas, jelas sulit bagi penampilan Aurelie untuk tampil lebih mengesankan bagi penonton.

Tidak banyak masalah yang ditemukan dari sisi teknikal LDR. Enggar Budiono berhasil memanfaatkan dengan maksimal keindahan kota Verona, Italia untuk menghadirkan gambar-gambar dengan kualitas membuai dalam keseluruhan presentasi LDR. Tata musik arahan Joseph S. Djafar yang tersaji dengan tambahan beberapa lagu pengiring yang pas juga mampu mengisi nuansa keromantisan film ini. Sedikit masalah mungkin dapat dirasakan dari proses dubbing film ini yang beberapa kali tampil tidak sesuai dengan gerak bicara dari karakter-karakter yang sedang berdialog. Cukup menarik untuk melihat apakah film kedua LDR nantinya akan mampu tampil dengan konflik yang lebih kuat atau malah turut tampil dengan deretan konflik yang terkesan dipanjang-panjangkan seperti yang tersaji dalam film pertamanya ini. [C-]

LDR (2015)

Directed by Guntur Soeharjanto Produced by Ody Mulya Hidayat Written by Cassandra Massardi Starring Al Ghazali, Verrell Bramasta, Aurelie Moeremans, Mentari De Marelle, Luthya Suri Music by Joseph S. Djafar Cinematography Enggar Budiono Editing by Ryan Purwoko Studio Maxima Pictures Running time 84 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: Tarot (2015)

tarot-posterIf it ain’t broke, don’t fix it. Rumah produksi Hitmaker Studios kembali menggunakan formula kesuksesan ketika menggarap Rumah Kentang (2012), 308 (2013) dan Rumah Gurita (2014) untuk memproduksi film horor terbaru mereka, Tarot: kolaborasi antara pengarahan dari sutradara Jose Poernomo, naskah cerita yang digarap oleh Riheam Junianti dan penampilan akting dari Shandy Aulia. Jika dibandingkan dengan kolaborasi mereka terdahulu, Tarot harus diakui mampu tampil dengan beberapa momen menegangkan yang tergarap dengan baik dan jelas dapat memberikan beberapa momen menyenangkan bagi para mereka yang memang menyukai film-film sejenis. Namun, tetap saja, naskah cerita film yang masih dipenuhi banyak konflik klise khas film horor Indonesia membuat Tarot terkesan berjalan lamban dan bertele-tele dalam sebagian besar masa pengisahannya.

Kisah Tarot sendiri dimulai ketika pasangan Julie (Shandy Aulia) dan Tristan (Boy William) yang akan segera menikah mendapatkan ramalan tarot dari seorang pembaca kartu tarot, Madam Herlina (Sara Wijayanto), yang tidak sengaja mereka temui di sebuah taman rekreasi. Julie dan Tristan awalnya jelas hanya bertujuan untuk bersenang-senang belaka dalam mengikuti pembacaan ramalan tersebut. Ramalan yang dibacakan Madam Herlina juga dimulai menyenangkan. Ia meramalkan bahwa Julie dan Tristan adalah pasangan yang serasi dan akan menjalani masa pernikahan yang menyenangkan. Namun, ramalan tersebut berubah menjadi suatu hal yang menakutkan ketika Madam Herlina mengingatkan bahwa seseorang dari masa lalu Julie akan datang dengan rasa amarah, membunuh kedua sahabatnya sekaligus berusaha membunuh Julie maupun Tristan. Tanpa disangka, ramalan Madam Herlina telah membuka secara detil semua plot cerita Tarot dan (seharusnya dapat) membebaskan penontonnya dari penderitaan dalam menyaksikan film ini sepanjang 118 menit.

Tarot sendiri sebenarnya dimulai dengan cukup baik dalam memperkenalkan karakter-karakter maupun konflik awal film ini. Meskipun tidak sepenuhnya menarik, Jose Poernomo setidaknya berhasil membangun pijakan awal cerita yang kokoh bagi para penonton untuk bersiap menyimak jalan penceritaan Tarot secara lebih mendalam. Namun, secara perlahan, momen-momen keunggulan Tarot tersebut mulai sirna seiring berjalannya durasi penceritaan film sekaligus pengisahan konflik yang cenderung bertele-tele. Paruh kedua dan ketiga penceritaan dari Tarot tampil begitu lemah akibat usaha memperpanjang konflik dengan deretan drama yang tergolong klise dan gagal untuk tersaji dengan menarik. Membosankan, walaupun Tarot sesekali mampu tampil dengan beberapa momen menegangkan yang berhasil dieksekusi dengan baik.

Departemen akting Tarot sendiri hadir dengan kualitas yang mungkin telah diharapkan semua orang ketika mengetahui bahwa departemen akting film ini diperkuat oleh Shandy Aulia dan Boy William. Tidak benar-benar buruk namun jelas masih dari kesan memuaskan. Chemistry yang dihadirkan keduanya – dalam berperan sebagai dua karakter yang saling mencintai satu sama lain – juga jauh dari meyakinkan. Penampilan Shandy Aulia sebagai dua sosok karakter sayangnya hanya ditandai dengan satu karakter dihadirkan dengan karakteristik pembawaan diri yang tenang sementara karakter lain hadir dengan nada bicara yang bertempo cepat dan cenderung tinggi. Tanpa berusaha membuat kedua karakter tersebut benar-benar hidup dan meyakinkan kehadirannya dalam jalan cerita film. But thenwhat can you expect from Shandy Aulia’s almost non-existent acting talent?

Seperti halnya film-film horor terdahulunya bersama Hitmaker Studios, Jose Poernomo kembali mampu menyajikan Tarot dengan tata teknikal yang terlihat meyakinkan. Tidak benar-benar istimewa namun jelas merupakan keunggulan paling maksimal yang dapat diraih oleh film ini. Jose Poernomo jelas terasa seperti tidak terlalu mempedulikan bagian krusial dari penceritaan dan lebih memilih untuk mencoba menghadirkan kengerian melalui tata atmosfer serta tampilan visual film. Berhasil? Mungkin. Namun, secara keseluruhan, dengan pengisahan yang masih tergolong lemah dan penyampaian cerita yang tergolong draggy, Tarot jelas masih sukar untuk dinikmati dengan baik. [C-]

Tarot (2015)

Directed by Jose Poernomo Produced by Rocky Soraya Written by Riheam Junianti Starring Shandy Aulia, Boy William, Sara Wijayanto, Aurellie Moeremans Music by Anto Hoes Cinematography Jose Poernomo Editing by Ratmini Studio Hitmaker Studios Running time 118 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: YouTubers (2015)

youtubers-posterSetelah I Know What You Did on Facebook (2010) dan #republiktwitter (2012), jelas tidak mengherankan jika saluran media sosial internet lain kemudian menjadi sumber inspirasi bagi film Indonesia lainnya. Diarahkan serta ditulis naskahnya oleh duo Kemal Palevi dan Jovial da Lopez, YouTubers adalah sebuah film yang sepertinya ingin memperkenalkan para penggiat video kreatif YouTube asal Indonesia ke khalayak yang lebih luas sekaligus memberikan kesempatan bagi mereka untuk mengetahui setiap langkah proses pembuatan sebuah video sebelum akhirnya video tersebut diunggah ke berbagai saluran YouTube dan disaksikan jutaan pasang mata dari seluruh penjuru dunia. Terdengar terlalu serius? Tidak juga. Disajikan dalam nada pengisahan komedi yang kental, YouTubers mampu tampil cukup menghibur meskipun dengan beberapa kelemahan yang hadir di berbagai sudut penampilannya.

Jalan cerita YouTubers sendiri dimulai dengan pengisahan tentang seorang pemuda bernama Jovial da Lopez (Jovial da Lopez) yang demi berusaha untuk mengesankan sang kekasih, Alexandra (Anggika Bolssterli), kemudian mengikuti proses casting sebuah film yang diarahkan oleh Hanung Bramantyo. Tidak hanya mendapatkan penolakan, proses casting yang diikuti Jovial berjalan begitu memalukan. Lebih sial lagi, adik Jovial, Andovi da Lopez, merekam seluruh proses casting tersebut dan kemudian mengunggahnya ke YouTube. Jelas Jovial kemudian merasa Andovi telah mempermalukan dirinya. Namun, ketika melihat reaksi internet yang cukup positif terhadap unggahan video tersebut yang dinilai lucu dan menghibur, Jovial dan Andovi mulai menyusun rencana untuk membuat video yang akan diunggah ke YouTube secara regular. Dalam waktu singkat, saluran YouTube yang dimiliki oleh Jovial dan Andovi mendapatkan banyak penggemar dan membuka pintu mereka untuk berkenalan sekaligus bekerjasama dengan banyak penggiat video YouTube lainnya.

Meskipun masih mampu hadir dengan beberapa guyonan yang harus diakui cukup menghibur namun naskah cerita YouTubers jelas merupakan bagian terlemah dari presentasi keseluruhan film ini. Naskah cerita garapan Kemal Palevi dan Jovial da Lopez terkesan hanyalah sebagai kumpulan beberapa sketsa komedi yang kemudian berusaha direkatkan oleh jalinan kisah utama hubungan karakter Jovial da Lopez dan Andovi da Lopez dalam usaha mereka untuk bersaing dan memproduksi deretan video yang akan mereka unggah ke YouTube. Tidak benar-benar buruk namun jelas masih terasa sebagai sebuah usaha yang minimalis ketika baik Kemal Palevi maupun Jovial da Lopez masih memperlakukan debut penyutradaraan mereka setara dengan usaha untuk mengarahkan sebuah video berdurasi singkat yang biasa mereka unggah ke YouTube.

YouTubers juga memberikan ruang yang (terlalu) luas bagi kehadiran cameo yang berisikan wajah-wajah familiar di industri film Indonesia sekaligus banyak para penggiat video kreatif YouTube popular asal Indonesia. Sayangnya, deretan cameo ini secara perlahan lebih sering terasa sebagai distraksi terhadap jalan cerita yang sedang berjalan daripada sebagai elemen hiburan maupun pelengkap bagi pengisahan YouTubers. Cukup mengganggu khususnya ketika film ini menghabiskan cukup banyak durasi penceritaannya bagi kehadiran deretan cameo tersebut dan bukan untuk penggalian kisah yang lebih mendalam. YouTubers mungkin diniatkan sebagai sebuah sajian untuk bersenang-senang – termasuk dengan penampilan para jajaran pemerannya yang hampir seluruhnya hadir sebagai diri mereka sendiri. Namun hal tersebut jelas bukan alasan untuk menyajikannya sebagai sebuah komedi dangkal. [C-]

YouTubers (2015)

Directed by Kemal Palevi, Jovial da Lopez Produced by Chand Parwez Servia, Fiaz Servia Written by Kemal Palevi, Jovial da Lopez Starring Jovial da Lopez, Andovi da Lopez, Anggika Bolsterli, Kemal Palevi, Donna Harun, DJ Yasmin, Ge Pamungkas, Yuniza Icha, Adinda Thomas, Rayi Putra, Marlo Ernesto, Hanung Bramantyo, Zaskia Adya Mecca, Fajar Nugros, Rani Ramadhany, Pandji Pragiwaksono, Tyas Mirasih, Eriska Rein, Pamela Bowie, Akbar Kobar, Sacha Stevenson, Natasha Farani, Ucok Baba, Agung Herkules, Benakribo, Edho Zell, Chandra Liow, Bayu Skak, Alfi Sugoi, Eno Bening, Duo Serigala, Raza Servia, Cesa David Luckmansyah Music by Andhika Triyadi Cinematography Roby Herbi Editing by Cesa David Luckmansyah Studio Starvision Running time 96 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: Cinta Selamanya (2015)

cinta-selamanya-posterCinta Selamanya adalah sebuah film drama romansa arahan Fajar Nugros yang jalan ceritanya diadaptasi dari novel berjudul Fira dan Hafez karya Fira Basuki. Fira dan Hafez sendiri bukanlah sebuah novel percintaan biasa. Novel yang dirilis pertama kali pada tahun 2013 tersebut merupakan catatan cinta dari sang penulis novel yang merangkum kisah nyata kehidupan rumah tangganya bersama sang suami, Hafez Agung Baskoro, mulai dari awal pertemuan mereka hingga akhirnya sang suami meninggal dunia tidak lama selepas pernikahan mereka. Dalam pengarahan cerita yang kurang sesuai, Fira dan Hafez dapat saja diterjemahkan menjadi sebuah sajian penceritaan film yang sentimental nan mendayu-dayu. Beruntung, Cinta Selamanya kemudian digarap sebagai sebuah drama kehidupan yang bertutur secara sederhana namun berhasil tampil memikat terutama berkat chemistry yang sangat apik dari kedua pemeran utamanya, Atiqah Hasiholan dan Rio Dewanto.

Cinta Selamanya memulai kisahnya dengan gambaran kehidupan seorang Fira Basuki (Atiqah Hasiholan). Dengan kesibukannya sebagai orang tua tunggal bagi seorang puteri yang tengah beranjak dewasa, Syaza (Shaloom Razade), sekaligus perannya sebagai seorang pemimpin redaksi bagi salah satu majalah lifestyle terbesar di Indonesia, Cosmopolitan, yang juga masih menyempatkan waktunya untuk menulis beberapa novel, romansa jelas bukanlah lagi sebuah prioritas utama dalam kehidupan Fira Basuki. Namun, pertemuannya dengan Hafez Agung Baskoro (Rio Dewanto) dalam sebuah acara pencarian bakat mengubah kehidupannya. Meskipun semenjak awal telah berusaha untuk menolak kehadiran Hafez, khususnya karena perbedaan usia mereka yang terpaut 11 tahun, namun Fira akhirnya luluh dengan kesungguhan Hafez untuk merebut hatinya. Sayang, kebahagiaan yang berlanjut dengan pernikahan tersebut tidak berlangsung lama. Ketika Fira sedang mengandung bayi pertamanya bersama Hafez, kisah percintaan mereka berakhir ketika sang suami meninggal dunia akibat sebuah penyakit yang telah lama bersembunyi dalam tubuhnya.

Cinta Selamanya sendiri bukannya hadir tanpa masalah. Keterlibatan social media dalam kehidupan kedua karakter utama yang kemudian turut dihadirkan dalam jalan cerita film ini seringkali tampil sebagai gimmick belaka tanpa pernah menyajikan esensi yang kuat bagi jalan cerita utama. Fajar Nugros sendiri mungkin berniat untuk menampilkan deretan tweet yang berisi kata-kata puitis yang dikirimkan karakter Fira dan Hafez satu sama lain sebagai sebuah catatan kecil bagi perjalanan romansa kedua karakter tersebut. Sayang, pada kebanyakan bagian, sajian tersebut justru terasa sebagai jalan pintas atas ketidakmampuan untuk menyajikan pengisahan yang lebih mendalam atas hubungan kedua karakter utama dalam film ini. Masalah juga dapat dirasakan pada beberapa konflik yang tersaji kurang matang dan terkesan berlalu begitu saja. Cinta Selamanya jelas akan hadir lebih padat dan efisien jika beberapa konflik pendukung yang kurang esensial dalam jalan ceritanya dihilangkan begitu saja.

Walaupun dengan beberapa kelemahan dalam penyajian ceritanya, sebagai sebuah romansa, Cinta Selamanya mampu tampil begitu emosional. Sebagai seorang sutradara, Fajar Nugros terasa mengenal betul konten cerita yang ingin ia bawakan. Cinta Selamanya berhasil disajikan dengan ritme penceritaan yang tepat sehingga penonton diberikan kesempatan yang cukup luas untuk mengenal karakter Fira Basuki serta kehidupan dan kisah romansa yang tersaji selama rentang waktu penceritaan film ini. Sentuhan akan kehadiran budaya Jawa yang kental dalam presentasi film juga memberikan warna penceritaan tersendiri yang sangat menyenangkan – meskipun keputusan untuk menghadirkan lagu Kangen Kowe milik Didi Kempot dalam aransemen modern secara berulang kali dalam banyak bagian film jelas memberikan efek kejenuhan bagi pendengarnya. Cinta Selamanya jelas berada dalam jajaran film terbaik yang pernah diarahkan oleh Fajar Nugros.

Keunggulan utama dari Cinta Selamanya jelas datang dari penampilan akting dari jajaran pemerannya. Berada di jajaran paling depan, Atiqah Hasiholan mampu menghidupkan karakter Fira Basuki sebagai sosok wanita yang begitu modern dalam jalan pemikirannya namun juga tetap memegang teguh sisi tradisional dalam cara bersikap. Penampilan prima Atiqah Hasiholan juga mampu diimbangi dengan baik oleh Rio Dewanto yang sekaligus berhasil menyajikan chemistry yang luar biasa mengikat antara kedua karakter yang mereka perankan — dan jelas jauh lebih baik dari apa yang mereka tampilkan dalam Bulan di Atas Kuburan (Edo WF Sitanggang, 2015) beberapa waktu yang lalu. Tidak lupa, dukungan dari jajaran pemeran pendukung yang berisi nama-nama seperti Widi Mulia Sunarya, Dewi Irawan, Tio Pakusadewo hingga Joanna Alexandra, Shaloom Razade hingga Amanda Soekasah tampil solid dalam memperkuat kualitas departemen akting film ini.

Kualitas produksi film ini juga tampil berkelas. Yadi Sugandi – yang juga turut berperan sebagai karakter ayah Hafez – berhasil menyajikan deretan gambar-gambar indah yang semakin menekankan unsur puitis dari Cinta Selamanya. Tata musik dengan orkestrasi megah garapan Tya Subiakto juga mampu mengiringi kisah cinta dari karakter Fira dan Hafez dengan begitu seksama. Sebagai sebuah film yang juga menyentuh dunia fashion dalam beberapa bagiannya, Cinta Selamanya juga mampu dihadirkan dengan pemilihan deretan kostum yang sangat menarik dan cukup mampu untuk tampil mencuri perhatian. Secara keseluruhan, Cinta Selamanya jelas tidak hadir sempurna. Meskipun begitu, dalam ketidaksempurnaan tersebut, Cinta Selamanya masih mampu tergarap sebagai sebuah drama romansa emosional dalam takaran yang sama sekali tidak pernah terasa berlebihan. [B-]

Cinta Selamanya (2015)

Directed by Fajar Nugros Produced by Susanti Dewi Written by Piu Syarif (screenplay), Fira Basuki (novel, Fira dan Hafez) Starring Atiqah Hasiholan, Rio Dewanto, Shaloom Razade, Tantry Agung Dewani, Janna Joesoef, Amanda Soekasah, Nungky Kusumastuti, Yadi Sugandi, Aira Sondang, Dewi Irawan, Tio Pakusadewo, Syazia, Surya Insomnia, Widi Mulia Sunarya, Muhadkly Acho, Joanna Alexandra, Patrick Alexandra, Agus Kuncoro, Dwi Sasono, Lukman Sardi Music by Tya Subiakto Cinematography Yadi Sugandi Editing by Aline Jusria Studio Wardah/Kaninga Pictures/Demi Istri Production Running time 106 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: Toba Dreams (2015)

toba-dreams-posterDiangkat dari novel karya TB Silalahi yang berjudul sama, Toba Dreams memulai kisahnya ketika Sersan Tebe (Mathias Muchus) yang baru saja pensiun memutuskan untuk membawa keluarganya dari Jakarta untuk pulang kembali ke kampung halamannya di wilayah pinggiran Danau Toba, Sumatera Utara. Keputusan tersebut ditolak mentah-mentah oleh putera sulungnya, Ronggur (Vino G. Bastian) yang ingin menetap dan bekerja di Jakarta – serta selalu berada dekat dengan kekasihnya, Andini (Marsha Timothy). Ronggur lantas memilih untuk melarikan diri dari keluarganya. Sayang, setelah beberapa saat berusaha untuk mengubah nasib dan membuktikan kemampuan dirinya, kehidupan ibukota yang begitu keras secara perlahan mulai menekan Ronggur yang akhirnya menjebaknya untuk terlibat dalam perdagangan narkotika dan obat-obatan terlarang. Sebuah langkah yang jelas semakin memisahkannya jauh dari keluarga dan orang-orang yang dicintainya.

Naskah cerita Toba Dreams yang digarap bersama antara TB Silalahi dan sutradara Benni Setiawan memuat begitu banyak hal yang ingin disampaikan kepada penontonnya. Mulai dari naik turunnya hubungan antara ayah dan anak, romansa antara sepasang kekasih, mimpi untuk mencapai kehidupan yang lebih baik – kisah yang juga baru disampaikan Bulan di Atas Kuburan (Edo WF Sitanggang, 2015) yang juga menggunakan kehidupan suku Batak dan pemandangan Danau Toba dalam penceritaannya – hingga plot mengenai toleransi antar agama terpapar di sepanjang 144 menit durasi penceritaan Toba Dreams. Harus diakui, banyaknya sisi penceritaan yang ingin disajikan tersebut menjadi satu kelemahan tersendiri bagi film ini ketika banyak diantara plot tersebut gagal untuk dikembangkan dengan lebih baik. Toba Dreams jelas akan berkisah secara lebih padat dan efektif – serta dalam durasi yang lebih singkat – jika Benni Setiawan dan TB Silalahi mau memilih untuk menyingkirkan beberapa konflik yang sebenarnya tidak begitu berpengaruh banyak pada plot cerita serta karakter-karakter utama.

Terlepas dari beberapa momen lemahnya, naskah cerita Toba Dreams juga harus diakui mampu mengeksplorasi banyak sisi penceritaannya dengan sangat baik, khususnya ketika berfokus pada kisah drama keluarga yang diembannya. Penggarapan naskah cerita yang kuat pada tema tersebut sekaligus karakter-karakter yang mampu tampil mengikat penontonnya menjadi kunci utama bagi film ini untuk mampu tampil begitu emosional. Sentuhan-sentuhan komedi yang beberapa kali dihadirkan dalam jalan cerita film juga terasa begitu menyegarkan. Tentu saja, pengarahan Benni Setiawan yang begitu efektif dalam mengatur ritme penceritaan film mampu menjadikan Toba Dreams terasa nyaman untuk diikuti meskipun dengan berbagai kompleksitas yang dibawakan jalan ceritanya.

Keunggulan Toba Dreams juga sangat dapat dirasakan dari kualitas penampilan departemen aktingnya. Benni Setiawan berhasil merangkum dan mendapatkan penampilan akting terbaik dari seluruh jajaran pemeran filmnya. Nama-nama seperti Vino G. Bastian, Mathias Muchus, Jajang C. Noer, Marsha Timothy yang memang dikenal sebagai deretan penampil yang selalu dapat diandalkan kembali membuktikan kemampuan mereka dalam menghidupkan setiap karakter yang mereka perankan dalam film ini. Chemistry ayah dan anak yang berhasil diciptakan Vino G. Bastian dan Mathias Muchus juga tampil begitu kuat sehingga penonton dapat dengan jelas merasakan setiap aliran emosi yang dihadirkan karakter-karakter yang mereka perankan ketika kedua pemeran tersebut sedang berada dalam satu adegan yang sama.

Penampilan akting yang solid tidak hanya datang dari jajaran pemeran utama film. Barisan pemeran pendukung film ini seperti Haykal Kamil, Ramon Y. Tungka, Tri Yudiman dan Vinessa Inez juga mampu hadir memperkuat kualitas keseluruhan dari Toba Dreams. Namun, adalah penampilan stand up comedian Boris Bokir yang akan mampu mencuri perhatian penonton ketika menyaksikan film ini. Penampilan komikal Boris Bokir dalam dialek Bataknya tampil begitu menghibur tanpa pernah sekalipun terasa berlebihan. Penampilan Boris Bokir-lah yang mampu menjadikan elemen komedi dalam jalan cerita Toba Dreams untuk hadir dan bekerja secara efektif.

Tidak lupa, Toba Dreams juga mampu disajikan dengan kualitas teknikal yang sangat memuaskan. Gambar-gambar yang dihasilkan Roy Lolang mampu tampil menenangkan ketika menangkap keindahan lingkungan Danau Toba sekaligus tampil keras ketika menelusuri kehidupan Jakarta. Tata musik arahan Viky Sianipar juga berhasil memasukkan elemen-elemen budaya Batak secara tepat guna dalam banyak bagian cerita film. Secara keseluruhan, meskipun masih memiliki beberapa bagian cerita yang terasa lemah, Benni Setiawan masih mampu mengemas Toba Dreams menjadi sebuah sajian drama keluarga yang begitu kuat dan emosional – dan sekaligus menjadikan film ini sebagai film arahannya dengan kualitas keseluruhan yang paling memuaskan hingga saat ini. [B-]

Toba Dreams (2015)

Directed by Benni Setiawan Produced by Rizaludin Kurniawan Written by Benni Setiawan, TB Silalahi (screenplay), TB Silalahi (novel, Toba Dreams) Starring Vino G. Bastian, Mathias Muchus, Marsha Timothy, Haykal Kamil, Boris Bokir, Jajang C. Noer, Tri Yudiman, Vinessa Inez, Ajil Ditto, Ramon Y. Tungka, Fadhel Reyhan, Paloma Kasia, Jerio Jeffry, JE Sebastian, Julian Kunto, Kodrat W. Saroyo, Judika Sihotang Music by Viky Sianipar Cinematography Roy Lolang Editing by Andhy Pulung Studio TB Silalahi Center/Semesta Production Running time 144 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: Miss Call (2015)

miss-call-posterFilm-film Indonesia yang dirilis pada sepanjang bulan April lalu cukup mampu meninggalkan kesan yang mendalam. Bukan. Bukan karena banyak diantara film-film tersebut berhasil menarik penonton dalam jumlah yang besar untuk menyaksikannya di layar bioskop. Namun, secara kualitas, hampir seluruh film Indonesia yang dirilis di sepanjang April lalu tersebut berhasil menunjukkan taji yang cukup kuat – termasuk film-film yang masih tergolong lemah seperti Wewe maupun Romeo + Rinjani. Hampir, karena di penghujung bulan, penikmat film Indonesia kembali dihadiahi sebuah film thriller berjudul Miss Call dengan kualitas yang layak dipertanyakan. Bukan sebuah hal yang terlalu mengejutkan mengingat film ini datang dari sutradara yang juga menghasilkan film-film seperti Rumah Pondok Indah (2006), Rumah Bekas Kuburan (2012) dan Main Dukun (2014).

Dengan naskah cerita yang juga ditulis oleh penulis naskah Main Dukun, Alexander Harry, Miss Call menceritakan tentang seorang gadis pengoleksi berbagai benda bernuansa mistis bernama Mitha (Susan Sameh) yang juga memiliki kegemaran untuk melakukan telepon iseng ke nomor-nomor telepon asing. Suatu hari, seperti yang mungkin dapat ditebak oleh banyak penggemar film-film sejenis, keisengan tersebut menghubungkan Mitha dengan kejadian tewasnya seorang gadis yang pernah diteleponnya. Meskipun dia tidak menyadari hal tersebut, namun kehidupan Mitha dan orang-orang yang ada disekitarnya mulai mendapatkan teror dari sosok asing. Mitha jelas harus segera melakukan sesuatu sebelum teror tersebut berhasil merenggut nyawanya.

Dibandingkan dengan film-film horor bernuansa supranatural yang ditawarkan oleh kebanyakan film Indonesia belakangan, Miss Call sebenarnya berusaha tampil unik sebagai sebuah slasher yang akan mengingatkan banyak penonton pada film-film semacam Scream (1996) atau I Know What You Did Last Summer (1997). Sayangnya, nyaris seluruh elemen penceritaan film tidak memiliki kualitas yang cukup untuk membangun Miss Call hadir sekuat film-film tersebut. Naskah cerita yang digarap oleh Alexander Harry hadir berantakan. Banyak konflik dan karakter yang disajikan dalam jalan cerita film muncul dan menghilang seenaknya – yang jelas akan membuat film ini terasa membingungkan untuk diikuti pengisahannya. Dan, by the way, jika film ini hendak berkisah tentang “panggilan yang tak terjawab”, bukankah judul film ini seharusnya Missed Call?

Pengarahan Irwan Siregar atas alur penceritaan dan akting para pengisi departemen akting film juga tidak tampil lebih baik. Hadir dalam kualitas medioker dan cukup mengganggu. Lihat saja bagaimana Marcell Darwin yang tampil kaku di sepanjang penampilannya di film ini. Atau Susan Sameh – yang meskipun memiliki penampilan fisik yang cukup atraktif sebagai seorang pemeran utama dalam sebuah film – yang gagal untuk menjadikan karakternya dapat dengan mudah disukai penontonnya. Percayalah, sayang. Hadir meneriakkan setiap dialog yang dimiliki karaktermu dengan histeris tidak lantas akan membuat karaktermu terlihat lebih emosional. Sejujurnya, satu-satunya hal yang membuat film ini setidaknya tampil lebih baik dari Tes Nyali (Vijei Al Fajr, 2015) yang buruk itu adalah tata gambar film yang masih mampu dirangkai secara runut. Selebihnya? Miss Call akan sekali lagi mengingatkan penonton film Indonesia mengapa mereka seringkali bersikap apatis terhadap kualitas produksi film buatan sineas negara mereka sendiri. [E]

Miss Call (2015)

Directed by Irwan Siregar Produced by Shanker RS Written by Alexander Harry Starring Marcell Darwin, Susan Sameh, Naomi Appel, Wulandari, Maureisha, Agus Leo, M. Rizki Billar, Permata Persik, Ratu Sal Savana, Westny, Tiga Setia Gara, Maya Azizah, Salfa Music by Areng Widodo Cinematography Indra Edited by Bimmo DJ Production company Eagleclaw Entertainment Hollywood/PT Digital Film Media Running time 77 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: Turis Romantis (2015)

turis-romantis-posterSetelah Saurabh Raj Jain yang popular lewat perannya sebagai Shri Krishna dalam serial televisi asal India Mahabharat (2013 – 2014) tampil dalam Check-In Bangkok (Yoyok Sri Hardianto, 2015) beberapa waktu yang lalu, kini giliran sang pemeran karakter Arjuna dalam serial televisi tersebut, Shaheer Sheikh, untuk turut berperan dalam sebuah film layar lebar buatan Indonesia. Berbeda dengan Check-In Bangkok yang berkualitas lumayan menyedihkan, film Indonesia yang dibintangi Sheikh, Turis Romantis, jelas memiliki kualitas penceritaan yang lebih solid. Tidak hanya film yang menjadi debut penyutradaraan film layar lebar bagi Senoaji Julius ini memberikan ruang yang lebih leluasa bagi Sheikh untuk memamerkan kemampuannya dalam berakting – dan berbahasa Indonesia dengan cukup lugas, Turis Romantis juga mampu digarap dengan cukup baik untuk menjadi sebuah film dengan penceritaan yang meskipun sederhana namun memiliki daya pikat hiburan yang cukup tinggi.

Dengan naskah yang digarap oleh Rahabi Mandra (Hijab, 2015), Turis Romantis sendiri berkisah tentang seorang gadis bernama Nabil (Kirana Larasati) yang dalam usahanya untuk membayar hutang ayahnya sebesar Rp100 juta kemudian menerima tawaran pekerjaan sebagai tour guide dari salah seorang temannya. Tamu asing yang harus dikawal oleh Nabil sendiri adalah seorang pemuda tampan asal India, Azan Khan (Sheikh). Berbeda dengan kebanyakan turis asing lain yang mengunjungi Yogyakarta, Azan tidak tertarik dengan kebanyakan lokasi wisata di kota tersebut. Melalui Nabil, Azan meminta untuk dibawakan ke berbagai lokasi yang dinilai romantis. Meskipun awalnya enggan melakukan pekerjaan tersebut, hubungan Nabil dan Azan lama kelamaan berjalan semakin akrab. Sayang, para preman pimpinan Takur (Mike Lucock) tempat ayah Nabil berutang tidak membiarkan kehidupan gadis itu berjalan mulus begitu saja.

Walaupun hadir dengan beberapa momen yang jelas akan mampu menghasilkan senyum (atau bahkan tawa) dari para penontonnya, Turis Romantis bukannya hadir tanpa adanya kelemahan dalam penceritaannya. Harus diakui, naskah cerita garapan Rahabi Mandra begitu bergantung pada deretan guyonan yang mampu membuat penceritaan film ini menjadi terasa lebih hidup. Terlepas dari itu, sisi drama dalam film hadir dalam kualitas penceritaan yang klise dan gagal untuk tersaji dengan tampilan penceritaan yang lebih segar. Hal ini yang seringkali membuat Turis Romantis terasa terbata-bata dalam penceritaannya – dan deretan konflik yang ada di dalamnya gagal untuk berpadu dengan sempurna satu sama lain.

Unsur hiburan dalam Turis Romantis jelas juga sangat bergantung pada setiap karakter komikal yang tampil dalam jalan penceritaan film. Beruntung, film ini diberkahi jajaran pemeran pendukung yang mampu mengeksekusi dialog-dialog maupun bagian konflik film yang memang ditujukan sebagai sajian komedi dengan begitu baik. Nama-nama seperti Mike Lucock, Alby Jufri dan Retno Yunitawati mampu hadir dengan peran yang terbatas namun berhasil mencuri perhatian. Ujung tombak departemen akting film ini, Shaheer Sheikh dan Kirana Larasati, juga menjadi kunci mengapa Turis Romantis tetap mampu tampil menghibur terlepas dari banyak kelemahan naskah ceritanya. Chemistry yang mereka hadirkan tampil dengan meyakinkan. Shaheer Sheikh juga terlihat sangat nyaman dalam perannya tanpa pernah terasa sebagai seorang bintang asing dari sebuah serial televisi popular yang penampilannya dimanfaatkan untuk menjual film ini.

Kualitas teknikal film sendiri hadir dalam komposisi yang tepat. Tidak istimewa – kebanyakan bagian seringkali tampil dalam kualitas sinematis yang kurang – namun jelas tetap tergarap dengan baik. Senoaji Julius juga mampu memanfaatkan latar belakang lokasi kota Yogyakarta sebagai elemen penceritaan film dengan menyajikannya melalui tata sinematografi serta tata musik bernuansa etnik yang membuat Turis Romantis semakin nyaman untuk diikuti. Sebuah debut penyutradaraan yang masih berisi banyak kekurangan namun jelas juga jauh dari kesan mengecewakan. [C]

Turis Romantis (2015)

Directed by Senoaji Julius Produced by Celerina Judisari, Hanung Bramantyo Written by Rahabi Mandra Starring Shaheer Sheikh, Kirana Larasati, Mike Lucock, Alby Jufri, Retno Yunitawati Music by Kristian Candra Cinematography Kelik Sri Nugroho Editing by Wawan I. Wibowo Studio Mahaka Pictures/Spectrum Film Running time 95 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: Wewe (2015)

wewe-posterMungkin, berdasarkan tiga film horor terakhir yang ia sutradarai – Air Terjun Pengantin (2009), Mati Suri (2009) dan Jenglot Pantai Selatan (2011), penikmat film horor Indonesia seharusnya sudah tersadar bahwa masa-masa Rizal Mantovani untuk menghasilkan karya-karya horor berkesan seperti Jelangkung (2001) atau bahkan Kuntilanak (2006) sepertinya sulit untuk terulang kembali. Jangan salah. Rizal memang masih selalu mampu untuk mengemas filmnya dengan kualitas desain produksi yang (kebanyakan) berada di atas kelas film-film horor Indonesia lainnya. Namun untuk penceritaan? Rizal sepertinya kesulitan untuk menemukan tandem yang pas untuk dapat memberikan kerangka cerita yang dapat ia bangun dengan kualitas yang tepat sekaligus memuaskan penontonnya.

Film horor terbaru arahan Rizal, Wewe, sayangnya kembali gagal untuk mematahkan kebenaran pernyataan tersebut. Dengan naskah cerita yang digarap oleh Anto Nugroho dan Bayu Abdinegoro, Wewe berkisah tentang pasangan suami istri, Jarot (Agus Kuncoro) dan Irma (Inong Nidya Ayu), yang bersama dengan kedua puterinya, Luna (Nabilah JKT48) dan Aruna (Khadijah Banderas), baru saja pindah ke sebuah rumah baru. Bisa ditebak, rumah yang terletak jauh dari lingkungan perkotaan tersebut kemudian menghadirkan begitu banyak misteri bagi para penghuni barunya. Puncak misteri hadir ketika puteri bungsu Jarot dan Irma, Aruna, tidak diketemukan keberadaannya. Tidak menyerah begitu saja, Jarot, Irma dan Luna lantas mengerahkan seluruh tenaga mereka untuk menemukan sekaligus merebut Aruna kembali dari makhluk mistis penghuni rumah tersebut yang mereka sebut sebagai wewe.

Tidak seperti Kuntilanak yang juga mengangkat urban legend tradisional Indonesia, Wewe dikemas dengan deretan formula khas horor Indonesia yang telah terasa begitu usang akibat terlalu sering disajikan dalam film-film sejenis dalam beberapa tahun terakhir. Jelas, banyak adegan yang harusnya mampu memberikan rasa menegangkan pada para penontonnya kemudian tampil datar tanpa adanya kesan apapun. Kisah drama keluarga yang menyertainya juga gagal untuk dikembangkan dengan seksama. Bagian yang seharusnya menghasilkan ikatan emosional kepada para penonton sekaligus menjadi jembatan bagi peningkatan intensitas penceritaan horor film ini justru seringkali terasa menganggu akibat porsinya yang terlalu besar namun tersaji dengan kedalaman cerita yang terasa terlalu dangkal. Hal ini juga semakin dipersulit dengan kehadiran karakter-karakter yang sulit untuk mendapatkan simpati penonton akibat penggambaran karakteristik mereka yang begitu hambar.

Penggalian karakter yang kurang begitu mendalam jelas memberikan kesulitan bagi masing-masing pemeran untuk menghidupkan karakter yang mereka perankan. Baik Agus Kuncoro dan Inong Nidya Ayu telah memberikan kontribusi akting terbaik mereka bagi Wewe. Namun, dengan karakter yang memiliki gambaran sikap konstan yang dihadirkan semenjak awal film – kedua karakter mereka terus menerus digambarkan saling berseteru satu sama lain, jelas adalah sulit untuk melihat usaha akting terbaik tersebut. Sementara itu, Nabilah JKT48 dan Khadijah Banderas sendiri tampil tidak terlalu buruk meskipun harus diakui keduanya masih terlihat kaku dalam sajian akting mereka pada beberapa adegan.

Seperti yang telah ditekankan sebelumnya, meskipun dengan kelemahan yang cukup besar pada pengarahan cerita, Wewe tetap mampu dihadirkan dengan kualitas produksi yang sangat dinamis. Andi Rianto mampu menyajikan tata musik dengan nuansa yang mencekam – cukup mampu beberapa kali mengisi kekosongan atmosfer horor yang terasa hilang dari dalam jalan cerita. Rizal Mantovani juga mampu mengkreasikan wujud karakter wewe dengan tampilan yang cukup menyeramkan. Sayang memang jika kemudian dua keunggulan horor tersebut gagal untuk dimanfaatkan dengan lebih baik lagi akibat kualitas pengolahan jalan cerita yang sama sekali tidak memberikan ruang yang tepat bagi Wewe untuk menghasilkan atmosfer horor yang lebih berkesan bagi banyak penontonnya. [C-]

Wewe (2015)

Directed by Rizal Mantovani Produced by Gope T. Samtani Written by Anto Nugroho, Bayu Adinegoro (screenplay), Rizal Mantovani (story) Starring Agus Kuncoro, Nabilah JKT48, Inong Nidya Ayu, Khadijah Banderas, Yafi Tesa Zahara, Dian Nova Music by Andi Rianto Cinematography Rudy Novan Editing by Ganda Harta Studio Rapi Films Running time 100 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: Bulan di Atas Kuburan (2015)

bulan-di-atas-kuburan-posterBulan di Atas Kuburan merupakan sebuah film drama yang diadaptasi dari film Indonesia berjudul sama arahan Asrul Sani yang sebelumnya sempat dirilis pada tahun 1973. Asrul Sani sendiri mendapatkan inspirasi untuk menuliskan naskah cerita dari film yang berhasil memenangkan dua penghargaan di ajang Festival Film Indonesia pada tahun 1975 tersebut dari sebuah puisi karya Sitor Situmorang yang berjudul Malam Lebaran – sebuah puisi yang hanya berisikan frase “Bulan di atas kuburan” sebagai bait satu-satunya. Untuk versi teranyarnya, naskah cerita Bulan di Atas Kuburan dikerjakan oleh Dirmawan Hatta (Optatissimus, 2013) dengan melakukan pembaharuan pada linimasa penceritaan yang disesuaikan dengan kondisi sosial dan politik masyarakat Indonesia di era modern. Edo WF Sitanggang, yang sebelumnya bertugas sebagai penata suara bagi film-film semacam Emak Ingin Naik Haji (2009), Toilet Blues (2013) dan Selamat Pagi, Malam (2014), melakukan debut pengarahannya bagi film ini.

Bulan di Atas Kuburan sendiri berkisah tentang tiga pemuda yang berasal dari tanah Samosir, Sumatera Utara, Sahat (Rio Dewanto), Tigor (Donny Alamsyah) dan Sabar (Tio Pakusadewo). Setelah melihat kesuksesan Sabar dalam merantau ke Jakarta, Sahat dan Tigor yang saling bersahabat lantas memutuskan untuk mencoba peruntungan mereka dengan turut datang ke ibukota. Lagipula, Sahat yang semenjak lama berniat untuk menjadi seorang penulis, baru saja mendapatkan kabar kalau naskah tulisannya akan diterbitkan oleh salah satu penerbit populer disana. Sayang, setibanya di Jakarta, Sahat dan Tigor harus berhadapan dengan realita kehidupan yang begitu keras di kota tersebut. Sabar yang dikira telah menjalani hidup enak ternyata hanyalah seorang kriminal kecil berdasi yang hidup pas-pasan. Naskah tulisan Sahat sendiri gagal untuk diterbitkan dan lantas terjebak dalam permainan politik seorang politikus (Remy Silado) yang berniat mencalonkan dirinya sebagai seorang presiden. Sementara Tigor harus kembali menjalani pekerjaannya seperti dahulu di Samosir, menjadi seorang sopir, dengan kondisi persaingan yang lebih berat dan bahkan harus berhadapan dengan deretan kriminal jalanan di Jakarta.

Lewat Bulan di Atas Kuburan, Dirmawan Hatta mencoba bercerita mengenai banyak hal melalui naskah cerita yang digarapnya. Berbagai sindiran sosial dan politik seperti kesenjangan antara si miskin dan si kaya, berbagai mimpi (mitos?) mengenai tanah Jakarta yang begitu menjanjikan, sikap sukuisme hingga obsesi untuk menjadi yang paling berkuasa – baik di jalanan maupun di ranah politik – disajikan dalam drama berdurasi 120 menit ini. Sayangnya, dengan konten yang terlalu padat, jalan cerita Bulan di Atas Kuburan gagal dipresentasikan dengan ritme penceritaan yang tepat. Selain kadang terasa terlalu lamban berjalan akibat dibebani terlalu banyak detil cerita yang sebenarnya kurang begitu diperlukan, Bulan di Atas Kuburan juga hadir dengan linimasa penceritaan yang terlalu acak. Dengan banyaknya konflik dan karakter, sulit untuk mengikuti perkembangan sudut pandang dari satu karakter ketika film ini memutuskan untuk meleburkan keseluruhan elemen ceritanya pada satu titik daripada berusaha menyajikannya dengan ritme penceritaan yang telabih beraturan.

Departemen akting Bulan di Atas Kuburan sendiri hadir dengan kualitas yang memuaskan. Meski hadir dengan chemistry yang jauh dari kesan meyakinkan ketika tampil dalam satu adegan bersama Atiqah Hasiholan, penampilan Rio Dewanto sebagai sosok pemuda berdarah Batak hadir dengan memuaskan. Transformasinya sebagai sosok pemuda daerah yang kemudian terjebak dalam rutinitas ibukota berhasil disajikan dengan baik. Begitu pula dengan Donny Alamsyah dan Tio Pakusadewo yang masing-masing mampu memberikan karakter mereka kompleksitas tersendiri atas berbagai konflik yang mereka hadapi dalam kehidupan. Para pemeran lain seperti Ria Irawan, Atiqah Hasiholan, Andre Hehanusa, Arthur Tobing, Nungky Kusumastuti hingga deretan kameo yang datang dari Amink, Meriam Bellina, Dayu Wijanto dan Denada Tambunan menambah solid kualitas departemen akting dari Bulan di Atas Kuburan.

Bulan di Atas Kuburan juga mampu tampil dengan kualitas teknikal yang kuat. Yang paling menonjol adalah tata sinematografi arahan Donny H. Himawan Nasution dan Samuel Uneputty yang mampu menyajikan gambar-gambar yang begitu indah namun tetap sesuai dengan atmosfer penceritaan yang dibutuhkan film ini. Begitu juga dengan aransemen musik bernuansa Batak arahan Willy Haryadi yang dibantu dengan Vicky Sianipar. Tampil begitu kuat dalam mengisi elemen emosional dari jalan cerita yang seringkali terasa kurang begitu mampu ditonjolkan. [C]

Bulan di Atas Kuburan (2015)

Directed by Edo WF Sitanggang Produced by Tim Matindas, Dennis Chandra, Leonardo A. Taher Written by Dirmawan Hatta (screenplay), Asrul Sani (previous screenplay, Bulan di Atas Kuburan) Starring Rio Dewanto, Tio Pakusadewo, Donny Alamsyah, Atiqah Hasiholan, Andre Hehanusa, Annisa Pagih, Ria Irawan, Ray Sahetapy, Arthur Tobing, Nungky Kusumastuti, Remy Sylado, Mutiara Sani, Mentari De Marelle, Meriam Bellina, Monica Setiawan, Otis Pamutih, Dayu Wijanto, Alfridus Godfred, Ferry Salim, Amink, Denada Tambunan Music by Willy Haryadi Cinematography Donny H. Himawan Nasution, Samuel Uneputty Editing by Edo Dunggio, Thomson Sianturi Studio Sunshine Pictures/MAV Production/FireBird Films Running time 120 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: Filosofi Kopi the Movie (2015)

filosofi-kopi-the-movie-posterDiadaptasi dari sebuah cerita pendek berjudul Filosofi Kopi karya Dee Lestari, Filosofi Kopi the Movie berkisah mengenai dua sahabat, Ben (Chicco Jerikho) dan Jody (Rio Dewanto), yang kini mengelola sebuah kedai kopi yang mereka namakan Filosofi Kopi. Berbeda dengan kebanyakan tempat minum kopi lainnya, Filosofi Kopi menawarkan sebuah pengalaman meminum kopi yang maksimal dari biji kopi terbaik yang diolah dengan begitu seksama oleh Ben yang memang begitu terobsesi dengan kopi semenjak kecil. Sayang, hutang ratusan juta yang dimiliki oleh kedai kopi tersebut secara perlahan mulai memberikan kesulitan bagi Ben dan Jody untuk meneruskan usaha mereka. Sebuah kesempatan untuk terlepas dari lilitan utang muncul ketika seorang pengusaha (Ronny P. Tjandra) menawarkan uang Rp1 miliar kepada Ben dan Jody asalkan mereka dapat menghasilkan secangkir kopi paling enak bagi seorang penggila kopi yang juga akan menjadi calon investornya. Ben, yang selalu merasa bahwa ia adalah barista terbaik di Jakarta – bahkan Indonesia, jelas merasa tertantang akan tawaran tersebut. Namun, tawaran tersebut tidak hanya akan menguji kemampuan Ben dalam mengolah kopi. Secara perlahan, tawaran tersebut juga memberikan tantangan besar pada persahabatannya dengan Jody sekaligus kemampuannya dalam berhadapan dengan masa lalu yang semenjak lama telah ingin ia lupakan.

Berkaca dari Perahu Kertas (2012) – yang diadaptasi menjadi dua seri film, Rectoverso (2013), Madre (2013) serta Supernova: Ksatria, Putri, & Bintang Jatuh (2014), adalah tidak mudah untuk tetap mempertahankan berbagai filosofi pemikiran seorang Dee Lestari yang begitu personal sekaligus puitis dan kemudian membawanya untuk menjadi sebuah penceritaan audio visual yang lancar. Bahkan, berbagai penyesuaian yang dilakukan penulis naskah cerita film terhadap novel-novel Dee Lestari tersebut seringkali justru menghilangkan sebagian besar esensi utama tulisannya. Memang, ibaratnya menggarap secangkir kopi, tulisan-tulisan Dee Lestari adalah biji kopi dengan kualitas berkelas yang siap untuk diolah menjadi secangkir kopi nikmat. Namun, secangkir kopi nikmat tidak hanya hadir dari kualitas biji kopinya. Diperlukan tangan handal yang mengerti benar bagaimana kondisi dan kualitas biji kopi tersebut untuk kemudian dapat mengolahnya dengan tepat menjadi sajian yang dapat dinikmati banyak orang.

Beruntung Filosofi Kopi the Movie kemudian memiliki Jenny Jusuf dan Angga Dwimas Sasongko yang menjadi pengolah dan pembuat kopi penceritaan dari biji kopi cerita berkualitas karya Dee Lestari. Sebagai seorang penulis naskah cerita, Jenny Jusuf berhasil menyelami setiap konflik serta karakter yang hadir dalam cerita Filosofi Kopi untuk kemudian memberikan penyesuaian yang tepat bagi kisah Filosofi Kopi the Movie. Setiap karakter dalam film ini mampu diberikan ruang penceritaannya sendiri yang secara perlahan berkembang menjadi penceritaan utuh namun sama sekali tidak bertabrakan satu sama lain. Deretan konflik dari tiap karakter tersebut justru saling melengkapi dan berlindung dalam satu tema penceritaan besar mengenai persahabatan serta hubungan antara anak dan orangtua yang akan mampu menyentuh setiap penontonnya. Bukan berarti naskah cerita arahan Jenny Jusuf hadir tanpa ada kelemahan apapun – durasi film ini rasanya dapat lebih dipersingkat dengan mengurangi beberapa konflik dan karakter minor, namun jika dibandingkan dengan film-film yang naskah ceritanya berasal dari adaptasi karya Dee Lestari sebelumnya, Jenny Jusuf mampu memberikan keadilan tersendiri bagi Filosofi Kopi the Movie dengan sama sekali tidak menghilangkan kesan berbagai pemikiran filosofis popular yang biasanya selalu terpancar dari tulisan seorang Dee Lestari namun tetap menghadirkannya dalam tatanan bahasa yang mudah dicerna.

Jika Jenny Jusuf merupakan sosok yang memberikan olahan awal pada biji kopi penceritaan Filosofi Kopi milik Dee Lestari maka Angga Dwimas Sasongko adalah sosok yang bertanggungjawab untuk mengeksekusi – menyeduh dan menyajikan – kopi Filosofi Kopi the Movie bagi para penikmatnya. Seperti pada Hari Untuk Amanda (2010) dan Cahaya dari Timur: Beta Maluku (2014), Filosofi Kopi the Movie kembali membuktikan kepiawaian seorang Angga Dwimas Sasongko dalam bercerita. Angga mampu menyajikan Filosofi Kopi the Movie dalam tempo penceritaan yang tepat – tidak terlalu lamban dan tidak pernah terasa terburu-buru. Sentuhannya tersebut mampu membuat Filosofi Kopi the Movie terasa begitu akrab, nyaman dan terasa hangat dalam berkisah. Pengarahan teknikal Filosofi Kopi the Movie juga sangat berkelas mulai dari tata sinematografi hingga aransemen musik yang mampu mendukung atmosfer penceritaan film.

Dan, tentu saja, Filosofi Kopi the Movie juga menghadirkan departemen akting dalam kualitas terbaik. Jajaran pemerannya yang berisikan nama-nama seperti Chicco Jerikho, Rio Dewanto, Julie Estelle, Slamet Rahardjo hingga Jajang C. Noer berhasil memberikan penampilan yang begitu mampu menghidupkan setiap karakter yang mereka perankan. Chemistry yang tercipta antara Chicco Jerikho dengan Rio Dewanto juga terasa begitu kuat yang semakin mengukuhkan kekuatan persahabatan yang terjalin antara karakter Ben dan Jody yang mereka perankan. Secara keseluruhan, Filosofi Kopi the Movie jelas menunjukkan kematangan dari setiap orang yang terlibat didalamnya, mulai dari konsep penceritaan yang matang hingga eksekusi yang benar-benar mampu menghantarkan citarasa terbaik dari cerita yang ingin disampaikan. Sajian yang jelas layak dan wajib dinikmati oleh setiap penikmat film. [B-]

Filosofi Kopi the Movie (2015)

Directed by Angga Dwimas Sasongko Produced by Anggia Kharisma, Handoko Hendroyono Written by Jenny Jusuf (screenplay), Dee Lestari (short story, Filosofi Kopi) Starring Chicco Jerikho, Rio Dewanto, Julie Estelle, Jajang C. Noer, Slamet Rahardjo, Ronny P. Tjandra, Otig Pakis, Joko Anwar, Norman Akyuwen, Tara Basro, Verdi Solaiman, Tanta Ginting, Baim Wong Music by Glenn Fredly Cinematography Robie Taswin Editing by Ahsan Andrian Studio Visinema Pictures Running time 117 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: Guru Bangsa Tjokroaminoto (2015)

guru-bangsa-tjokroaminoto-posterMembuat sebuah film biopik jelas bukanlah sebuah perkara mudah. Masalah terbesar? Lupakan bagaimana cara untuk menemukan pemeran yang tepat – dan, ada baiknya, memiliki karakteristik fisik yang serupa – untuk memerankan karakter tersebut. Yes. It sure is a big problem. Namun menyajikan rangkuman perjalanan panjang kehidupan satu karakter dalam sebuah alur penceritaan dengan sebuah batasan waktu jelas adalah masalah yang lebih pelik. Masalah itulah yang seringkali menghantui banyak film biopik – buatan lokal maupun internasional, tidak terkecuali pada film biopik terbaru garapan Garin Nugroho mengenai salah satu tokoh pelopor pergerakan Indonesia, Oemar Said Tjokroaminoto, yang berjudul Guru Bangsa Tjokroaminoto.

Naskah cerita Guru Bangsa Tjokroaminoto yang digarap oleh Ari Syarif dan Erik Supit berdasarkan ide cerita yang mereka kembangkan bersama Sabrang Mowo Damar Panuluh, Garin Nugroho dan Kemal Pasha Hidayat sendiri sebenarnya telah membatasi perjalanan film ini untuk hanya meliputi masa perjuangan Oemar Said Tjokroaminoto yakni ketika ia mendirikan organisasi Sarekat Islam pada tahun 1912 hingga ia kemudian ditahan oleh pihak Belanda pada tahun 1921 – dengan sekelumit kisah tambahan dari berbagai dimensi kehidupannya. Namun, dengan kehadiran banyaknya plot cerita hingga karakter pendukung yang berada dalam kehidupannya, kisah Oemar Said Tjokroaminoto masih tetap terasa cukup kompleks bahkan untuk dipadatkan dalam durasi penceritaan sepanjang 161 menit.

Penumpukan konflik dan karakter dalam Guru Bangsa Tjokroaminoto benar-benar terasa di bagian awal penceritaan. Garapan Garin Nugroho yang menyajikan kisahnya dengan tempo yang lumayan cepat juga tidak banyak membantu: penonton jelas akan merasa sedikit dipusingkan dengan kehadiran banyak konflik maupun karakter yang secara silih berganti hadir di hadapan mereka tanpa pernah diberi kesempatan untuk mengenal konflik maupun karakter tersebut dengan lebih seksama. Pun begitu, seiring dengan melambannya tempo pengisahan cerita sekaligus mengerucutnya konflik dan karakter yang hadir dalam jalan cerita, Guru Bangsa Tjokroaminoto baru menemukan pijakan penceritaan yang pas. Garin secara perlahan mulai memberikan ruang yang cukup bagi setiap konflik untuk berkembang dengan baik maupun setiap karakter untuk mendapatkan fungsi penceritaan mereka dengan tepat. Membutuhkan waktu namun jelas kemudian mampu tampil dengan garapan yang kuat.

Berbeda dengan film biopik Soegija (2012) garapan Garin sebelumnya yang dipenuhi dengan berbagai kiasan maupun metafora, Guru Bangsa Tjokroaminoto jelas terasa lebih mudah diakses kisahnya. Garin tetap menghadirkan satu, dua metafora dalam penceritaan film ini – bersuasana teatrikal dengan tujuan untuk lebih memadatkan jalan cerita – namun tetap terasa ringan sekaligus emosional untuk diikuti. Tidak lupa, Garin juga menyajikan filmnya dengan tatanan teknikal yang benar-benar berkelas. Sinematografi arahan Ipung Rachmat Syaiful yang puitis melengkapi kekuatan jalan penceritaan Guru Bangsa Tjokroaminoto. Begitu pula dengan tata musik garapan Andi Rianto yang begitu mampu meningkatkan sisi emosional dari setiap adegan film tanpa pernah membuatnya terasa mendayu-dayu secara berlebihan. Bahkan, adalah cukup adil untuk meletakkan komposisi musik Andi Rianto untuk film ini sebagai salah satu komposisi musik film Indonesia terbaik dalam beberapa tahun terakhir. It’s that good!

Dipimpin oleh Reza Rahadian yang berperan sebagai sang karakter utama, departemen akting Guru Bangsa Tjokroaminoto juga tergarap dengan sangat baik – jika Anda tidak ingin menyebutnya sempurna. Anda lelah dengan kehadiran Reza Rahadian dalam setiap film Indonesia yang Anda saksikan? Mungkin saja. Namun, dengan melihat dedikasi kuatnya dalam berperan sebagai Oemar Said Tjokroaminoto, siapapun jelas tidak akan mampu memungkiri bahwa Reza Rahadian adalah aktor terbaik di generasinya. Aktor yang dapat memerankan setiap karakter dengan begitu sempurna – dan membuat aktingnya terlihat begitu mudah untuk dilakukan.

Penampilan Reza juga didukung dengan penampilan dan chemistry yang sangat erat dari Putri Ayudya yang berperan sebagai istri dari karakter Oemar Said Tjokroaminoto, Soeharsikin. Penampilan menarik lain datang dari Deva Mahenra – yang terlihat sangat meyakinkan sebagai sosok Soekarno muda yang begitu polos, Chelsea Islan – yang semakin mampu menunjukkan kematangan aktingnya serta Ibnu Jamil, Tanta Ginting dan Ade Firman Hakim yang masing-masing mampu menghidupkan karakter mereka dengan begitu baik. Tidak lupa, dukungan dari aktor dan aktris senior seperti Soedjiwo Tedjo, Christine Hakim dan Didi Petet juga semakin memperkuat kualitas departemen akting film ini. Jangan pula lewatkan penampilan komikal dari seniman ludruk asal Jawa Timur bernama Unit yang perannya sebagai Mbok Toen dalam film ini akan sangat mampu mencuri perhatian tiap penonton.

Guru Bangsa Tjokroaminoto jelas sekali lagi membuktikan kehandalan seorang Garin Nugroho. Meskipun hadir dengan beberapa masalah penumpukan konflik dan karakter khususnya di awal pengisahan namun secara keseluruhan Guru Bangsa Tjokroaminoto tetap mampu hadir sebagai sebuah film biopik yang mampu hadir kuat dengan garapan tata teknikal yang berkelas, penampilan para pengisi departemen akting yang sangat solid serta, tentu saja, pengarahan cerita yang akan sangat mampu membuat setiap penontonnya tergugah mengenai bagaimana situasi politik Indonesia saat ini tidak begitu banyak berubah dari masa pergerakan yang dikawal oleh Oemar Said Tjokroaminoto. Indonesia’s finest period piece since Sang Penari (2011). A grand beauty! [B]

Guru Bangsa Tjokroaminoto (2015)

Directed by Garin Nugroho Produced by Christine Hakim, Didi Petet, Dewi Umaya Rachman, Sabrang Mowo Damar Panuluh, Nayaka Untara, Ari Syarif Written by Ari Syarif, Erik Supit (screenplay), Ari Syarif, Erik Supit, Sabrang Mowo Damar Panuluh, Garin Nugroho, Kemal Pasha Hidayat (story) Starring Reza Rahadian, Putri Ayudya, Maia Estianty, Christine Hakim, Ibnu Jamil, Alex Komang, Tanta Ginting, Chelsea Islan, Sudjiwo Tejo, Egi Fedly, Christoffer Nelwan, Deva Mahenra, Didi Petet, Ade Firman Hakim, Alex Abbad, Gunawan Maryanto, Jay Widjajanto, Arjan Onderdenwijngaard, Gerard Mosterd, Rudi Corens, Martin Van Bommel, Joanna Dudley, Paul Agusta Music by Andi Rianto Cinematography Ipung Rachmat Syaiful Editing by Wawan I. Wibowo Studio Pic[k]lock Production/Yayasan Keluarga Besar HOS Tjokroaminoto/MSH Films Running time 161 minutes Country Indonesia Language Indonesian