Tag Archives: Indonesian Cinema

Review: Pizza Man (2015)

pizza-man-posterDalam Pizza Man, tiga orang gadis yang saling bersahabat baru saja melalui salah satu hari terburuk dalam kehidupan mereka: Olivia (Joanna Alexandra) dipecat dari pekerjaannya karena ia tidak mau melayani godaan pimpinan tempat ia bekerja, Nina (Karina Nadila) menerima kabar buruk bahwa kekasihnya lebih memilih untuk kembali ke istrinya daripada berusaha mempertahankan hubungan mereka sementara Merry (Yuki Kato) dijodohkan oleh ibunya dengan seorang pemuda yang sama sekali tidak ia sukai. Untuk melupakan segala permasalahan mereka, ketiganya lantas memilih untuk bersenang-senang dengan mengkonsumsi alkohol dan narkotika. Dalam keadaan setengah sadar akibat bahan makanan yang mereka konsumis, ketiga gadis tersebut kemudian menyusun rencana untuk membalaskan rasa frustasi mereka terhadap kaum pria yang sering dianggap mengecewakan mereka: mereka akan menculik seorang pria secara acak dan lantas memperkosanya. Ide brilian… hingga akhirnya mereka tersadar keesokan harinya dan menemukan sesosok pria dalam keadaan tidak bernyawa lagi di rumah yang mereka tempati.

Harus diakui, naskah cerita Pizza Man yang digarap oleh Gandhi Fernando dan R. Danny Jaka Sembada menawarkan sebuah jalinan kisah komedi yang cukup berani dan berbeda jika ingin dibandingkan dengan kebanyakan film-film komedi Indonesia lainnya. Kedua penulis naskah tersebut sepertinya mencoba untuk mengaplikasikan kegilaan plot cerita yang dahulu pernah disajikan The Hangover (Todd Phillips, 2009) dengan karakter-karakter wanita yang mampu berbuat maupun berkata-kata kotor seperti yang pernah dikreasikan Paul Feig pada karakter-karakternya dalam film Bridesmaids (2011) – dengan, tentu saja, sentuhan kearifan lokal di berbagai bagian penceritaannya. Namun, di saat yang bersamaan, naskah cerita Pizza Man garapan Gandhi Fernando dan R. Danny Jaka Sembada juga memberikan sebuah pertanyaan baru bagi banyak penontonnya: sejauh apakah sebuah guyonan masih dapat disebut sebagai guyonan maupun komedi yang layak?

Guyonan tentang perbuatan perkosaan jelas bukanlah sebuah hal yang layak untuk dipandang sebelah mata. Pernah mendengar anekdot bahwa, berbeda dengan wanita, kaum pria justru akan menikmati jika dirinya diperkosa oleh seorang wanita? Well… penulis naskah cerita Pizza Man sepertinya menggunakan anekdot tersebut dalam jalan cerita filmnya dan menganggap bahwa well… ide mengenai sebuah tindakan seksual yang dipaksakan pada seseorang adalah suatu hal yang lumrah terjadi – jika korbannya adalah seorang pria. Guess what? It’s not! Tindakan perkosaan, baik jika terjadi pada seorang wanita ataupun seorang pria, tetap adalah sebuah tindakan perkosaan. Yang lebih ironis lagi, kedua penulis naskah film ini dengan “cerdasnya” justru memberikan latar belakang pada salah satu karakter wanitanya sebagai karakter yang menderita trauma dan tekanan mental akibat pernah menjadi korban pelecehan seksual. DAN SANG WANITA TERSEBUT KEMUDIAN JUSTRU TURUT SERTA DALAM PERCOBAAN PERKOSAAN PADA SEORANG PRIA ASING YANG TIDAK DIKENALNYA. Come on! Jalan cerita sebuah film komedi (mungkin harusnya) tidak perlu dianggap serius. Namun guyonan dalam sebuah komedi jelas masih memiliki batas. Pernah mendengar guyonan tentang perkosaan dalam The Hangover atau Bridesmaids? Nope. Sekasar atau sevulgar apapun guyonan yang disajikan dalam kedua film tersebut, ataupun banyak komedi berating dewasa buatan Hollywood lainnya, perkosaan jelas adalah satu hal yang tidak akan pernah dianggap sebagai sebuah guyonan yang layak untuk disajikan.

Jika ingin melupakan kesalahan fatal tentang guyonan tidak berkelas yang tersaji dalam beberapa bagian film ini, Pizza Man sebenarnya merupakan sebuah film yang tergarap dengan cukup baik. Naskah cerita film ini memang masih memiliki kelemahan di beberapa eksekusi plot penceritaannya namun sutradara Ceppy Gober mampu mengarahkan cerita filmnya dengan ritme yang berjalan cepat – cukup sesuai dengan nada penceritaan yang dibutuhkan oleh film-film komedi sejenis. Ceppy Gober juga berhasil mengarahkan ketiga pemeran utama filmnya untuk menghasilkan chemistry yang cukup erat dan meyakinkan antara ketiga karakter yang mereka perankan. Harus diakui, pada beberapa bagian – khususnya pada pengisahan drama, ketiga pemeran utama film memang masih hadir dengan penampilan yang goyah. Namun secara keseluruhan, ketiganya mampu tampil baik dalam menghidupkan setiap karakter yang mereka perankan.

Pizza Man juga menghadirkan sederetan aktor, aktris maupun selebritis untuk tampil dalam porsi penceritaan yang terbatas dalam jalan ceritanya. Beberapa penampilan tersebut hadir dalam kesan yang cukup dipaksakan – we’re looking at you, Bran Vargas and Derby Romero – namun kebanyakan diantaranya justru mampu tampil mencuri perhatian dan menjadi bagian yang cukup menghibur dari film ini. Lihat saja penampilan Babe Cabiita atau duo Chika Waode dan Kemal Palevi yang sangat prima dan bahkan layak untuk diberikan porsi penceritaan yang seharusnya lebih besar lagi. Tidak ada permasalahan yang cukup berarti dalam sisi teknikal film ini – seluruhnya mampu dieksekusi dengan cukup baik. Seandainya Pizza Man dapat dihadirkan dengan naskah cerita yang lebih cerdas lagi dalam mengolah guyonannya mungkin film ini akan mampu tampil sebagai sebuah film komedi yang istimewa. [C-]

Pizza Man (2015)

Directed by Ceppy Gober Produced by Laura Karina, Gandhi Fernando Written by Gandhi Fernando, R. Danny Jaka Sembada Starring Joanna Alexandra, Yuki Kato, Karina Nadila, Gandhi Fernando, Chika Waode, Kemal Palevi, Babe Cabiita, Dhea Ananda, Rangga Djoned, Bran Vargas, Hengky Solaiman, Zerny Rusmalia, Dennis Adhiswara, Meisya Siregar, Novita Angie, Dicky Adam, Reza Headline, Wandahara, Fitri Ayu Maresa, Bubah Alfian, Allan Wangsa, Johan Morgan Purba, Mike Ethan, Erick Estrada, Derby Romero Music by Andhika Triyadi Cinematography Laura Karina Editing by Heytuta Masjhur Studio Renee Pictures/Flicker Production Running time 83 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: Doea Tanda Cinta (2015)

doea-tanda-cinta-posterDengan naskah cerita yang ditulis oleh Jujur Prananto (Haji Backpacker, 2014), Doea Tanda Cinta berkisah mengenai dua orang pemuda, Bagus (Fedi Nuril) dan Mahesa (Rendy Kjaernett), yang berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda namun kemudian dipertemukan ketika mereka sedang menuntut ilmu di Akademi Militer milik Tentara Nasional Indonesia. Awalnya, Bagus dan Mahesa tidak begitu saling menyukai satu sama lain. Namun, kehidupan militer yang menempa mereka kemudian membuat keduanya melupakan perbedaan latar belakang mereka dan akhirnya tumbuh menjadi dua orang sahabat yang saling mendukung satu sama lain. Rasa persahabatan itu pula yang kemudian membuat Bagus memilih memendam rasa sukanya pada Laras (Tika Bravani) ketika ia mengetahui bahwa Mahesa juga menyukai gadis tersebut.

Film yang menjadi debut pengarahan film layar lebar bagi bagi Rick Soerafani ini sebenarnya dimulai dengan cukup baik. Doea Tanda Cinta berfokus pada mengenalkan dua karakter utamanya, awal mereka masuk ke Akademi Militer milik Tentara Nasional Indonesia serta perkembangan hubungan persahabatan mereka selama menjalani pendidikan disana. Jalan cerita yang didominasi oleh kisah persahabatan yang dibumbui dengan beberapa unsur komedi tersebut berhasil dieksekusi dengan baik oleh Rick Soerafani yang menghadirkannya dengan alur sederhana namun berhasil memberikan kesan yang cukup mendalam kepada para penontonnya. Sayangnya, ketika jalan cerita mulai memalingkan fokusnya pada sisi romansa, Doea Tanda Cinta mulai menemui beberapa hambatan yang membuatnya gagal untuk bercerita selancar cara penceritaan paruh pertamanya.

Masalah utama yang dihadapi oleh sisi romansa dari film ini adalah Jujur Prananto gagal menyajikannya menjadi bagian yang terasa cukup esensial untuk disajikan dalam rangkaian kisah Doea Tanda Cinta. Baiklah. Sisi romansa memang harusnya menjadi sajian utama bagi sebuah film yang menggunakan kata “cinta” pada judulnya. Namun sisi romansa dalam jalan cerita film ini terasa begitu dangkal dan hadir begitu datar sehingga bukannya menjadi menjadi bagian yang mampu tampil romantis ataupun menyentuh melainkan justru menjadi distraksi tersendiri bagi perjalanan kisah persahabatan antara karakter Bagus dan Mahesa yang telah terbangun dengan cukup solid pada paruh pertama film. Hasilnya, Doea Tanda Cinta terkesan menjadi sebuah presentasi yang terkesan setengah hati dalam bercerita. Tidak mampu untuk menyajikan sebuah kisah romansa yang mengikat yang kemudian mengganggu keutuhan kisah persahabatan dalam dunia militer yang sedari awal telah menjadi daya pikat utama dari film ini.

Terlepas dari beberapa kelemahan tersebut, Doea Tanda Cinta mampu menunjukkan bahwa Rick Soerafani adalah seorang pengarah cerita yang cukup handal. Bukan hanya berhasil mengeksekusi sisi drama dari film ini. Sisi aksi yang mengisi paruh ketiga penceritaan Doea Tanda Cinta juga berhasil disajikan dengan baik. Dengan penataan intensitas cerita di medan perang yang terbangun dengan baik serta paduan tatanan gambar karya sinematografer Yunus Pasolang, arahan musik Aghi Narottama dan Bemby Gusti serta desain produksi yang benar-benar berkelas, Rick Soerafani berhasil menggarap salah satu adegan konflik perang terbaik yang disajikan dalam sebuah film Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Jelas adalah sebuah debut pengarahan yang sangat, sangat menjanjikan.

Departemen akting Doea Tanda Cinta sendiri diisi dengan deretan pemeran yang tampil dengan kapabilitas yang tidak mengecewakan. Tiga pemeran utamanya, Fedi Nuril, Rendy Kjaernett dan Tika Bravani mampu tampil baik dalam menghidupkan setiap karakter yang mereka perankan sekaligus membangun chemistry yang cukup meyakinkan satu sama lain – lagi-lagi terlepas dari lemahnya penataan sisi romansa dari jalan cerita film ini. Dukungan dari para pemeran pendukung seperti Rizky Hanggono, Ingrid Widjanarko, Ernest Samudera hingga Albert Fakdawer juga memberikan kontribusi yang cukup berarti pada kesolidan kualitas departemen akting dari film yang terkemas dengan cukup baik meskipun hadir dengan beberapa kelemahan dalam jalan penceritaannya ini. [C]

Doea Tanda Cinta (2015)

Directed by Rick Soerafani Produced by Alfani Wiryawan Written by Jujur Prananto (screenplay), Hotnida Harahap, Hendra Yus, Satria Pringgodani (story) Starring Fedi Nuril, Rendy Kjaernett, Tika Bravani, Rizky Hanggono, Dimas Shimada, Tio Pakusadewo, Ingrid Widjanarko, Donny Kesuma, Ernest Samudera, Trisa Triandesa, Albert Fakdawer, Aaliyah Massaid, Agatha Valerie, Kukuh Riyadi Music by Naghi Arottama, Bemby Gusti Cinematography Yunus Pasolang Editing by Yoga Krispratama Studio Cinema Delapan/Inkopad/Benoa Running time 95 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: Dejavu: Ajian Puter Giling (2015)

dejavu-posterSetelah Mirror (2005) dan The Real Pocong (2009), sutradara Hanny R. Saputra kembali ke ranah horor lewat Dejavu: Ajian Puter Giling. Dengan naskah cerita yang digarap oleh Baskoro Adi (Kampung Zombie, 2015), Dejavu: Ajian Puter Giling berkisah mengenai Mirna (Ririn Ekawati) yang bekerja sebagai seorang perawat pribadi bagi Sofia (Ririn Dwi Aryanti) yang menderita trauma akibat kecelakaan yang baru saja ia alami. Mirna tidak sendirian. Suami Sofia, Yudo (Dimas Seto), juga setia berada di rumah tua tersebut untuk menjaga sang istri. Semenjak pertama kali menginjakkan kakinya, Mirna selalu merasa bahwa dirinya dihantui akan berbagai kenangan masa lalu dari rumah itu. Keberadaan Mirna juga sering dibayangi oleh berbagai hal misterius, mulai dari sosok tak dikenal yang berada di kamarnya hingga suara-suara halus yang terus mengikutinya. Walau merasa takut, Mirna mulai mengumpulkan keberaniannya guna mengungkap misteri apa yang sebenarnya terjadi di rumah tua tersebut.

Naskah cerita Dejavu: Ajian Puter Giling yang digarap oleh Baskoro Adi harus diakui memiliki konsep yang cukup menarik dalam penceritaannya. Dengan memanfaatkan fenomena déjà vu – sebuah perasaan ketika seseorang merasa pernah mengalami atau menyaksikan suatu kejadian atau pernah berada di suatu tempat sebelumnya, naskah cerita Dejavu: Ajian Puter Giling berusaha untuk menyatukan dua buah kisah dalam dua linimasa yang berbeda untuk kemudian membalutnya dalam elemen horor tradisional khas Indonesia. Jelas sebuah sentuhan yang cukup menyegarkan jika dibandingkan dengan jalan cerita yang disajikan oleh kebanyakan film-film horor Indonesia belakangan. Sayang, konsep tersebut kemudian gagal mendapatkan pembangunan cerita yang kokoh. Baskoro Adi terkesan kebingungan untuk menghadirkan misteri demi misteri yang ada dalam jalan ceritanya sehingga Dejavu: Ajian Puter Giling akhirnya terasa membingungkan untuk diikuti pengisahannya, khususnya di paruh pertama dan kedua penceritaannya.

Tidak hanya dari segi penceritaan. Ketiga karakter utama yang dihadirkan dalam film ini juga terasa gagal untuk disajikan dengan lebih kuat. Deretan konflik yang terjadi diantara ketiga karakter tersebut seringkali terasa hambar akibat konflik demi konflik yang tersaji secara cukup dangkal. Hanny R. Saputra sendiri menyajikan Dejavu: Ajian Puter Giling dengan tempo penceritaan yang sederhana. Dua paruh awal penceritaan yang memang diniatkan untuk mengenalkan konsep déjà vu sekaligus mengenal konflik awal serta karakter-karakter yang hadir dalam film ini disajikan dengan tempo penceritaan yang cukup lamban sebelum akhirnya film hadir dengan penceritaan yang lebih lugas di paruh ketiganya. Cukup membutuhkan kesabaran ekstra tinggi untuk menikmatinya, khususnya ketika departemen penataan musik Dejavu: Ajian Puter Giling memutuskan untuk menyajikan kejutan-kejutan dalam penceritaan dengan cara meningkatkan volume musiknya secara berulang kali.

Dengan karakter yang memiliki latar penceritaan cukup terbatas, ketiga pemeran utama Dejavu: Ajian Puter Giling cukup mampu menampilkan penampilan akting terbaik dalam menghidupkan setiap karakter yang mereka perankan. Ririn Ekawati jelas menjadi perhatian utama dalam film ini ketika dirinya berhasil menyajikan sosok karakter yang begitu kebingungan tentang berbagai misteri yang ada di sekitarnya sekaligus membuat penonton terus menetapkan perhatian mereka pada karakter tersebut. Dimas Seto dan Ririn Dwi Aryanti juga tampil meyakinkan dalam peran mereka yang benar-benar terbatas. Seandainya dua karakter yang diperankan oleh keduanya diberikan kisah yang lebih mendalam lagi, mungkin Dejavu: Ajian Puter Giling akan mampu hadir dengan penceritaan yang lebih kuat. Secara keseluruhan, meskipun hadir dengan konsep cerita yang cukup segar serta beberapa momen horor yang mampu terkeksekusi dengan baik, Dejavu: Ajian Puter Giling masih belum mampu untuk tampil dengan kualitas penceritaan horor yang lebih istimewa. Cukup disayangkan. [C-]

Dejavu: Ajian Puter Giling (2015)

Directed by Hanny R. Saputra Produced by Firman Bintang Written by Baskoro Adi Starring Ririn Ekawati, Dimas Seto, Ririn Dwi Aryanti Music by Areza Riandra Cinematography Rizko Angga Vivedru Editing by Lilik Subagyo Studio BIC Pictures Running time 82 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: Epen Cupen the Movie (2015)

epen-cupen-the-movie-posterEmpat tahun setelah mengarahkan Lost in Papua – yang selamanya mungkin diingat sebagai salah satu pengalaman menonton film terburuk bagi kebanyakan penikmat film Indonesia, Irham Acho Bachtiar kembali membawa penontonnya ke wilayah paling timur Indonesia tersebut lewat Epen Cupen the Movie. Epen Cupen the Movie sendiri diangkat dari kesuksesan sebuah webseries berjudul Epen Cupen – akronim dari Emang Penting Cukup Penting – yang menyajikan deretan sketsa komedi singkat tentang kehidupan keseharian penduduk Papua yang digarap oleh Papua Selatan Film Community. Untuk versi filmnya, Irham Acho Bachtiar tetap menghadirkan sentuhan komedi khas masyarakat Papua seperti yang selalu tersaji dalam webseries Epen Cupen sekaligus mengemasnya dengan dukungan elemen aksi pada beberapa bagian penceritaannya.

Jalan cerita Epen Cupen the Movie sendiri dimulai ketika seorang pemuda asal Papua bernama Celo (Klemens Awi) ditugaskan oleh sang ayah untuk mencari saudara kembarnya yang telah hilang semenjak kecil. Dalam perjalanannya tersebut, Celo kemudian bertemu dengan seorang pemuda asal Medan, Babe (Babe Cabiita), yang sedang dalam pelarian dari para penagih hutang akibat usahanya yang telah mengalami kebangkrutan. Dengan janji akan memberikan sejumlah uang untuk membantu melunasi hutang-hutangnya, Babe akhirnya setuju untuk membantu Celo. Perjalanan keduanya lantas berlanjut ke Jakarta. Di kota tersebut, keduanya mendapatkan kejutan ketika mengetahui bahwa saudara kembar Celo merupakan seorang pemimpin salah satu kelompok preman yang kini tengah berseteru dengan pimpinan kelompok preman lainnya, John (Edward Gunawan).

Untungnya, dengan sentuhan komedi yang cukup kental, perjalanan ke ranah Papua yang dilakukan Irham Acho Bachtiar kali ini mampu tampil jauh lebih baik daripada Lost in Papua. Kekuatan utama film ini jelas hadir dari chemistry yang terjalin antara dua pemeran utamanya, Klemens Awi dan Babe Cabiita, yang mampu menyajikan benturan perbedaan budaya yang terdapat diantara kedua karakter mereka menjadi sumber komedi tingkat tinggi yang begitu menghibur. Tidak mengherankan jika paruh pertama film yang banyak mengeksplorasi lemparan guyonan antara Klemens Awi dan Babe Cabiita menjadi momen keemasan tersendiri bagi Epen Cupen the Movie. Tampil prima dengan sentuhan komedi yang begitu kental dan terasa hangat.

Sayangnya, seiring dengan kehadiran beberapa konflik dan karakter pendukung, Epen Cupen the Movie mulai terasa kehilangan fokus dan ketajaman dalam penceritaannya. Bukan berarti film ini lantas berubah menjadi demikian buruk namun, jika dibandingkan dengan paruh pertama film yang benar-benar bertumpu pada pembangunan kisah persahabatan antara karakter Celo dan Babe, paruh kedua film menghadirkan konflik yang terkesan datar dan kurang utuh penggalian kisahnya. Banyak diantara konflik pendukung tersebut hanya sekedar menjadi pemicu bagi kehadiran adegan aksi dalam jalan cerita film tanpa pernah benar-benar tersaji dengan menarik. Berbicara mengenai adegan aksi dalam film ini, Irham Acho Bachtiar mampu dengan baik mengeksekusi setiap adegan aksi dalam Epen Cupen the Movie. Tidak istimewa namun jelas jauh dari mengecewakan.

Selain Klemens Awi dan Babe Cabiita yang mampu tampil bersinar dalam elemen komedi mereka, departemen akting Epen Cupen the Movie juga diisi oleh beberapa nama lain seperti Marissa Nasution, Edward Gunawan hingga kehadiran beberapa comics – sebutan untuk para pelaku stand-up comedy – di beberapa bagian kisahnya. Tidak banyak hal yang dapat diungkapkan dari penampilan para pemeran pendukung film ini. Baik Marissa Nasution dan Edward Gunawan terasa canggung dalam memerankan karakter mereka. Edward Gunawan – yang tampil memukau dalam Arisan! 2 (Nia Dinata, 2011) dan Street Society (Awi Suryadi, 2014) bahkan hadir dengan penampilan akting yang terlalu dibuat-buat sebagai sosok pimpinan kelompok preman yang berkepribadian tangguh. Ruang penceritaan yang minimalis juga tidak banyak memberikan kesempatan bagi para comics untuk lebih meningkatkan adrenalin komedi pada paruh kedua film. Hasilnya, Epen Cupen the Movie yang awalnya terasa cukup menjanjikan sebagai sebuah film aksi komedi berakhir dengan tanggung dan gagal memberikan kesan yang lebih mendalam. [C]

Epen Cupen the Movie (2015)

Directed by Irham Acho Bachtiar Produced by Gope T. Samtani Written by Irham Acho Bachtiar Starring Klemens Awi, Babe Cabiita, Marissa Nasution, Edward Gunawan, Nato Beko, Fico Fachriza, Deddy Mahendra Desta, Pierre Gruno, Abdur Arsyad, Temon Templar, David Nurbianto, Uus, Fadly Jackson, Wita, Hengky Henggise, Cesilia Birio, Maria Fan Gebze, Vera Minipko, Thomas Kimko Music by Indra Q Cinematography Fachmi J. Saad Editing by Ryan Purwoko Studio Rapi Films Running time 95 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: LDR (2015)

ldr-posterFilm terbaru arahan Guntur Soeharjanto, LDR, memulai kisahnya ketika Carrie (Mentari De Marelle) yang semenjak kecil telah bermimpi untuk berkunjung ke Verona, Italia, akhirnya mendapatkan impiannya tersebut. Dalam perjalanannya menyusuri kota tempat kediaman Juliet dalam drama klasik karya William Shakespeare, Romeo & Juliet, tersebut, Carrie secara tidak sengaja berhasil mencegah tindakan bunuh diri yang akan dilakukan oleh Demas (Verrell Bramasta) akibat putusnya tali asmara antara dirinya dengan sang kekasih, Alexa (Aurelie Moeremans). Carrie kemudian berusaha membantu Demas untuk kembali mendapatkan perhatian Alexa yang juga tinggal di kota tersebut. Namun, di saat yang bersamaan, Carrie mulai merasakan bahwa ia mulai jatuh cinta kepada sosok Demas.

LDR sebenarnya memiliki potensi yang cukup untuk menjadi sebuah film drama romansa remaja yang mampu tampil menarik bahkan kepada mereka yang berada di luar pangsa pasar remaja yang menjadi target utama film ini. Paruh awal naskah cerita LDR yang digarap oleh Cassandra Massardi – yang sebelumnya juga pernah bekerjasama dengan Guntur Soeharjanto dalam Tampan Tailor (2013) – mampu membuktikan hal tersebut. Didukung dengan sajian sinematografi akan keindahan kota Verona, Italia yang kuat, paruh awal penceritaan LDR berhasil membangun awal perkenalan antara kedua karakter utamanya dengan cukup baik dan manis. Sayang, ketika hubungan antara karakter Carrie dan Demas telah mulai terbangun dengan baik dan ketika plot penceritaan mulai berpindah pada usaha karakter Carrie untuk membantu hubungan asmara antara karakter Demas dan Alexa, LDR mulai terasa begitu bertele-tele dalam penceritaannya.

Perubahan ritme penceritaan LDR yang lantas berjalan lamban tersebut jelas disebabkan atas keputusan untuk mengeksekusi naskah cerita LDR menjadi dua film yang berbeda. Akibatnya, bagian pertama dari LDR seringkali diisi dengan adegan maupun konflik yang sebenarnya terasa tidak memiliki kekuatan penceritaan yang mendalam dan dapat dihilangkan begitu saja. Keputusan untuk memanjang-manjangkan beberapa konflik yang tersaji dalam film ini juga tidak membuat penampilan LDR secara keseluruhan menjadi lebih baik. Seperti halnya Perahu Kertas (2012) arahan Hanung Bramantyo, adalah mudah untuk merasakan bahwa Naskah penceritaan LDR tidak memiliki materi pengisahan yang cukup untuk menjadikan dua film menjadi dua penceritaan yang sama-sama kuat dan tetap saling berhubungan satu sama lain.

Yang juga tidak cukup membantu kualitas presentasi keseluruhan film ini adalah pemilihan Verrel Bramasta dan Al Ghazali sebagai pemeran bagi dua sosok karakter dengan bagian kisah yang cukup krusial bagi LDR. Baiklah, adalah sangat dimengerti jika produser ingin memiliki dua aktor dengan penampilan fisik tampan guna menarik perhatian penonton remaja perempuan dalam menyaksikan film ini. Namun, dengan kemampuan akting keduanya yang (masih benar-benar) lemah, LDR menjadi terasa hadir tanpa detak kehidupan yang berarti. Datar. Chemistry yang dihasilkan oleh Verrell Bramasta dengan Mentari De Marelle benar-benar terasa gersang – suatu hal yang jelas seharusnya menjadi daya tarik utama dari film-film sejenis LDR. Verrell Bramasta dan Al Ghazali bahkan masih terlihat kaku di banyak adegan film – entah karena suhu Verona, Italia yang benar-benar membekukan mereka atau… yah… kemampuan akting mereka memang benar-benar hanya berada dalam tahapan begitu.

Untungnya film ini masih memiliki Mentari De Marelle. Layaknya nama yang disandangnya, Mentari mampu bersinar dan memberikan kehangatan tersendiri bagi kualitas departemen akting film ini. Begitu kuatnya penampilan Mentari, LDR lantas berjalan begitu semu setiap karakternya tidak berada dalam penceritaan film. Aurelie Moeremans sendiri juga tampil dengan kapasitas akting yang tidak mengecewakan. Namun, dengan porsi penceritaan yang tidak terlalu luas, jelas sulit bagi penampilan Aurelie untuk tampil lebih mengesankan bagi penonton.

Tidak banyak masalah yang ditemukan dari sisi teknikal LDR. Enggar Budiono berhasil memanfaatkan dengan maksimal keindahan kota Verona, Italia untuk menghadirkan gambar-gambar dengan kualitas membuai dalam keseluruhan presentasi LDR. Tata musik arahan Joseph S. Djafar yang tersaji dengan tambahan beberapa lagu pengiring yang pas juga mampu mengisi nuansa keromantisan film ini. Sedikit masalah mungkin dapat dirasakan dari proses dubbing film ini yang beberapa kali tampil tidak sesuai dengan gerak bicara dari karakter-karakter yang sedang berdialog. Cukup menarik untuk melihat apakah film kedua LDR nantinya akan mampu tampil dengan konflik yang lebih kuat atau malah turut tampil dengan deretan konflik yang terkesan dipanjang-panjangkan seperti yang tersaji dalam film pertamanya ini. [C-]

LDR (2015)

Directed by Guntur Soeharjanto Produced by Ody Mulya Hidayat Written by Cassandra Massardi Starring Al Ghazali, Verrell Bramasta, Aurelie Moeremans, Mentari De Marelle, Luthya Suri Music by Joseph S. Djafar Cinematography Enggar Budiono Editing by Ryan Purwoko Studio Maxima Pictures Running time 84 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: Tarot (2015)

tarot-posterIf it ain’t broke, don’t fix it. Rumah produksi Hitmaker Studios kembali menggunakan formula kesuksesan ketika menggarap Rumah Kentang (2012), 308 (2013) dan Rumah Gurita (2014) untuk memproduksi film horor terbaru mereka, Tarot: kolaborasi antara pengarahan dari sutradara Jose Poernomo, naskah cerita yang digarap oleh Riheam Junianti dan penampilan akting dari Shandy Aulia. Jika dibandingkan dengan kolaborasi mereka terdahulu, Tarot harus diakui mampu tampil dengan beberapa momen menegangkan yang tergarap dengan baik dan jelas dapat memberikan beberapa momen menyenangkan bagi para mereka yang memang menyukai film-film sejenis. Namun, tetap saja, naskah cerita film yang masih dipenuhi banyak konflik klise khas film horor Indonesia membuat Tarot terkesan berjalan lamban dan bertele-tele dalam sebagian besar masa pengisahannya.

Kisah Tarot sendiri dimulai ketika pasangan Julie (Shandy Aulia) dan Tristan (Boy William) yang akan segera menikah mendapatkan ramalan tarot dari seorang pembaca kartu tarot, Madam Herlina (Sara Wijayanto), yang tidak sengaja mereka temui di sebuah taman rekreasi. Julie dan Tristan awalnya jelas hanya bertujuan untuk bersenang-senang belaka dalam mengikuti pembacaan ramalan tersebut. Ramalan yang dibacakan Madam Herlina juga dimulai menyenangkan. Ia meramalkan bahwa Julie dan Tristan adalah pasangan yang serasi dan akan menjalani masa pernikahan yang menyenangkan. Namun, ramalan tersebut berubah menjadi suatu hal yang menakutkan ketika Madam Herlina mengingatkan bahwa seseorang dari masa lalu Julie akan datang dengan rasa amarah, membunuh kedua sahabatnya sekaligus berusaha membunuh Julie maupun Tristan. Tanpa disangka, ramalan Madam Herlina telah membuka secara detil semua plot cerita Tarot dan (seharusnya dapat) membebaskan penontonnya dari penderitaan dalam menyaksikan film ini sepanjang 118 menit.

Tarot sendiri sebenarnya dimulai dengan cukup baik dalam memperkenalkan karakter-karakter maupun konflik awal film ini. Meskipun tidak sepenuhnya menarik, Jose Poernomo setidaknya berhasil membangun pijakan awal cerita yang kokoh bagi para penonton untuk bersiap menyimak jalan penceritaan Tarot secara lebih mendalam. Namun, secara perlahan, momen-momen keunggulan Tarot tersebut mulai sirna seiring berjalannya durasi penceritaan film sekaligus pengisahan konflik yang cenderung bertele-tele. Paruh kedua dan ketiga penceritaan dari Tarot tampil begitu lemah akibat usaha memperpanjang konflik dengan deretan drama yang tergolong klise dan gagal untuk tersaji dengan menarik. Membosankan, walaupun Tarot sesekali mampu tampil dengan beberapa momen menegangkan yang berhasil dieksekusi dengan baik.

Departemen akting Tarot sendiri hadir dengan kualitas yang mungkin telah diharapkan semua orang ketika mengetahui bahwa departemen akting film ini diperkuat oleh Shandy Aulia dan Boy William. Tidak benar-benar buruk namun jelas masih dari kesan memuaskan. Chemistry yang dihadirkan keduanya – dalam berperan sebagai dua karakter yang saling mencintai satu sama lain – juga jauh dari meyakinkan. Penampilan Shandy Aulia sebagai dua sosok karakter sayangnya hanya ditandai dengan satu karakter dihadirkan dengan karakteristik pembawaan diri yang tenang sementara karakter lain hadir dengan nada bicara yang bertempo cepat dan cenderung tinggi. Tanpa berusaha membuat kedua karakter tersebut benar-benar hidup dan meyakinkan kehadirannya dalam jalan cerita film. But thenwhat can you expect from Shandy Aulia’s almost non-existent acting talent?

Seperti halnya film-film horor terdahulunya bersama Hitmaker Studios, Jose Poernomo kembali mampu menyajikan Tarot dengan tata teknikal yang terlihat meyakinkan. Tidak benar-benar istimewa namun jelas merupakan keunggulan paling maksimal yang dapat diraih oleh film ini. Jose Poernomo jelas terasa seperti tidak terlalu mempedulikan bagian krusial dari penceritaan dan lebih memilih untuk mencoba menghadirkan kengerian melalui tata atmosfer serta tampilan visual film. Berhasil? Mungkin. Namun, secara keseluruhan, dengan pengisahan yang masih tergolong lemah dan penyampaian cerita yang tergolong draggy, Tarot jelas masih sukar untuk dinikmati dengan baik. [C-]

Tarot (2015)

Directed by Jose Poernomo Produced by Rocky Soraya Written by Riheam Junianti Starring Shandy Aulia, Boy William, Sara Wijayanto, Aurellie Moeremans Music by Anto Hoes Cinematography Jose Poernomo Editing by Ratmini Studio Hitmaker Studios Running time 118 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: YouTubers (2015)

youtubers-posterSetelah I Know What You Did on Facebook (2010) dan #republiktwitter (2012), jelas tidak mengherankan jika saluran media sosial internet lain kemudian menjadi sumber inspirasi bagi film Indonesia lainnya. Diarahkan serta ditulis naskahnya oleh duo Kemal Palevi dan Jovial da Lopez, YouTubers adalah sebuah film yang sepertinya ingin memperkenalkan para penggiat video kreatif YouTube asal Indonesia ke khalayak yang lebih luas sekaligus memberikan kesempatan bagi mereka untuk mengetahui setiap langkah proses pembuatan sebuah video sebelum akhirnya video tersebut diunggah ke berbagai saluran YouTube dan disaksikan jutaan pasang mata dari seluruh penjuru dunia. Terdengar terlalu serius? Tidak juga. Disajikan dalam nada pengisahan komedi yang kental, YouTubers mampu tampil cukup menghibur meskipun dengan beberapa kelemahan yang hadir di berbagai sudut penampilannya.

Jalan cerita YouTubers sendiri dimulai dengan pengisahan tentang seorang pemuda bernama Jovial da Lopez (Jovial da Lopez) yang demi berusaha untuk mengesankan sang kekasih, Alexandra (Anggika Bolssterli), kemudian mengikuti proses casting sebuah film yang diarahkan oleh Hanung Bramantyo. Tidak hanya mendapatkan penolakan, proses casting yang diikuti Jovial berjalan begitu memalukan. Lebih sial lagi, adik Jovial, Andovi da Lopez, merekam seluruh proses casting tersebut dan kemudian mengunggahnya ke YouTube. Jelas Jovial kemudian merasa Andovi telah mempermalukan dirinya. Namun, ketika melihat reaksi internet yang cukup positif terhadap unggahan video tersebut yang dinilai lucu dan menghibur, Jovial dan Andovi mulai menyusun rencana untuk membuat video yang akan diunggah ke YouTube secara regular. Dalam waktu singkat, saluran YouTube yang dimiliki oleh Jovial dan Andovi mendapatkan banyak penggemar dan membuka pintu mereka untuk berkenalan sekaligus bekerjasama dengan banyak penggiat video YouTube lainnya.

Meskipun masih mampu hadir dengan beberapa guyonan yang harus diakui cukup menghibur namun naskah cerita YouTubers jelas merupakan bagian terlemah dari presentasi keseluruhan film ini. Naskah cerita garapan Kemal Palevi dan Jovial da Lopez terkesan hanyalah sebagai kumpulan beberapa sketsa komedi yang kemudian berusaha direkatkan oleh jalinan kisah utama hubungan karakter Jovial da Lopez dan Andovi da Lopez dalam usaha mereka untuk bersaing dan memproduksi deretan video yang akan mereka unggah ke YouTube. Tidak benar-benar buruk namun jelas masih terasa sebagai sebuah usaha yang minimalis ketika baik Kemal Palevi maupun Jovial da Lopez masih memperlakukan debut penyutradaraan mereka setara dengan usaha untuk mengarahkan sebuah video berdurasi singkat yang biasa mereka unggah ke YouTube.

YouTubers juga memberikan ruang yang (terlalu) luas bagi kehadiran cameo yang berisikan wajah-wajah familiar di industri film Indonesia sekaligus banyak para penggiat video kreatif YouTube popular asal Indonesia. Sayangnya, deretan cameo ini secara perlahan lebih sering terasa sebagai distraksi terhadap jalan cerita yang sedang berjalan daripada sebagai elemen hiburan maupun pelengkap bagi pengisahan YouTubers. Cukup mengganggu khususnya ketika film ini menghabiskan cukup banyak durasi penceritaannya bagi kehadiran deretan cameo tersebut dan bukan untuk penggalian kisah yang lebih mendalam. YouTubers mungkin diniatkan sebagai sebuah sajian untuk bersenang-senang – termasuk dengan penampilan para jajaran pemerannya yang hampir seluruhnya hadir sebagai diri mereka sendiri. Namun hal tersebut jelas bukan alasan untuk menyajikannya sebagai sebuah komedi dangkal. [C-]

YouTubers (2015)

Directed by Kemal Palevi, Jovial da Lopez Produced by Chand Parwez Servia, Fiaz Servia Written by Kemal Palevi, Jovial da Lopez Starring Jovial da Lopez, Andovi da Lopez, Anggika Bolsterli, Kemal Palevi, Donna Harun, DJ Yasmin, Ge Pamungkas, Yuniza Icha, Adinda Thomas, Rayi Putra, Marlo Ernesto, Hanung Bramantyo, Zaskia Adya Mecca, Fajar Nugros, Rani Ramadhany, Pandji Pragiwaksono, Tyas Mirasih, Eriska Rein, Pamela Bowie, Akbar Kobar, Sacha Stevenson, Natasha Farani, Ucok Baba, Agung Herkules, Benakribo, Edho Zell, Chandra Liow, Bayu Skak, Alfi Sugoi, Eno Bening, Duo Serigala, Raza Servia, Cesa David Luckmansyah Music by Andhika Triyadi Cinematography Roby Herbi Editing by Cesa David Luckmansyah Studio Starvision Running time 96 minutes Country Indonesia Language Indonesian