Tag Archives: Helfi Kardit

Review: Kampung Zombie (2015)

kampung-zombie-posterSebagai sebuah industri yang seringkali menyajikan menu horor bagi para konsumennya, jelas adalah cukup mengherankan melihat belum ada satu pembuat film horor Indonesia yang mencoba untuk mengangkat tema penceritaan mengenai zombi dalam film yang mereka buat – khususnya ketika film-film seperti 28 Days Later… (2002) atau Zombieland (2009) atau World War Z (2013) atau malah serial televisi The Walking Dead berhasil meraih perhatian dan popularitas yang luar biasa dari banyak penggemar film horor dunia. Bukannya tanpa usaha. Raditya Sidharta pernah menggarap segmen berjudul The Rescue yang mengangkat kisah mengenai makhluk yang sering juga disebut sebagai mayat hidup tersebut dalam film omnibus Takut: Faces of Fear (2008). Hal yang sama juga pernah dilakukan oleh Dion Widhi Putra yang menggarap film pendek berjudul Rengasdengklok untuk film kompilasi finalis Fantastic Indonesian Short Film Competition, FISFiC Vol. 1 (2011). Namun Anda harus mengingat jauh hingga film horor Indonesia legendaris Pengabdi Setan (Sisworo Gautama Putra, 1980) untuk mendapati karakter-karakter mayat hidup mengisi jalan cerita sebuah film Indonesia.

Di awal tahun 2015, duo sutradara, Billy Christian dan Helfi Kardit, merilis film berjudul Kampung Zombie yang mencoba untuk mengangkat para mayat hidup tersebut sebagai salah satu karakter sentral dalam jalan cerita filmnya. Meskipun baru dirilis ke pasaran, konsep cerita film ini sendiri sebenarnya telah lama dikembangkan oleh Billy Christian dengan judul Mati ½ Hidup. Sempat terkatung-katung selama beberapa tahun, konsep cerita horor mengenai para zombi yang dikembangkan oleh sutradara film 7 Misi Rahasia Sophie (2014) tersebut akhirnya mampu diproduksi dengan bantuan Ody Mulya Hidayat sebagai produser, Baskoro Adi yang bertugas mengolah naskah cerita film serta tambahan sentuhan dari Helfi Kardit dalam membantu tugas pengarahan film yang judulnya kemudian diganti menjadi Kampung Zombie seperti yang dikenal sekarang. Lalu bagaimana kualitas “film zombi Indonesia perdana” ini?

Perjalanan kisah Kampung Zombie sendiri dimulai ketika lima orang sahabat, Budi (El Jalaludin Rumi), Rico (Axel Matthew Thomas), Julie (Luthya Sury), Via (Kie Poetri) dan Joni (Ali Mensan), yang baru saja kembali dari kegiatan pendakian sebuah gunung. Akibat perjalanan yang panjang dan melelahkan, kelimanya lantas memutuskan untuk bermalam dengan berkemah di sebuah wilayah perhutanan sebelum melanjutkan perjalanan mereka. Tidak disangka, tidak berapa lama kemudian, tempat berkemah mereka mulai didatangi penduduk yang berasal dari kampung yang berada dekat dari perhutanan tersebut. Para penduduk tersebut bukanlah penduduk biasa. Mereka datang untuk mengincar kematian Budi dan kawanannya.

Harus diakui, menit-menit awal Kampung Zombie mampu dikemas dengan begitu menarik. Adegan pembuka khas film horor – yang menawarkan adegan kematian para korban-korban perdana dari para mayat hidup – serta tata sinematografi yang mampu dihadirkan begitu mencekam seperti berusaha memberikan sebuah janji bahwa Kampung Zombie akan menjadi sebuah sajian horor yang berbeda sekaligus menegangkan. Lalu para karakter utama mulai memasuki jalan cerita yang tidak lama berselang turut diikuti dengan konflik utama dimana para karakter-karakter tersebut berusaha menyelamatkan diri setelah terjebak di perkampungan tempat tinggal para zombi tersebut. Yep. Layaknya para karakter tersebut, jalan cerita Kampung Zombie secara perlahan mulai tertahan serta terjebak dalam rutinitas adegan yang sama yang tentu saja membuat film ini terasa membosankan dan penonton mulai berharap agar para karakter-karakter tersebut segera menemui ajal mereka sehingga film ini dapat segera berakhir.

Ada banyak permasalahan dalam naskah cerita yang ditulis oleh Baskoro Adi. Permasalahan utama terletak pada dangkalnya penggalian kisah yang dilakukan pada karakter-karakter yang hadir dalam jalan cerita film. Dengan latar belakang lokasi cerita – dan konflik – yang benar-benar terbatas, Kampung Zombie harusnya mampu memanfaatkan para karakter-karakternya untuk memberikan warna lebih bagi jalan penceritaan. Sayang, daripada memberikan informasi lebih mendalam kepada para penonton mengenai siapa para karakter-karakter tersebut, Kampung Zombie lebih tertarik untuk menjadikan karakter-karakternya terlihat bodoh dengan deretan dialog yang begitu menggelikan sekaligus berbagai aksi yang harusnya telah membunuh mereka mereka semua di menit pertama para zombi mulai menyerang. Ditambah lagi dengan kapabilitas minim dari para aktor pemeran untuk dapat memerankan serta menghidupkan karakter yang mereka perankan, deretan karakter dalam Kampung Zombie tampil tak lebih menarik dari deretan mayat hidup yang muncul di berbagai adegan cerita dan sama sekali gagal untuk membuat penonton merasa simpati kepada mereka.

Jalan cerita dari Kampung Zombie sendiri tidak hadir dalam kapasitas yang lebih baik. Di sepanjang 81 menit durasi perjalanan film ini, Kampung Zombie terus menerus menawarkan konflik yang berulang. Kegagalan Billy Christian dan Helfi Kardit dalam menyajikan jalan cerita dalam ritme penceritaan yang tepat juga menjadi masalah tersendiri sehingga Kampung Zombie tidak pernah benar-benar mampu hadir dalam intensitas penceritaan yang mencekam – dan tata musik arahan Joseph S. Djafar yang seperti berusaha mengagetkan para penontonnya sepanjang waktu juga sama sekali tidak membantu. Kampung Zombie berakhir layaknya para zombi itu sendiri: begitu datar secara emosional.

Permasalahan juga begitu terasa pada kehadiran karakter para zombi sendiri. Bahkan mereka yang tidak mengenal betul tentang pengisahan dunia zombi akan dapat merasakan bahwa konsep zombi yang ditawarkan oleh Kampung Zombie masih terasa begitu mentah. Adalah cukup menarik untuk menyaksikan tawaran Billy Christian dan Helfi Kardit mengenai awal mula penyebab para manusia di sebuah kampung berubah menjadi kawanan zombie atau melihat deretan zombi dengan sentuhan kearifan lokal yang mampu hadir dan benar-benar terasa berasal dari Indonesia atau ketika para zombi dikisahkan seperti tertahan pada masa waktu kematian mereka dan terus melakukan hal-hal yang mereka lakukan pada waktu tersebut. Namun, di saat yang bersamaan, ada banyak inkonsistensi dari kehadiran para zombi dalam jalan cerita film ini. Di satu bagian digambarkan mereka mampu melihat sasaran korban mereka, di bagian lain mereka memanfaatkan indra penciuman mereka untuk melakukan tersebut. Di satu bagian mereka dapat dibunuh ketika ditusuk di bagian kepala, di bagian lain mereka harus dihadapi layaknya para pelaku kriminal yang jago bela diri dalam The Raid (2011). Di satu bagian mereka berjalan begitu lamban, di bagian lain mereka dapat berjalan cepat dalam memburu sasaran korban mereka. Deretan inkonsistensi yang sebenarnya kecil namun sayangnya terus berulang dalam penceritaan Kampung Zombie dan secara tidak langsung melemahkan presentasi film ini secara keseluruhan.

To be fair, Kampung Zombie tidak lantas hadir dengan penampilan yang benar-benar buruk. Sebagai sebuah film yang menawarkan kisah mengenai para zombi, film ini hadir dengan kualitas teknis yang tidak mengecewakan. Tata rias para mayat hidup tampil cukup meyakinkan. Begitu juga dengan desain produksi dari lokasi tempat terjadinya cerita mampu disajikan dengan cukup baik. Selebihnya? Kampung Zombie adalah sebuah upaya yang cukup baik dalam mengembangkan tema penceritaan yang masih jarang dieksplorasi dalam industri film Indonesia. Tetap saja, penggarapan yang lemah membuat film ini sepertinya justru mempertegas mengapa film-film bertema zombi masih sangat jarang disentuh oleh para pembuat film Indonesia. [D]

Kampung Zombie (2015)

Directed by Billy Christian, Helfi Kardit Produced by Ody Mulya Hidayat Written by Baskoro Adi Starring El Jalaludin Rumi, Axel Matthew Thomas, Luthya Sury, Kia Poetri, Ali Mensan Music by Joseph S. Djafar Cinematography Budi Utomo Edited by Askan Larepand Production company Movie Eight/Rumah Satu Film/Popcorn Film Running time 81 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: Sang Martir (2012)

Film terbaru Helfi Kardit (Brokenhearts, 2012) mencoba untuk berbicara mengenai banyak hal. Jalan ceritanya sendiri bermula dengan pengisahan mengenai kehidupan Rangga (Adipati Dolken) dan adiknya, Sarah (Ghina Salsabila), yang hidup dalam di sebuah panti asuhan yang dipimpin oleh pasangan Haji Rachman (Jamal Mirdad) dan istrinya, Hajjah Rosna (Henidar Amroe), bersama dengan puluhan anak-anak lainnya. Walau hidup dalam kondisi yang sangat sederhana, Rangga dan anak-anak penghuni panti asuhan tersebut hidup dalam suasana yang bahagia. Namun, ketika seorang preman bernama Jerink (Edo Borne) memperkosa Lili (Widy Vierra), yang merupakan salah seorang gadis penghuni panti asuhan tersebut, kehidupan Rangga mulai berbalik arah secara drastis. Rangga, yang kemudian mendatangi Jerink guna melampiaskan rasa amarahnya, secara tidak sengaja kemudian membunuh Jerink dan akhirnya menghantarkan dirinya masuk ke lembaga pemasyarakatan.

Continue reading Review: Sang Martir (2012)

Review: Brokenhearts (2012)

Cukup mengherankan bila melihat di tengah serbuan film-film semacam Negeri 5 Menara, Modus Anomali, The Raid atau Lovely Man, yang berhasil menawarkan sentuhan jalan penceritaan yang apik dan bahkan tampil berani jauh berbeda dari kebanyakan film yang saat ini dirilis oleh industri film Indonesia, masih ada beberapa produser yang memilih untuk merilis film-film dangkal semacam Brokenhearts. Disutradai dan ditulis naskahnya oleh Helfi Kardit – orang yang sama yang bertanggungjawab atas perilisan judul-judul seperti D’Love (2010), Arisan Brondong (2010) dan Arwah Goyang Karawang (2011) – Brokenhearts adalah sebuah contoh lain keserakahan para pembuat film Indonesia yang dengan dangkalnya mengira bahwa penikmat film Indonesia akan begitu mudah untuk terjebak pada film-film tearjerker dengan kualitas penulisan naskah kacangan.

Continue reading Review: Brokenhearts (2012)

Review: D’Love (2010)

Dari Helfi Kardit, seorang sutradara yang terkenal dengan karya-karyanya seperti Hantu Bangku Kosong, Mengaku Rasul hingga Arisan Brondong, hadirlah D’Love, yang secara mengagumkan mampu merangkum seluruh hal-hal klise yang ada di perfilman Indonesia di dalam durasinya yang hanya sepanjang 90 menit itu. Mulai dari cinta segitiga, karakter yang broken home, karakter yang terpaksa menjual dirinya untuk memenuhi kebutuhan hidup, karakter gay hingga karakter yang harus menderita sakit terangkum dan dimanfaatkan dengan sangat baik di film ini.

Continue reading Review: D’Love (2010)