Tag Archives: Hailee Steinfeld

Review: Begin Again (2014)

begin-again-posterSalah satu rilisan terbaik Hollywood di sepanjang tahun 2014 lalu akhirnya mendapatkan kesempatan untuk disaksikan lebih banyak mata penikmat film di Indonesia pada tahun ini. Pertama kali diputar di ajang Toronto International Film Festival pada akhir tahun 2013 dengan judul Can a Song Save Your Life?, Begin Again kemudian dirilis di Amerika Serikat pada pertengahan tahun 2014 dengan kisah yang mungkin akan mengingatkan banyak orang dengan film musikal arahan John Carney sebelumnya, Once (2007), namun dengan pengarahan Carney yang jauh, jauh lebih matang. Kematangan pengarahan Carney tersebut jelas sangat dapat dirasakan pada kemampuannya dalam mengalirkan jalan cerita, kualitas tata produksi yang begitu memikat serta, tentu saja, dukungan deretan lagu-lagu indie pop yang begitu catchy dan akan bertahan lama di kepala setiap penonton jauh setelah mereka menyaksikan film ini. Kombinasi yang membuat Begin Again terasa sederhana dalam bercerita namun sangat kuat dalam mempermainkan emosi penontonnya.

Dengan jalan cerita yang juga digarap oleh Carney, Begin Again berkisah tentang pertemuan dua karakter, seorang eksekutif perusahaan rekaman bernama Dan Mulligan (Mark Ruffalo) yang sedang mencoba untuk mempertahankan karirnya serta seorang penyanyi dan penulis lagu bernama Gretta James (Keira Knightley) yang baru saja mengalami patah hati akibat ditinggal pergi sang kekasih, Dave Kohl (Adam Levine). Pertemuan yang tidak disengaja pada sebuah bar tersebut kemudian berlanjut dengan penawaran yang dilakukan Dan kepada Gretta untuk bergabung dengan perusahaan rekamannya setelah mendengar kemampuan musik gadis yang berasal dari Inggris tersebut. Meskipun awalnya menolak, kesungguhan Dan akhirnya mampu meluluhkan hati Gretta. Segera, keduanya mulai mengumpulkan para musisi muda berbakat dari New York untuk memproduksi debut album musik Gretta yang tidak hanya akan berisi berbagai keluh kesah Gretta tentang patah hatinya namun juga memiliki konsep suara lingkungan kota New York dalam setiap lagu-lagunya.

Harus diakui, meskipun memiliki atmosfer penceritaan yang serupa dengan Once, Carney terlihat memiliki kepercayaan diri dan kematangan pengarahan yang lebih kuat pada Begin Again. Karakter-karakter yang tersaji dalam film ini dihadirkan dengan karakteristik yang begitu membumi namun kuat sekaligus mudah untuk disukai setiap penonton. Lihat bagaimana Carney mampu merangkai karakter Dan dan Gretta sebagai dua karakter yang sedang mencoba untuk memperjuangkan diri mereka dengan tanpa kehadiran dramatisasi yang berlebihan. Tidak hanya dari dua karakter utama yang diperankan Ruffalo dan Knightley, namun juga dari karakter-karakter pendukung yang hadir di sepanjang penceritaan film. Carney mampu menghindar dari berbagai penceritaan klise tentang seorang puteri yang sedang beranjak dewasa dalam menuliskan karakter puteri tunggal Dan, Violet (Hailee Steinfeld). Atau bagaimana karakter Dave Kohl tidak pernah digambarkan sebagai sosok yang harus benar-benar dibenci oleh karakter Gretta James meskipun ia telah berselingkuh dari dirinya. Atau persahabatan yang tulus yang mampu tergambar dari karakter Steve (James Corden). Hal inilah yang kemudian membantu jalan penceritaan Begin Again yang begitu sederhana mampu menjadi terasa nyaman sekaligus hangat untuk diikuti.

Sebagai sebuah musikal, Begin Again jelas juga terasa jauh lebih matang jika dibandingkan dengan Once. Bekerjasama dengan penyanyi sekaligus penulis lagu Gregg Alexander, Begin Again mampu dihadirkan dengan deretan lagu-lagu pop ringan dengan lirik lagu dan melodi yang tidak akan dengan mudah untuk dilupakan oleh penontonnya. Carney juga berhasil menempatkan setiap lagu dalam rangkaian pengadeganan yang tepat sehingga setiap lagu mampu mendukung sisi emosional dari setiap adegan dimana mereka ditampilkan. Sejujurnya, adalah cukup sulit untuk menemukan film dengan deretan lagu pengisi film yang mampu terkonsep lebih baik dari Begin Again dalam beberapa tahun terakhir. Lagu-lagu dalam film ini mampu menjadi jiwa dari penceritaan film sebanding dengan kekuatan setiap dialog yang ditulis Carney untuk keluar dari mulut para karakter dalam jalan cerita Begin Again.

Dengan tanpa adanya dramatisasi yang berlebihan bagi deretan konflik yang hadir dalam jalan cerita film, Begin Again mungkin tidaklah terlihat sebagai ajang untuk menyajikan penampilan akting yang kuat bagi para pemerannya. Meskipun begiu, deretan pengisi departemen akting film ini, yang berisi nama-nama seperti Mark Ruffalo, Keira Knightley, Adam Levine, James Corden, Hailee Steinfeld hingga Catherine Keener, mampu menyajikan penampilan akting mereka yang begitu sederhana namun sangat memikat. Chemistry yang terjalin antara sesama pemeran juga tampil meyakinkan. Carney juga berhasil menghadirkan filmnya dengan kualitas produksi yang berkelas. Tata sinematografi dari Yaron Orbach berhasil menangkap keindahan kota New York dan menjadikannya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari alur penceritaan Begin Again. Begitu pula dengan tata kostum yang dihadirkan dengan deretan warna-warna cerah yang sangat sesuai dengan atmosfer penceritaan Begin Again yang manis sekaligus hangat. Sebuah presentasi yang tidak akan jenuh disaksikan untuk berulang kali. [B]

Begin Again (2014)

Directed by John Carney Produced by Anthony Bregman, Tobin Armbrust, Judd Apatow Written by John Carney Starring Keira Knightley, Mark Ruffalo, Adam Levine, Catherine Keener, Hailee Steinfeld, James Corden, CeeLo Green, Yasiin Bey Music by Gregg Alexander Cinematography Yaron Orbach Editing by Andrew Marcus Studio Sycamore Pictures/Exclusive Media/Likely Story/Apatow Productions Running time 104 minutes Country United States Language English

Review: Pitch Perfect 2 (2015)

pitch-perfect-2-posterKetika Pitch Perfect dirilis pada tahun 2012 lalu, banyak pendapat sinis yang memandang bahwa film musikal arahan Jason Moore tersebut diproduksi guna memanfaatkan kepopuleran serial televisi musikal Glee yang memang sedang menanjak saat itu. Secara perlahan tapi pasti, Pitch Perfect berhasil meraih kepopulerannya sendiri: film dengan biaya produksi sebesar US$17 juta tersebut kemudian mampu mengumpulkan pendapatan sebesar US$115 juta di sepanjang masa rilisnya, menjual lebih dari satu juta keping album soundtrack-nya di seluruh dunia sekaligus menjadikan salah satu lagu pengisi dalam film tersebut, Cups (“When I’m Gone”) yang dinyanyikan Anna Kendrick, sebagai salah satu lagu terpopuler pada tahun tersebut. Dan, tentu saja, karena Hollywood akan terus berusaha mengeruk keuntungan dari setiap hasil produksi mereka yang berhasil mencuri perhatian penikmat film dunia, sekuel Pitch Perfect lantas segera disetujui pembuatannya.

Beberapa perubahan terjadi dalam Pitch Perfect 2. Elizabeth Banks yang dahulu hanya bertindak sebagai salah satu pemeran dan produser dalam Pitch Perfect kini menggantikan posisi Jason Moore untuk duduk di kursi penyutradaraan – sekaligus melakukan debut pengarahan film layar lebarnya. Bujet produksi juga mengalami penambahan hingga sebesar US$29 juta dengan jajaran pemeran yang kini juga menyertakan peraih nominasi Oscar, Hailee Steinfeld. Sayangnya, mereka yang mengharapkan adanya perubahan atau setidaknya pergerakan dalam jalan cerita Pitch Perfect 2 sepertinya akan merasakan kekecewaan yang cukup mendalam. Masih ditangani oleh penulis naskahnya terdahulu, Kay Cannon, Pitch Perfect 2 terkesan hanyalah menawarkan reka ulang dari jalan cerita serialnya terdahulu namun dengan kehangatan penceritaan yang cukup jauh berkurang.

Jalan cerita Pitch Perfect 2 sendiri mengambil latar belakang waktu penceritaan empat tahun semenjak film pertamanya. The Barden Bellas kini telah menjadi kelompok penyanyi akapela wanita yang popular di Amerika Serikat dan bahkan diundang oleh pemerintah negara tersebut untuk tampil dalam perayaan ulang tahun Presiden Barack Obama. Sial, dalam penampilan mereka, Fat Amy (Rebel Wilson) mengalami sebuah insiden yang cukup memalukan sekaligus melukai reputasi kelompok tersebut. Karena kejadian tersebut, The Barden Bellas kemudian dilarang untuk melanjutkan tur keliling Amerika Serikat mereka dan bahkan terancam untuk dibubarkan keberadaannya oleh kampus mereka. Satu-satunya kesempatan mereka untuk memperbaiki kembali reputasi mereka adalah dengan mengikuti turnamen akapela tingkat dunia… yang di sepanjang sejarah pelaksanaannya tidak pernah dimenangkan oleh tim peserta asal Amerika Serikat.

Salah satu faktor yang membuat naskah cerita Pitch Perfect 2 gagal untuk tampil semenarik pendahulunya adalah film ini tidak memiliki karakter sentral untuk memegang perhatian penonton. Jika Pitch Perfect dihadirkan dalam sudut pandang karakter Beca Mitchell yang diperankan oleh Anna Kendrick, maka Pitch Perfect 2 menghadirkan sudut pandang yang netral dengan memberikan setiap karakter kesempatan untuk disajikan kisahnya masing-masing. Sebuah langkah yang cukup menarik sebenarnya namun dengan penggalian yang tidak begitu mendalam, Pitch Perfect 2 terasa hadir sebagai kepingan-kepingan cerita yang tidak begitu mampu untuk saling berpadu antara satu dengan yang lain. Kehadiran karakter baru Emily Junk yang diperankan oleh Hailee Steinfeld juga tidak banyak membantu ketika karakter tersebut hanya ditempatkan sebagai karakter pendukung yang seringkali ditempatkan di bagian belakang penceritaan film. Begitu pula dengan beberapa konflik yang disajikan gagal untuk tampil lebih mengikat akibat pengisahannya yang cukup terbatas.

Cukup sulit untuk menilai kemampuan pengarahan Elizabeth Banks dalam film ini. Di satu sisi, Banks terkesan hanyalah mengikuti pola penceritaan yang telah ditetapkan oleh seri pendahulu Pitch Perfect 2 tanpa pernah mampu menghadirkan sentuhan khas yang setidaknya membuat keberadaannya di kursi penyutradaraan memberikan sesuatu yang berbeda dari pengarahan Jason Moore. Namun, di sisi lainnya, naskah cerita Pitch Perfect 2 juga memang tidak memberikan ruang khusus yang mampu memberikan kesempatan bagi Banks untuk bersinar. Setidaknya Banks berhasil menampilkan bahwa dirinya dapat menyajikan penceritaan filmnya dengan nada penceritaan yang tepat. Pitch Perfect 2 hadir dengan tempo sederhana yang cukup sesuai dengan alur penceritaan yang memang mereka tawarkan pada penonton.

Lemah pada beberapa bagian penceritaannya, Pitch Perfect 2 tetap mampu tampil memikat ketika menghadirkan presentasi musikalnya di dalam jalan cerita film. Meskipun lagu-lagu yang disajikan kini tidak sekuat daftar lagu-lagu dalam seri terdahulu, namun penampilan yang dinamis dari setiap pemeran dalam setiap lagu yang hadir dalam Pitch Perfect 2 menjadikan momen-momen musikal dalam film ini sebagai momen-momen paling bersinar dan memuaskan di sepanjang 115 menit durasi penceritaannya. Dan mungkin memang tampilan musikal dari Pitch Perfect 2 yang seharusnya menjadi tujuan utama bagi mereka yang ingin menikmati film ini. Jika diibaratkan sebagai sebuah lagu, Pitch Perfect 2 adalah sebuah cover version yang diproduksi dengan tampilan lebih megah namun sama sekali tidak menawarkan sesuatu yang baru bagi para pendengarnya kecuali momen-momen sentimental yang pernah mereka dapatkan ketika mendengarkan lagu tersebut dahulu untuk pertama kali. [C]

Pitch Perfect 2 (2015)

Directed by Elizabeth Banks Produced by Elizabeth Banks, Paul Brooks, Kay Cannon, Max Handelman, Jeff Levine, Jason Moore Written by Kay Cannon (screenplay), Kay Cannon (characters), Mickey Rapkin (bookPitch Perfect: The Quest for Collegiate A Cappella Glory) Starring Anna Kendrick, Rebel Wilson, Brittany Snow, Ester Dean, Alexis Knapp, Hana Mae Lee, Kelley Jakle, Shelley Regner, Hailee Steinfeld, Chrissie Fit, Skylar Astin, Adam DeVine, Ben Platt, Anna Camp, Flula Borg, Birgitte Hjort Sørensen, Katey Sagal, Keegan-Michael Key, Elizabeth Banks, John Michael Higgins, David Cross, Reggie Watts, John Hodgman, Jason Jones, Joe Lo Truglio, Kether Donahue, C.J. Perry, Robin Roberts, Shawn Carter Peterson, Snoop Dogg, Clay Matthews, David Bakhtiari, Don Barclay, Josh Sitton, T.J. Lang, Jordan Rodgers, Blake Shelton, Christina Aguilera, Pharrell Williams, Adam Levine, Pentatonix, Penn Masala, The Filharmonic Music by Mark Mothersbaugh, The Underdogs Cinematography Jim Denault Editing by Craig Alpert Studio Gold Circle Films Running time 115 minutes Country United States Language English

Review: 3 Days to Kill (2014)

3 Days to Kill (3DTK/EuropaCorp/Feelgood Entertainment/Paradise/MGN/Relativity Media/Wonderland Sound and Vision, 2014)
3 Days to Kill (3DTK/EuropaCorp/Feelgood Entertainment/Paradise/MGN/Relativity Media/Wonderland Sound and Vision, 2014)

Tidak membutuhkan waktu lama untuk menyadari bahwa 3 Days to Kill adalah sebuah film yang memiliki sentuhan Luc Besson di dalam penceritaannya – adegan aksi di jalanan kota Paris, karakter protagonis utama dengan kemampuan intelijen dan bela diri yang luar biasa serta sekelumit kisah keluarga yang kemudian membungkus adegan dan karakter tersebut. Bayangkan garis merah yang terdapat pada presentasi cerita Taken (2008), Colombiana (2011) atau The Family (2013) dan Anda akan dengan mudah memahami apa yang disampaikan Besson dalam film yang dibintangi Kevin Costner ini. Juga sama seperti ketiga film tersebut, Besson hanya bertindak sebagai penulis naskah bagi 3 Days to Kill bersama Adi Hasak dengan McG (This Means War, 2012) duduk di kursi penyutradaraan. Well… jika Anda siap untuk bersenang-senang bersama sebuah film aksi dengan sentuhan drama keluarga a la Besson, maka 3 Days to Kill kemungkinan besar akan mampu memuaskan Anda.

Continue reading Review: 3 Days to Kill (2014)

Review: Ender’s Game (2013)

enders-game-header

The book is better than this movie. Dan pernyataan tersebut berlaku bahkan untuk Anda yang sama sekali tidak menyadari bahwa Ender’s Game diadaptasi dari sebuah novel. Ditulis oleh novelis Amerika Serikat, Orson Scott Card, Ender’s Game adalah sebuah novel fiksi ilmiah yang menyimpan begitu banyak metafora mengenai kehidupan sosial serta politik manusia meskipun deretan karakter dan konflik yang terjadi di dalamnya membuat novel ini sekilas hanya terlihat sebagai sebuah kisah yang diorientasikan bagi kalangan young adult. Kandungan satir sosial politik yang berbalut kisah fiksi ilmiah inilah yang mampu membuat naskah cerita arahan sutradara Gavin Hood (X-Men Origins: Wolverine, 2009) terasa begitu kuat dalam menantang kemampuan intelektual para penontonnya. Sayangnya, pada kebanyakan bagian, Hood justru seperti terlalu berusaha untuk menjadikan Ender’s Game sebagai sebuah presentasi dengan daya tarik a la film-film blockbuster Hollywood yang (terlalu) luas sehingga membuat film ini justru seperti kehilangan arah sekaligus banyak bagian esensial dalam penceritaannya.

Continue reading Review: Ender’s Game (2013)

Review: True Grit (2010)

Tenang. True Grit sama sekali bukanlah A Serious Man (2009), film terakhir karya Coen Brothers yang hampir membuat setiap penontonnya merasa kebingungan dengan jalan cerita yang dihadirkan dua bersaudara pemenang empat Academy Awards tersebut. Bahkan, sebagai sebuah western, True Grit sama sekali tidak mendekati kekompleksitasan No Country for Old Men (2007). Untuk pertama kalinya, Coen Brothers sepertinya berhasil untuk menyajikan sebuah karya yang akan mampu menarik perhatian kalangan yang lebih luas. Dan itu mereka lakukan tanpa harus kehilangan keeksentrikan gaya penyutradaraan mereka yang telah menjaring begitu banyak pemuja dalam beberapa tahun terakhir.

Continue reading Review: True Grit (2010)

The 83rd Annual Academy Awards Nominations List

Film arahan sutradara asal Inggris, Tom Hooper, The King’s Speech, memimpin daftar perolehan nominasi pada ajang penghargaan The 83rd Annual Academy Awards, dengan meraih 12 nominasi, termasuk nominasi Best Picture, Best Achievement in Directing untuk Hooper serta nominasi Best Actor in a Leading Role untuk aktor Colin Firth. Kesuksesan The King’s Speech tersebut diikuti oleh True Grit yang meraih 10 nominasi serta The Social Network dan Inception yang sama-sama meraih 8 nominasi. Keempat film tersebut akan bersaing untuk memenangkan kategori Best Picture bersama film Black Swan, The Fighter, The Kids Are All Right, 127 Hours, Toy Story 3 dan Winter’s Bone.

Continue reading The 83rd Annual Academy Awards Nominations List

The 83rd Annual Academy Awards Nomination Predictions

Ajang penghargaan bagi insan perfilman dunia tertinggi, Academy Awards, siap digelar untuk ke-83 kalinya pada 27 Februari 2010 mendatang. Setelah beberapa ajang penghargaan perfilman lainnya digelar, sepertinya telah semakin jelas mengenai film dan siapa saja yang berada di barisan terdepan untuk merebut Academy Awards tahun ini. Menjelang pengumuman nominasi 83rd Academy Awards yang akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan, At the Movies mencoba membuat sedikit analisis dan prediksi mengenai mereka yang kemungkinan besar akan mendapatkan nominasi pada delapan kategori utama.

Continue reading The 83rd Annual Academy Awards Nomination Predictions