Tag Archives: Guntur Soeharjanto

Review: Cinta Laki-Laki Biasa (2016)

Setelah sebelumnya bekerjasama dalam Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea (2016), sutradara Guntur Soeharjanto kembali bekerjasama dengan penulis Asma Nadia dan Alim Sudio untuk Cinta Laki-Laki Biasa. Well… Judul film ini mungkin akan membuat beberapa orang lantas memandang sebelah mata. Atau malah premis yang dijual tentang kisah cinta segitiga dalam balutan nuansa reliji yang, harus diakui, telah terlalu sering “dieksploitasi” oleh banyak pembuat film Indonesia. Namun, jika Anda mampu melepas segala prasangka dan memberikan film ini sebuah kesempatan, Cinta Laki-Laki Biasa adalah sebuah drama romansa yang tergarap dengan cukup baik, mulai dari penataan naskah dan ritme penceritaan hingga chemistry yang terasa begitu hangat dan meyakinkan antara dua bintang utamanya, Deva Mahenra dan Velove Vexia. Continue reading Review: Cinta Laki-Laki Biasa (2016)

Review: LDR (2015)

ldr-posterFilm terbaru arahan Guntur Soeharjanto, LDR, memulai kisahnya ketika Carrie (Mentari De Marelle) yang semenjak kecil telah bermimpi untuk berkunjung ke Verona, Italia, akhirnya mendapatkan impiannya tersebut. Dalam perjalanannya menyusuri kota tempat kediaman Juliet dalam drama klasik karya William Shakespeare, Romeo & Juliet, tersebut, Carrie secara tidak sengaja berhasil mencegah tindakan bunuh diri yang akan dilakukan oleh Demas (Verrell Bramasta) akibat putusnya tali asmara antara dirinya dengan sang kekasih, Alexa (Aurelie Moeremans). Carrie kemudian berusaha membantu Demas untuk kembali mendapatkan perhatian Alexa yang juga tinggal di kota tersebut. Namun, di saat yang bersamaan, Carrie mulai merasakan bahwa ia mulai jatuh cinta kepada sosok Demas.

LDR sebenarnya memiliki potensi yang cukup untuk menjadi sebuah film drama romansa remaja yang mampu tampil menarik bahkan kepada mereka yang berada di luar pangsa pasar remaja yang menjadi target utama film ini. Paruh awal naskah cerita LDR yang digarap oleh Cassandra Massardi – yang sebelumnya juga pernah bekerjasama dengan Guntur Soeharjanto dalam Tampan Tailor (2013) – mampu membuktikan hal tersebut. Didukung dengan sajian sinematografi akan keindahan kota Verona, Italia yang kuat, paruh awal penceritaan LDR berhasil membangun awal perkenalan antara kedua karakter utamanya dengan cukup baik dan manis. Sayang, ketika hubungan antara karakter Carrie dan Demas telah mulai terbangun dengan baik dan ketika plot penceritaan mulai berpindah pada usaha karakter Carrie untuk membantu hubungan asmara antara karakter Demas dan Alexa, LDR mulai terasa begitu bertele-tele dalam penceritaannya.

Perubahan ritme penceritaan LDR yang lantas berjalan lamban tersebut jelas disebabkan atas keputusan untuk mengeksekusi naskah cerita LDR menjadi dua film yang berbeda. Akibatnya, bagian pertama dari LDR seringkali diisi dengan adegan maupun konflik yang sebenarnya terasa tidak memiliki kekuatan penceritaan yang mendalam dan dapat dihilangkan begitu saja. Keputusan untuk memanjang-manjangkan beberapa konflik yang tersaji dalam film ini juga tidak membuat penampilan LDR secara keseluruhan menjadi lebih baik. Seperti halnya Perahu Kertas (2012) arahan Hanung Bramantyo, adalah mudah untuk merasakan bahwa Naskah penceritaan LDR tidak memiliki materi pengisahan yang cukup untuk menjadikan dua film menjadi dua penceritaan yang sama-sama kuat dan tetap saling berhubungan satu sama lain.

Yang juga tidak cukup membantu kualitas presentasi keseluruhan film ini adalah pemilihan Verrel Bramasta dan Al Ghazali sebagai pemeran bagi dua sosok karakter dengan bagian kisah yang cukup krusial bagi LDR. Baiklah, adalah sangat dimengerti jika produser ingin memiliki dua aktor dengan penampilan fisik tampan guna menarik perhatian penonton remaja perempuan dalam menyaksikan film ini. Namun, dengan kemampuan akting keduanya yang (masih benar-benar) lemah, LDR menjadi terasa hadir tanpa detak kehidupan yang berarti. Datar. Chemistry yang dihasilkan oleh Verrell Bramasta dengan Mentari De Marelle benar-benar terasa gersang – suatu hal yang jelas seharusnya menjadi daya tarik utama dari film-film sejenis LDR. Verrell Bramasta dan Al Ghazali bahkan masih terlihat kaku di banyak adegan film – entah karena suhu Verona, Italia yang benar-benar membekukan mereka atau… yah… kemampuan akting mereka memang benar-benar hanya berada dalam tahapan begitu.

Untungnya film ini masih memiliki Mentari De Marelle. Layaknya nama yang disandangnya, Mentari mampu bersinar dan memberikan kehangatan tersendiri bagi kualitas departemen akting film ini. Begitu kuatnya penampilan Mentari, LDR lantas berjalan begitu semu setiap karakternya tidak berada dalam penceritaan film. Aurelie Moeremans sendiri juga tampil dengan kapasitas akting yang tidak mengecewakan. Namun, dengan porsi penceritaan yang tidak terlalu luas, jelas sulit bagi penampilan Aurelie untuk tampil lebih mengesankan bagi penonton.

Tidak banyak masalah yang ditemukan dari sisi teknikal LDR. Enggar Budiono berhasil memanfaatkan dengan maksimal keindahan kota Verona, Italia untuk menghadirkan gambar-gambar dengan kualitas membuai dalam keseluruhan presentasi LDR. Tata musik arahan Joseph S. Djafar yang tersaji dengan tambahan beberapa lagu pengiring yang pas juga mampu mengisi nuansa keromantisan film ini. Sedikit masalah mungkin dapat dirasakan dari proses dubbing film ini yang beberapa kali tampil tidak sesuai dengan gerak bicara dari karakter-karakter yang sedang berdialog. Cukup menarik untuk melihat apakah film kedua LDR nantinya akan mampu tampil dengan konflik yang lebih kuat atau malah turut tampil dengan deretan konflik yang terkesan dipanjang-panjangkan seperti yang tersaji dalam film pertamanya ini. [C-]

LDR (2015)

Directed by Guntur Soeharjanto Produced by Ody Mulya Hidayat Written by Cassandra Massardi Starring Al Ghazali, Verrell Bramasta, Aurelie Moeremans, Mentari De Marelle, Luthya Suri Music by Joseph S. Djafar Cinematography Enggar Budiono Editing by Ryan Purwoko Studio Maxima Pictures Running time 84 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: 99 Cahaya di Langit Eropa Part 2 (2014)

99 Cahaya di Langit Eropa Part 2 (Maxima Pictures, 2014)
99 Cahaya di Langit Eropa Part 2 (Maxima Pictures, 2014)

Dengan memanfaatkan basis penggemar yang cukup kuat dari novel sukses berjudul sama karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra, 99 Cahaya di Langit Eropa tetap mampu mencuri minat penikmat film Indonesia dan berhasil menjadi salah satu film dengan raihan penonton tertinggi meskipun dirilis dalam tempo yang berdekatan dengan masa perilisan dua film blockbuster Indonesia lainnya, Soekarno dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, pada akhir tahun 2013 lalu. Sadar bahwa materi penceritaan 99 Cahaya di Langit Eropa terlalu luas untuk dimuat dalam satu penceritaan film – atau justru sadar bahwa materi penceritaan tersebut memiliki nilai komersial yang tinggi – para produser film 99 Cahaya di Langit Eropa secara bijaksana kemudian membagi penceritaan tersebut menjadi dua bagian. Kini, tepat tiga bulan setelah perilisan film pertamanya, bagian kedua dari penceritaan 99 Cahaya di Langit Eropa hadir kembali untuk melanjutkan berbagai kisah sekaligus konflik yang dialami oleh pasangan suami istri, Rangga dan Hanum, selama mereka berada di Eropa. Mampukah 99 Cahaya di Langit Eropa Part 2 mengulangi kesuksesan film pertamanya? Atau, yang terlebih penting, mampukah film ini memperbaiki berbagai kekurangan yang terdapat pada kualitas penceritaan filmnya yang terdahulu?

Continue reading Review: 99 Cahaya di Langit Eropa Part 2 (2014)

Review: 99 Cahaya di Langit Eropa (2013)

99-cahaya-di-langit-eropa-header

Sebagai sebuah novel, 99 Cahaya di Langit Eropa yang ditulis oleh Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra adalah sebuah fenomena tersendiri. Selain berhasil mendapatkan banyak pujian berkat kemampuan dua penulis untuk menggambarkan seluk beluk sejarah keberadaan Islam di benua Eropa, 99 Cahaya di Langit Eropa juga mampu meraih sukses komersial yang besar. Novel tersebut bahkan telah dirilis ulang puluhan kali semenjak cetakan pertamanya pada Juli 2011. Tidak mengherankan – ditengah menjamurnya film-film yang diadaptasi dari deretan novel best seller di industri film Indonesia – jika kemudian Maxima Pictures memilih untuk mengangkat novel yang kisahnya didasarkan pada pengalaman pribadi dua penulisnya tersebut menjadi sebuah film layar lebar. Namun, apakah versi film dari 99 Cahaya di Langit Eropa mampu turut sukses dalam memberikan pengalaman menggali sejarah Islam di Eropa dengan kuat bagi para penontonnya?

Continue reading Review: 99 Cahaya di Langit Eropa (2013)

Review: Crazy Love (2013)

crazy-love-header

Sukses dengan Tampan Tailor yang dirilis beberapa bulan lalu, sutradara Guntur Soeharjanto kembali bekerjasama dengan duo penulis naskah Cassandra Massardi dan Alim Sudio untuk film terbarunya, Crazy Love. Berbeda dengan Tampan Tailor yang menawarkan kisah drama hubungan ayah dan anak yang menyentuh, Crazy Love adalah sebuah drama romantis yang mencoba untuk menggali hubungan persahabatan dan asmara yang terjalin antara karakter-karakternya yang masih berusia remaja. Terdengar klise? Memang. Dan sayangnya, presentasi klise itulah yang dapat dirasakan disepanjang durasi penceritaan Crazy Love, mulai dari alur cerita, dialog hingga penampilan para jajaran pemerannya – sebuah kualitas yang kemudian membuat Crazy Love terasa berjalan begitu monoton dan bertele-tele dalam menyampaikan jalan ceritanya.

Continue reading Review: Crazy Love (2013)

Review: Tampan Tailor (2013)

tampan-tailor-header

Tampan Tailor bercerita mengenai serangkaian kisah perjuangan seorang pria bernama Topan (Vino G. Bastian) dalam usahanya untuk menghidupi dan membesarkan putera tunggalnya, Bintang (Jefan Nathanio). Perjuangan tersebut dimulai ketika Topan harus kehilangan sang istri yang meninggal dunia akibat penyakit kanker yang ia derita. Tidak berhenti disitu, ia harus kehilangan tempat tinggal sekaligus memaksa Bintang untuk putus sekolah setelah usaha toko jahit yang ia bangun bersama dengan istrinya dahulu – dan dinamakan Tampan Tailor sebagai gabungan nama mereka, Tami dan Topan – harus ditutup karena mengalami kebangkrutan. Walau begitu, keberadaan sang anak membuat Topan sadar bahwa ia tidak dapat menyerah begitu saja.

Continue reading Review: Tampan Tailor (2013)

Review: Brandal Brandal Ciliwung (2012)

Brandal Brandal Ciliwung berkisah mengenai sekelompok anak yang tinggal di bantaran Sungai Ciliwung, Jakarta yang masing-masing berasal dari latar suku dan kebudayaan yang berbeda namun mampu saling bersahabat erat satu sama lain. Terdengar seperti puluhan film anak-anak Indonesia lainnya yang diselipi berbagai pesan moral tentang sikap nasionalisme dan rasa saling menghargai terhadap adanya perbedaan? Benar. Walau diadaptasi dari sebuah novel arahan Achmad MS berjudul sama yang diterbitkan pada tahun 1974, Brandal Brandal Ciliwung nyaris hadir tanpa sebuah adanya perbedaan cerita yang dapat membedakannya dari kebanyakan film-film Indonesia modern yang ditujukan bagi para penonton muda. Konfliknya juga cenderung datar dengan pendeskripsian cerita yang cenderung bertele-tele yang akhirnya membuat durasi film ini melebar menjadi sepanjang 111 menit dengan tanpa kehadiran esensi cerita yang kuat.

Continue reading Review: Brandal Brandal Ciliwung (2012)