Tag Archives: George Clooney

Review: Tomorrowland (2015)

tomorrowland-posterLayaknya Mission to Mars (Brian De Palma, 2000), Pirates of the Caribbean: The Curse of the Black Pearl (Gore Verbinski, 2003) dan The Haunted Mansion (Rob Minkoff, 2003), Tomorrowland adalah sebuah film yang dikembangkan berdasarkan taman bermain yang dimiliki oleh The Walt Disney Company. Namun, dengan pengarahan yang diberikan oleh Brad Bird (Mission: Impossible – Ghost Protocol, 2011) atas naskah cerita yang digarapnya bersama dengan Damon Lindelof (Prometheus, 2012), Tomorrowland jelas memiliki banyak hal yang ingin disajikan selain untuk menghibur para penontonnya. Benar saja. Bird dan Lindelof mengembangkan Tomorrowland dengan berbagai ide besar tentang kondisi dunia dan umat manusia modern sekaligus menyajikannya dengan tampilan futuristik yang benar-benar mewah. Ide-ide besar Bird dan Lindelof tersebut, sayangnya, tidak selalu mampu diterjemahkan dalam penceritaan yang lancar. Namun, bahkan di momen-momen terlemahnya, Tomorrowland akan tetap mampu menghasilkan rasa kagum atas penggarapan keseluruhannya yang benar-benar apik.

Jalan cerita Tomorrowland sendiri berkisah tentang dua orang jenius yang berasal dari dua era dan kepribadian yang berbeda, seorang pria paruh baya bernama Frank Walker (George Clooney) yang hidup dengan kesinisannya dalam memandang masa depan dunia serta seorang remaja bernama Casey Newton (Britt Robertson) yang selalu optimis bahwa dunia dapat diubah menjadi sebuah tempat tinggal yang lebih baik terlepas dari berbagai kekurangannya. Keduanya lantas dipertemukan oleh seorang gadis misterius bernama Athena (Raffey Cassidy) yang berniat untuk mempersatukan kecerdasan yang dimiliki keduanya untuk melakukan sebuah misi rahasia yang dapat mencegah kehancuran dunia. Meskipun awalnya skeptis dengan apa yang disampaikan Athena, Frank dan Casey akhirnya mampu mengesampingkan perbedaan mereka dan akhirnya saling bekerjasama dalam menjalankan misi tersebut.

Terdengar sebagai sebuah plot film petualangan bernuansa fiksi ilmiah yang begitu generik? Jangan khawatir. Lebih sedikit yang Anda ketahui tentang apa yang akan disajikan Bird dan Lindelof dalam Tomorrowland, lebih besar kemungkinan Anda akan merasa kagum akan pencapaian yang diberikan keduanya untuk film ini. Jalan cerita Tomorrowland sendiri sepertinya begitu diinspirasi oleh sebuah legenda kaum Indian Cherokee tentang pertarungan antara dua ekor serigala – satu ekor serigala yang hidup dengan pesimisme, amarah, ego dan penderitaan serta seekor serigala lainnya yang hidup dengan optimisme, cinta, damai dan pengharapan. Bird dan Lindelof kemudian membangun Tomorrowland sebagai sebuah persembahan kepada sang serigala yang hidup dengan segala optimisme-nya. Tomorrowland lantas dikemas sebagai sebuah film yang cerdas, penuh dengan ironi tentang permasalahan kehidupan sosial modern – dan terasa berusaha untuk memberikan sugesti bahwa segala permasalahan tersebut dapat diatasi jika manusia mau melakukannya – namun disampaikan dengan jelas dan, tentu saja, kehangatan khas film-film keluarga buatan Walt Disney Pictures.

Hasrat pencapaian tinggi dalam penceritaan Bird dan Lindelof sendiri tidak lantas berjalan dengan sangat lancar. Adalah sangat jelas terasa pada beberapa bagian film Bird terlihat kebingungan untuk mengembangkan dengan seksama ide-ide besar yang diemban naskah ceritanya. Hal inilah yang membuat Tomorrowland sempat beberapa kali terasa gagal untuk berpadu antara beberapa adegannya – dan begitu dapat dirasakan pada paruh kedua serta awal paruh ketiga film. Kehadiran karakter antagonis yang tidak benar-benar antagonis juga sepertinya membuat Tomorrowland terkesan kekurangan amunisi penceritaannya. Dengan tatanan kisah yang berisi sebuah pembahasan futuristik yang kompleks dan eksekusi yang begitu modern adalah cukup mengherankan jika kemudian Bird dan Lindelof memilih untuk menghadirkan sosok antagonis yang well… terlalu lembut karakteristiknya. Mungkin keduanya berniat untuk tetap menjaga Tomorrowland sebagai sebuah sajian yang dapat disaksikan seluruh keluarga namun kehadiran beberapa adegan kekerasan dalam jalan cerita film ini jelas berkata bahwa Bird memang meniatkan filmnya menjadi sebuah film fiksi ilmiah dengan bumbu petualangan dan aksi yang cukup tegas.

Terlepas dari beberapa kelemahannya, Tomorrowland tetap mampu membuktikan bahwa Bird merupakan salah seorang sutradara tercerdas yang dimiliki oleh Hollywood saat ini. Pengarahannya terhadap jalan cerita berjalan cukup efektif. Begitu pula dengan visi yang ia miliki tentang tema futuristik yang dibawakan Tomorrowland. Bird mampu merangkai desain produksi yang benar-benar mengagumkan yang akan sanggup membuat para penontonnya merasa seperti anak-anak yang baru pertama kali menyaksikan hal-hal berbau masa depan yang belum pernah mereka saksikan sebelumnya. Sinematografer Life of Pi (Ang Lee, 2012) memberikan kontribusi yang luar biasa atas visi Bird futuristik tersebut. Deretan gambar-gambar indah Miranda dalam Tomorrowland adalah salah satu alasan mengapa film ini mampu tampil begitu spektakuler. Rangkaian tata musik arahan Michael Giacchino juga bekerja dengan baik dalam mengisi setiap adegan dengan energi yang mengalir kuat dan emosional.

Tidak lupa, Tomorrowland juga didukung oleh penampilan apik para pengisi departemen aktingnya. Ketiga pemeran utamanya, George Clooney, Britt Robertson dan Raffey Cassidy mampu tampil dengan tanpa cela dalam menghidupkan karakter-karakter yang mereka perankan. Clooney adalah salah seorang aktor paling berbakat pada generasinya namun catatan khusus jelas layak disematkan pada Robertson dan Cassidy. Robertson mampu membawa energi tersendiri pada setiap kehadirannya dalam setiap adegan. Seperti halnya Shailene Woodley yang mendampingi Clooney dalam The Descendants (Alexander Payne, 2011), Robertson kemungkinan besar akan menjadi aktris muda dengan karir yang besar dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi. Cassidy sendiri berhasil mencuri perhatian dengan penampilannya. Chemistry-nya dengan Clooney juga begitu erat dan mampu memberikan hantaman emosional yang cukup mendalam pada salah satu adegan di akhir film. Kualitas departemen akting yang solid untuk mendukung sebuah film yang tidak sempurna namun sangat cerdas untuk mampu memprovokasi jalan pemikiran setiap penontonnya dengan apa yang disajikan dalam jalan ceritanya. And these days, that’s definitely something worth cheering about. [B]

Tomorrowland (2015)

Directed by Brad Bird Produced by Brad Bird, Damon Lindelof, Jeffrey Chernov Written by Damon Lindelof, Brad Bird (screenplay), Damon Lindelof, Brad Bird, Jeff Jensen (story) Starring George Clooney, Hugh Laurie, Britt Robertson, Raffey Cassidy, Tim McGraw, Kathryn Hahn, Keegan-Michael Key, Chris Baur, Pierce Gagnon, Matthew Maccaull, Judy Greer, Garry Chalk, Thomas Robinson Music by Michael Giacchino Cinematography Claudio Miranda Editing by Walter Murch Studio Walt Disney Pictures Running time 130 minutes Country United States Language English

Review: The Monuments Men (2014)

The Monuments Men (Columbia Pictures/Fox 2000 Pictures/Smokehouse Pictures/Studio Babelsberg, 2014)
The Monuments Men (Columbia Pictures/Fox 2000 Pictures/Smokehouse Pictures/Studio Babelsberg, 2014)

Setelah berhasil memenangkan Academy Awards untuk Argo (2012) yang ia produseri bersama Ben Affleck dan Grant Heslov, George Clooney kembali bekerjasama dengan Heslov untuk memproduksi The Monuments Men yang sekaligus menjadi film kelima yang diarahkannya. Dengan naskah cerita yang juga ditulis oleh Clooney dan Heslov berdasarkan buku berjudul The Monuments Men: Allied Heroes, Nazi Thieves and the Greatest Treasure Hunt in History karya Robert M. Edsel dan Bret Witter, The Monuments Men bercerita mengenai sebuah kisah nyata bertema kepahlawanan yang mungkin masih belum diketahui oleh banyak orang mengenai usaha penyelamatan berbagai benda seni dan budaya dunia dengan nilai kultural penting sebelum benda-benda tersebut dihancurkan oleh Adolf Hitler pada masa Perang Dunia II. Sebuah tema penceritaan yang jelas sangat menarik untuk dipresentasikan. Sayangnya, tema menarik tersebut gagal untuk mendapatkaan pengembangan yang kuat, baik dari naskah cerita yang ditulis oleh Clooney dan Heslov maupun dari tata pengarahan Clooney sendiri. Hasilnya, meskipun didukung dengan penampilan berkualitas prima dari jajaran pemerannya, The Monuments Men tampil luar biasa datar dan jauh dari kesan menarik dalam penyajiannya.

Continue reading Review: The Monuments Men (2014)

Review: Gravity (2013)

gravity-header

Selain karena kegemaran mereka untuk berbagi cerita, umat manusia jelas menciptakan film agar mereka dapat merasakan pengalaman menjadi bagian sebuah dunia atau perjalanan atau petualangan dari jalan cerita yang mereka dengar atau saksikan. Sebuah pengalaman. Film teranyar arahan Alfonso Cuarón, Gravity, jelas dengan seksama melakukan hal tersebut. Dengan kualitas tatanan produksi audio visual yang mengagumkan, Cuarón mampu memberikan penontonnya sebuah pengalaman mengenai bagaimana rasanya menikmati perjalanan di luar angkasa sekaligus terjebak di dalamnya. Memang, Hollywood telah berulang kali mengeksploitasi angkasa luar sebagai bagian tidak terpisahkan dalam setiap film yang mereka produksi. Namun percayalah… kecuali Anda adalah seorang astronot yang telah berulang kali mengeksplorasi luar angkasa, maka Gravity akan menjadi satu-satunya kesempatan Anda untuk benar-benar melayang dan merasakan bagaimana pengalaman berada di lingkungan tanpa adanya gaya gravitasi tersebut.

Continue reading Review: Gravity (2013)

The 84th Annual Academy Awards Nominations List

Kejutan! Tidak ada Leonardo DiCaprio! Tidak ada Michael Fassbender! Tidak ada Tilda Swinton! Sembilan nominasi Best Picture dan Academy of Motion Picture Arts and Sciences membuktikan kalau mereka begitu mencintai setiap hasil karya Stephen Daldry… namun tetap mampu memberikan penghargaan besar bagi seorang Terrence Malick.

Film teranyar karya Martin Scorsese, Hugo, berhasil memimpin daftar perolehan nominasi The 84th Annual Academy Awards. Hugo berhasil meraih sebelas nominasi, termasuk nominasi di kategori Best Picture, Best Achievement in Directing dan Best Adapted Screenplay. Menyusul di belakang Hugo adalah film bisu hitam putih asal Perancis, The Artist, yang memang diprediksikan akan memperoleh banyak nominasi dan akhirnya berhasil meraup sepuluh nominasi Academy Awards termasuk di kategori Best Picture, Best Achievement in Directing, Best Actor in a Leading Rolde, Best Actress in a Supporting Role dan Best Original Screenplay.

Continue reading The 84th Annual Academy Awards Nominations List

The 69th Annual Golden Globe Awards Winners List

Dan pertarungan antara The Descendants dan The Artist untuk memenangkan kategori Best Picture di ajang The 84th Annual Academy Awards mendatang semakin terlihat jelas. Kedua lm tersebut semakin menunjukkan keunggulan masing-masing setelah keduanya memenangkan kategori Best Motion Picture – Drama dan Best Motion Picture – Comedy or Musical di ajang The 69th Annual Golden Globe Awards. Kedua aktor utama di film tersebut, George Clooney dan Jean Dujardin, juga memenangkan penghargaan untuk kategori Best Actor di dua kategori yang berbeda.

Continue reading The 69th Annual Golden Globe Awards Winners List

The 15th Annual Online Film Critics Society Awards Nominations List

Online Film Critics Society – sebuah perkumpulan jurnalis dan kritikus film yang berbasis internet terbesar di dunia, dimana penulis At the Movies, Amir Syarif Siregar, juga tergabung di dalamnya –  baru saja mengumumkan daftar nominasi untuk The 15th Annual Online Film Critics Society Awards. Film karya Terrence Malick, The Tree of Life, memimpin daftar perolehan nominasi dengan meraih sebanyak 7 nominasi, termasuk di kategori Best Picture, Best Director (Terrence Malick), Best Supporting Actor (Brad Pitt) dan Best Supporting Actress (Jessica Chastain). Mengikuti dibelakangnya adalah Drive yang meraih enam nominasi termasuk di kategori Best Picture dan Best Director (Nicolas Winding Refn) walaupun harus gagal menempatkan aktor utamanya, Ryan Gosling, ke dalam nominasi Best Lead Actor.

Continue reading The 15th Annual Online Film Critics Society Awards Nominations List

Review: The Descendants (2011)

Tujuh tahun setelah kesuksesannya dalam mengarahkan Sideways (2004), sutradara Alexander Payne kembali duduk di kursi sutradara untuk mengarahkan The Descendants, sebuah film drama komedi yang naskahnya ia adaptasi dari novel berjudul sama karya Kaui Hart Hemmings. Dengan jalan cerita yang berlatar belakang tempat di wilayah Hawaii, Amerika Serikat, The Descendants adalah sebuah film yang akan dengan mudah disukai banyak orang. Entah itu karena keberhasilan Payne – yang bekerjasama dengan Nat Faxon dan Jim Rash – dalam menghasilkan sebuah naskah cerita yang ringan namun penuh dengan makna kehidupan yang mendalam, perpaduan antara sinematografi alam Hawaii yang indah dengan penggunaan musik-musik tradisional yang memikat, karena para jajaran pemerannya yang benar-benar mampu tampil natural dan mengesankan atau karena perpaduan berbagai elemen tersebut yang kemudian membuat The Descendants mampu hadir sebagai sebuah presentasi yang manis dan sangat menyentuh.

Continue reading Review: The Descendants (2011)