Tag Archives: Génesis Rodríguez

Review: Run All Night (2015)

run-all-night-posterUntuk kali ketiga setelah Unknown (2011) dan Non-Stop (2014) yang berhasil meraih kesuksesan komersial sekaligus memantapkan posisinya sebagai seorang bintang film-film aksi, Liam Neeson kembali berada di bawah arahan sutradara Jaume Collet-Serra untuk film teranyarnya, Run All Night. Layaknya peran yang ia sajikan selama tujuh tahun terakhir setelah membintangi Taken (2008), Run All Night juga menampilkan Neeson sebagai sosok pria paruh baya yang memiliki kekuatan fisik dan mental luar biasa dalam menghadapi bahaya yang mengancam diri dan orang-orang yang ia sayangi. Apakah Run All Night memiliki kejutan yang berarti dalam penuturan kisahnya? Tidak juga. Mereka yang telah mengikuti petualangan Neeson dalam film-film aksi jelas telah tahu pasti apa yang ditawarkan oleh film yang juga dibintangi Joel Kinnaman dan Ed Harris ini. Meskipun begitu, daya tarik Neeson yang masih luar biasa kuat ditambah dengan kualitas penampilan dari departemen akting serta pengarahan aksi yang solid cukup mampu membuat Run All Night tampil begitu memikat.

Dengan naskah yang ditulis oleh Brad Ingelsby (Out of the Furnace, 2013), Run All Night berkisah mengenai Jimmy Conlon (Neeson), seorang mantan pembunuh bayaran yang kini lebih sering menghabiskan waktunya dengan mengkonsumsi minuman keras akibat dihantui rasa bersalah akan orang-orang yang telah dibunuhnya di masa lampau. Satu-satunya orang yang masih peduli pada Jimmy adalah Shawn Maguire (Harris), mantan kriminal yang dahulu pernah mempekerjakan Jimmy sekaligus merupakan sahabat Jimmy semenjak mereka kecil. Namun kisah persahabatan keduanya berada dalam situasi genting ketika di suatu malam Jimmy terpaksa menembak mati putra tunggal Shawn, Danny (Boyd Holbrook), akibat berusaha membunuh putra tunggal Jimmy, Mike (Kinnaman). Jelas saja Shawn dengan segera mengerahkan seluruh kaki tangannya untuk menemukan sekaligus membunuh Jimmy dan Mike.

Chemistry antara Jaume Collet-Serra dengan Liam Neeson jelas menjadi salah satu faktor mengapa Run All Night dapat bekerja dengan baik. Collet-Serra tahu pasti bahwa Neeson adalah aktor yang ia butuhkan untuk mampu menghidupkan sekaligus membuat sosok karakter yang sebenarnya sulit untuk disukai akhirnya justru dapat menerima dukungan penuh dari penonton. Dan Neeson, tentunya, mampu memenuhi harapan Collet-Serra tersebut dengan baik. Tidak hanya Neeson, Run All Night juga mendapatkan dukungan penampilan yang begitu prima dari jajaran pengisi departemen akting lainnya, mulai dari Ed Harris, Joel Kinnaman, Vincent D’Onofrio bahkan hingga Nick Nolte dan Boyd Holbrook yang hadir dalam kapasitas penceritaan yang begitu terbatas. Jika ada keluhan yang cukup berarti dalam departemen akting film ini maka hal tersebut mungkin datang dari penampilan Common yang begitu datar. Bukan sepenuhnya salah dari sang aktor. Karakter pembunuh bayaran berdarah dingin yang diperankan Common mendapatkan porsi penceritaan dan penggalian karakter yang begitu minim sehingga kehadiran karakter tersebut dalam jalan cerita sering terasa sia-sia belaka.

Dan memang, penggalian cerita dari beberapa karakter yang hadir dalam jalan cerita Run All Night menjadi salah satu masalah dari naskah cerita garapan Brad Ingelsby. Naskah cerita Ingelsby seringkali mengabaikan keberadaan karakter-karakter pendukung yang sebenarnya, jika ingin dicerna lebih lanjut, memiliki peran yang vital dalam keseluruhan penceritaan. Hal ini yang membuat beberapa plot pendukung cerita terasa hadir tanpa pengembangan kisah yang kuat. Tidak hanya itu, Ingelsby juga terasa gagal untuk mengisi celah-celah dalam konflik utama film agar mampu membuatnya kuat untuk bercerita sepanjang hampir selama dua jam, khususnya di pertengahan paruh kedua dan ketiga film. Tidak buruk namun jelas memberikan beberapa celah hampa tersendiri di dalam penceritaan Run All Night.

Terlepas dari berbagai kelemahan di departemen penceritaan, Run All Night masih mampu dikemas sebagai sebuah film action popcorn yang benar-benar menarik. Collet-Serra berhasil mengeksekusi setiap adegan aksi dalam tampilan visual yang memukau dan menegangkan. Begitu pula dengan pengarahannya akan alur penceritaan yang sukses mengalirkan kisah film ini dengan baik kepada penontonnya. Jika Anda merupakan penggemar dari dua film kolaborasi Collet-Serra dan Neeson sebelumnya, maka Run All Night jelas tidak akan mengecewakan. [B-]

Run All Night (2015)

Directed by Jaume Collet-Serra Produced by Roy Lee, Michael Tadross, Brooklyn Weaver Written by Brad Ingelsby Starring Liam Neeson, Ed Harris, Joel Kinnaman, Boyd Holbrook, Bruce McGill, Génesis Rodríguez, Vincent D’Onofrio, Common, Holt McCallany, Malcolm Goodwin, Nick Nolte Music by Junkie XL Cinematography Martin Ruhe Edited by Craig McKay Production company Vertigo Entertainment/Energy Entertainment Running time 114 minutes Country United States Language English

Review: Hours (2013)

HOURS / Director Eric Heisserer

Sebagai seorang aktor, Paul Walker memang tidak pernah dikenal sebagai sosok yang memiliki jangkauan dramatikal yang kuat. Semenjak berperan sebagai Brian O’Conner dalam The Fast and the Furious (2001) – film aksi yang berhasil mengangkat namanya ke jajaran aktor papan atas Hollywood serta kemudian berkembang menjadi rangkaian seri film karena kesuksesannya dan terus ia perankan hingga Fast and Furious 6 yang dirilis tahun lalu – nama Walker memang lebih identik dengan film-film pemacu adrenalin yang (sepertinya) memang tidak memberikan tantangan yang begitu berarti bagi kemampuan akting Walker. Meskipun begitu, penampilannya dalam film-film seperti Varsity Blues (1999), Eight Below (2006) dan Running Scared (2006), cukup berhasil membuktikan bahwa dirinya memiliki kapabilitas berperan yang cukup kuat jika diberikan wilayah penceritaan yang memadai.

Continue reading Review: Hours (2013)

Review: Identity Thief (2013)

Identity-Thief-header

Sesungguhnya… Jason Bateman dan Melissa McCarthy adalah dua komedian Hollywood yang sepertinya selalu mampu untuk memberikan performa terbaik dalam setiap penampilan mereka. Sayangnya, performa sebaik apapun yang berusaha dihadirkan keduanya kemungkinan besar tidak akan dapat meningkatkan kualitas Identity Thief lebih jauh lagi. Permasalahan terbesar dalam film ini terletak pada naskah cerita arahan Craig Mazin (The Hangover Part II, 2011). Mazin terkesan hanya memanfaatkan pola penceritaan mengenai perjalanan yang dilakukan oleh dua karakter yang saling bertolak belakang untuk kemudian menghadirkan deretan guyonan dewasa tanpa pernah benar-benar berhasil mengelolanya dengan baik. Hasilnya, daripada menghasilkan sebuah sajian komedi yang kuat, Identity Thief justru menjelma menjadi sebuah presentasi komedi yang kasar dan gagal untuk tampil menghibur.

Continue reading Review: Identity Thief (2013)

Review: The Last Stand (2013)

the-last-stand-header

Hal yang paling menarik dalam The Last Stand sendiri bukanlah untuk melihat bagaimana seorang Arnold Schwarzenegger yang telah berusia 65 tahun harus beraksi melawan siapapun yang harus dilawannya dalam jalan cerita film ini. Film ini lebih layak disaksikan untuk melihat bagaimana sutradara asal Korea Selatan, Kim Ji-woon (I Saw the Devil, 2010), menangani film Hollywood perdananya. Sejujurnya, atmosfer penyutradaraan Kim masih dapat dirasakan di banyak adegan di film ini. Namun sayangnya, tidak seperti kebanyakan film yang ia arahkan terdahulu, kali ini Kim tidak mendapatkan dukungan sebuah naskah cerita yang kuat. Hasilnya, kekuatan pengarahan cerita Kim jelas terasa seperti terjebak di tengah-tengah deretan adegan dan karakter klise yang terbiasa hadir dalam sebuah film aksi. Welcome to Hollywood, Kim!

Continue reading Review: The Last Stand (2013)

Review: What to Expect When You’re Expecting (2012)

Dianggap sebagai sebuah kitab suci bagi para wanita hamil di Amerika Serikat – dimana diperkirakan 93% wanita hamil di negara tersebut menjadikan buku ini sebagai bacaan wajibnya, What to Expect When You’re Expecting adalah sebuah buku yang berformat deretan pertanyaan dan jawaban mengenai kehamilan yang ditulis oleh Heidi Murkoff dan Sharon Mazel serta diterbitkan pertama kali pada tahun 1984. Walau sama sekali tidak mengandung garis cerita di dalamnya, Hollywood mengambil inspirasi mengenai berbagai peristiwa dan proses yang terjadi dalam kehamilan dari buku tersebut dan menjadikannya sebuah naskah film drama komedi romantis dengan bantuan duo penulis naskah, Shauna Cross (Whip It, 2009) dan Heather Hach (Freaky Friday, 2003).

Continue reading Review: What to Expect When You’re Expecting (2012)