Tag Archives: Frans Nicholas

Review: Tuyul – Part 1 (2015)

tuyul-part-1-posterMungkin karena perwujudannya yang berupa manusia bertubuh kerdil dengan kepala plontos dan bersifat kekanak-kanakan, film-film horor Indonesia yang menampilkan karakter tuyul seringkali dibumbui dengan nuansa komedi, seperti yang disajikan Tuyul (T. Bonawi, 1978). Dua film Indonesia tentang tuyul lainnya, Tuyul Eee Ketemu Lagi (Suhardja Widirga, 1979) dan Tuyul Perempuan (Bay Isbahi, 1979), serta sebuah serial televisi berjudul Tuyul dan Mbak Yul (1997 – 2002) bahkan lebih menggali unsur komedi dari karakter mitos Indonesia tersebut daripada sisi horornya. Jangan khawatir! Keadilan horor telah ditegakkan dengan hadirnya Tuyul – Part 1 arahan Billy Christian (Kampung Zombie, 2015) yang kembali menyajikan karakter mistis yang juga digambarkan suka mencuri tersebut sebagai sosok karakter horor – lengkap dengan visualisasi akan sosok tuyul yang errr… lebih modern, kelam dan mencekam.

Dikonsepkan sebagai sebuah trilogi, bagian pertama dari kisah Tuyul dimulai ketika pasangan Daniel (Gandhi Fernando) dan istrinya yang sedang hamil, Mia (Dinda Kanya Dewi), pindah ke rumah lama yang pernah ditempati Mia dan ibunya semasa kecil. Mia sendiri tidak begitu senang akan pilihan tersebut karena berbagai kenangan buruk yang ia miliki selama berada di rumah itu. Tuntutan pekerjaan Daniel yang kemudian memaksanya untuk menerima fakta bahwa ia harus kembali menjalani kehidupannya disana. Awal kepindahan Daniel dan Mia sendiri berjalan lancar. Namun, seiring dengan kesibukan Daniel yang semakin padat, kehidupan pernikahan mereka mulai menghadapi banyak rintangan. Parahnya, Mia kini harus menghadapi teror mistis yang sepertinya tidak hanya berniat untuk mengganggu dirinya namun juga mengganggu bayi yang sedang dikandungnya.

Harus diakui, seperti halnya Kampung Zombie yang juga digarap Billy Christian dan dirilis pada pertengahan bulan lalu, Tuyul – Part 1 merupakan salah satu dari segelintir film horor Indonesia yang mampu tergarap dengan cukup baik. Terlepas dari adanya gangguan dari tata musik arahan Andhika Triyadi yang hadir dengan kualitas standar film horor Indonesia – tampil dengan volume dan frekuensi tinggi guna memberikan efek kejutan bagi para penonton film – pada paruh awal penceritaan, departemen produksi Tuyul – Part 1 tersaji dengan kualitas yang cukup memuaskan. Mulai dari desain ulang penampilan karakter tuyul, desain produksi latar belakang lokasi hingga tata sinematografi benar-benar dihadirkan guna mendukung atmosfer penceritaan film yang berkesan gloomy. Jelas berada di kelas yang masih sulit untuk dijangkau banyak film horor Indonesia lainnya.

Sayangnya, Tuyul – Part 1 masih menghadapi masalah yang sama dengan kebanyakan film-film horor Indonesia lainnya: naskah cerita yang cenderung lemah. Naskah cerita garapan Luvie Melati, Billy Christian dan Gandhi Fernando seperti mencoba untuk mencakup (terlalu) banyak hal dalam pengisahannya, mulai dari kisah personal dari hubungan dua karakter utamanya, kisah masa lalu kelam dari karakter Mia dan ibunya, permasalahan yang dihadapi karakter Daniel di bidang pekerjaannya hingga kisah tentang tetangga baru karakter Daniel dan Mia yang mencurigakan kehadirannya. Memang, masing-masing plot tersebut saling terhubung dan memicu kehadiran satu sama lain. Namun, penggarapan yang kurang mendalam membuat kehadiran beberapa plot tersebut menjadi datar dan jauh dari kesan menarik untuk diikuti kisahnya. Tuyul – Part 1 mungkin akan bekerja jauh lebih baik jika film ini hadir dengan pendekatan lebih personal – menggali kembali masa lalu karakter Mia dan keluarganya – dan membuang jauh karakter-karakter pendukung yang kurang berarti fungsinya dalam jalan cerita. Lebih banyak kisah tentang para tuyul, mungkin?

Arahan Billy Christian terhadap jalan cerita Tuyul – Part 1 sendiri juga bukannya hadir tanpa masalah. Semenjak awal penceritaan, Billy terasa seperti kesulitan untuk menetapkan ritme penceritaan yang tepat bagi film ini – apakah harus berjalan lamban dan membiarkan penonton menyerap sendiri atmosfer kelam dari jalan cerita film atau hadir dengan irama cepat guna memberikan beberapa kejutan khas film horor Indonesia di beberapa bagian penceritaan. Inkonsistensi ini baru terasa menemui akhir di paruh ketiga penceritaan ketika Billy sepertinya benar-benar membiarkan Tuyul – Part 1 bercerita lepas dengan ritme yang cukup cepat. Bukan sebuah gangguan yang benar-benar besar namun jelas memberikan kontribusi tersendiri bagi beberapa momen hambar yang hadir dalam penceritaan film.

Tidak banyak hal yang menonjol dari departemen akting film ini, kecuali penampilan Dinda Kanya Dewi sebagai Mia yang benar-benar mencuri penuh perhatian penonton pada setiap kehadirannya dalam jalan cerita. Dinda secara meyakinkan benar-benar mampu menghidupkan sosok karakter Mia yang depresif dengan segala tantangan yang ia hadapi. Sayangnya, penampilan Dinda gagal untuk diimbangi dengan baik oleh jajaran pengisi departemen akting lainnya. Gandhi Fernando seringkali terlihat kaku pada banyak penampilannya. Chemistry yang ia jalin dengan Dinda Kanya Dewi juga terlihat datar. Penampilan Ingrid Widjanarko juga seperti dibuat-buat sebagai sosok pelayan misterius. Terkesan tertahan dan jauh dari meyakinkan. Entah bagaimana konsep penceritaan trilogi yang ada di benak para produser film ini. Namun, berdasarkan kualitas yang ditunjukkan oleh bagian pertama film, Tuyul jelas masih menyisakan ruang kualitas yang cukup besar untuk ditingkatkan lagi pada seri berikutnya. [C]

Tuyul – Part 1 (2015)

Directed by Billy Christian Produced by Gandhi Fernando, Laura Karina Written by Luvie Melati, Billy Christian, Gandhi Fernando Starring Dinda Kanya Dewi, Gandhi Fernando, Citra Prima, Karina Nadila, Ingrid Widjanarko, Allan Wangsa, Dicky Topan, Dini Vitri, Neni Anggraeni, Bubah Alfian, Dimas Harry, Frans Nicholas Music by Andhika Triyadi Cinematography Gunung Nusa Pelita Editing by Heytuta Masjhur Studio Renee Pictures Running time 97 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: Bidadari-Bidadari Surga (2012)

bidadari-bidadari-surga-header

Well… seperti yang dikatakan oleh banyak orang: You don’t mess with a winning formula! Karenanya, ketika Hafalan Shalat Delisa yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Tere Liye berhasil menjadi salah satu film Indonesia dengan raihan jumlah penonton terbesar di sepanjang masa rilisnya pada tahun 2011, tidak mengherankan jika kemudian produser film tersebut mencoba kembali mengulang sukses tersebut dalam rilisan mereka berikutnya. Hasilnya… sebuah film lain yang diadaptasi dari novel Tere Liye – yang kali ini berjudul Bidadari-Bidadari Surga, masih dengan kisah bernuansa reliji, masih dengan kisah yang akan berusaha (baca: memaksa) penontonnya untuk tersentuh dan meneteskan air mata, masih disutradarai oleh Sony Gaokasak, masih menempatkan Nirina Zubir di barisan terdepan jajaran pengisi departemen aktingnya dan… Mike Lewis yang nanti hadir di pertengahan cerita. Hasilnya? Masih sama seperti Hafalan Shalat Delisa. Namun kali ini hadir dengan perjalanan yang terasa lebih menyakitkan.

Continue reading Review: Bidadari-Bidadari Surga (2012)