Tag Archives: Forest Whitaker

Review: Tak3n (2015)

tak3n-posterKetika Liam Neeson akhirnya setuju untuk terlibat dalam pembuatan film action thriller Taken (Pierre Morel, 2008) yang diproduseri oleh Luc Besson, Neeson jelas tidak akan menduga bahwa film tersebut akan meraih kesuksesan luar biasa di seluruh belahan dunia. Tidak hanya berhasil meraih kesukesan komersial dan menjadi sebuah titik balik bagi karirnya sebagai seorang aktor – sebuah titik balik yang mengubah imej Neeson dari seorang aktor drama menjadi seorang bintang film aksi yang begitu menjual, kesuksesan Taken juga menyihir Hollywood untuk kembali melirik para aktor-aktornya yang telah berusia matang serta, layaknya Neeson, menjual mereka kembali sebagai seorang bintang film-film aksi (Halo, Sly! Halo, Arnie! Halo, Sly & Arnie!).

Enam tahun setelah perilisan film pertama, dan setelah merilis sebuah sekuel arahan Olivier Megaton di tahun 2012 yang bahkan berhasil meraih kesuksesan komersial lebih besar dari Taken, Neeson kembali melanjutkan petualangan aksinya lewat Taken 3 – bagian yang menurut Neeson akan menjadi penutup dalam seri film ini. Taken 3 masih menggunakan formula lama yang telah begitu familiar dengan Luc Besson masih bertanggung jawab sebagai produser sekaligus penulis naskah bersama Robert Mark Kamen serta jajaran pemerannya yang masih menampilkan Neeson bersama Maggie Grace dan Famke Janssen. Lalu apakah Taken 3 masih menarik perhatian sekuat dua seri pendahulunya?

Tidak, sayangnya. Setelah dua kali penampilan karakter Bryan Mills yang tangguh dan mampu menghadapi hambatan serta rintangan apapun tersebut, kali ini karakter tersebut telah kehilangan daya tariknya. Kejutan yang dulu datang ketika melihat seorang sosok karakter ayah dan suami (dalam usia yang tidak lagi muda) yang dalam segala keputusasaannya mampu berbuat apa saja dan melawan siapa saja demi menyelamatkan orang-orang yang begitu dicintainya kini telah terasa pudar. Penonton jelas telah memahami bahwa karakter Bryan Mills yang diperankan Neeson adalah karakter yang… well… tidak akan kalah oleh siapapun dalam setiap pertempurannya: mampu menghindar dari berbagai serangan senjata api, melawan dalam setiap pertarungan sekaligus menghilang dan bersembunyi dengan sempurna ketika dirinya berada dalam incaran. Even Superman got nothing compares to this old guy! Really! Hal inilah yang menjadi faktor utama mengapa menyaksikan perjuangan Bryan Mills dalam Taken 3 tidak lagi memberikan sensasi kesenangan yang sama seperti yang dahulu sempat mampu diberikan dua sekuel pendahulunya.

Usaha Besson dan Kamen untuk memberikan sedikit rekonstruksi cerita dalam Taken 3 – dimana kali ini karakter Bryan Mills turut menjadi karakter yang dikejar daripada murni hanya melakukan sebuah pengejaran – juga tidak memberikan pengaruh yang besar pada kualitas penceritaan film secara keseluruhan. Hal ini disebabkan karena minimnya pengembangan cerita dan karakter di luar dari cerita dan karakter personal Bryan Mills sendiri. Jelas tidak mengherankan jika kemudian penampilan aktor pemenang Academy Awards, Forest Whitaker, terlihat sia-sia kehadirannya dalam berperan sebagai Inspector Franck Dotzler. Begitu juga dengan Dougray Scott yang berperan sebagai Stuart, suami dari mantan istri Bryan Mills, yang memiliki plot cerita yang cukup menarik namun gagal untuk dikembangkan dengan baik sehingga justru menjadi terasa dipaksakan kehadirannya. Arahan Megaton juga tidak banyak memberikan pengaruh positif pada Taken 3. Banyak adegan aksi yang seharusnya dapat menjadi sisi-sisi kuat film justru terasa mentah akibat tata gambar maupun pengarahan yang begitu lemah.

To be fair, Taken 3 bukanlah sebuah presentasi yang buruk secara keseluruhan. Namun dengan perkembangan film aksi yang semakin kuat di sepanjang tahun lalu – The Raid 2: Berandal dan John Wick sebagai beberapa contoh kuatnya – formula statis yang dihadirkan Luc Besson dan Robert Mark Kamen jelas menjadi terasa basi untuk disaksikan sekarang. No longer fun. No longer thrilling. [C-]

Tak3n (2015)

Directed by Olivier Megaton Produced by Luc Besson Written by Luc Besson, Robert Mark Kamen Starring Liam Neeson, Forest Whitaker, Famke Janssen, Maggie Grace, Dougray Scott, Sam Spruell, Leland Orser, Jon Gries, Jonny Weston, Dylan Bruno Music by Nathaniel Méchaly Cinematography Eric Kress Edited by Audrey Simonaud, Nicolas Trembasiewicz Studio EuropaCorp Running time 109 minutes Country France Language English

Review: Freelancers (2012)

Freelancers (Grindstone Entertainment Group/Cheetah Vision/Emmett/Furla Films/Paradox Entertainment, Inc./Action Jackson Films/Rick Jackson Films/Envision Entertainment, 2012)
Freelancers (Grindstone Entertainment Group/Cheetah Vision/Emmett/Furla Films/Paradox Entertainment, Inc./Action Jackson Films/Rick Jackson Films/Envision Entertainment, 2012)

Siapa yang bilang kalau uang tidak dapat membeli segalanya? Well… setidaknya uang mampu memberikan Curtis Jackson – atau yang lebih dikenal sebagai seorang penyanyi rap dengan nama panggung 50 Cent – sebuah kesempatan yang cukup luas untuk tampil berakting di banyak film yang ia inginkan. Bersama dengan produser Randall Emmet, Jackson menginvestasikan uangnya dengan mendirikan rumah produksi Cheetah Vision yang hebatnya kemudian berhasil mengumpulkan beberapa investor lain yang mau turut berkontribusi sejumlah total US$200 juta untuk membiayai sepuluh film yang diproduksi rumah produksi tersebut semenjak awal tahun 2011. Hasilnya? Cheetah Vision memproduksi film-film seperti Fire with Fire (2012), The Frozen Ground (2013) dan Empire State (2013) yang berkualitas cukup menyedihkan dan kebanyakan langsung dirilis dalam bentuk home video namun tetap mampu menarik nama-nama aktor popular maupun pemenang penghargaan film untuk membintangi film-film tersebut.

Continue reading Review: Freelancers (2012)

Review: Lee Daniels’ The Butler (2013)

??????????

Dwight D. Eisenhower. John F. Kennedy. Lyndon B. Johnson. Richard Nixon. Gerald Ford. Jimmy Carter. Ronald Reagan. Tujuh nama presiden Amerika Serikat yang jelas telah dikenal luas oleh masyarakat dunia. Namun, apakah Anda pernah mengenal nama Cecil Gaines? Film terbaru arahan sutradara Lee Daniels (Precious: Based on the Novel “Push” by Sapphire, 2009) justru sama sekali tidak membahas salah satu ataupun keseluruhan tujuh nama presiden Amerika Serikat tersebut. Lewat Lee Daniels’ The Butler, Daniels mengajak penontonnya untuk mengenal sosok Cecil Gaines, seorang kepala pelayan White House berkulit hitam yang melayani ketujuh nama presiden Amerika Serikat tersebut sekaligus hubungannya dengan setiap presiden, berbagai intrik dalam kehidupan pribadinya sekaligus masa pergerakan sipil warga Afrika-Amerika yang terjadi di tahun-tahun tersebut.

Continue reading Review: Lee Daniels’ The Butler (2013)

Review: The Last Stand (2013)

the-last-stand-header

Hal yang paling menarik dalam The Last Stand sendiri bukanlah untuk melihat bagaimana seorang Arnold Schwarzenegger yang telah berusia 65 tahun harus beraksi melawan siapapun yang harus dilawannya dalam jalan cerita film ini. Film ini lebih layak disaksikan untuk melihat bagaimana sutradara asal Korea Selatan, Kim Ji-woon (I Saw the Devil, 2010), menangani film Hollywood perdananya. Sejujurnya, atmosfer penyutradaraan Kim masih dapat dirasakan di banyak adegan di film ini. Namun sayangnya, tidak seperti kebanyakan film yang ia arahkan terdahulu, kali ini Kim tidak mendapatkan dukungan sebuah naskah cerita yang kuat. Hasilnya, kekuatan pengarahan cerita Kim jelas terasa seperti terjebak di tengah-tengah deretan adegan dan karakter klise yang terbiasa hadir dalam sebuah film aksi. Welcome to Hollywood, Kim!

Continue reading Review: The Last Stand (2013)

Review: Catch .44 (2011)

Catch .44 adalah sebuah film yang dipenuhi dengan berbagai kemisteriusan. Tidak hanya jalan cerita film ini sama sekali tidak menjelaskan mengapa film ini diberi judul Catch .44, namun mengapa talenta-talenta Hollywood yang cukup berkualitas seperti Bruce Willis, Forest Whitaker sampai Malin Åkerman mau turut bergabung dalam film yang memiliki jalan cerita yang begitu berantakan ini juga jelas merupakan sebuah kemisteriusan yang sangat besar. Well… kecuali jawabannya memang jumlah bayaran yang masing-masing aktor tersebut terima. Ditulis dan disutradarai oleh Aaron Harvey, Catch .44 terlihat sebagai sebuah usaha murahan dalam meniru film-film klasik Quentin Tarantino… yang sayangnya, gagal mereplikasi tingkat kecerdasan Tarantino untuk menuliskan jalan cerita, dialog maupun karakter yang cerdas dan menarik untuk diikuti.

Continue reading Review: Catch .44 (2011)

Review: The Experiment (2010)

Sejujurnya, adalah sangat mengenaskan untuk melihat dua aktor pemenang Academy Awards, Adrien Brody dan Forest Whitaker, beradu akting untuk pertama kalinya lewat film yang ternyata berakhir sebagai sebuah film yang berjalan sedatar The Experiment ini. Disutradarai oleh Paul Scheuring – seorang sutradara yang seharusnya mampu mengolah cerita yang berlatarbelakang kehidupan di balik penjara dengan pengalamannya bekerja di balik kesuksesan serial televisi, Prison BreakThe Experiment sebenarnya memiliki premis yang cukup menggoda, namun ternyata gagal dalam eksekusinya.

Continue reading Review: The Experiment (2010)

Review: Fragments (2009)

Dibintangi oleh nama-nama besar seperti Kate Beckinsale, Dakota Fanning, Guy Pearce, Forest Whitaker, Jennifer Hudson dan Josh Hutcherson, Winged Creatures sempat menjadi film yang paling banyak dinantikan oleh banyak penonton di akhir 2008. Selain karena nama-nama besar tersebut, tema yang dibawakan film ini juga sepertinya akan menjadi sebuah tema yang cukup layak untuk dibawakan ke berbagai tingkat penghargaan film.

Continue reading Review: Fragments (2009)