Tag Archives: Esa Sigit

Review: Tes Nyali (2015)

tes-nyali-posterUgh. How do you solve a problem like film horor Indonesia? Sempat menjadi tambang emas bagi banyak rumah produksi film untuk menarik penonton dalam jumlah yang tidak sedikit, film horor buatan Indonesia kini justru dituding menjadi penyebab utama mengapa hampir seluruh pengunjung bioskop di Indonesia enggan menyaksikan film buatan sineas negeri mereka sendiri. Well, to be fair, tidak semua film horor made in Indonesia berkualitas menyedihkan. Lihat saja film Belenggu (2013) arahan Upi yang berhasil meraih banyak nominasi di ajang Festival Film Indonesia tahun 2013 lalu. But then… tidak semua sineas horor Indonesia mampu (atau mau?) membuat film horor sekelas Belenggu. Kebanyakan dari mereka memilih jalan pintas dengan menyajikan sajian yang mereka anggap dapat menakut-nakuti penonton, meletakkan beberapa wajah dan fisik aduhai dalam jajaran pemerannya untuk kemudian dijual dengan judul dan poster bernuansa horor yang setidaknya akan mampu menarik perhatian penonton awam yang sama sekali tidak memiliki film tujuan ketika berkunjung ke bioskop – dan jumlah penonton dalam kategori tersebut adalah SANGAT BANYAK.

Tes Nyali, saudara-saudara, adalah salah satu contoh film Indonesia yang dibuat murni hanya untuk mereguk keuntungan komersial semata tanpa pernah memandang penontonnya sebagai umat manusia yang seutuhnya. Sejujurnya, film yang disutradarai oleh Vijei Al Fajr ini memiliki premis yang cukup menjanjikan: film ini mengajak penontonnya ke balik layar pembuatan sebuah serial televisi reality show horor namun orang-orang yang bekerja di balik layar tersebut justru terjebak dengan kengerian supranatural yang mereka hadapi selama menjalani proses produksi. Bayangkan saja The Blair Witch Project (1999) namun dengan sentuhan kearifan lokal.

Sayangnya, apapun harapan yang akan penonton dapatkan ketika membaca sinopsis film Indonesia akan segera sirna beberapa menit setelah durasi film ini memulai perjalanannya. Mari kesampingkan lebih dahulu fakta mengenai naskah cerita yang ditulis oleh Adi Baskoro dan VJ Erwanto Aplhadullah memiliki banyak kelemahan di dalam penulisannya. Film ini bahkan tidak memiliki kekuatan presentasi tata gambar yang mampu untuk membuat film ini bercerita kepada penontonnya. Ditangani oleh Nandang Wahyu, tata gambar Tes Nyali hadir dengan kualitas berantakan. Banyak adegan terus menerus mengalami pengulangan di awal, tengah maupun akhir film dengan tanpa kehadiran alasan yang jelas. Pusing? Tentu saja. Sekarang tambahkan dengan kualitas penulisan naskah seadanya yang juga meletakkan deretan konflik film serta karakter-karakternya (yang tergambar sangat tidak jelas) secara sembarangan. Tes Nyali hampir tidak dapat disebut sebagai sebuah film. Sajian ini lebih pantas disebut sebagai rangkaian gambar acak yang berjalan sepanjang 76 menit.

Perlu lebih banyak alasan untuk membenci film ini? Bagaimana dengan deretan jajaran pemeran yang tampil dengan kualitas sangat, sangat menyedihkan – padahal kebanyakan dari mereka tampil seperti diri mereka sendiri. Pengarahan buruk. Naskah cerita buruk. Akting yang buruk. Kualitas produksi yang buruk. Banyak orang akan mempertanyakan mengapa Tes Nyali dapat dijual di layar bioskop Indonesia. Sebuah produk berkualitas sangat buruk yang sekali lagi akan membuat banyak penonton film Indonesia mempertanyakan dan meragukan kualitas para sineas negaranya. Wait… atau tujuan dirilisnya film ini adalah untuk melakukan tes nyali kepada penonton untuk membuktikan ketahanan nyali mereka dalam menyaksikan sajian yang benar-benar buruk? Jika Anda marah-marah dan menuntut uang kembali setelah menonton film ini maka Anda akan dianggap gagal? Hmmm[F]

Tes Nyali (2015)

Directed by Vijei Al Fajr Produced by Sendy Febrina, Esa Sigit, Wafda Saifan, Cheverly Written by Adi Baskoro, VJ Erwanto Aplhadullah Starring Tamara Tyasmara, Wafda Saifan, Esa Sigit, Jessica Hadipranata, Ilvi Rahmi, Iqbal Azhari, Rabzki Muzy, Denny Rachman, Betty, Chantika Music by Mario Ferhard Bach Cinematography Yohan Daryanto Edited by Nandang Wahyu Production company 3Star Films/88 Films Running time 76 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: (Masih) Bukan Cinta Biasa (2011)

Seorang pria remaja bernama Vino (Axel Andaviar) suatu hari datang ke hadapan Tommy (Ferdy Taher), seorang mantan vokalis grup musik rock papan atas di Indonesia, The Boxis, dan kemudian mengaku bahwa dirinya adalah anak kandung dari Tommy. Terdengar seperti jalan cerita dari sebuah film Indonesia yang pernah dirilis sebelumnya? Memang, (Masih) Bukan Cinta Biasa adalah sekuel dari film drama, Bukan Cinta Biasa, yang secara mengejutkan cukup mampu tampil menghibur penontonnya ketika dirilis pada tahun 2009 lalu. Masih menghadirkan jajaran pemeran yang sama, dengan naskah dan arahan yang masih datang dari Benni Setiawan, (Masih) Bukan Cinta Biasa dapat dipandang sebagai versi kisah alternatif dari film pendahulunya. Tergarap dengan cukup baik pada kebanyakan bagian, (Masih) Bukan Cinta Biasa tetap saja kekurangan banyak faktor esensi pembeda yang dapat memberikan penjelasan mengenai eksistensi dari perilisan film ini. Kecuali faktor keuntungan komersial, tentu saja.

Continue reading Review: (Masih) Bukan Cinta Biasa (2011)

Review: Surat Kecil Untuk Tuhan (2011)

Jika pada beberapa film nasional yang beredar di awal tahun kisah mengenai seorang karakter yang menderita sebuah penyakit mematikan ditempatkan sebagai plot pendukung dari kisah utama film-film tersebut, maka pada Surat Kecil Untuk Tuhan kisah tersebut justru menjadi jalan cerita utama. Diinspirasi dari sebuah kisah nyata, Surat Kecil Untuk Tuhan jelas dibuat untuk menjadi sebuah melodrama tearjerker yang sekaligus berusaha untuk memberikan beberapa inspirasi moral kepada para penontonnya. Niat yang mulia, namun Surat Kecil Untuk Tuhan kekurangan cukup banyak elemen pendukung yang akan mampu membuat film ini tidak hanya sekedar menjadi film yang menyentuh maupun menginspirasi, namun juga menghindarkan penontonnya dari rasa kebosanan yang luar biasa ketika menyaksikannya.

Continue reading Review: Surat Kecil Untuk Tuhan (2011)