Tag Archives: Eduardo Noriega

Review: Beauty and the Beast (2014)

beauty-and-the-beast-posterSeperti halnya Cinderella (2015), kisah si cantik Belle yang jatuh cinta dengan seorang pangeran penyendiri buruk rupa dalam Beauty and the Beast juga telah berulangkali diadaptasi pengisahannya, baik dalam bentuk film, serial televisi hingga drama panggung. Yang paling populer? Tentu saja film animasi berjudul sama rilisan Walt Disney Pictures pada tahun 1991 yang berhasil meraih kesuksesan besar baik secara komersial maupun kritikal hingga akhirnya menjadi film animasi pertama yang berhasil mendapatkan nominasi Best Picture di ajang Academy Awards. Versi teranyar dari Beauty and the Beast kali ini sendiri datang dari sutradara Christophe Gans (Silent Hill, 2006). Bersama dengan penulis naskah Sandra Vo-Anh, Gans mencoba untuk memberikan interpretasinya atas kisah romansa klasik dari penulis asal Perancis Gabrielle-Suzanne Barbot de Villeneuve tersebut dengan memasangkan Léa Seydoux dan Vincent Cassell sebagai dua bintang utamanya.

Kisahnya jelas telah familiar. Belle (Seydoux) yang merupakan anak termuda dari seorang pedagang yang baru saja mengalami kebangkrutan (André Dussollier) memilih untuk menggantikan posisi ayahnya yang hendak dibunuh oleh sosok misterius penguasa sebuah kastil mewah (Cassell) akibat sebuah kesalahan yang dilakukan sang ayah. Setibanya di kastil, Belle justru menjadi tawanan bagi sosok misterius yang hanya dikenal dengan sebutan Beast tersebut. Setelah sekian malam tinggal di kastil, Belle mulai mempelajari siapa sosok Beast yang sesungguhnya. Sosok yang jelas jauh dari kesan menakutkan seperti yang tergambar dari wujud fisik Beast. Secara perlahan, Belle jatuh hati pada Beast.

Dengan jalinan kisah yang telah familiar bagi banyak orang, Gans tentu saja membutuhkan usaha lebih untuk membuat Beauty and the Beast miliknya mampu tampil menonjol. Jelas adalah sebuah pilihan cerdas untuk kemudian merangkai kisah familiar Beauty and the Beast dengan tampilan visual yang mewah dan megah. Seperti ingin menjadi cerminan jalan cerita film, Gans kemudian banyak bermain dengan warna – memadukan kontrasnya warna-warna terang dan kelam – sehingga mampu menjadikan Beauty and the Beast begitu mengagumkan untuk disaksikan. Tata musik arahan Pierre Adenot juga banyak membantu mengangkat sentuhan emosional dalam jalan cerita. Komposisi musik Adenot mungkin akan mengingatkan pada komposisi musik Danny Elfman dalam film-film arahan Tim Burton. Tetap saja, Adenot berhasil menyajikan tatanan musik yang begitu sesuai dengan atmosfer penceritaan film ini.

Kuatnya penampilan departemen teknikal jelas memberikan andil besar untuk menutupi kelemahan penceritaan Beauty and the Beast. Bukannya buruk, namun Gans jelas terasa kebingungan untuk memilihkan ritme penceritaan film yang tepat bagi filmnya. Banyaknya adegan kilas balik dalam jalan cerita seringkali membuat Beauty and the Beast sukar untuk dinikmati dengan seksama – khususnya pada dua paruh pertama pengisahannya. Banyaknya karakter pendukung yang kurang mendapatkan ruang penceritaan yang luas juga memberikan pengaruh tersendiri. Membingungkan, khususnya ketika beberapa karakter pendukung tersebut beberapa kali hadir dan menghilang begitu saja dari dalam jalan cerita.

Meskipun jauh dari kesan istimewa, departemen akting Beauty and the Beast hadir dalam kualitas yang tidak mengecewakan. Belle mungkin bukanlah sosok dengan karakterisasi yang cukup berwarna namun penampilan Seydoux jelas memberikan kesan keanggunan tersendiri bagi sosok karakter tersebut. Chemistry yang dibangun Seydoux dengan Cassell sendiri sempat terasa hambar di beberapa bagian. Meskipun begitu, Seydoux dan Cassell berhasil memberikan kekuatan penampilan yang cukup khas bagi dua karakter ikonik yang mereka perankan. Begitu pula dengan jajaran pemeran pendukung yang meskipun hadir dengan kapasitas cerita yang minimalis namun tetap mampu memberikan kesan kualitas penampilan yang maksimal. [C]

Beauty and the Beast (La Belle et la Bête) (2014)

Directed by Christophe Gans Produced by Richard Grandpierre Written by Christophe Gans, Sandra Vo-Anh (screenplay), Gabrielle-Suzanne Barbot de Villeneuve (story, Beauty and the Beast) Starring Vincent Cassel, Léa Seydoux, André Dussollier, Eduardo Noriega, Myriam Charleins, Sara Giraudeau, Audrey Lamy, Jonathan Demurge, Nicolas Gob, Louka Meliava, Yvonne Catterfeld, Dejan Bucin Music by Pierre Adenot Cinematography Christophe Beaucarne Editing by Sébastien Prangère Studio Eskwad/Pathé/Studio Babelsberg Running time 112 minutes Country France, Germany Language French

Review: The Last Stand (2013)

the-last-stand-header

Hal yang paling menarik dalam The Last Stand sendiri bukanlah untuk melihat bagaimana seorang Arnold Schwarzenegger yang telah berusia 65 tahun harus beraksi melawan siapapun yang harus dilawannya dalam jalan cerita film ini. Film ini lebih layak disaksikan untuk melihat bagaimana sutradara asal Korea Selatan, Kim Ji-woon (I Saw the Devil, 2010), menangani film Hollywood perdananya. Sejujurnya, atmosfer penyutradaraan Kim masih dapat dirasakan di banyak adegan di film ini. Namun sayangnya, tidak seperti kebanyakan film yang ia arahkan terdahulu, kali ini Kim tidak mendapatkan dukungan sebuah naskah cerita yang kuat. Hasilnya, kekuatan pengarahan cerita Kim jelas terasa seperti terjebak di tengah-tengah deretan adegan dan karakter klise yang terbiasa hadir dalam sebuah film aksi. Welcome to Hollywood, Kim!

Continue reading Review: The Last Stand (2013)