Tag Archives: Dominic West

Review: Testament of Youth (2015)

testament-of-youth-posterSejujurnya, adalah cukup sulit untuk tidak memberikan perbandingan langsung antara Atonement (Joe Wright, 2007) dengan Testament of Youth. Tidak hanya karena keduanya merupakan period movie yang diadaptasi dari dua karya sastra popular, baik Atonement dan Testament of Youth juga sama-sama berkisah tentang perang yang mempengaruhi kehidupan asmara pasangan yang menjadi karakter utama kedua film. Meskipun dirilis jauh setelah perilisan Atonement, Testament of Youth sendiri merupakan sebuah film drama yang mendasarkan kisahnya pada buku berjudul sama karya Vera Brittain yang dirilis pertama kali pada tahun 1933 dan berisi tentang kisah nyata perjalanan kehidupan penulis wanita legendaris asal Inggris tersebut ketika Perang Dunia I sedang berlangsung. Sayangnya, kembali pada perbandingan terhadap Atonement, Testament of Youth gagal untuk mendapatkan perlakuan yang lebih baik. Hasilnya, meskipun hadir dengan material yang memiliki begitu banyak peluang untuk menghasilkan pengisahan yang emosional, Testament of Youth cenderung tampil datar pada kebanyakan bagian penceritaannya.

Memulai kisahnya dengan latar belakang masa pengisahan pada tahun 1914 – masa ketika para gadis remaja hanya diharapkan tumbuh dewasa untuk menjalani kehidupan sebagai seorang istri dan ibu bagi anak-anak mereka, Vera Brittain (Alicia Vikander) muncul sebagai sosok gadis cerdas yang memberontak pada ayah dan ibunya (Dominic West dan Emily Watson) dan meminta agar dirinya diizinkan untuk turut berkuliah di Somerville College, Oxford bersama dengan kakak lelakinya, Edward (Taron Egerton). Meski awalnya menilai hal tersebut akan menjadi suatu perbuatan yang sia-sia belaka, Vera akhirnya diperbolehkan untuk meneruskan pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi. Di sana, Vera mengasah kemampuannya dalam menulis. Tidak hanya itu, gadis cantik tersebut juga berkenalan dengan seorang pemuda bernama Roland Leighton (Kit Harrington) dan bahkan kemudian menjalin hubungan asmara dengannya. Sayang, ketika Perang Dunia I memulai pergerakannya, hubungan asmara antara Vera dan Roland mulai menemui berbagai ujian terbesarnya.

Testament of Youth sesungguhnya bukanlah sebuah film yang buruk. Bahkan, tidak seperti Atonement yang murni berkisah sebagai sebuah drama romansa, Testament of Youth memilih untuk turut tampil tegas sebagai sebuah film yang mengisahkan mengenai usaha dan kekuatan dari seorang wanita untuk menunjukkan ketangguhan dirinya pada era dimana para wanita hanya dipandang sebelah mata dalam lingkungan tempat keberadaan mereka. Pengarahan dari James Kent yang sayangnya membuat berbagai potensi dalam penceritaan Testament of Youth terasa menguap begitu saja. Arahan Kent tampil begitu datar, tanpa pernah sekalipun mampu menggali berbagai sudut konflik yang dialami oleh karakter-karakternya secara mendalam atau bahkan membuat karakter-karakternya tampil sebagai sosok yang layak untuk diikuti jalan hidupnya. Pengarahan Kent, yang melakukan debut pengarahan film layar lebarnya melalui film ini, berjalan terlalu aman dalam mengikuti berbagai formula drama romansa yang telah berulangkali dieksplorasi oleh film-film sejenis sehingga tidak mampu membuat Testament of Youth terasa lebih istimewa kehadirannya.

Pengarahan Kent juga bukanlah satu-satunya hal yang cukup mengecewakan dalam presentasi film ini. Sebagai sebuah jalan cerita yang diadaptasi dari sebuah buku legendaris yang terus diterbitkan dan menjadi salah satu buku bacaan wajib bagi para penduduk Inggris hingga saat ini, naskah cerita buatan Juliette Towhidi juga terasa memiliki lingkup pengisahan yang terlalu terbatas. Towhidi seringkali terlihat berusaha untuk menyajikan tema-tema yang lebih luas dari sekedar kisah romansa dalam jalan ceritanya seperti rasa persahabatan yang kental, efek perang terhadap mereka yang terlibat di dalamnya hingga feminisme. Namun, di saat yang bersamaan, Towhidi gagal untuk mengeksplorasi tema-tema “berat” tersebut secara lebih mendalam sehingga berlalu begitu saja tanpa kesan yang kuat. Karakter-karakter pendukung yang berada di sekitar karakter Vera Brittain juga gagal dihadirkan dengan lebih berwarna sehingga seringkali tidak mampu memberikan kontribusi yang lebih berarti pada kualitas penceritaan secara keseluruhan.

Beruntung, Testament of Youth dianugerahi jajaran pengisi departemen akting yang mampu hadir dengan kualitas penampilan yang maksimal. Well… mungkin Anda tidak akan mendapatkan kualitas chemistry yang begitu mengikat seperti halnya pada penampilan Keira Knightley dan James McAvoy pada Atonement namun baik Alicia Vikander dan Kit Harrington mampu hadir dengan penampilan yang prima. Satu hal yang cukup mengherankan adalah ketika menyaksikan chemistry antara Vikander dan Taron Egerton yang berperan sebagai kakak lelakinya terasa lebih erat dan meyakinkan daripada chemistry yang dihasilkan Vikander bersama Harrington. Pemeran pendukung lain seperti Dominic West, Emily Watson, Miranda Richardson, Colin Morgan hingga Hayley Atwell tampil mengesankan meskipun dengan porsi penceritaan yang terbatas. Kent juga mampu menyajikan Testament of Youth dengan kualitas produksi yang berkelas yang setidaknya akan membuat film ini tampil tidak terlalu buruk jika dibandingkan dengan film-film period lain yang berada dalam kelasnya. [C]

Testament of Youth (2015)

Directed by James Kent Produced by Rosie Alison, David Heyman Written by Juliette Towhidi (screenplay), Vera Brittain (book, Testament of Youth) Starring Alicia Vikander, Kit Harington, Colin Morgan, Taron Egerton, Dominic West, Emily Watson, Joanna Scanlan, Hayley Atwell, Jonathan Bailey, Alexandra Roach, Anna Chancellor, Miranda Richardson, Charlotte Hope Music by Max Richter Cinematography Rob Hardy Editing by Lucia Zucchetti Studio BBC Films/Heyday Films Running time 129 minutes Country United Kingdom Language English

Review: John Carter (2012)

Ekspektasi jelas akan menjulang begitu tinggi bagi John Carter. Bukan hanya karena naskah cerita film aksi bernuansa science fiction ini diangkat dari bagian awal dari sebelas seri novel legendaris Barsoom karya Edgar Rice Burroughs, John Carter juga menjadi debut penyutradaraan film live action bagi pemenang dua Academy Awards, Andrew Stanton, yang mungkin lebih dikenal luas sebagai salah satu punggawa studio animasi Pixar Animation Studios dan otak dibalik kesuksesan luar biasa Finding Nemo (2003) dan WALL•E (2008). Dalam beberapa kesempatan, Stanton sempat mengungkapkan bahwa John Carter adalah proyek ambisius personalnya yang semenjak lama ingin ia wujudkan – sebuah hasrat yang akan dapat dirasakan penonton secara jelas dalam ritme penceritaan John Carter yang berjalan sepanjang 132 menit.

Continue reading Review: John Carter (2012)

Review: Arthur Christmas (2011)

Bahkan seorang Santa Claus tidak mampu menolak fakta bahwa kemajuan teknologi dapat membantu dalam kesehariannya… termasuk dalam tugas vitalnya untuk membagikan seluruh bingkisan yang ia miliki untuk para anak-anak yang telah berkelakuan baik selama satu tahun terakhir di seluruh penjuru dunia. Setidaknya begitulah yang digambarkan oleh Arthur Christmas. Berkat anaknya yang paling tua – dan kini sedang bersiap untuk menggantikan posisinya, Steve (Hugh Laurie), pria yang saat ini sedang menjabat posisi sebagai Santa Claus (Jim Broadbent) telah mengadopsi teknologi canggih yang mampu membuatnya dan sekelompok besar pembantunya untuk menghantarkan setiap bingkisan yang ia miliki kepada setiap anak di seluruh dunia dengan tepat waktu sebelum masa perayaan Natal dimulai. Namun, seiring dengan waktu, pemanfaatan teknologi tersebut membuat masa pembagian bingkisan-bingkisan tersebut menjadi kurang berkesan… dan hanya sekedar menjadi sebuah tugas dan kewajiban belaka. Kini, bagi sang Santa Claus sendiri, Natal tak lebih dari sekedar sebuah roda bisnis yang harus ia jalani.

Continue reading Review: Arthur Christmas (2011)

Review: Johnny English Reborn (2011)

Komedian legendaris asal Inggris, Rowan Atkinson, telah kembali! Dan tidak! Kali ini Atkinson tidak datang dengan memerankan kembali karakter Mr. Bean yang legendaris itu. Setelah terakhir kali membintangi Mr. Bean’s Holiday di tahun 2007 dan kemudian vakum dari dunia akting untuk sementara, Atkinson hadir kembali dengan memerankan karakter Johnny English yang sempat populer – walaupun mendapatkan kritikan tajam dari para kritikus film dunia – ketika film Johnny English dirilis pada tahun 2003 lalu. Kembalinya Atkinson dalam akting komikalnya jelas akan mampu untuk memuaskan kerinduan para penggemar aktor yang kini telah berusia 56 tahun ini. Johnny English Reborn mampu menghadirkan beberapa momen yang akan mampu memancing tawa, namun sepertinya tidak akan merubah pandangan para kritikus film tentang dangkalnya jalan cerita film ini.

Continue reading Review: Johnny English Reborn (2011)

Review: Centurion (2010)

Tentu saja, lewat Gladiator (2000) dan 300 (2007), banyak orang telah mengenal prajurit Romawi sebagai sekumpulan serdadu yang tangguh ketika mereka sedang berada di medan peperangan. Jadi apa yang coba diberikan oleh Centurion, sebuah film bertema sama yang disutradarai oleh sutradara asal Inggris, Neil Marshall? Bayangkan apa yang terjadi jika seorang sutradara menyatukan The Descent (2005) dengan Gladiator, maka Centurion adalah hasil yang akan Anda dapatkan. Well… kurang lebih seperti itu.

Continue reading Review: Centurion (2010)