Tag Archives: Dev Patel

Review: Chappie (2015)

chappie-posterHollywood sepertinya benar-benar menaruh harapan besar pada Neill Blomkamp. Film perdananya, District 9 (2009), berhasil memberi kejutan ketika film yang dibuat dengan bujet minimalis sebesar US$30 juta tersebut berhasil menyajikan kualitas visual sekelas film-film blockbuster, mampu menarik perhatian kritikus film dunia dan sekaligus meraih sukses komersial besar dengan mengumpulkan pendapatan sebesar US$211 juta dari masa edarnya di seluruh dunia. Oh. Dan film tersebut juga berhasil meraih empat nominasi di ajang The 82nd Academy Awards, termasuk untuk kategori Best Picture. Sayangnya, tidak banyak hal yang dapat diungkapkan tentang film layar lebar kedua Blomkamp, Elysium (2013), selain bahwa film tersebut dibuat dengan bujet tiga kali lebih besar dari District 9 dan dibintangi Matt Damon serta Jodie Foster. Film tersebut masih mampu mengumpulkan pendapatan komersial yang tidak sedikit namun kualitas penceritaan yang gagal mengembangkan ide-ide besar Blomkamp lebih sering membuat Elysium dianggap sebagai produk yang kurang berhasil jika dibandingkan dengan film perdana Blomkamp.

Kini, Blomkamp merilis Chappie. Chappie sepertinya berusaha menampilkan Neill Blomkamp sebagai Neill Blomkamp yang merilis District 9 terdahulu: seorang sutradara yang mampu menggarap sebuah film science-fiction dengan dana terbatas lalu mengisinya dengan ide-ide besar yang menyentuh banyak komentar sosial tentang kehidupan manusia modern dan mengemasnya menjadi sebuah sajian yang akan mampu menyaingi tampilan visual dari film-film buatan Michael Bay. Maybe the lightning really doesn’t strike the same place twice. Usaha Blomkamp untuk mengingatkan penonton bahwa dirinya pernah mengarahkan sebuah film sekuat District 9 ini justru hadir dengan kualitas naratif yang berantakan. Hasilnya, penonton akan mampu merasakan kemana Blomkamp akan membawa mereka dalam film yang disajikannya namun kemudian Blomkamp gagal untuk benar-benar membawa mereka turut serta dalam menikmati perjalanan tersebut.

Layaknya District 9 dan Elysium, Chappie yang juga diangkat dari film pendek Blomkamp berjudul Tetra Vaal (20014), berisikan banyak ide-ide besar mengenai kondisi kehidupan manusia modern: mulai dari kesenjangan sosial, kemiskinan, hubungan antara orangtua dan anak mereka hingga hubungan antara manusia dengan penciptanya. Blomkamp mampu menyajikan seluruh ide tersebut melalui plot cerita serta dialog yang cukup terstruktur pada bagian awal penyajian film. Namun, seiring dengan bergeraknya narasi film yang kemudian mulai merubah nadanya menjadi sebuah sajian aksi, Chappie kehilangan fokus penceritaan untuk lantas lebih sering mengeksplorasi bagaimana seorang Blomkamp mampu menyajikan adegan penuh kekerasan dan ledakan dengan tampilan yang spektakuler – tanpa pernah mampu benar-benar terasa esensial kehadirannya pada jalan cerita. Jika District 9 adalah sebuah produk yang lahir dari perpaduan usaha keras dan keberuntungan, maka Elysium dan Chappie membuktikan bahwa Blomkamp adalah seseorang yang penuh imajinasi besar namun bukanlah seorang pencerita yang cukup baik. Mungkin Blomkamp harus membiasakan diri untuk mengarahkan cerita yang ditulis oleh orang lain atau membuka diri untuk bekerja sama dengan seseorang yang telah lebih berpengalaman dalam penulisan naskah untuk mengembangkan berbagai ide gila yang ia miliki di kepalanya.

Chappie bukanlah sebuah presentasi yang benar-benar buruk. Meskipun minus nama-nama besar Hollywood untuk mengisi departemen aktingnya, Blomkamp mampu mendapatkan kualitas penampilan terbaik dari jajaran pemerannya. Tiga nama besar di film ini, Dev Patel, Hugh Jackman dan Sigourney Weaver, mampu tampil dengan kualitas akting yang sangat meyakinkan, khususnya Jackman yang tampil sempurna sebagai sosok antagonis. Aktor favorit Blomkamp, Sharlto Copley, juga hadir dalam mengisisuarakan karakter Chappie dan Copley mampu mengisi karakter tersebut dengan deretan emosi yang mampu membuat karakter robotnya terasa lebih manusiawi daripada karakter-karakter manusia yang ada di dalam jalan cerita film ini. Kejutan manis juga datang dari nama-nama non-familiar seperti Watkin Tudor Jones, Yolandi Visser dan Jose Pablo Cantillo yang ditempatkan Blomkamp untuk memerankan karakter pendukung yang substansial pada jalan cerita Chappie. Ketiganya mampu hadir dengan penampilan akting yang menyaingi penampilan para aktor Hollywood yang mendampingi penampilan mereka.

Dan, tentu saja, Blomkamp juga harus mengucapkan ribuan terima kasih pada teknisi yang mampu menterjemahkan mimpi visualnya dengan sangat baik. Meskipun hadir dengan naratif yang cukup berantakan, namun Chappie, tidak terbantahkan, adalah sebuah produk yang mampu dipoles dengan tampilan visual yang luar biasa bagus, mulai dari tata efek, sinematografi, tata gambar hingga tata suara dan musik yang berkelas. Sayang, kualitas teknis yang memukau bukanlah tumpuan utama kualitas dari sebuah film. Sudah saatnya Blomkamp untuk melepaskan Johannesburg, robot, kemiskinan dan berbagai hal yang menyelimuti ketiga hal tersebut dari kepalanya dan mulai untuk bermimpi lebih besar lagi. [C]

Chappie (2015)

Directed by Neill Blomkamp Produced by Simon Kinberg Written by Neill Blomkamp, Terri Tatchell (screenplay), Neill Blomkamp (short film, Tetra VaalStarring Sharlto Copley, Dev Patel, Watkin Tudor Jones, Yolandi Visser, Jose Pablo Cantillo, Sigourney Weaver, Hugh Jackman, Anderson Cooper Music by Hans Zimmer Cinematography Trent Opaloch Edited by Julian Clarke Production company Media Rights Capital Running time 120 minutes Country United States Language English

Review: The Best Exotic Marigold Hotel (2012)

the-best-exotic-marigold-hotel-header

Setelah menyutradarai Killshot (2009) dan The Debt (2011) yang bernuansa aksi secara berturut-turut, sutradara asal Inggris John Madden kembali ke ranah drama komedi lewat film terbarunya, The Best Exotic Marigold Hotel. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Ol Parker (Imagine Me & You, 2005) berdasarkan novel berjudul These Foolish Things oleh Deborah Moggach, The Best Exotic Marigold Hotel sebenarnya sama sekali tidak memiliki poin yang sangat istimewa dalam penceritaannya. Namun, dengan dukungan nama-nama aktor dan aktris senior papan atas Inggris seperti Judi Dench, Bill Nighy, Maggie Smith dan Tom Wilkinson, The Best Exotic Marigold Hotel mampu tampil begitu bersinar lewat karakter-karakternya yang begitu mudah untuk disukai dan berhasil memberikan penampilan yang emosional kepada seluruh penonton film ini.

Continue reading Review: The Best Exotic Marigold Hotel (2012)

The 31st Annual Razzie Awards Nominations List

Tidak mengejutkan, film karya sutradara M Night Shyamalan yang paling banyak menjadi bulan-bulanan Hollywood sepanjang tahun lalu, The Last Airbender, berhasil memimpin perolehan nominasi Razzie Awards dengan perolehan sebanyak 9 nominasi. Yang cukup mengejutkan, setelah melalui dua film yang juga sama mengesalkannya, Razzie akhirnya berani untuk memberikan perhatian yang lebih pada franchise Twilight. Seri terakhir franchise tersebut, The Twilight Saga: Eclipse juga memperoleh perolehan nominasi yang sama dengan The Last Airbender, 9 nominasi.

Continue reading The 31st Annual Razzie Awards Nominations List

Review: The Last Airbender (2010)

Sebagai salah satu serial animasi terpopuler di saluran anak Nickelodeon, Avatar: The Last Airbender dikenal sebagai sebuah serial yang cukup mampu untuk menghibur tiap penontonnya dengan kisah petualangan dan persahabatan karakter-karakternya yang cukup seru serta seringkali diselingi dengan banyak dialog-dialog yang jenaka. Tahun 2007, MTV Films dan Nickelodeon Movies, yang merupakan anak perusahaan Paramount Pictures, memutuskan untuk mengadaptasi serial animasi tersebut ke layar lebar dalam bentuk live-action dengan M Night Shyamalan sebagai arsiteknya. Keputusan yang mungkin akan sangat mereka sesali di kemudian hari.

Continue reading Review: The Last Airbender (2010)