Tag Archives: Deddy Sutomo

Review: Kartini (2017)

Merayakan Hari Kartini tahun ini, sutradara Hanung Bramantyo bekerjasama dengan produser Robert Ronny merilis biopik dari Pahlawan Kemerdekaan Nasional yang dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan di Indonesia tersebut. Berlatarbelakang lokasi di Jepara, Jawa Tengah, di masa Indonesia masih berada dibawah jajahan Belanda dan dikenal dengan sebutan Hindia Belanda, Kartini (Dian Sastrowardoyo) yang berasal dari kalangan kelas bangsawan Jawa telah terbiasa hidup dalam tatanan adat Jawa yang seringkali dirasa mengekang kehidupan kaum perempuannya. Meskipun begitu, berkat arahan sang kakak, Kartono (Reza Rahadian), yang mengenalkannya pada banyak literatur Belanda, pemikiran Kartini menjadi jauh lebih maju dan terbuka dibandingkan dengan kebanyakan perempuan Jawa di era tersebut. Dengan pemikirannya tersebut, Kartini memulai usahanya untuk memperjuangkan kesetaraan hak kaum perempuan, khususnya hak untuk memperoleh pendidikan, agar kaum perempuan, khususnya perempuan Jawa, tidak lagi hanya berfungsi sebagai istri atau pendamping para suami dalam kehidupan mereka. Continue reading Review: Kartini (2017)

Review: Moon Cake Story (2017)

Setelah Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea (Guntur Soeharjanto, 2016), Morgan Oey dan Bunga Citra Lestari kembali tampil berpasangan dalam film terbaru arahan Garin Nugroho (Guru Bangsa Tjokroaminoto, 2015) yang diproduseri oleh Tahir Foundation, Moon Cake Story. Filmnya sendiri berkisah mengenai pertemuan yang tidak disengaja antara seorang pengusaha bernama David (Oey) dengan seorang joki 3-in-1 bernama Asih (Lestari). Sama-sama memendam duka akibat ditinggal oleh sosok yang mereka cintai, pertemuan tersebut kemudian membawa David ke masa lalunya ketika ia dan ibunya masih tinggal di daerah kumuh dan berjuang untuk bertahan hidup dengan membuat kue bulan di keseharian mereka. Mengetahui bahwa Asih memiliki bakat memasak, David lantas menawarkan Asih cetakan dan resep kue bulan milik ibunya agar Asih dapat memulai usahanya sendiri. Walau awalnya merasa janggal dengan pemberian David, Asih akhirnya menerima dan mulai membuat kue bulannya sendiri. Continue reading Review: Moon Cake Story (2017)

Review: Mencari Hilal (2015)

mencari-hilal-posterMerupakan film kedua setelah Ayat-Ayat Adinda (Hestu Saputra, 2015) dari lima film yang direncanakan akan diproduksi dalam Gerakan Islam Cinta dan Indonesia Tanpa Diskriminasi, Mencari Hilal arahan Ismail Basbeth (Another Trip to the Moon, 2015) mengisahkan tentang perjalanan Heli (Oka Antara) dalam menemani sang ayah, Mahmud (Deddy Sutomo), untuk mengulang kembali tradisi yang pernah ia lakukan dahulu semasa masih menuntut ilmu di pesantren dalam mencari hilal – sebuah fenomena alam akan penampakan bulan sabit baru yang juga menunjukkan masuknya bulan baru dalam sistem kalender Hijriah. Hubungan antara Heli dan Mahmud sendiri telah lama merenggang akibat banyaknya pertentangan antara keduanya, terlebih semenjak Heli memutuskan untuk meninggalkan rumah orangtuanya untuk menjadi seorang aktivis lingkungan. Jelas, perjalanan setengah hati yang dilakukan Heli untuk menemani sang ayah akhirnya diisi dengan begitu banyak konfrontasi. Namun, dalam konfrontasi yang terjadi dalam perjalanan itulah, Heli dan Mahmud secara perlahan mulai mempelajari lebih banyak tentang satu sama lain dan mulai memahami sekaligus membuka diri tentang berbagai perbedaan pola pemikiran antara keduanya.

Sebagai sebuah road movie yang mendalami tentang hubungan antara sosok ayah dan anak – dan mungkin akan mengingatkan beberapa orang pada film asal Perancis arahan Ismaël Ferroukhi, Le Grand Voyage (2004) – Mencari Hilal jelas membutuhkan deretan dialog dan konflik yang kuat untuk dapat membuat penonton turut merasa terikat akan naik turunnya hubungan dua karakter yang bagian kisah hidupnya sedang mereka ikuti. Beruntung, naskah cerita garapan Salman Aristo, Bagus Bramanti dan Ismail Basbeth mampu menata pengisahan tersebut dengan sangat baik. Perjalanan yang dilakukan oleh karakter Heli dan Mahmud diisi dengan dialog-dialog yang dapat membuka kepribadian kedua karakter tersebut kepada para penonton sekaligus menjabarkan kondisi hubungan mereka. Naskah cerita film juga secara cerdas menyelipkan banyak isu-isu sosial yang berkenaan dengan “toleransi” dan “diskriminasi” – yang sepertinya memang akan kerap disajikan pada setiap film-film yang diproduksi dalam Gerakan Islam Cinta dan Indonesia Tanpa Diskriminasi – guna menjadikan jalan cerita Mencari Hilal semakin kuat dan seringkali terasa emosional.

Tidak sepenuhnya berjalan mulus. Mencari Hilal seringkali terasa menginvestasikan terlalu banyak porsi penceritaannya pada konflik eksternal yang dihadapi kedua karakter dalam perjalanan mereka. Bukan berarti buruk, namun hubungan ayah dan anak antara karakter Mahmud dan Heli jelas akan terasa lebih mengikat secara emosional jika keduanya diberikan lebih banyak kesempatan untuk berhadapan dengan konflik internal mereka. Latar belakang kisah yang dihadirkan untuk kedua karakter juga masih terasa minim untuk penonton dapat memberikan perhatian lebih besar pada keduanya. Namun, kelemahan-kelemahan tersebut untungnya mampu ditutupi dengan pengarahan Ismail Basbeth yang terasa begitu intim. Fokus personal yang diberikan Ismail Basbeth pada jalan ceritanya membuat Mencari Hilal seringkali mampu berbicara lebih besar dari apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh naskah cerita filmnya. Pilihannya untuk menghadirkan jalan cerita film dengan nada penceritaan yang sederhana juga berhasil memberikan ruang yang luas bagi penonton untuk dapat meresapi berbagai konflik yang berjalan di sepanjang durasi film.

Ismail Basbeth juga mendapatkan dukungan yang berkelas dari departemen produksi serta departemen akting filmnya. Gambar-gambar yang disajikan oleh Satria Kurnianto tampil begitu indah. Seperti jalan ceritanya, deretan gambar yang menghiasi Mencari Hilal seringkali tampil indah dalam artian puitis daripada bermaksud untuk sekedar menjadi ajang pameran keindahan tata sinematografi. Kualitas yang sama juga dapat dirasakan dari tampilan musik, artistik hingga penataan gambar yang mendukung kualitas film secara keseluruhan. Dari departemen akting, Deddy Sutomo dan Oka Antara berhasil menghidupkan karakter yang mereka perankan dengan baik. Meskipun penampilan Oka Antara kadang masih terasa berjalan dalam satu nada emosi yang sama di sepanjang film, namun chemistry yang ia bentuk bersama aktor senior Deddy Sutomo – yang tampil begitu brilian – mampu menjadi kunci bagi penampilan keduanya sebagai pasangan ayah dan anak untuk terlihat meyakinkan.

Terlepas dari beberapa kekurangannya, Mencari Hilal mampu muncul sebagai sebuah sajian yang berhasil berbicara secara personal kepada setiap penikmatnya tanpa pernah terasa menggurui atau menceramahi meskipun dengan tema penceritaan yang dibawakannya. Salah satu film yang jelas akan meninggalkan kesan begitu mendalam pada setiap penontonnya jauh seusai mereka menyaksikan film ini. [B]

Mencari Hilal (2015)

Directed by Ismail Basbeth Produced by Putut Widjanarko, Raam Punjabi, Salman Aristo Written by Salman Aristo, Bagus Bramanti, Ismail Basbeth Starring Deddy Sutomo, Oka Antara, Torro Margens, Erythrina Baskoro Music by Charlie Meliala Cinematography Satria Kurnianto Editing by Wawan I. Wibowo Studio Multivision Plus Pictures/Studio Denny JA/Mizan Productions/Dapur Film Production/Argi Film Running time 94 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: Ayat-Ayat Adinda (2015)

ayat-ayat-adinda-posterSetelah Pengejar Angin (2011) dan Cinta Tapi Beda (2012), Hestu Saputra kembali berkolaborasi bersama dengan Hanung Bramantyo untuk film Ayat-Ayat Adinda. Seperti halnya Cinta Tapi Beda, Ayat-Ayat Adinda juga berusaha mengangkat isu sosial dalam jalan penceritannya. Jika Cinta Tapi Beda tampil mengisahkan mengenai kerumitan hubungan antara dua orang kekasih yang berasal dari latar belakang kepercayaan yang berbeda, maka Ayat-Ayat Adinda ingin menjabarkan kekisruhan yang sering terjadi pada satu kelompok agama akibat perbedaan cara atau aliran beberapa penganutnya dalam menunaikan ibadah mereka. Sebuah tema penceritaan yang rumit dan jelas cukup sensitif. Namun, tema-tema sosial bernuansa relijius seperti ini sendiri telah beberapa kali (dan cukup sukses) diangkat Hanung Bramantyo dalam film-filmnya seperti Doa Yang Mengancam (2008), Tanda Tanya (2011) ataupun Hijab yang baru saja tayang pada awal tahun ini. Apakah Ayat-Ayat Adinda mampu meraih keberhasilan yang sama?

Film yang naskah ceritanya digarap oleh Salman Aristo ini sendiri memulai kisahnya dengan memperkenalkan pasangan suami istri, Faisal (Surya Saputra) dan Amira (Cynthia Lamusu), bersama dengan kedua anaknya, Zulfikar (Muhammad Hasan Ainul) dan Adinda (Tissa Biani Azzahra), yang baru saja pindah rumah ke sebuah lingkungan baru di Yogyakarta. Kepindahan mereka sendiri bukannya tanpa sebab. Di lingkungan lama mereka, keluarga tersebut sering mendapatkan gangguan hingga akhirnya diusir akibat dianggap menganut aliran kepercayaan yang sesat. Karena hal itulah, Faisal seringkali mengingatkan kedua anaknya untuk tidak tampil menonjol dalam keseharian mereka. Nasib berkata lain. Bakat Adinda yang memiliki suara merdu dan mampu melagukan ayat-ayat suci Al-Qur’an membuatnya menjadi idola baru di sekolahnya. Perhatian yang secara perlahan datang pada Adinda mulai dirasakan kedua orangtuanya sebagai ancaman bagi kehidupan mereka di lingkungan baru tersebut.

Dengan tema sensitif yang dibawakan oleh jalan cerita Ayat-Ayat Adinda, jelas adalah sangat wajar untuk melihat para pembuat film ini begitu berhati-hati dalam menggarap seluruh aspek penceritaan film. Sayangnya, kehati-hatian tersebutlah yang justru kemudian memberikan kelemahan tersendiri bagi film ini. Dalam sepanjang penceritaannya, Ayat-Ayat Adinda hanya menjelaskan bahwa para karakter utama dalam film ini berasal dari satu daerah dimana mereka kemudian diusir karena dianggap menganut sebuah ajaran sesat tanpa pernah mampu (atau mau?) menjelaskan dengan sepenuhnya mengapa kepercayaan para karakter tersebut dianggap sesat oleh masyarakat. Jalan cerita film jelas hanya bertumpu pada pengetahuan penonton mengenai konflik yang sama yang terjadi di kehidupan nyata yang kemudian menginspirasi jalan cerita film. Namun tetap saja hal tersebut tidak cukup kuat untuk menjadikan jalan cerita Ayat-Ayat Adinda menjadi lebih lugas dan tegas dalam berkisah.

Permasalahan jalan cerita Ayat-Ayat Adinda tidak hanya datang dari eksplorasi tema besar yang ingin dibawakannya. Konflik-konflik pendukung yang hadir pada beberapa bagian cerita juga seringkali tampil dangkal dalam berkisah. Lihat saja pada konflik yang terjadi antara karakter Adinda dengan dua sahabatnya di sekolah bersama sekelompok pelajar lain yang terus mengganggunya tanpa pernah diberikan pengisahan pasti mengapa sekelompok pelajar tersebut terus mengganggu Adinda dan kedua sahabatnya. Atau konflik persaingan antara Adinda dengan sahabatnya dalam persaingan perlombaan pembacaan Al-Qur’an yang terbentuk, muncul dan menghilang antara keduanya beberapa kali begitu saja. Atau permasalahan dimana karakter Adinda digambarkan harus meminum obat untuk membantunya tenang dalam berkompetisi. Atau kisah perjodohan antara karakter Zulfikar dengan seorang anak ahli agama yang tidak pernah mampu diberikan pendalaman kuat mengenai fungsi plot cerita tersebut dalam jalan cerita keseluruhan film.

Beberapa karakter juga tergambar begitu sempit. Karakter ayah yang diperankan Surya Saputra tampil begitu dingin dalam hubungannya dengan anggota keluarganya sehingga terlalu sulit untuk memberikan simpati pada karakter tersebut atas permasalahan yang ia hadapi. Begitu pula dengan interaksi yang tidak begitu banyak terjalin antara karakter Faisal dan Amira dengan kedua anaknya yang seringkali membuat keduanya lebih cenderung terlihat sebagai orangtua yang buruk daripada orangtua yang sedang dirundung permasalahan dalam kehidupan mereka. Karakter-karakter pendukung lain juga tampil dengan porsi penceritaan yang terbatas. Karakter-karakter tersebut memang sepertinya hanya dijadikan sebagai karakter pelengkap bagi berbagai permasalahan yang digambarkan dalam kehidupan karakter Adinda. Tetap saja, harusnya karakter-karakter pendukung tersebut dapat disajikan dengan penceritaan yang lebih luas dan kuat.

Meskipun tampil cukup lemah dalam penceritaannya, Hestu Saputra sendiri dapat dirasakan cukup mampu mengarahkan Ayat-Ayat Adinda dengan baik. Penceritaan film ini berhasil mengalir dengan ritme yang sederhana. Deretan pengisi departemen akting juga tampil dengan penampilan yang jelas tidak mengecewakan. Tissa Biani Azzahra yang tampil berperan sebagai karakter utama mampu menghadirkan karakternya dengan komitmen penuh yang memuaskan. Begitu pula dengan nama-nama pemeran lain seperti Surya Saputra, Chyntia Lamusu, Muhammad Hasan Ainul serta Deddy Soetomo. Ayat-Ayat Adinda tampil dengan tema penceritaan yang begitu kuat namun tersaji dalam balutan kisah yang terlalu halus yang sayangnya membuat penampilan film ini menjadi jauh dari berkesan – atau mampu menyampaikan apapun pesan sosial yang berusaha dihadirkan para pembuatnya ke para penonton filmnya. [C-]

Ayat-Ayat Adinda (2015)

Directed by Hestu Saputra Produced by Hanung Bramantyo, Putut Widjanarko, Raam Punjabi, Salman Aristo Written by Salman Aristo Starring Tissa Biani Azzahra, Surya Saputra, Cynthia Lamusu, Deddy Sutomo, Yati Pesek, Candra Malik, Badra Andhipani Jagat, Marwoto, Susilo Nugroho, Muhammad Hasan Ainul, Ray Sitoresmi, Alya Shakila Saffana Music by Krisna Purna Cinematography M. Fauzi Bausad Editing by Wawan I. Wibowo Studio Multivision Plus Pictures/Studio Denny JA/Mizan Productions/Dapur Film Production/Argi Film Running time 94 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: 2014 (2015)

2014-posterIn case you’re wonderingYep. 2014 memang harusnya dirilis sebelum atau ketika tahun 2014 lalu – masa dimana masyarakat Indonesia akan mengikuti pemilihan umum, melakukan pergantian presiden dan semua orang merasa dirinya adalah seorang ahli politik yang layak berbicara mengenai hal tersebut. Namun, dengan alasan kandungan politis yang dinilai sensitif, 2014 kemudian ditarik dari jadwal perilisan awal. Setelah terombang-ambing selama dua tahun, 2014 lantas ditayangkan pada awal tahun 2015. Harus diakui, sebagai sebuah film yang bermuatan sindiran maupun kritik mengenai kehidupan politik di Indonesia, 2014 memang tampil lebih berani daripada kebanyakan film-film sejenis lainnya. And it’s damn good…. walaupun hal tersebut tidak akan mampu menutupi kebobrokan penulisan bagian ketiga penceritaan pada naskah cerita film ini.

Diarahkan oleh duo Hanung Bramantyo dan Rahabi Mandra yang di awal tahun ini telah merilis kolaborasi penulisan naskah mereka dalam film Hijab, 2014 berkisah mengenai seorang remaja bernama Ricky Bagaskoro (Rizky Nazar) yang meskipun begitu membenci kehidupan politik yang dijalani sang ayah, Bagas Notolegowo (Ray Sahetapy), namun tetap merelakan dirinya untuk terjun langsung dalam berbagai bahaya yang dapat mengancam hidupnya ketika sang ayah dijebak dalam sebuah kasus pembunuhan. Merasa bahwa kasus yang dialami sang ayah berhubungan dengan niatannya untuk mencalonkan diri menjadi seorang presiden, Ricky lantas menghubungi Krishna Dorojatun (Donny Damara), seorang pengacara yang dikenal bersih dan sama sekali tidak pernah kalah dalam kasus-kasus yang ditanganinya. Benar saja. Satu demi satu bahaya mulai bermunculan ketika Ricky semakin mendalami kasus yang dialami sang ayah. Namun tekad Ricky untuk membebaskan sang ayah tidak lantas berhenti dengan mudah begitu saja.

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Rahabi Mandra bersama dengan Ben Sihombing (Soekarno, 2013), 2014 mampu dibangun menjadi sebuah thriller politik yang cukup langka ditemukan di khasanah perfilman Indonesia. Keberaniannya untuk mengadaptasi berbagai intrik politik yang sedang berlangsung di Indonesia sekaligus menyajikannya dengan berbagai sindiran bernuansa politis yang kuat berhasil menjadikan 2014 tampil dengan intensitas yang akan mencengkeram perhatian para penontonnya. Disinilah letak perbedaan antara film ini dengan Negeri tanpa Telinga (2014) arahan Lola Amaria yang lebih sering terasa sebagai reka ulang satu isu politik di Indonesia tanpa pernah berhasil untuk memanfaatkannya sebagai sebuah senjata tajam bagi kritikannya untuk para pelaku politik tersebut. Pengarahan Hanung Bramantyo – yang ditemani Rahabi Mandra di kursi penyutradaraan – yang memang telah dikenal mampu menghantarkan kritik sosial dalam bungkusan sajian hiburan yang kental juga terbukti efektif dalam menjadikan 2014 tetap terasa renyah untuk dinikmati semua kalangan penonton.

Sayangnya, bagian pertama dan kedua penceritaan 2014 yang telah berjalan dengan hampir sempurna kemudian menemui rintangan yang cukup berat di bagian akhir pengisahannya. Ben Sihombing dan Rahabi Mandra sepertinya gagal untuk menciptakan solusi dari berbagai permasalahan yang telah mereka bangun sebelumnya. Hasilnya, bagian ketiga tampil begitu berantakan dengan banyak plot cerita akan terasa menggelikan – Sebuah debat calon presiden dimana salah satu calon presiden diwakili anaknya? Seriously, guys? Plot romansa yang tercipta di bagian ketiga antara karakter Ricky Bagaskoro dengan Laras (Maudy Ayunda) juga terasa begitu mentah akibat pembangunan plot yang benar-benar tidak kuat semenjak awal film dimulai. Sama halnya dengan kisah di ruang sidang yang gagal untuk terbangun meyakinkan eksekusinya. Tidak sepenuhnya buruk. Paruh ketiga penceritaan juga diisi dengan adegan aksi yang mampu dieksekusi dengan cukup baik serta dilakonkan dengan sangat meyakinkan pula oleh Rio Dewanto dan Atiqah Hasiholan.

Departemen akting 2014 mungkin adalah bagian yang paling solid kualitasnya dalam presentasi keseluruhan film ini – meskipun penampilan Maudy Ayunda terasa terlalu “tertahan” pada banyak bagian akibat pembangunan karakternya yang terlalu dangkal. Nama-nama seperti Donny Damara, Ray Sahetapy, Rudy Salam hingga Donna Harun, Atiqah Hasiholan, Rio Dewanto, Fadika R., Fauzan Smith dan Rizky Nazar tampil dalam kapasitas yang sangat meyakinkan dalam menghidupkan setiap karakter yang mereka perankan. Kualitas teknis yang dihadirkan juga jelas tidak mengecewakan. Cukup untuk membuat 2014 menjadi salah satu film Indonesia yang hadir dengan kualitas yang mengesankan di awal tahun 2015. [C]

2014 (2015)

Directed by Hanung Bramantyo, Rahabi Mandra Produced by Celerina Judisari, Hanung Bramantyo Written by Ben Sihombing, Rahabi Mandra  Starring Ray Sahetapy, Atiqah Hasiholan, Deddy Sutomo, Donna Harun, Donny Damara, Fadika R., Fauzan Smith, Maudy Ayunda, Rio Dewanto, Rizky Nazar, Rudy Salam Music by Hario Patih Cinematography Faozan Rizal Edited by Cesa David Luckmansyah Production company Mahaka Pictures/Dapur Film Running time 110 minutes Country Indonesia Language Indonesian