Tag Archives: David Zayas

Review: Annie (2014)

annie-2014-posterSemua orang mungkin telah familiar dengan Annie. Entah itu dari komik berjudul Little Orphan Annie karya Harold Gray yang pertama kali dirilis pada tahun 1924 atau melalui adaptasi drama panggung musikal berjudul Annie yang pertama kali dipentaskan di panggung Broadway pada tahun 1977 yang kemudian mengenalkan deretan lagu-lagu legendaris seperti It’s the Hard Knock Life atau Tomorrow atau melalui adaptasi film layar lebar musikal berjudul sama arahan John Huston pada tahun 1982 atau melalui adaptasi film televisi arahan Rob Marshall yang dirilis pada tahun 1999. Everyone knows the famous Annie! Lalu apa yang ditawarkan oleh versi terbaru dari Annie yang diproduseri oleh Will Smith dan rapper Jay Z ini?

Terlepas dari beberapa perubahan yang dibawakan duo penulis naskah Will Gluck dan Aline Brosh McKenna – seperti perubahan latar belakang waktu berjalannya cerita, perubahan nama atau latar belakang beberapa karakter maupun dengan melakukan penambahan beberapa lagu baru – harus diakui tidaklah banyak hal yang dapat merubah kualitas penceritaan Annie. Versi terbaru yang juga diarahkan oleh Gluck (Friends with Benefits, 2011) ini sendiri merupakan adaptasi dari kisah Annie yang dipentaskan di drama panggung Broadway. Jalan ceritanya masih predictable dan menjual (begitu banyak) mimpi yang kemudian gagal diarahkan dengan seksama oleh Gluck.

Yep. Dengan jalan cerita yang telah begitu familiar dan tergolong tradisional, beban berat jelas sangat bergantung pada kemampuan Gluck untuk mengolah Annie menjadi sebuah sajian yang setidaknya masih cukup nyaman untuk dinikmati. Gluck sendiri terasa tidak tahu apa yang harus dilakukan kepada materi cerita Annie. Ritme penceritaan film ini terasa begitu berantakan dengan banyak bagian musikal film memiliki jarak yang saling berjauhan satu sama lain – yang otomatis akan setidaknya membuat sisi musikal film ini terasa tidak lebih hanya sekedar sebuah tempelan dan pengisi jeda waktu sebelum jalan cerita film kembali berjalan. Pengaturan elemen musikal yang tidak tepat itu pula yang secara perlahan mulai mempengaruhi mood film sekaligus menghambat penonton untuk benar-benar dapat terhubung dengan setiap karakter yang ada di dalam jalan cerita.

Berbicara mengenai karakter, meskipun diisi dengan nama-nama seperti Quvenzhané Wallis, Jamie Foxx, Rose Byrne, Bobby Cannavale dan Cameron Diaz, masing-masing karakter tidak pernah benar-benar tampil hidup di sepanjang penceritaan film. Sebagian besar hal tersebut disebabkan oleh minimnya pengembangan dari setiap karakter yang hadir dan sebagian lagi justru disebabkan oleh masing-masing pemeran sendiri yang terasa berakting dalam kualitas penampilan yang setengah hati. Quvenzhané Wallis jelas terlihat nyaman dalam perannya namun terasa belum memiliki kekuatan yang cukup untuk berada di jajaran terdepan departemen akting sebuah film. Jamie Foxx tampil sebagai dirinya sendiri di sepanjang film. Yang terburuk, Cameron Diaz menterjemahkan karakter Miss Colleen Hannigan yang ia perankan secara begitu berlebihan – yang akan membuat penonton berharap karakter tersebut segera menghilang dari penceritaan Annie. Mungkin hanya Rose Byrne dan Bobby Cannavale-lah yang mampu tampil dengan penampilan yang begitu mencuri perhatian di setiap kali karakter mereka muncul dalam film ini.

Meskipun terasa dianaktirikan, elemen terkuat Annie justru berasal dari menit-menit dimana tampilam musikalnya hadir dalam jalan cerita. Walau baik Wallis, Byrne dan Diaz bukanlah sosok penyanyi yang cukup baik, namun versi terbaru lagu-lagu yang mereka nyanyikan seperti It’s the Hard Knock Life, Tomorrow dan Little Girls cukup mampu menghibur pada pendengarnya. Versi terbaru You’re Never Fully Dressed Without a Smile yang dinyanyikan oleh penyanyi asal Australia, Sia, dan hadir di salah satu adegan film juga berhasil diaransemen dengan begitu modern dan catchy. Beberapa lagu yang ditulis khusus untuk versi terbaru dari Annie seperti Opportunity, Who Am I? dan The City’s Yours juga mampu bersanding dengan baik bersama lagu-lagu klasik lainnya untuk menyajikan elemen kesenangan yang seringkali hilang dalam jalan penceritaan film. [C]

Annie (2014)

Directed by Will Gluck Produced by Will Smith, Jada Pinkett Smith, Shawn “Jay-Z” Carter, Caleeb Pinkett, James Lassiter, Lawrence “Jay” Brown, Tyran “Ty Ty” Smith Written by Will Gluck, Aline Brosh McKenna (screenplay), Thomas Meehan (musical, Annie), Harold Gray (comic, Little Orphan Annie) Starring Quvenzhané Wallis, Jamie Foxx, Rose Byrne, Bobby Cannavale, Cameron Diaz, Adewale Akinnuoye-Agbaje, Tracie Thoms, Dorian Missick, David Zayas, Nicolette Pierini, Amanda Troya, Eden Duncan-Smith, Zoe Margaret Colletti, Patricia Clarkson, Ashton Kutcher, Rihanna, Michael J. Fox, Mila Kunis, Bobby Moynihan, Sia Furler, Phil Lord, Christopher Miller Music by Charles Strouse Cinematography Michael Grady Edited by Tia Nolan Production company Village Roadshow Pictures/Overbrook Entertainment Running time 118 minutes Country United States Language English

Review: 13 (2010)

Wajar rasanya jika melihat nama-nama besar seperti Jason Statham, Mickey Rourke, Ray Winstone dan Michael Shannon bersedia untuk membintangi 13 — sebuah remake dari film thriller sukses berjudul 13 Tzameti (2006). Ketika dirilis beberapa tahun lalu, 13 Tzameti mendapatkan banyak pujian dari kritikus film dunia ketika naskah yang ditulis oleh sutradara film tersebut, Géla Babluani, dinilai sukses dalam memberikan teror psikologis sekaligus sentuhan drama moralitas yang kuat bagi para penontonnya. Untuk versi Hollywood ini sendiri, Babluani memberikan beberapa perubahan di berbagai bagian naskah ceritanya… yang sayangnya justru membuat 13 kehilangan gregetnya dan menjadikan film ini terkesan terlalu datar untuk dapat dinikmati.

Continue reading Review: 13 (2010)

Review: Skyline (2010)

Kesuksesan sutradara Neill Blompkamp dalam memproduksi District 9 (2009) ternyata sedikit banyak mempengaruhi cara pandang banyak produsen dan pembuat film Hollywood dalam menghasilkan karya-karya mereka. Tidak hanya mempengaruhi bangkitnya kembali pembahasan mengenai makhluk luar angkasa di dalam jalan cerita, District 9 sepertinya juga mampu memberikan contoh mengenai bagaimana cara membuat sebuah film dengan tampilan yang megah namun menggunakan modal yang tidak akan mampu menyaingi biaya produksi yang dibutuhkan James Cameron dalam setiap film yang ia hasilkan.

Continue reading Review: Skyline (2010)

Review: The Expendables (2010)

Di usianya yang mencapai 64 tahun, Sylvester Stallone sepertinya masih sangat menolak untuk mengundurkan diri dari dunia film action. Setelah sukses memenangkan kembali hati kritikus film dunia dengan Rocky Balboa (2006) dan berhasil kembali menarik perhatian para penikmat film action lewat Rambo (2008), Stallone kini kembali lagi dengan The Expendables. Duduk di kursi sutradara sekaligus menjadi salah satu penulis naskah, The Expendables bukanlah sebuah ajang one-man show untuk Stallone. Lebih dari itu, Stallone mengumpulkan banyak nama bintang-bintang laga untuk bermain bersamanya di film ini.

Continue reading Review: The Expendables (2010)