Tag Archives: Christine Hakim

Review: Guru Bangsa Tjokroaminoto (2015)

guru-bangsa-tjokroaminoto-posterMembuat sebuah film biopik jelas bukanlah sebuah perkara mudah. Masalah terbesar? Lupakan bagaimana cara untuk menemukan pemeran yang tepat – dan, ada baiknya, memiliki karakteristik fisik yang serupa – untuk memerankan karakter tersebut. Yes. It sure is a big problem. Namun menyajikan rangkuman perjalanan panjang kehidupan satu karakter dalam sebuah alur penceritaan dengan sebuah batasan waktu jelas adalah masalah yang lebih pelik. Masalah itulah yang seringkali menghantui banyak film biopik – buatan lokal maupun internasional, tidak terkecuali pada film biopik terbaru garapan Garin Nugroho mengenai salah satu tokoh pelopor pergerakan Indonesia, Oemar Said Tjokroaminoto, yang berjudul Guru Bangsa Tjokroaminoto.

Naskah cerita Guru Bangsa Tjokroaminoto yang digarap oleh Ari Syarif dan Erik Supit berdasarkan ide cerita yang mereka kembangkan bersama Sabrang Mowo Damar Panuluh, Garin Nugroho dan Kemal Pasha Hidayat sendiri sebenarnya telah membatasi perjalanan film ini untuk hanya meliputi masa perjuangan Oemar Said Tjokroaminoto yakni ketika ia mendirikan organisasi Sarekat Islam pada tahun 1912 hingga ia kemudian ditahan oleh pihak Belanda pada tahun 1921 – dengan sekelumit kisah tambahan dari berbagai dimensi kehidupannya. Namun, dengan kehadiran banyaknya plot cerita hingga karakter pendukung yang berada dalam kehidupannya, kisah Oemar Said Tjokroaminoto masih tetap terasa cukup kompleks bahkan untuk dipadatkan dalam durasi penceritaan sepanjang 161 menit.

Penumpukan konflik dan karakter dalam Guru Bangsa Tjokroaminoto benar-benar terasa di bagian awal penceritaan. Garapan Garin Nugroho yang menyajikan kisahnya dengan tempo yang lumayan cepat juga tidak banyak membantu: penonton jelas akan merasa sedikit dipusingkan dengan kehadiran banyak konflik maupun karakter yang secara silih berganti hadir di hadapan mereka tanpa pernah diberi kesempatan untuk mengenal konflik maupun karakter tersebut dengan lebih seksama. Pun begitu, seiring dengan melambannya tempo pengisahan cerita sekaligus mengerucutnya konflik dan karakter yang hadir dalam jalan cerita, Guru Bangsa Tjokroaminoto baru menemukan pijakan penceritaan yang pas. Garin secara perlahan mulai memberikan ruang yang cukup bagi setiap konflik untuk berkembang dengan baik maupun setiap karakter untuk mendapatkan fungsi penceritaan mereka dengan tepat. Membutuhkan waktu namun jelas kemudian mampu tampil dengan garapan yang kuat.

Berbeda dengan film biopik Soegija (2012) garapan Garin sebelumnya yang dipenuhi dengan berbagai kiasan maupun metafora, Guru Bangsa Tjokroaminoto jelas terasa lebih mudah diakses kisahnya. Garin tetap menghadirkan satu, dua metafora dalam penceritaan film ini – bersuasana teatrikal dengan tujuan untuk lebih memadatkan jalan cerita – namun tetap terasa ringan sekaligus emosional untuk diikuti. Tidak lupa, Garin juga menyajikan filmnya dengan tatanan teknikal yang benar-benar berkelas. Sinematografi arahan Ipung Rachmat Syaiful yang puitis melengkapi kekuatan jalan penceritaan Guru Bangsa Tjokroaminoto. Begitu pula dengan tata musik garapan Andi Rianto yang begitu mampu meningkatkan sisi emosional dari setiap adegan film tanpa pernah membuatnya terasa mendayu-dayu secara berlebihan. Bahkan, adalah cukup adil untuk meletakkan komposisi musik Andi Rianto untuk film ini sebagai salah satu komposisi musik film Indonesia terbaik dalam beberapa tahun terakhir. It’s that good!

Dipimpin oleh Reza Rahadian yang berperan sebagai sang karakter utama, departemen akting Guru Bangsa Tjokroaminoto juga tergarap dengan sangat baik – jika Anda tidak ingin menyebutnya sempurna. Anda lelah dengan kehadiran Reza Rahadian dalam setiap film Indonesia yang Anda saksikan? Mungkin saja. Namun, dengan melihat dedikasi kuatnya dalam berperan sebagai Oemar Said Tjokroaminoto, siapapun jelas tidak akan mampu memungkiri bahwa Reza Rahadian adalah aktor terbaik di generasinya. Aktor yang dapat memerankan setiap karakter dengan begitu sempurna – dan membuat aktingnya terlihat begitu mudah untuk dilakukan.

Penampilan Reza juga didukung dengan penampilan dan chemistry yang sangat erat dari Putri Ayudya yang berperan sebagai istri dari karakter Oemar Said Tjokroaminoto, Soeharsikin. Penampilan menarik lain datang dari Deva Mahenra – yang terlihat sangat meyakinkan sebagai sosok Soekarno muda yang begitu polos, Chelsea Islan – yang semakin mampu menunjukkan kematangan aktingnya serta Ibnu Jamil, Tanta Ginting dan Ade Firman Hakim yang masing-masing mampu menghidupkan karakter mereka dengan begitu baik. Tidak lupa, dukungan dari aktor dan aktris senior seperti Soedjiwo Tedjo, Christine Hakim dan Didi Petet juga semakin memperkuat kualitas departemen akting film ini. Jangan pula lewatkan penampilan komikal dari seniman ludruk asal Jawa Timur bernama Unit yang perannya sebagai Mbok Toen dalam film ini akan sangat mampu mencuri perhatian tiap penonton.

Guru Bangsa Tjokroaminoto jelas sekali lagi membuktikan kehandalan seorang Garin Nugroho. Meskipun hadir dengan beberapa masalah penumpukan konflik dan karakter khususnya di awal pengisahan namun secara keseluruhan Guru Bangsa Tjokroaminoto tetap mampu hadir sebagai sebuah film biopik yang mampu hadir kuat dengan garapan tata teknikal yang berkelas, penampilan para pengisi departemen akting yang sangat solid serta, tentu saja, pengarahan cerita yang akan sangat mampu membuat setiap penontonnya tergugah mengenai bagaimana situasi politik Indonesia saat ini tidak begitu banyak berubah dari masa pergerakan yang dikawal oleh Oemar Said Tjokroaminoto. Indonesia’s finest period piece since Sang Penari (2011). A grand beauty! [B]

Guru Bangsa Tjokroaminoto (2015)

Directed by Garin Nugroho Produced by Christine Hakim, Didi Petet, Dewi Umaya Rachman, Sabrang Mowo Damar Panuluh, Nayaka Untara, Ari Syarif Written by Ari Syarif, Erik Supit (screenplay), Ari Syarif, Erik Supit, Sabrang Mowo Damar Panuluh, Garin Nugroho, Kemal Pasha Hidayat (story) Starring Reza Rahadian, Putri Ayudya, Maia Estianty, Christine Hakim, Ibnu Jamil, Alex Komang, Tanta Ginting, Chelsea Islan, Sudjiwo Tejo, Egi Fedly, Christoffer Nelwan, Deva Mahenra, Didi Petet, Ade Firman Hakim, Alex Abbad, Gunawan Maryanto, Jay Widjajanto, Arjan Onderdenwijngaard, Gerard Mosterd, Rudi Corens, Martin Van Bommel, Joanna Dudley, Paul Agusta Music by Andi Rianto Cinematography Ipung Rachmat Syaiful Editing by Wawan I. Wibowo Studio Pic[k]lock Production/Yayasan Keluarga Besar HOS Tjokroaminoto/MSH Films Running time 161 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Garin Nugroho Garap ‘Guru Bangsa: Tjokroaminoto’

Setelah menggarap Soegija (2012) yang berhasil merebut perhatian penonton Indonesia sekaligus memperoleh beberapa penghargaan film di tingkat nasional maupun internasional, sutradara Garin Nugroho kembali hadir dengan karya terbarunya yang juga mengupas tentang kehidupan salah satu tokoh nasional Indonesia. Kali ini, Garin menghadirkan film berjudul Guru Bangsa: Tjokroaminoto yang akan mengangkat kehidupan tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia, Haji Oemar Said Tjokroaminoto, pada era tahun 1890 – 1920an. Continue reading Garin Nugroho Garap ‘Guru Bangsa: Tjokroaminoto’

Review: Retak Gading (2014)

Retak Gading (Kakilangit Pictures, 2014)
Retak Gading (Kakilangit Pictures, 2014)

Retak Gading berkisah mengenai perjuangan seorang gadis bernama Gading (Chelsy Liven) dalam menghadapi berbagai permasalahan asmara yang menghampiri kehidupannya. Awalnya, Gading telah menemukan sosok pendamping yang begitu sempurna dalam diri seorang pria tampan dengan kepribadian baik yang bernama Bintang (Detri Warmanto). Sayang, beberapa bulan setelah menjalin hubungan asmara, Bintang secara tiba-tiba memutuskan jalinan kasih mereka tanpa alasan yang jelas. Parahnya, Bintang kemudian menghilang begitu saja dari kehidupan Gading. Jelas saja Gading menderita patah hati yang begitu mendalam. Hanya ibunya (Christine Hakim) seorang yang mampu mendamaikan jiwa Gading di tengah rundungan rasa sakit yang dirasakannya.

Continue reading Review: Retak Gading (2014)

Review: Sang Kiai (2013)

sang-kiai-header

Rako Prijanto makes a really bold move with Sang Kiai. Sutradara yang sebelumnya lebih banyak mengarahkan film-film drama romansa serta komedi seperti Ungu Violet (2005), Merah Itu Cinta (2007) hingga Perempuan-Perempuan Liar (2011) ini mencoba untuk keluar dari zona nyamannya dengan mengarahkan sebuah film biopik mengenai Hasyim Asy’ari yang merupakan salah satu tokoh perjuangan kemerdekaan sekaligus pendiri organisasi massa Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama. Again, it’s a really bold move… dan Rako jelas terlihat memiliki visi yang kuat mengenai jalan cerita yang ingin ia hantarkan. Namun sayangnya, naskah arahan Anggoro Saronto (Malaikat Tanpa Sayap, 2012) justru kurang berhasil untuk tampil kuat dalam bercerita, kehilangan fokus di banyak bagian dan, yang terlebih mengecewakan, menyia-nyiakan kesempatan untuk dapat mengenalkan dengan lugas sosok besar Hasyim Asy’ari kepada penonton modern.

Continue reading Review: Sang Kiai (2013)

Festival Film Indonesia 2012 Nominations List

So… here we go again. Setelah beberapa waktu yang lalu mengumumkan 15 film yang berhasil lolos dari seleksi awal, Senin (26/11), Festival Film Indonesia 2012 resmi mengumumkan daftar film yang berhasil meraih nominasi di ajang penghargaan film tertinggi bagi kalangan industri film Indonesia tersebut. Dan secara mengejutkan… sebuah film kecil berjudul Demi Ucok mampu mencuri perhatian dan menguasai perolehan nominasi, termasuk meraih nominasi di kategori Film Bioskop Terbaik, Sutradara Terbaik, Pemeran Utama Wanita Terbaik serta Penulis Skenario Terbaik. Walau telah dirilis secara terbatas melalui berbagai ajang festival di beberapa daerah di Indonesia selama kurun waktu satu tahun terakhir, Demi Ucok baru akan dirilis secara luas pada bulan Januari 2013 mendatang.

Continue reading Festival Film Indonesia 2012 Nominations List

Review: Rayya, Cahaya di Atas Cahaya (2012)

Beberapa saat setelah perilisan Mama Cake, penonton film Indonesia kembali “dianugerahi” dengan dirilisnya sebuah road movie – film yang menitikberatkan kisahnya pada perjalanan yang dilakukan oleh para karakter ceritanya dari satu lokasi ke lokasi lainnya – lain yang berjudul Rayya, Cahaya di Atas Cahaya. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh sutradara film ini, Viva Westi, bersama dengan Emha Ainun Najib, Rayya, Cahaya di Atas Cahaya disusun dengan deretan dialog benuansa puitis yang mungkin akan membuat sebagian penontonnya merasa jenuh. Pun begitu, karakter-karakter kuat yang mengisi jalan cerita film ini berhasil membuat Rayya, Cahaya di Atas Cahaya menjadi sebuah film yang begitu kuat dalam menyampaikan jalan ceritanya.

Continue reading Review: Rayya, Cahaya di Atas Cahaya (2012)

Review: Eat Pray Love (2010)

Eat Pray Love dibuka dengan adegan dimana Elizabeth Gilbert (Julia Roberts) yang dalam perjalanan tugasnya ke Bali, berjumpa dengan seorang pria tua, Ketut Liyer (Hadi Subiyanto), yang kemudian memberikannya sedikit ramalan mengenai kehidupannya di masa yang akan datang: ia akan memiliki dua pernikahan, kehilangan seluruh uangnya dan untuk kemudian akan kembali ke Bali untuk bertemu kembali dengan pria tua tersebut. Adegan sepanjang 10 menit ini menggambarkan seluruh kejadian yang dialami Elizabeth di sepanjang film Eat Pray Love. Namun, seperti halnya buku memoir yang menjadi asal naskah cerita film ini, Eat Pray Love bukanlah sebuah film yang hanya disaksikan untuk menyimak kisah perjalanan Elizabeth. Eat Pray Love dibuat agar penonton dapat merasakan pengalaman perjalanan yang sama seperti yang dialami Elizabeth.

Continue reading Review: Eat Pray Love (2010)