Tag Archives: Charlize Theron

Review: Mad Max: Fury Road (2015)

mad-max-fury-road-poster-02Masih ingat dengan Mad Max? Dibintangi oleh Mel Gibson dan dirilis pertama kali pada tahun 1979, film aksi dengan kandungan cerita yang mengeksplorasi struktur sosial dan politik arahan George Miller tersebut kemudian berhasil meraih kesuksesan komersial yang luar biasa sekaligus menjadi pembuka langkah film-film Australia lainnya untuk mendapatkan rekognisi lebih di Hollywood pada masa tersebut. Kesuksesan tersebut lantas membuat Miller memproduksi dua seri film Mad Max lainnya, Mad Max 2: The Road Warrior (1981) serta Mad Max Beyond Thunderdome (1985) yang juga berhasil meraih sambutan hangat baik dari para kritikus maupun para penikmat film dunia. Kini, 30 tahun setelah perilisan seri terakhir Mad Max, dan setelah mengarahkan film-film dari berbagai macam genre seperti The Witches of Eastwick (1987), Lorenzo’s Oil (1992), Babe: Pig in the City (1998) serta Happy Feet (2006), Miller kembali membawa Mad Max – lengkap dengan tata visual yang telah beradaptasi dengan era modern, deretan adegan aksi yang mampu menyaingi film-film aksi arahan sutradara yang berusia jauh dibawah usia Miller serta Tom Hardy yang kini menggantikan posisi Mel Gibson.

Berlatar belakang kisah di masa depan dimana hampir seluruh wilayah dunia telah berubah menjadi gurun dan peradaban manusia tidak lagi memiliki struktur serta aturan yang jelas, seorang pria bernama Max (Hardy) yang hidup berkelana sendirian baru saja ditangkap oleh pasukan War Boys milik Immortan Joe (Hugh Keays-Byrne). Max lantas dipenjara serta dimanfaatkan sebagai kantong darah bagi salah satu anggota pasukan War Boys yang sedang menderita sakit, Nux (Nicholas Hoult). Di saat yang bersamaan, kekacauan terjadi dalam organisasi pimpinan Immortan Joe ketika salah satu orang kepercayaannya, Imperator Furiousa (Charlize Theron), membawa lari lima wanita yang dikenal sebagai Five Wives – lima sosok wanita bernama The Splendid Angharad (Rosie Huntington-Whiteley), Capable (Riley Keough), Cheedo the Fragile (Courtney Eaton), Toast the Knowing (Zoë Kravitz) serta The Dag (Abbey Lee) yang diseleksi khusus untuk melahirkan anak-anak dari Immortan Joe. Tidak pelak lagi, Immortan Joe lantas mengerahkan seluruh pasukannya untuk mengejar, menangkap sekaligus membawa kembali Five Wives. Meskipun masih dalam kondisi yang lemah, Nux memilih untuk bergabung dengan pasukan War Boys. Jelas saja, Max yang bertugas sebagai kantong darahnya akhirnya harus turut dalam perjalanan sekaligus berperang di tengah liar dan tandusnya kondisi alam sekitar mereka.

Seperti halnya ketiga film lain dalam seri Mad Max, George Miller sekali lagi berhasil menyajikan deretan adegan aksi yang liar dan gila dalam Mad Max: Fury Road yang jelas akan memberikan rasa malu pada seluruh film aksi yang telah dan akan dirilis pada tahun ini. Bagaimana tidak. Dengan usianya yang telah menginjak 70 tahun, Miller masih memiliki kapabilitas untuk merangkai adegan-adegan aksi yang begitu kreatif, unik, segar dan jelas akan sanggup memuaskan hasrat setiap penikmat film aksi yang menyaksikannya. Seperti halnya The Raid (Gareth Evans, 2012) yang mampu menetapkan standar baru bagi penggunaan martial arts dalam adegan pertarungan dalam film-film aksi, Miller jelas telah menetapkan sebuah standar kualitas baru yang cukup tinggi bagi tatanan penceritaan serta visual bagi film-film aksi di masa yang akan datang.

Naskah cerita Mad Max: Fury Road yang ditulis oleh Miller bersama dengan Brendan McCarthy dan Nico Lathouris juga masih mengikuti pakem cerita film-film yang berada dalam seri Mad Max lainnya dalam menyajikan satir mengenai kehidupan sosial maupun politik masyarakat saat ini. Memang, seperti halnya kebanyakan film aksi yang dirilis saat ini, naskah cerita Mad Max: Fury Road memiliki beberapa keterbatasan dalam pengembangan konflik maupun karakternya. Namun, di saat yang bersamaan, Miller mampu mengisi keterbatasan-keterbatasan tersebut dengan pengarahan yang begitu kuat. Miller menyajikan filmnya dengan alur penceritaan yang begitu cepat. Ritme penceritaan Mad Max: Fury Road telah tersaji dengan dorongan oktan tinggi semenjak film dimulai, memberikan ruang bagi penonton untuk menarik nafas di beberapa bagiannya namun terus hadir dengan intensitas yang terus meningkat hingga berakhirnya film. Dukungan tata produksi yang solid – mulai dari sinematografi arahan John Seale yang begitu memukau, desain produksi yang sangat berkelas hingga tata musik karya Junkie XL yang mampu mengiringi pengingkatan adrenalin dari jalan cerita film, Mad Max: Fury Road jelas hadir sebagai sebuah pengalaman yang tidak akan terlupakan begitu saja bagi para penikmatnya.

Miller juga mampu merangkai jalan cerita filmnya dengan kehadiran deretan karakter yang begitu mengesankan. Tom Hardy berhasil mengisi peran ikonik Max yang dahulu diperankan oleh Mel Gibson dengan tanpa cela. Meskipun begitu, karakter Max harus diakui tampil dengan kesan dikesampingkan jika dibandingkan dengan beberapa karakter utama lain dalam Mad Max: Fury Road. Imperator Furiousa yang diperankan oleh Charlize Theron jelas menjadi pencuri perhatian utama bagi film ini. Sosok wanita cerdas dan tangguh dengan latar belakang kekelaman masa lalu yang mampu dihidupkan Theron dengan sempurna. Karakter-karakter pendukung seperti Five Wives of Immortan Joe yang diperankan Rosie Huntington-Whiteley, Riley Keough, Courtney Eaton, Zoë Kravitz dan Abbey Lee juga berhasil menyajikan kesan tersendiri. Sama berkesannya dengan kehadiran Nicholas Hoult yang berperan sebagai Nux serta Hugh Keays-Byrne sebagai Immortan Joe. Karakter-karakter yang tercipta begitu unik dan mampu dihidupkan dengan sangat baik oleh deretan pengisi departemen akting film ini. Secara keseluruhan, Mad Max: Fury Road adalah sebuah pencapaian yang jelas akan menjadi kualitas pembanding bagi setiap film aksi yang dirilis di masa yang akan datang. Mengesankan! [A-]

Mad Max: Fury Road (2015)

Directed by George Miller Produced by Doug Mitchell, George Miller, P. J. Voeten Written by George Miller, Brendan McCarthy, Nico Lathouris Starring Tom Hardy, Charlize Theron, Nicholas Hoult, Hugh Keays-Byrne, Rosie Huntington-Whiteley, Riley Keough, Zoë Kravitz, Abbey Lee, Courtney Eaton, Nathan Jones, Megan Gale, Josh Helman, Melissa Jaffer, John Howard, Richard Carter, OTA, Angus Sampson, Jennifer Hagan, Gillian Jones, Joy Smithers Music by Junkie XL Cinematography John Seale Editing by Margaret Sixel Studio Kennedy Miller Mitchell/Village Roadshow Pictures Running time 120 minutes Country Australia, United States Language English

Review: Prometheus (2012)

Hollywood sepertinya belum akan berhenti untuk mengeksplorasi mengenai asal usul mengenai darimana kehidupan manusia berasal. Setelah Terrence Malick tahun lalu menyajikan The Tree of Life yang syahdu, kini giliran Ridley Scott yang melakukannya lewat Prometheus. Prometheus merupakan film pertama yang diarahkan oleh Scott setelah merilis Robin Hood pada tahun 2010 lalu sekaligus menandai kembalinya Scott ke genre science fiction setelah dalam dua dekade terakhir terus menerus mengarahkan film-film drama – yang kemudian berhasil memberikannya tiga nominasi Best Director di ajang Academy Awards untuk Thelma and Louise (1991), Gladiator (2000) dan Black Hawk Down (2001).

Continue reading Review: Prometheus (2012)

Review: Snow White and the Huntsman (2012)

Semodern apapun perkembangan peradaban manusia, sepertinya akan selalu ada tempat untuk kisah-kisah dongeng klasik untuk kembali dinikmati. Tahun ini, kisah Snow White – atau yang bagi masyarakat Indonesia populer dengan sebutan Puteri Salju – menjadi favorit Hollywood untuk diceritakan kembali. Setelah Mirror Mirror karya Tarsem Singh yang tayang terlebih dahulu beberapa bulan lalu – yang ternyata lebih ditujukan pada pangsa penggemar film-film berorientasi komedi keluarga, kini giliran Rupert Sanders yang menghadirkan versi Snow White-nya lewat Snow White and the Huntsman. Dibintangi oleh Kristen Stewart, Chris Hemsworth dan Charlize Theron, Sanders jelas memilih untuk menjauhi pakem keluarga yang diterapkan Mirror Mirror pada Snow White and the Huntsman. Lewat naskah yang ditulis Evan Daugherty, John Lee Hancock dan Hossein Amini, kisah Snow White yang popular tersebut diubah menjadi sebuah kisah percintaan yang epik, kelam sekaligus mencekam.

Continue reading Review: Snow White and the Huntsman (2012)

Review: Young Adult (2011)

Mavis Gary (Charlize Theron) is a piece of work. Terkenal atas kecerdasan yang didukung dengan penampilan fisik yang sangat menunjang, Mavis adalah gadis yang sangat populer di masa sekolahnya. Reputasi tersebut berhasil membuat Mavis mendefinisikan istilah “dibenci karena banyak orang yang ingin menjadi dirinya” dengan baik. Dan Mavis sadar akan segala kelebihannya tersebut, yang acapkali membuat dirinya hadir dengan sikap yang begitu egois. Kini, di usia yang telah menginjak 37 tahun, Mavis masih mampu mempertahankan keindahan penampilan fisiknya – walau ia sekarang harus menghadapi fakta bahwa banyak helai rambutnya mulai mengalami kerontokan – serta kepribadian yang tetap tidak berubah. Kesuksesannya sebagai penulis bayangan dari satu seri novel populer juga semakin memperbesar ego Mavis.

Continue reading Review: Young Adult (2011)

The 69th Annual Golden Globe Awards Nominations List

Perebutan menuju gelar film terbaik untuk tahun 2011 semakin diperhangat dengan diumumkannya nominasi The 69th Annual Golden Globe Awards, malam ini. Untuk tahun ini, The Artist memimpin daftar perolehan nominasi setelah film asal Perancis tersebut berhasil meraih 6 nominasi termasuk nominasi di kategori Best Motion Picture – Comedy or Musical. Raihan The Artist tersebut diikuti oleh The Descendants yang memperoleh 5 nominasi serta The Ides of March, Midnight in Paris, The Help dan Moneyball yang sama-sama meraih 4 nominasi. Sementara itu, film karya Martin Scorsese, Hugo, berhasil meraih 3 nominasi termasuk untuk Best Motion Picture – Drama dan Best Director.

Continue reading The 69th Annual Golden Globe Awards Nominations List

Review: The Road (2009)

The Road adalah sebuah film drama yang diadaptasi dari novel pemenang Pulitzer berjudul sama yang ditulis oleh Cormac McCarthy dan dirilis pada tahun 2006. Pada awalnya, film ini akan dirilis untuk bersaing di ajang Academy Awards pada tahun 2008. Namun, The Weinstein Company akhirnya memilih untuk menjagokan film Kate Winslet, The Reader, dan mendorong The Road untuk bersaing di Academy Awards tahun berikutnya.

Continue reading Review: The Road (2009)