Tag Archives: Bruce Greenwood

Review: Good Kill (2015)

good-kill-posterSetelah membintangi debut penyutradaraan Andrew Niccol, Gattaca (1997), Ethan Hawke kembali berada di bawah pengarahan sutradara asal Selandia Baru tersebut untuk film teranyarnya, Good Kill. Berbeda dengan Gattaca maupun beberapa film Niccol lain seperti S1m0ne (2002), In Time (2011) maupun The Host (2013), film yang naskah ceritanya juga ditulis oleh Niccol ini bukanlah sebuah film fiksi ilmiah yang menempatkan latar belakang kisah, karakter maupun desain produksi yang terlihat futuristik. Niccol justru menghadirkan sebagai sebuah kisah yang menyentuh isu politik perang Amerika Serikat yang memang semakin mamanas semenjak terjadinya tragedi 9/11 di negara itu sekaligus efek yang disebabkannya pada orang-orang yang terlibat langsung di dalam peperangan tersebut. Bayangkan American Sniper (2014)… namun dengan nada penceritaan yang lebih suram dan jauh dari kesan dramatis.

Good Kill berkisah mengenai seorang pilot bernama Major Thomas Egan (Hawke) yang kini ditugaskan oleh Angkatan Udara milik Amerika Serikat untuk mengontrol pesawat tanpa awak milik mereka yang digunakan untuk membunuh para tersangka pelaku kegiatan terorisme di beberapa negara asing yang dianggap dapat mempengaruhi atau mengancam stabilitas keamanan negara adikuasa itu. Major Thomas Egan sendiri merasa tugasnya cenderung membosankan dan ingin agar dirinya ditempatkan kembali langsung di medan peperangan. Ia juga mulai mempertanyakan etika pekerjaannya ketika banyak pihak sipil yang turut menjadi korban akibat tugas yang ia laksanakan. Secara perlahan, tekanan-tekanan tersebut mulai mempengaruhi kehidupan personal Major Thomas Egan, termasuk kehidupan pernikahan yang ia jalin dengan istrinya, Molly (January Jones).

Niccol benar-benar tertarik pada ide mengenai pemberontakan pada aturan yang telah diterapkan oleh pihak-pihak berkuasa. Layaknya film-film yang diarahkan Niccol sebelumnya, Good Kill juga menawarkan tema penceritaan yang sama – karakter utama dalam film ini mengalami kesulitan untuk menerima aturan yang diterapkan padanya yang kemudian mempengaruhi kepribadiannya sebelum akhirnya melakukan sebuah pembelotan atas aturan tersebut. Niccol sepertinya ingin menyuarakan kampanye anti-perangnya terhadap Amerika Serikat secara eksplisit melalui film ini. Dan harus diakui, Niccol mampu melakukannya dengan baik. Good Kill akan mampu menenggelamkan penontonnya pada kelamnya jalan penceritaan sekaligus membuat mereka sekali lagi ditampar oleh realita kejamnya politik peperangan di dunia yang berjalan layaknya sebuah lingkaran setan.

Niccol sendiri menitikberatkan pengisahan Good Kill pada hubungan yang terjalin antara sang karakter utama dengan konflik yang tengah ia hadapi. Sebuah pembelajaran karakter. Karena itulah, meskipun film ini menawarkan kisah yang berkaitan dengan dunia peperangan, Good Kill sama sekali tidak menyajikan deretan adegan aksi maupun efek ledakan di sepanjang 104 menit presentasi ceritanya. Warna cerita yang cukup kelam dengan konflik dramatis yang cukup minim serta perlakuan atas alur cerita yang dieksekusi dalam gerak yang cukup lamban memang akan memberikan sedikit kesulitan bagi sebagian penonton untuk menikmati film ini. Namun, Good Kill memang membutuhkan ruang penceritaan yang luas tersebut untuk membiarkan deretan konflik dan karakternya berkembang sedemikian rupa untuk kemudian mengambil alih perhatian penontonnya.

Sebagai pemeran sang karakter utama yang kisahnya menjadi perhatian penuh bagi film ini, Ethan Hawke mampu menyajikan penampilan akting terbaiknya. Good Kill mungkin tidak menyediakan ruang seluas yang disediakan American Sniper bagi Bradley Cooper dalam menyajikan transisi sikap akan sesosok karakter dengan mental yang terpengaruh akan perang. Karakter yang diperankan Hawke seringkali terlihat berada dalam kemuraman dan kesunyian. Dengan penampilan yang prima, Hawke mampu menghidupkan emosi tersebut untuk dapat dirasakan oleh penonton. Penampilan jajaran pemeran pendukung yang diisi oleh nama-nama seperti January Jones, Zoë Kravitz hingga Bruce Greenwood juga memberikan dukungan yang solid atas penampilan Hawke. Sebuah kualitas yang mampu meningkatkan kualitas performa film ini secara keseluruhan. [B-]

Good Kill (2015)

Directed by Andrew Niccol Produced by Mark Amin, Nicolas Chartier, Zev Foreman Written by Andrew Niccol Starring Ethan Hawke, January Jones, Zoë Kravitz, Jake Abel, Bruce Greenwood, Peter Coyote, Dylan Kenin Music by Christophe Beck Cinematography Amir Mokri Editing by Zach Staenberg Studio Voltage Pictures/Sobini Films Running time 104 minutes Country United States Language English

Review: Endless Love (2014)

Endless Love ( Bluegrass Films/Fake Empire/Relativity Media, 2014)
Endless Love (Bluegrass Films/Fake Empire/Relativity Media, 2014)

Diadaptasi dari novel karya Scott Spencer, film drama romansa, Endless Love (1981), arahan Franco Zeffirelli popular karena dua hal: menjadi film pertama yang dibintangi Tom Cruise serta lagu tema berjudul sama yang dinyanyikan oleh duet Diana Ross dan Lionel Richie yang kemudian berhasil meraih nominasi Academy Awards di kategori Best Original Song sekaligus menjadi salah satu lagu tersukses di sepanjang karir kedua penyanyinya. The movie itself? Not so much. Meskipun mampu meraup keuntungan komersial dalam skala menengah, Endless Love mendapatkan banyak kritikan tajam akibat plot ceritanya yang cenderung berjalan monoton serta deretan karakter yang hadir dengan penggalian yang cukup dangkal. Sebuah drama romansa medioker yang mudah terlupakan begitu saja. Lalu perubahan apa yang dapat ditawarkan oleh Endless Love versi modern yang diarahkan oleh Shana Feste (Country Strong, 2010) ini?

Continue reading Review: Endless Love (2014)

Review: Star Trek Into Darkness (2013)

star-trek-into-darkness-header

Di tahun 2009, dimana Hollywood dikuasai oleh film-film science fiction orisinal seperti Avatar serta District 9, J. J. Abrams mampu mencuri banyak perhatian penikmat film dunia ketika dirinya kembali menghadirkan sebuah franchise legendaris bernama Star Trek dengan sentuhan yang baru. Meski awalnya banyak mendapatkan keraguan, khususnya dari para penggemar setia franchise tersebut – yang biasa menyebut diri mereka sebagai Trekkies, dengan bermodalkan naskah cerita arahan Roberto Orci dan Alex Kurtzman yang sangat cerdas, Abrams mampu menghadirkan sebuah presentasi kisah Star Trek yang cukup segar dan modern untuk dapat meraih banyak penggemar baru namun tetap terasa sangat familiar untuk dapat memuaskan para penggemar lamanya. Kesuksesan tersebut jelas telah membuka pintu kesempatan yang sangat lebar bagi Abrams untuk dapat menjelajah lebih jauh dalam menangani seri lanjutan franchise film yang telah dimulai semenjak tahun 1979 tersebut.

Continue reading Review: Star Trek Into Darkness (2013)

Review: Flight (2012)

flight-header

Setelah beberapa saat terjebak di dunia animasi, Robert Zemeckis kembali mengarahkan sebuah film live action – yang, by the way, menjadi film live action pertamanya semenjak kesuksesan Cast Away di tahun 2000 yang lalu. Dengan naskah yang ditulis oleh John Gatins (Real Steel, 2011), Flight mencoba mengisahkan mengenai bagaimana kelamnya kehidupan seorang alkoholik. Terdengar familiar? Well… sayangnya, pendekatan yang dilakukan oleh Zemeckis dalam menceritakan kisah tersebut juga akan membuat banyak orang merasa bahwa tidak ada sesuatu yang istimewa dalam garis penceritaan film ini. Terkecuali, tentu saja, penampilan Denzel Washington yang mampu menghidupkan karakternya dengan begitu meyakinkan.

Continue reading Review: Flight (2012)

Review: Super 8 (2011)

Mereka yang menyukai film-film karya Steven Spielberg seperti Close Encounters of the Third Kind (1977) atau E.T.: The Extra-Terrestrial (1982), sepertinya akan dengan mudah menemukan diri mereka terbuai dan jatuh cinta dengan Super 8, sebuah film yang menjadi kelanjutan karir J. J. Abrams sebagai seorang sutradara film layar lebar setelah kesuksesannya dalam menggarap ulang Star Trek di tahun 2009 lalu. Tidak mengherankan, sebenarnya. Untuk film ini, Abrams untuk pertama kalinya bekerjasama dengan Spielberg – yang semenjak lama telah dianggap Abrams sebagai salah satu tokoh yang paling ia idolakan dan berpengaruh dalam karir filmnya – dan karenanya, mungkin adalah tepat untuk melihat Super 8 sebagai sebuah penghormatan terhadap film-film science fiction karya Spielberg yang selalu dapat tampil menarik, hangat dan selalu dengan mudah menemukan tempat di hati para penontonnya.

Continue reading Review: Super 8 (2011)

Review: Barney’s Version (2010)

Sebagai seorang aktor, nama Paul Giamatti mungkin belum mampu memperoleh kepopuleran yang setara dengan nama-nama aktor seperti Sean Penn, Johnny Depp ataupun Ben Affleck. Mungkin dikarenakan Giamatti memiliki wajah yang tidak setampan nama-nama tersebut. Namun, setelah mendapatkan peran pendukung dalam film-film seperti The Truman Show (1998), Saving Private Ryan (1998) serta The Negotiator (1998), Giamatti secara perlahan menjelma menjadi salah satu aktor dengan kemampuan akting yang paling dapat diandalkan di Hollywood, khususnya setelah performa yang ia tampilkan di American Splendor (2003) dan Sideways (2004). Giamatti bahkan dinominasikan untuk meraih 45 penghargaan dalam peran yang ia ambil selama tahun 2001-2008 dengan diantaranya memenangkan Emmy dan Golden Globe untuk perannya di film televisi, John Adams (2008).

Continue reading Review: Barney’s Version (2010)