Tag Archives: Axel Andaviar

Review: Rock N Love (2015)

rock-n-love-posterMengikuti jejak beberapa kelompok musik lain seperti Wali (Baik Baik Sayang, 2011), Ungu (Purple Love, 2011), Slank (Slank Gak Ada Matinya, 2013), Cherrybelle (Love Is U, 2011) dan JKT48 (Viva JKT48, 2014), Kotak merilis sebuah film berjudul Rock N Love sebagai salah satu media untuk mempromosikan album terbaru mereka. Berada di bawah arahan sutradara debutan Hedy Suryawan, Rock N Love sayangnya tidak mampu berbicara banyak tentang kepribadian maupun musikalitas kelompok musik yang terbentuk dari sebuah ajang pencarian bakat pada tahun 2004 tersebut. Film yang naskah ceritanya digarap oleh Syamsul Hadi (Heartbreak.Com, 2009) justru hadir dengan penyampaian yang menyerupai opera sabun akan kisah cinta masing-masing personel Kotak hingga paduan yang kurang pas akan komedi yang seringkali terasa hadir tidak pada tempatnya.

Dengan judul Rock N Love, film ini jelas berusaha mengangkat dua sisi tersebut dari kelompok Kotak. Bagian “rock” dari jalan cerita film digambarkan dalam alur kisah perseteruan antara Kotak dengan kelompok musik The Rebel Youth dalam sebuah kompetisi musik bertajuk Jakarta Distortion Wave. Bagian ini sebenarnya dapat saja digambarkan sebagai sebuah perseteruan antara dua kelompok musik yang menarik – dengan kedua kelompok musik berusaha menampilkan kelebihan musikalitas masing-masing. Sayangnya, Rock N Love justru memilih untuk menghadirkan persaingan tersebut sebagai persaingan yang terasa personal antara masing-masing anggota kedua kelompok musik tersebut. Yang lebih menggelikan adalah bagaimana film ini menggambarkan setiap anggota kelompok The Rebel Youth sebagai sosok yang begitu mudah untuk meledak: Mereka berteriak, marah, melemparkan barang-barang, berkelahi, mengeluarkan kalimat sumpah serapah pada siapa saja kapanpun mereka mau. Tanpa ada penyebabnya. Begitu berlebihan – seperti halnya akting Ganindra Bimo dalam usahanya untuk menghidupkan karakter vokalis The Rebel Youth, Rotor.

Yang juga berlebihan adalah bagian “love” dari plot naskah cerita film ini. Sebenarnya tidak ada salahnya bagi sebuah film fiksi yang berkisah mengenai sebuah kelompok musik untuk menggali kehidupan romansa masing-masing anggota kelompok musik tersebut. Namun apa yang tersaji dalam Rock N Love terasa terlalu kekanak-kanakan untuk karakter-karakternya (dan penontonnya?) yang jelas telah berusia lebih dewasa. Lihat saja bagaimana konflik romansa dangkal dari karakter Tantri dan kekasihnya, Robin (Vino G. Bastian), yang sepertinya tidak kunjung ada habisnya di sepanjang film. Atau bagaimana karakter Cella yang digambarkan begitu patah hati ketika sang kekasih meninggalkan dirinya lalu kemudian dengan mudah berpaling dengan wanita lain yang baru dikenalnya. Konflik-konflik dangkal semacam inilah yang membuat Rock N Love begitu sulit untuk disukai pengisahannya.

Penempatan unsur komedi dalam jalan cerita Rock N Love juga terasa kurang begitu efektif. Kehadiran beberapa karakter yang memang sedari awal seperti diniatkan untuk menghadirkan unsur komedi secara perlahan mulai terasa mengganggu ketika karakter-karakter tersebut menghadirkan komedi slapstick dalam durasi yang terlalu banyak. Hal ini masih ditambah lagi dengan penggarapan dialog dan karakter yang seringkali hadir terlalu dangkal, khususnya karakter Aldi yang digambarkan sebagai manajer dari kelompok musik Kotak. Penggambarannya sebagai sosok yang (terlalu) cinta damai seringkali lebih sering mengundang cibiran daripada rasa kagum penonton ketika karakter tersebut mengeluarkan dialog-dialog yang sepertinya terinspirasi dari Mario Teguh. Penampilan Denny Sumargo yang sepertinya juga meniru tokoh motivator tersebut dalam setiap penyampaian dialognya juga sama sekali tidak membantu untuk membuat karakter Aldi menjadi lebih terasa alami kehadirannya.

Sepenuhnya buruk? Tidak juga. Sebagai sebuah penampilan akting perdana, masing-masing personel Kotak terasa telah cukup mampu tampil dalam kapasitas akting yang tidak mengecewakan. Vino G. Bastian yang hadir dalam porsi peran dan penceritaan yang minimalis juga mampu membuktikan bahwa dirinya mampu mencuri perhatian dengan penampilan akting yang kuat bahkan lewat peran yang sedikit. Berbicara mengenai musik, lagu-lagu yang dihadirkan Kotak dalam film ini setidaknya akan tetap mampu memberikan hiburan bagi para penontonnya, bahkan bagi mereka yang sedari awal bukanlah seorang Kerabat Kotak – sebutan Kotak bagi para penggemar mereka. [C-]

Rock N Love (2015)

Directed by Hedy Suryawan Produced by Sandy Tanarius, Hedy Suryawan, Ayu Indirawanty Written by Syamsul Hadi Starring Tantri, Cua, Cella, Denny Sumargo, Ganindra Bimo, Putri Una, Erwin Moron, Coki Bollemeyer, Axel Andaviar, Spencer Jeremiah, Reynold Hamzah, Mono, Erick Estrada, Shae, Vino G. Bastian Music by Tommy Cinematography Tono Wisnu Edited by Lucky Rais Production company Apollo Pictures Running time 92 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: Brokenhearts (2012)

Cukup mengherankan bila melihat di tengah serbuan film-film semacam Negeri 5 Menara, Modus Anomali, The Raid atau Lovely Man, yang berhasil menawarkan sentuhan jalan penceritaan yang apik dan bahkan tampil berani jauh berbeda dari kebanyakan film yang saat ini dirilis oleh industri film Indonesia, masih ada beberapa produser yang memilih untuk merilis film-film dangkal semacam Brokenhearts. Disutradai dan ditulis naskahnya oleh Helfi Kardit – orang yang sama yang bertanggungjawab atas perilisan judul-judul seperti D’Love (2010), Arisan Brondong (2010) dan Arwah Goyang Karawang (2011) – Brokenhearts adalah sebuah contoh lain keserakahan para pembuat film Indonesia yang dengan dangkalnya mengira bahwa penikmat film Indonesia akan begitu mudah untuk terjebak pada film-film tearjerker dengan kualitas penulisan naskah kacangan.

Continue reading Review: Brokenhearts (2012)

Review: (Masih) Bukan Cinta Biasa (2011)

Seorang pria remaja bernama Vino (Axel Andaviar) suatu hari datang ke hadapan Tommy (Ferdy Taher), seorang mantan vokalis grup musik rock papan atas di Indonesia, The Boxis, dan kemudian mengaku bahwa dirinya adalah anak kandung dari Tommy. Terdengar seperti jalan cerita dari sebuah film Indonesia yang pernah dirilis sebelumnya? Memang, (Masih) Bukan Cinta Biasa adalah sekuel dari film drama, Bukan Cinta Biasa, yang secara mengejutkan cukup mampu tampil menghibur penontonnya ketika dirilis pada tahun 2009 lalu. Masih menghadirkan jajaran pemeran yang sama, dengan naskah dan arahan yang masih datang dari Benni Setiawan, (Masih) Bukan Cinta Biasa dapat dipandang sebagai versi kisah alternatif dari film pendahulunya. Tergarap dengan cukup baik pada kebanyakan bagian, (Masih) Bukan Cinta Biasa tetap saja kekurangan banyak faktor esensi pembeda yang dapat memberikan penjelasan mengenai eksistensi dari perilisan film ini. Kecuali faktor keuntungan komersial, tentu saja.

Continue reading Review: (Masih) Bukan Cinta Biasa (2011)