Tag Archives: Astri Nurdin

Review: CJR The Movie (2015)

cjr-the-movie-posterJika Coboy Junior the Movie (2013) berkisah mengenai awal terbentuknya kelompok musik Coboy Junior dan bagaimana usaha mereka untuk memperkenalkan diri sekaligus menembus industri musik Indonesia, maka CJR the Movie justru berkisah bagaimana kelompok musik tersebut mencoba bertahan dan bangkit kembali setelah ditinggal oleh salah satu anggotanya, Bastian Simbolon. Diarahkan langsung oleh pendiri Coboy Junior, Patrick Effendy, CJR the Movie sebenarnya memiliki premis penceritaan yang lebih berisi dan dramatis jika dibandingkan dengan film pertama Coboy Junior yang diarahkan oleh Anggy Umbara. Sayangnya, potensi tersebut terasa disia-siakan oleh jalan cerita yang cenderung lemah dan seringkali terasa hanya sebagai variasi lain dari pengulangan jalan cerita yang telah dihadirkan dalam Coboy Junior the Movie.

Salah satu kelemahan utama dari naskah cerita CJR the Movie yang ditulis oleh Hilman Mutasi, Yanto Prawoto dan Arif Rahman adalah jalan cerita film ini seperti menghindar dari masa lalu yang dimiliki Coboy Junior dengan mantan anggotanya. Padahal, selain menjadi pemicu bagi bergeraknya konflik lain dalam jalan cerita film, konflik tersebutlah yang seharusnya menjadi alasan kuat mengapa film kedua ini dibuat. Daripada berdamai dengan masa lalu tersebut, CJR the Movie justru menyajikan permasalahan tersebut secara dangkal: penonton sama sekali tidak pernah diberikan penjelasan dari penyebab keluarnya Bastian Simbolon dari kelompok musik tersebut dan bahkan, pada beberapa bagian, gambar-gambar Bastian Simbolon justru dikaburkan begitu saja.

CJR the Movie kemudian memfokuskan penceritaannya pada kisah bagaimana tiga anggota kelompok musik tersebut yang tersisa berusaha bangkit kembali – dengan alur cerita yang terasa sebagai pengulangan plot dari film pertama mereka. Sayangnya, penceritaan di bagian tersbeut juga hadir dalam kualitas yang tidak terlalu memuaskan. Bagian kisah dimana tiga anggota Coboy Junior digambarkan berlatih keras demi mimpi mereka gagal mendapatkan eksplorasi cerita yang mendalam. Terasa terlalu instan dalam penyajian kisahnya. Deretan karakter pendukung yang awalnya menjadi elemen pendukung yang kuat di film pertama, seperti karakter-karakter keluarga, sama sekali tidak diberikan porsi penceritaan yang luas. Bahkan terasa hanya menjadi tempelan di awal dan akhir penceritaan. Beberapa kelemahan inilah, terlepas dari hadirnya beberapa lagu catchy di beberapa bagian film, yang membuat CJR the Movie terasa hambar dalam pengisahannya.

Hadir dalam kualitas cerita yang cukup medioker, CJR the Movie setidaknya mampu diolah dengan cukup baik oleh sutradara film ini, Patrick Effendy. Menggantikan posisi Anggy Umbara, Patrick harus diakui mampu mengolah jalan penceritaan dengan baik. Arahan yang ia berikan pada alur penceritaan film ini terasa mampu mengakomodasi materi penceritaan dengan layak. Tidak hadir dalam ritme yang terlalu cepat maupun terlalu lamban. Meskipun tidak istimewa, Iqbaal Dhiafakhri, Alvaro Maldini dan Teuku Ryzqi juga terasa semakin nyaman dalam penampilan akting mereka. Abimana Aryasatya juga hadir dalam kapasitas yang tidak mengecewakan. Sama halnya seperti Rio Dewanto – meskipun aksen Austalia yang ia gunakan kadang terasa sedikit berlebihan dan mengganggu. [C-]

CJR the Movie (2015)

Directed by Patrick Effendy Produced by Frederica Written by Hilman Mutasi, Yanto Prawoto, Arif Rahman Starring Teuku Ryzki, Alvaro Maldini, Iqbaal Dhiafakhri, Abimana Aryasatya, Arie Kriting, Rio Dewanto, Ernest Prakasa, Emmanuel Kelly, Surya Saputra, Brittany Rose Scrivner, Fico Fachriza, Astri Nurdin, Irgi Fahrezi, Joehana Sutisna, Ersa Mayori, Hera Helmy, Jono Bule, Adiba Khanza, Salshabilla Elovii Music by Indra Q Cinematography Dicky R. Maland Edited by Cesa David Luckmansyah Production company Falcon Pictures Running time 90 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: Coboy Junior the Movie (2013)

coboy-junior-the-movie-header

Merupakan film layar lebar kedua yang diarahkan oleh Anggy Umbara, Coboy Junior the Movie mencoba untuk memaparkan mengenai bagaimana proses terbentuknya kelompok musik Coboy Junior serta berbagai tantangan yang harus mereka hadapi, baik secara personal maupun kelompok, ketika mereka mencoba untuk menaklukkan industri musik Indonesia. Coboy Junior the Movie jelas memiliki segala hal yang akan membuat para penggemar kelompok ini merasa terpuaskan: deretan lagu yang easy listening, koreografi yang ditampilkan dalam porsi yang megah serta, tentu saja, kesempatan untuk mengenal lebih jauh mengenai kehidupan pribadi masing-masing personel Coboy Junior. Namun, apakah Coboy Junior the Movie juga mampu tampil sama menariknya bagi mereka yang sama sekali tidak familiar dengan kelompok musik tersebut?

Continue reading Review: Coboy Junior the Movie (2013)

Review: Java Heat (2013)

java-heat-header

Disutradarai oleh Conor Allyn (Merah Putih III: Hati Merdeka, 2011), yang juga menulis naskah cerita serta menjadi produser film ini bersama ayahnya, Rob Allyn, Java Heat dibuka dengan berjalannya proses interogasi yang berjalan antara seorang petugas kepolisian Republik Indonesia, Letnan Hashim (Ario Bayu), dengan seorang pria misterius asal Amerika Serikat, Jake Travers (Kellan Lutz), yang dijadikan sebagai saksi dalam peristiwa pemboman bunuh diri yang telah menewaskan seorang puteri Kerajaan Jawa, Sultana (Atiqah Hasiholan). Walaupun Jake mengungkapkan bahwa dirinya hanyalah seorang turis yang datang ke Indonesia sebagai bagian pembelajaran sejarah seni negara-negara Asia Tenggara yang sedang ia dalami, namun Hashim menaruh curiga bahwa Jake memiliki keterkaitan dalam peristiwa pemboman tersebut.

Continue reading Review: Java Heat (2013)

Review: Tampan Tailor (2013)

tampan-tailor-header

Tampan Tailor bercerita mengenai serangkaian kisah perjuangan seorang pria bernama Topan (Vino G. Bastian) dalam usahanya untuk menghidupi dan membesarkan putera tunggalnya, Bintang (Jefan Nathanio). Perjuangan tersebut dimulai ketika Topan harus kehilangan sang istri yang meninggal dunia akibat penyakit kanker yang ia derita. Tidak berhenti disitu, ia harus kehilangan tempat tinggal sekaligus memaksa Bintang untuk putus sekolah setelah usaha toko jahit yang ia bangun bersama dengan istrinya dahulu – dan dinamakan Tampan Tailor sebagai gabungan nama mereka, Tami dan Topan – harus ditutup karena mengalami kebangkrutan. Walau begitu, keberadaan sang anak membuat Topan sadar bahwa ia tidak dapat menyerah begitu saja.

Continue reading Review: Tampan Tailor (2013)

Review: Bidadari-Bidadari Surga (2012)

bidadari-bidadari-surga-header

Well… seperti yang dikatakan oleh banyak orang: You don’t mess with a winning formula! Karenanya, ketika Hafalan Shalat Delisa yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Tere Liye berhasil menjadi salah satu film Indonesia dengan raihan jumlah penonton terbesar di sepanjang masa rilisnya pada tahun 2011, tidak mengherankan jika kemudian produser film tersebut mencoba kembali mengulang sukses tersebut dalam rilisan mereka berikutnya. Hasilnya… sebuah film lain yang diadaptasi dari novel Tere Liye – yang kali ini berjudul Bidadari-Bidadari Surga, masih dengan kisah bernuansa reliji, masih dengan kisah yang akan berusaha (baca: memaksa) penontonnya untuk tersentuh dan meneteskan air mata, masih disutradarai oleh Sony Gaokasak, masih menempatkan Nirina Zubir di barisan terdepan jajaran pengisi departemen aktingnya dan… Mike Lewis yang nanti hadir di pertengahan cerita. Hasilnya? Masih sama seperti Hafalan Shalat Delisa. Namun kali ini hadir dengan perjalanan yang terasa lebih menyakitkan.

Continue reading Review: Bidadari-Bidadari Surga (2012)

Review: Sang Martir (2012)

Film terbaru Helfi Kardit (Brokenhearts, 2012) mencoba untuk berbicara mengenai banyak hal. Jalan ceritanya sendiri bermula dengan pengisahan mengenai kehidupan Rangga (Adipati Dolken) dan adiknya, Sarah (Ghina Salsabila), yang hidup dalam di sebuah panti asuhan yang dipimpin oleh pasangan Haji Rachman (Jamal Mirdad) dan istrinya, Hajjah Rosna (Henidar Amroe), bersama dengan puluhan anak-anak lainnya. Walau hidup dalam kondisi yang sangat sederhana, Rangga dan anak-anak penghuni panti asuhan tersebut hidup dalam suasana yang bahagia. Namun, ketika seorang preman bernama Jerink (Edo Borne) memperkosa Lili (Widy Vierra), yang merupakan salah seorang gadis penghuni panti asuhan tersebut, kehidupan Rangga mulai berbalik arah secara drastis. Rangga, yang kemudian mendatangi Jerink guna melampiaskan rasa amarahnya, secara tidak sengaja kemudian membunuh Jerink dan akhirnya menghantarkan dirinya masuk ke lembaga pemasyarakatan.

Continue reading Review: Sang Martir (2012)

Review: Tanah Surga… Katanya (2012)

Deddy Mizwar sepertinya belum puas untuk bermain di sekitar wilayah drama satir. Setelah film-film semacam Kentut (2011) dan Alangkah Lucunya (Negeri Ini) (2010), Deddy kembali hadir sebagai produser – sekaligus hadir sebagai pemeran dalam kapasitas terbatas – untuk film terbaru arahan Herwin Novianto (Jagad X Code, 2009) yang berjudul Tanah Surga… Katanya. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Danial Rifki, Tanah Surga… Katanya mencoba untuk membahas struktur kehidupan masyarakat yang berada di daerah perbatasan negara Indonesia – Malaysia, khususnya dari segi ekonomi. Sebuah sentuhan kritis yang jelas terasa begitu sensitif, namun Tanah Surga… Katanya mampu menyajikannya dengan penceritaan yang elegan.

Continue reading Review: Tanah Surga… Katanya (2012)