Tag Archives: Asian Cinema

Review: Boven Digoel (2017)

Boven Digoel adalah nama sebuah kabupaten yang lokasinya terletak di Provinsi Papua, Republik Indonesia. Namun, bagi masyarakat Indonesia, nama Boven Digoel jelas akan selamanya diingat sebagai lokasi bersejarah tempat tokoh-tokoh pergerakan nasional seperti Mohammad Hatta, Sutan Syahrir dan Sayuti Melik diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda pada masa penjajahan dahulu. Lokasinya yang jauh dan terpelosok jelas menjadi faktor utama mengapa pemerintah Belanda memilih tempat tersebut untuk mencegah para tokoh-tokoh tersebut dalam memberikan pengaruh lebih besar kepada rakyat Indonesia untuk terus berjuang dalam meraih kemerdekaan negara mereka. Di saat yang bersamaan, letak Boven Digoel yang terpencil itu pula yang membuat daerah tersebut mengalami ketertinggalan pembangunan yang cukup jauh dibandingkan dengan banyak wilayah lain bahkan bertahun-tahun setelah Indonesia meraih kemerdekaannya. Continue reading Review: Boven Digoel (2017)

Review: Pertaruhan (2017)

Setelah sebelumnya menjadi produser bagi film-film Indonesia seperti Coklat Stroberi (2007) dan Tarzan ke Kota (2008), Krishto Damar Alam melakukan debut pengarahannya melalui Pertaruhan yang naskah ceritanya ditulis oleh Upi – yang baru saja meraih sukses besar lewat My Stupid Boss (2016), Sebagai sebuah debutan, Alam harus diakui mampu menampilkan filmnya dengan ritme pengisahan yang tepat, kualitas produksi yang meyakinkan sekaligus berhasil menghadirkan penampilan prima dari jajaran pengisi departemen aktingnya yang diisi nama-nama seperti Tio Pakusadewo, Adipati Dolken, Aliando Syarief, Jefri Nichol dan Giulio Parengkuan. Film ini, sayangnya, kemudian harus takluk terhadap lemahnya penulisan naskah cerita yang akhirnya membuat Pertaruhan gagal untuk tampil untuk menjadi sebuah drama yang lebih mengesankan. Continue reading Review: Pertaruhan (2017)

Review: Raees (2017)

Bersinggungan dengan tema agama dan politik dalam jalan cerita filmnya bukanlah hal yang baru bagi sutradara Rahul Dholakia. Dua film yang ia arahkan sebelumnya membuktikan akan hal tersebut: Parzania (2007) yang mengangkat tentang kerusuhan antar umat beragama yang terjadi di Gujarat, India pada tahun 2002 dan Lamhaa (2010) yang berkisah tentang konflik perebutan wilayah Kashmir antara India dengan Pakistan. Dholakia bahkan berhasil memenangkan penghargaan Best Director untuk arahannya bagi Parzania dari ajang penghargaan film tertinggi di India, National Film Awards, pada tahun 2007. Untuk film terbarunya, Raees, Dholakia berkisah mengenai kehidupan seorang kriminal yang memiliki pengaruh yang begitu kuat sehingga banyak polisi dan politisi yang takluk pada perintahnya – sebuah alur kisah yang dikabarkan terinspirasi dari sosok kriminal asal Gujarat, India bernama Abdul Latif meskipun pernyataan tersebut kemudian dibantah oleh Dholakia. Continue reading Review: Raees (2017)

Review: Kaabil (2017)

Dalam tradisi Zinda (2006) yang alur ceritanya terinspirasi dari Oldboy (Park Chan-wook, 2003), Musafir (2004) yang membasiskan pengisahannya pada U Turn (Oliver Stone, 1997) serta Kaante (2002) yang naskah ceritanya ditulis berdasarkan Reservoir Dogs (Quentin Tarantino, 1992), sutradara spesialis crime thriller, Sanjay Gupta, kali ini menghadirkan film terbarunya, Kaabil. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Vijay Kumar Mishra dan Sanjay Masoom serta plot penceritaan yang terinspirasi dari Blind Fury (Phillip Noyce, 1989) dan Broken (Lee Jeong-ho, 2014), Kaabil berkisah tentang usaha seorang suami untuk mencari tahu dan membalaskan dendam kematian istrinya. Dipadukan dengan sentuhan drama romansa, Kaabil sebenarnya memiliki potensi yang kuat untuk tampil sebagai sebuah pengisahan yang memikat. Sayangnya, pengarahan Gupta atas ritme penceritaan Kaabil yang seringkali terasa goyah membuat film ini gagal untuk meninggalkan kesan emosional yang lebih kuat. Continue reading Review: Kaabil (2017)

Review: A Gift (2016)

Seperti halnya mantan Presiden Republik Indonesia, Soesilo Bambang Yudhoyono, mantan pemimpin negara Thailand yang baru saja meninggal akhir tahun lalu, Raja Bhumibol Adulyadej, memiliki ketertarikan yang luar biasa kepada musik. Sang raja, yang merupakan komposer sekaligus peniup saksofon jazz yang handal dan telah menulis puluhan komposisi lagu, bahkan menjadi orang Asia pertama yang mendapatkan anugerah penghargaan Sanford Medal dari Yale School of Music di tahun 2000 atas kontribusinya untuk dunia musik. Sebuah dokumenter yang berkisah tentang sang raja dan kecintaannya pada dunia musik berjudul Gitarajan juga pernah dirilis oleh pemerintah Thailand pada tahun 1996. Kini, sebagai bagian dari penghormatan kepada sang raja, rumah produksi Thailand, GDH 559, merilis A Gift yang merupakan omnibus berisi tiga film pendek yang alur kisahnya terinspirasi dari tiga lagu yang pernah ditulis oleh Raja Bhumibol Adulyadej. Continue reading Review: A Gift (2016)

Review: Cek Toko Sebelah (2016)

Ernest Prakasa memang bukanlah komika pertama yang mencoba peruntungannya dalam menggali dan mengembangkan bakat mereka dalam mengarahkan sebuah film layar lebar ketika ia merilis Ngenest di tahun 2015 lalu. Namun, berbeda dengan film-film yang diarahkan rekan-rekan sepantarannya yang memiliki warna penceritaan yang lebih menyasar pada penonton muda dan remaja, Prakasa menggarap Ngenest sebagai sebuah drama komedi yang bertutur secara lebih dewasa. Film yang jalan ceritanya diadaptasi dari tiga buku yang juga ditulis oleh Prakasa tersebut kemudian berhasil meraih kesuksesan, baik mendapatkan tanggapan positif dari banyak kritikus sekaligus mampu menarik sejumlah besar penonton film Indonesia. Tak pelak lagi, kesuksesan Ngenest berhasil mendorong nama Prakasa menjadi salah satu sutradara muda baru dengan karya mendatangnya yang layak untuk dinantikan. Continue reading Review: Cek Toko Sebelah (2016)

Review: Dangal (2016)

Setiap penggemar film-film Bollywood tahu bahwa musim liburan Natal berarti sebuah film yang dibintangi Aamir Khan akan dirilis untuk menyapa mereka. Untuk tahun ini – mengikuti Taare Zameen Par (Khan, 2007), Ghajini (A.R. Murugadoss, 2008), 3 Idiots (Rajkumar Hirani, 2009), Dhoom 3 (Vijay Krishna Acharya, 2013) dan PK (Hirani, 2014) – Khan membintangi sekaligus menjadi produser bagi Dangal, sebuah film bertema olahraga yang mendasarkan kisahnya pada kehidupan nyata mengenai mantan atlet gulat India, Mahavir Singh Phogat, yang kemudian mendorong keras kedua puterinya untuk mengikuti jejaknya menjadi seorang atlet gulat. Didukung oleh penulisan cerita yang kuat sekaligus pengarahan Nitesh Tiwari yang begitu handal serta penampilan para pengisi departemen aktingnya yang tampil begitu memikat, Dangal tidak hanya sukses menjadi sebuah film olahraga yang penuh dengan momen menegangkan namun juga sebuah sajian film keluarga yang terasa hangat dan begitu emosional. Continue reading Review: Dangal (2016)

Review: The Professionals (2016)

Setelah terakhir kali mengarahkan Negeri 5 Menara (2012) – dan kemudian lebih memilih untuk menghabiskan waktunya menjadi produser maupun produser eksekutif bagi film-film seperti 7/24 (Fajar Nugros, 2014), Di Balik 98 (Lukman Sardi, 2015) serta Surat Cinta untuk Kartini (Azhar Kinoi Lubis, 2016) dan Me vs Mami (Ody C. Harahap, 2016), Affandi Abdul Rachman kembali duduk di kursi penyutradaraan untuk The Professionals. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Baskoro Adi (Kampung Zombie, 2015) dan Stella Gunawan (Ghost Diary, 2016), The Professionals adalah sebuah heist movie yang jelas bukanlah sebuah jenis film yang sering diproduksi oleh pembuat film Indonesia namun jelas akan mengingatkan banyak pecinta film akan film-film bertema sama buatan Hollywood seperti Entrapment (Jon Amiel, 1999), Inception (Christopher Nolan, 2010) dan, khususnya, Ocean’s Eleven (Steven Soderbergh, 2001). A challenging task for sure but can Rachman pull it off? Continue reading Review: The Professionals (2016)

Review: Hangout (2016)

Film garapan terbaru Raditya Dika, Hangout, dibintangi oleh Dika bersama dengan Soleh Solihun, Prilly Latuconsina, Gading Marten, Bayu Skak, Surya Saputra, Dinda Kanya Dewi, Titi Kamal dan Mathias Muchus – yang masing-masing berperan sebagai “versi alternatif” dari diri mereka sendiri. Kesembilan tokoh publik tersebut secara tidak sengaja bertemu di sebuah pulau setelah masing-masing mendapatkan sebuah undangan dari sosok yang sebelumnya belum familiar bagi mereka namun diduga sebagai seorang produser yang berencana akan melakukan proses casting untuk film terbarunya. Dalam suasana santai, kesembilannya menikmati saja semua fasilitas liburan yang telah diberikan pada mereka. Horor kemudian dimulai ketika Mathias Muchus tewas akibat racun yang secara tidak sadar ia konsumsi ketika makan malam. Panik jelas melanda kedelapan orang yang tersisa. Ancaman kematian yang menjebak mereka di pulau tersebut siap menjemput nyawa mereka satu persatu. Continue reading Review: Hangout (2016)

Review: Headshot (2016)

Enam tahun setelah merilis Rumah Dara, duo sutradara Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel yang lebih dikenal sebagai Mo Brothers kembali hadir dengan film arahan terbaru mereka, Headshot. Berbeda dengan Rumah Dara yang berhasil meraih sejumlah penggemar fanatik dari kalangan pecinta horor sekaligus menjadikan karakter utamanya, Dara, menjadi salah satu karakter ikonik dari film horor Indonesia, Headshot adalah sebuah film aksi yang lebih bercermin pada Killers (2014) yang menjadi debut penyutradaraan layar lebar perdana bagi karir solo Tjahjanto. Sayangnya, serupa dengan Rumah Dara maupun Killers, Headshot masih menampilkan Mo Brothers dengan permasalahan yang sama: pengembangan konflik dan karakter yang seringkali terasa (terlalu) minimalis dan kurang meyakinkan. Continue reading Review: Headshot (2016)

Review: Dear Zindagi (2016)

Genius is about knowing when to stop.”

We are all our own teachers in the school of life.”

Don’t let the past blackmail your presentto ruin a beautiful future.”

Nope. Ketiga “kalimat mutiara” diatas bukanlah kutipan yang diambil dari sebuah buku motivasional diri yang kini sedang popular dan banyak ditemukan di berbagai toko buku. Kalimat diatas, dan puluhan kalimat senada lainnya, dikutip dari dialog yang dituliskan oleh Gauri Shinde untuk film arahan terbarunya, Dear Zindagi. Tentu saja, bukanlah sebuah masalah jika sebuah film menggunakan dialog-dialog puitis untuk membentuk jalinan interaksi antara karakter-karakternya. Hal yang berbeda terjadi pada Dear Zindagi. Continue reading Review: Dear Zindagi (2016)

Review: Cinta Laki-Laki Biasa (2016)

Setelah sebelumnya bekerjasama dalam Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea (2016), sutradara Guntur Soeharjanto kembali bekerjasama dengan penulis Asma Nadia dan Alim Sudio untuk Cinta Laki-Laki Biasa. Well… Judul film ini mungkin akan membuat beberapa orang lantas memandang sebelah mata. Atau malah premis yang dijual tentang kisah cinta segitiga dalam balutan nuansa reliji yang, harus diakui, telah terlalu sering “dieksploitasi” oleh banyak pembuat film Indonesia. Namun, jika Anda mampu melepas segala prasangka dan memberikan film ini sebuah kesempatan, Cinta Laki-Laki Biasa adalah sebuah drama romansa yang tergarap dengan cukup baik, mulai dari penataan naskah dan ritme penceritaan hingga chemistry yang terasa begitu hangat dan meyakinkan antara dua bintang utamanya, Deva Mahenra dan Velove Vexia. Continue reading Review: Cinta Laki-Laki Biasa (2016)

Review: Rumah Malaikat (2016)

Cukup mudah untuk merasakan bahwa Billy Christian adalah salah satu sosok pembuat film Indonesia yang memiliki begitu banyak ide segar di kepalanya. Lihat saja film-film horor yang pernah ia garap seperti Tuyul – Part 1 (2015) atau Kampung Zombie (2015) yang mampu hadir dengan sentuhan kesegaran ide yang cukup berbeda jika dibandingkan dengan kebanyakan film horor produksi pembuat film Indonesia lainnya. Bahkan pada film komedi seperti The Legend of Trio Macan (2013) atau drama romansa seperti 7 Misi Rahasia Sophie (2013), Christian tetap mampu menyelipkan sentuhan-sentuhan tersebut untuk membuat filmnya terasa lebih berisi meskipun dengan jalan cerita yang sebenarnya telah familiar. Continue reading Review: Rumah Malaikat (2016)