Tag Archives: Antonio Banderas

Review: The SpongeBob Movie: Sponge Out of Water (2015)

The-SpongeBob-Movie-Sponge-Out-of-water-posterMeskipun berhasil meraih kesuksesan komersial luar biasa ketika dirilis pada tahun 2004 lalu, ternyata membutuhkan waktu lebih dari sepuluh tahun bagi Paramount Animation untuk merilis sekuel dari The SpongeBob SquarePants Movie. Sekuel dari film yang karakter-karakternya diadaptasi dari salah satu serial animasi televisi paling popular di dunia ini sendiri, The SpongeBob Movie: Sponge Out of Water, tidak memiliki keterikatan cerita dengan film sebelumnya. Namun, tetap saja, The SpongeBob Movie: Sponge Out of Water masih mengandalkan deretan karakter dengan perilaku unik plus sentuhan komedi yang tak kalah aneh yang memang semenjak lama menjadi ciri khas dari serial animasi televisi SpongeBob SquarePants produksi Nickelodeon. Dan karena faktor itu pula yang menjadikan film gabungan animasi tradisional, CGI dan live-action ini masih mampu bekerja dengan baik dalam menghibur seluruh penontonnya.

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh duo Jonathan Aibel dan Glenn Berger (Alvin and the Chipmunks: Chipwrecked, 2011), The SpongeBob Movie: Sponge Out of Water mengisahkan mengenai kekisruhan yang terjadi di Bikini Bottom ketika seluruh masyarakat kota tersebut menyadari bahwa resep Krabby Patty yang begitu popular menghilang secara misterius dari restoran Krusty Krab milik Mr. Krabs (Clancy Brown). Untuk mencegah terjadinya kekacauan yang lebih luas, SpongeBob SquarePants (Tom Kenny) bersama dengan teman-temannya, Patrick Star (Bill Fagerbakke), Squidward Tentacles (Rodger Bumpass), Sandy Cheeks (Carolyn Lawrence) dan bahkan musuh bebuyutan Mr. Krabs, Plankton (Mr. Lawrence), akhirnya saling bekerjasama untuk mencari keberadaan resep Krabby Patty.

Well… berpegangan penuh pada salah satu bagian lirik lagu pembuka serial animasi televisi SpongeBob SquarePants, “If nautical nonsense be somethin’ ya wish”, The SpongeBob Movie: Sponge Out of Water memang menawarkan alur penceritaan dunia laut yang benar-benar aneh dan tidak masuk akal. Namun, justru hal itulah yang memang menjadi kelebihan SpongeBob SquarePants jika dibandingkan dengan serial animasi televisi lainnya – dan sebuah faktor yang membuat SpongeBob SquarePants mampu menjangkau demografi penonton berusia dewasa. Guyonan tentang bajak laut yang konyol, burung-burung camar yang gemar bernyanyi dan mendengarkan cerita, kerusuhan karena hilangnya sejenis junk food, otak yang berisi hal-hal manis dan berwarna hingga sosok lumba-lumba yang digambarkan mengawasi pergerakan alam semesta mengisi perjalanan 92 menit durasi film ini. Aneh? Jelas. Untungnya naskah cerita film ini tetap mampu memfokuskan diri pada kerjasama dan persahabatan karakter-karakternya daripada menawarkan serangkaian guyonan aneh kepada para penontonnya.

Harus diakui, guyonan yang ditawarkan oleh The SpongeBob Movie: Sponge Out of Water jelas akan lebih mampu bekerja pada mereka yang memang menggemari serial animasi televisi SpongeBob SquarePants sendiri. Bahkan, jika dibandingkan dengan film pertamanya, The SpongeBob Movie: Sponge Out of Water kadang terkesan memiliki jangkauan penceritaan yang terlampau acak untuk dapat dinikmati secara serius. The SpongeBob Movie: Sponge Out of Water memang bukan dibuat dengan kecermatan penceritaan yang dinamis. Membutuhkan waktu beberapa saat untuk dapat menyesuaikan diri dengan jenis guyonan yang disajikan film ini. Dan, jika Anda benar-benar mampu menikmati kegilaan yang ditawarkan jalan cerita The SpongeBob Movie: Sponge Out of Water, maka Anda akan sangat menikmati unsur hiburan yang dibawakannya.

Terlepas dari berbagai sudut pandang mengenai komedi yang ditawarkan The SpongeBob Movie: Sponge Out of Water, film ini tersaji dengan dukungan pengarahan dan tata teknis yang cukup memuaskan. Duo sutradara Paul Tibbitt – yang memang telah berpengalaman dalam mengarahkan serial animasi televisi SpongeBob SquarePants – serta Mike Mitchell – yang bertugas untuk mengarahkan segmen live-action dalam film ini, mampu mengeksekusi jalan cerita dengan ritme penceritaan yang begitu cepat sehingga mempersempit ruang kedataran dalam penceritaan. Perpaduan animasi tradisional, CGI dan live-action dalam film ini juga berhasil disajikan dengan baik dan terasa nyata presentasinya. Bukan sebuah film animasi yang akan dapat bertarung dalam berbagai ajang penghargaan film berkelas namun The SpongeBob Movie: Sponge Out of Water tetap mampu hadir sebagai sebuah sajian hiburan yang sulit untuk ditolak begitu saja. [B-]

The SpongeBob Movie: Sponge Out of Water (2015)

Directed by Paul Tibbitt, Mike Mitchell Produced by Paul Tibbitt, Mary Parent Written by Glenn Berger, Jonathan Aibel (screenplay), Stephen Hillenburg, Paul Tibbitt (story), Stephen Hillenburg (animated series, SpongeBob SquarePants) Starring Tom Kenny, Bill Fagerbakke, Rodger Bumpass, Clancy Brown, Carolyn Lawrence, Mr. Lawrence, Matt Berry, Jill Talley, Mary Jo Catlett, Lori Alan, Dee Bradley Baker, Nolan North, Paul Tibbitt, Carlos Alazraqui, Eric Bauza, Tim Conway, Eddie Deezen, Rob Paulsen, Kevin Michael Richardson, April Stewart, Cree Summer, Billy West, Carlos Alazraqui, Antonio Banderas Music by John Debney Cinematography Phil Meheux Edited by David Ian Salter Production company Paramount Animation/Nickelodeon Movies/United Plankton Pictures Running time 92 minutes Country United States Language English

Review: Haywire (2012)

Adalah sangat mudah untuk membayangkan Haywire jatuh ke tangan seorang sutradara yang ahli dalam menangani film-film aksi untuk kemudian dieksekusi sebagai sebuah film yang menempatkan sang karakter wanita utama berjuang menuntut keadilan dan mencari kebenaran mengenai sebuah masalah dengan melalui berbagai perjuangan yang mengharuskannya untuk menghadapi sekelompok pria bersenjata dan pertarungan yang diwarnai dengan pertumpahan darah. Namun, Anda tentu tidak akan mengharapkan hal yang sama akan terjadi bila plot cerita tersebut jatuh ke tangan seorang sutradara yang sebelumnya pernah mengeksekusi jalan cerita mengenai pembasmian sebuah virus mematikan menjadi semacam sebuah video essay saintifik yang mungkin hanya dapat dicerna dengan mudah oleh mereka yang berkecimpung dalam dunia kesehatan bukan?

Continue reading Review: Haywire (2012)

Review: Puss in Boots (2011)

Ketika karakter Puss in Boots ditampilkan dalam Shrek 2 (2004) dan berhasil mencuri perhatian (dan hati) penonton dunia lewat tatapan matanya yang tidak dapat ditolak itu, DreamWorks Animation tentu tahu bahwa adalah sebuah keputusan yang sangat bodoh jika mereka tidak memanfaatkan momen tersebut untuk membuatkan sebuah film petualangan khusus bagi karakter Puss in Boots yang, tentu saja, akan memberikan mereka lebih banyak keuntungan komersial. Setelah kemudian muncul kembali dalam Shrek the Third (2007) dan Shrek Forever After (2010), karakter Puss in Boots akhirnya mendapatkan perlakukan istimewanya dengan dirilisnya Puss in Boots yang diarahkan oleh Chris Miller yang sebelumnya pernah mengarahkan Shrek the Third.

Continue reading Review: Puss in Boots (2011)

Review: Shrek: The Final Chapter (2010)

Semenjak petualangannya dimulai sembilan tahun lalu, para penggemar animasi telah melihat Shrek tumbuh menjadi seorang yang berbeda. Pada awalnya sebagai seorang monster yang menakutkan semua orang, Shrek kemudian berubah menjadi seorang monster yang telah menjadi favorit semua orang setelah ia menyelamatkan Puteri Fiona. Namun, tetap saja, di dalam diri Shrek sebenarnya, ia merindukan kebebasan dan keliaran dari seorang monster sejati seperti yang pernah ia dapat dulu sebelum bertemu Fiona.

Continue reading Review: Shrek: The Final Chapter (2010)