Tag Archives: Anthony Mackie

Review: Ant-Man (2015)

ant-man-posterJika barisan pahlawan super dan berbagai varian yang telah dikenal selama ini masih belum mampu memuaskan Anda… wellmeet Ant-Man. Seperti halnya Captain America: The Winter Soldier (Anthony Russo dan Joe Russo, 2014) atau Guardians of the Galaxy (James Gunn, 2004) atau Avengers: Age of Ultron (Joss Whedon, 2015), Ant-Man juga merupakan satu karakter pahlawan super yang kisahnya diadaptasi dari seri komik terbitan Marvel Comics. Pertama kali dirilis ke hadapan publik pada tahun 1962, usaha untuk mengangkat kisah Ant-Man ke layar lebar sendiri telah dimulai semenjak akhir tahun 1980an. Namun, baru semenjak tahun 2003 ketika sutradara Edgar Wright (Scott Pilgrim vs. The World, 2010) bersama dengan rekan penulis naskahnya, Joe Cornish, memulai usaha untuk membangun penceritaan untuk Ant-Man, adaptasi kisah untuk versi layar lebar dari Ant-Man baru mulai benar-benar berjalan. Dengan naskah cerita final yang juga dibantu oleh sentuhan komedi Adam McKay (The Other Guys, 2010) dan Paul Rudd, Ant-Man akhirnya memulai masa produksinya pada akhir tahun 2014 dengan arahan sutradara Peyton Reed (Yes Man, 2008) untuk dipersiapkan sebagai salah satu sentuhan akhir bagi fase kedua dari Marvel Cinematic Universe.

Jika Peter Parker adalah Spider-Man dan Steve Rogers adalah Captain America dan Bruce Banner adalah Hulk, maka Scott Lang (Paul Rudd) adalah kepribadian yang berada di balik kostum Ant-Man. Who’s Scott Lang? Scott Lang adalah seorang mantan narapidana yang kemudian dipilih oleh seorang ilmuwan bernama Hank Pym (Michael Douglas) untuk mengenakan kostum Ant-Man yang ia ciptakan. Dengan kostum tersebut, Scott Lang memiliki kekuatan untuk mengecilkan tubuhnya setara dengan ukuran… well… semut, obviously, sekaligus berbagai kekuatan lainnya. Hank Pym sendiri memberikan kostum Ant-Man tersebut pada Scott Lang bukannya tanpa alasan. Hank Pym berniat untuk menghalangi proyek mantan muridnya, Darren Cross (Corey Stoll), yang meniru formula Ant-Man yang diciptakannya untuk kemudian dijual kepada pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab dan dapat mengancam perdamaian dunia.

Layaknya kebanyakan bagian awal dari sebuah seri film yang berkisah tentang seorang pahlawan super, Ant-Man juga menghabiskan sebagian durasi penceritaannya untuk menggali lebih dalam mengenai sosok karakter yang berada di balik tokoh Ant-Man sekaligus karakter-karakter lain yang berada di kehidupannya. Tentu, jika dibandingkan dengan kebanyakan film rilisan Marvel Studios sebelumnya yang tampil maksimal dalam penggarapan deretan adegan aksinya yang bombastis, tampilan Ant-Man yang hadir dengan ritme penceritaan yang sederhana dan lebih menekankan unsur drama akan memberikan sedikit kejutan bagi para penontonnya, khususnya mereka yang mungkin telah cukup familiar dengan film-film yang berada dalam Marvel Cinematic Universe. Buruk? Sama sekali tidak. Perubahan warna penceritaan yang dibawa Ant-Man justru memberikan kejutan yang menyegarkan sekaligus jeda yang mungkin memang dibutuhkan oleh sejenis.

Jangan khawatir. Ant-Man masih mampu menghadirkan deretan adegan aksi yang tergarap dengan cukup baik dalam banyak bagian penceritaannya. Namun, adalah unsur drama dan komedi yang menjadikan Ant-Man tampil begitu memikat. Jika selama ini unsur komedi hanya menjadi formula tambahan dalam film-film rilisan Marvel Studios, maka Ant-Man menjadikan formula tersebut sebagai bahan utamanya, meracik tiap adegan dan dialog dengan sentuhan komedi yang kental walaupun sama sekali tidak pernah melepaskan identitas sejatinya sebagai sebuah film bertemakan pahlawan super buatan Marvel Studios. Naskah cerita garapan Wright, Cornish, McKay dan Rudd mampu tersusun dengan baik untuk mengenalkan sang karakter pahlawan super kepada penonton. Begitu pula dengan eksekusi Reed atas naskah cerita tersebut yang – meskipun masih terasa datar pada bagian akhir paruh pertama hingga pertengahan paruh kedua penceritaan – menjadikan Ant-Man sebagai sebuah sajian kisah yang sangat menarik dan menghibur.

Kelihaian Marvel Studios dalam memilih deretan aktor yang tepat untuk menghidupkan karakter-karakter mereka juga sekali lagi menjadi poin keunggulan tersendiri bagi Ant-Man. Paul Rudd tampil begitu mengesankan sebagai Scott Lang/Ant-Man. Kharismanya yang kuat mampu membuat karakternya sebagai sosok pria/ayah/pahlawan super menjadi begitu humanis sekaligus mudah untuk disukai. Chemistry yang dijalin Rudd dengan para pemeran lain juga menjadikan naskah cerita Ant-Man yang cukup bergantung pada deretan dialognya tampil dinamis dalam presentasinya. Para pemeran pendukung seperti Michael Douglas, Evangeline Lilly hingga Corey Stoll juga hadir dengan penampilan akting yang prima. Namun adalah Michael Peña yang seringkali hadir dan mencuri perhatian dengan penampilan komikalnya. Peran Peña memang harus diakui cukup terbatas. Meskipun begitu, Peña mampu mengeksekusi setiap bagian kisahnya dengan begitu baik. [B-]

Ant-Man (2015)

Directed by Peyton Reed Produced by Kevin Feige Written by Edgar Wright, Joe Cornish, Adam McKay, Paul Rudd (screenplay), Edgar Wright, Joe Cornish (story), Stan Lee, Larry Lieber, Jack Kirby (comic book, Ant-Man) Starring Paul Rudd, Evangeline Lilly, Corey Stoll, Bobby Cannavale, Michael Peña, Tip “T.I.” Harris, Anthony Mackie, Wood Harris, Judy Greer, David Dastmalchian, Michael Douglas, John Slattery, Hayley Atwell, Abby Ryder, Gregg Turkington, Martin Donovan, Garrett Morris, Stan Lee, Chris Evans, Sebastian Stan, Hayley Lovitt Music by Christophe Beck Cinematography Russell Carpenter Edited by Dan Lebental, Colby Parker, Jr. Studio Marvel Studios Running time 117 minutes Country United States Language English

Review: Avengers: Age of Ultron (2015)

avengers-age-of-ultron-posterSetelah kesuksesan luar biasa dari The Avengers (2012) – yang tidak hanya berhasil meraih pujian luas dari banyak kritikus film dunia namun juga mampu menarik perhatian penonton dan menjadikannya sebagai film dengan kesuksesan komersial terbesar ketiga di dunia setelah Avatar (2009) dan Titanic (1997) – kumpulan pahlawan dari Marvel Comics kembali hadir lewat Avengers: Age of Ultron. Masih disutradarai oleh Joss Whedon, Avengers: Age of Ultron memberikan sedikit perubahan radikal dalam warna penceritaannya. Berbeda dengan The Avengers yang menghadirkan banyak sentuhan komedi melalui deretan dialognya, film yang juga menjadi film kesebelas dalam rangkaian film dari Marvel Cinematic Universe ini tampil dengan deretan konflik yang lebih kompleks sekaligus kelam dari pendahulunya – atau bahkan dari seluruh film-film produksi Marvel Studios sebelumnya. Sebuah pilihan yang cukup beresiko dan, sayangnya, gagal untuk dieksekusi secara lebih dinamis oleh Whedon.

Dalam Avengers: Age of Ultron, Tony Stark (Robert Downey, Jr.) bekerjasama dengan Bruce Banner (Mark Ruffalo) untuk menghasilkan sebuah teknologi kecerdasan buatan yang awalnya ditujukan untuk membantu The Avengers dalam melaksanakan setiap tugas mereka. Sial, program yang diberi nama Ultron (James Spader) tersebut justru berbalik arah. Dengan tingkat kecerdasan tinggi yang diberikan kepadanya, Ultron justru merasa bahwa The Avengers adalah ancaman bagi kedamaian dunia dan akhirnya memilih untuk memerangi mereka. Dibantu dengan pasangan kembar Pietro (Aaron Taylor-Johnson) yang memiliki kecepatan super dan Wanda Maximoff (Elizabeth Olsen) yang memiliki kemampuan untuk memanipulasi jalan pemikiran orang lain, Ultron memberikan sebuah tantangan berat yang tidak hanya mengancam keberadaan The Avengers namun juga keberadaan seluruh umat manusia yang ada di atas pemukaan Bumi.

Pilihan untuk tampil “lebih dewasa” lewat jalan penceritaan lebih kompleks dan kelam yang dituliskan oleh Joss Whedon sendiri sebenarnya bukanlah sebuah pilihan yang buruk untuk Avengers: Age of Ultron. Namun, dengan banyaknya karakter serta beberapa konflik personal lain yang masih tetap ingin diberikan ruang penceritaan khusus oleh Whedon, Avengers: Age of Ultron akhirnya justru terasa dibebani terlalu banyak permasalahan dengan ruang yang lebih sempit bagi konflik-konflik tersebut untuk berkembang dan hadir dengan porsi cerita yang memuaskan. Ketiadaan fokus yang kuat bagi setiap masalah yang dihadirkan inilah yang membuat Avengers: Age of Ultron terasa bertele-tele dalam mengisahkan penceritaannya dan akhirnya turut mempengaruhi pengembangan kisah personal beberapa karakter yang sebelumnya justru menjadi salah satu poin terbaik dari pengisahan The Avengers.

Berbicara mengenai Ultron, karakter antagonis yang satu ini harus diakui gagal tersaji secara lebih menarik jika dibandingkan dengan karakter antagonis dari seri sebelumnya, Loki. Terlepas dari kecerdasan luar biasa yang ia miliki, Ultron terasa hanyalah sebagai sebuah variasi karakter antagonis standar dalam film-film bertema sejenis yang berniat untuk memberikan ujian fisik dan mental bagi para karakter utama hingga akhirnya dapat menemukan jalan untuk mencapai tujuan hidup mereka: menjadi penguasa dunia. Vokal James Spader sendiri mampu memberikan warna karakteristik dingin yang sangat sesuai bagi Ultron namun hal tersebut tetap saja tidak mampu membuat Ultron tampil lebih menarik lagi.

Terlepas dari beberapa kelemahan tersebut, Avengers: Age of Ultron sendiri masih mampu dengan beberapa sentuhan humanis dalam penceritaannya. Beberapa plot pendukung seperti hubungan romansa yang sepertinya mulai terbangun antara karakter Bruce Banner dan Natasha Romanoff serta latar belakang keluarga yang dimiliki oleh karakter Clint Barton membuat sisi drama dari film ini tampil dengan kualitas yang cukup istimewa. Whedon, sayangnya, gagal memberikan porsi pengisahan yang sesuai untuk dua karakter baru, Pietro dan Wanda Maximoff, sehingga kehadiran keduanya seringkali terasa tidak lebih dari sekedar karakter tambahan tanpa esensi cerita yang cukup kuat untuk tampil lebih menarik.

Layaknya seri pendahulunya, Whedon masih mampu merangkai Avengers: Age of Ultron dengan kualitas departemen produksi yang sangat memikat. Jajaran pengisi departemen akting film ini juga hadir dengan penampilan akting yang semakin dinamis dengan chemistry yang semakin menguat antara satu dengan yang lain. Seandainya Whedon mau menghilangkan beberapa plot pendukung yang kurang esensial dan memilih untuk mengembangkan konflik utama film dengan lebih tajam, Avengers: Age of Ultron mungkin mampu hadir menyaingi kualitas penceritaan The Avengers – meskipun dengan nada penceritaan yang tetap hadir lebih kelam dan serius. Avengers: Age of Ultron tetap mampu memberikan beberapa momen khas film-film karya Marvel Studios yang akan dapat dinikmati penggemarnya. Namun lebih dari itu, film ini terasa dibebani terlalu banyak konflik yang akhirnya justru membuatnya gagal untuk berkembang dengan penceritaan yang lebih baik. [C]

Avengers: Age of Ultron (2015)

Directed by Joss Whedon Produced by Kevin Feige Written by Joss Whedon (screenplay), Zak Penn, Joss Whedon (story), Stan Lee, Jack Kirby (comics, The AvengersStarring Robert Downey Jr., Chris Hemsworth, Mark Ruffalo, Chris Evans, Scarlett Johansson, Jeremy Renner, Don Cheadle, Aaron Taylor-Johnson, Elizabeth Olsen, Paul Bettany, Cobie Smulders, Anthony Mackie, Hayley Atwell, Idris Elba, Stellan Skarsgård, James Spader, Samuel L. Jackson,  Linda Cardellini, Thomas Kretschmann, Claudia Kim, Andy Serkis, Julie Delpy, Stan Lee Music by Brian Tyler, Danny Elfman Cinematography Ben Davis Editing by Jeffrey Ford, Lisa Lassek Studio Marvel Studios Running time 141 minutes Country United States Language English

Review: Captain America: The Winter Soldier (2014)

Captain America: The Winter Soldier (Marvel Studios, 2014)
Captain America: The Winter Soldier (Marvel Studios, 2014)

So what went wrong with Captain America: The First Avenger (2011)? Well… terlepas dari pemilihan Chris Evans yang benar-benar memiliki penampilan, kharisma dan kemampuan yang tepat untuk memerankan sang karakter utama, Captain America: The First Avenger tidak pernah benar-benar terasa sebagai sebuah film yang diperuntukkan kepada Captain America secara keseluruhan. Dengan penggalian karakter utama yang cukup terbatas serta paruh penceritaan lanjutan yang kemudian menghadirkan beberapa karakter ciptaan Marvel Comics yang telah terlebih dahulu meraih popularitasnya, Captain America: The First Avenger lebih kental terasa sebagai media publikasi untuk mengenalkan karakter Captain America kepada penonton dalam skala luas sebelum karakter tersebut akhirnya diikutsertakan dalam The Avengers (2012) – yang sekaligus menjadikan Captain America: The First Avenger terasa seperti promosi berdurasi 125 menit bagi The Avengers. Bukan sebuah presentasi yang benar-benar buruk namun kurang mampu untuk memberikan kesan esensial sebagai pemicu hadirnya sebuah franchise superhero yang baru.

Continue reading Review: Captain America: The Winter Soldier (2014)

Review: Runner Runner (2013)

runner-runner-header

Anda mungkin masih belum familiar dengan nama Brad Furman. Namun, film kedua yang ia arahkan pada tahun 2008, The Lincoln Lawyer, berhasil mencuri perhatian para penikmat film ketika film tersebut mampu meraih kesuksesan komersial yang cukup mengesankan, mendapatkan pujian luas dari kalangan kritikus film dunia sekaligus memberikan nafas baru bagi karir Matthew McConaughey yang pada saat itu telah terlanjur terjebak dengan imej aktor yang memiliki spesialisasi film-film drama komedi romantis. Singkatnya, keberhasilan Furman dalam menggarap The Lincoln Lawyer jelas menjanjikan sebuah masa depan yang cukup cerah bagi sutradara asal Amerika Serikat tersebut. But thenRunner Runner comes along

Continue reading Review: Runner Runner (2013)

Review: Gangster Squad (2013)

gangster-squad-header

Diangkat berdasarkan kisah nyata yang terangkum dalam buku berjudul Tales from the Gangster Squad yang ditulis oleh Paul Lieberman, Gangster Squad mengisahkan mengenai usaha para anggota Los Angeles Police Department untuk mengenyahkan sekelompok penjahat yang dipimpin oleh Mickey Cohen (Sean Penn) dari Los Angeles pada sekitar tahun 1940an. Saat itu, Mickey Cohen dan kawanannya telah menjadi sosok penjahat yang begitu berpengaruh di masyarakat Los Angeles akibat keberhasilannya dalam merangkul banyak pejabat sekaligus para petinggi pihak kepolisian untuk selalu memuluskan maupun menghilangkan jejak kejahatannya. Obsesi Mickey Cohen sendiri tidak berhenti di Los Angeles. Ia beserta kawanannya mulai menyusun rencana untuk memperluas lagi jaringan kejahatannya hingga berbagai penjuru kota di Amerika Serikat maupun dunia.

Continue reading Review: Gangster Squad (2013)

Review: Abraham Lincoln: Vampire Hunter (2012)

Sebuah pelajaran Sejarah Dunia singkat: Abraham Lincoln adalah salah seorang Presiden Amerika Serikat yang paling dihormati di negara tersebut. Merupakan presiden keenambelas yang menduduki posisi tersebut pada tahun 1861 hingga 1865, Lincoln mampu membawa negaranya bangkit dari penderitaan panjang yang disebabkan oleh krisis konstitusional negara, militer hingga ekonomi. Lincoln juga merupakan seorang pemimpin Amerika Serikat yang dikenal begitu tangguh dalam memperjuangkan hak-hak persamaan antara warga kulit hitam dan kulit putih, menghapus sistem perbudakan sekaligus memulai gerakan modernisasi ekonomi dan keuangan negara tersebut. Begitu berkharismanya kepemimpinan Lincoln, ia seringkali ditempatkan sebagai presiden paling berpengaruh diantara seluruh Presiden Amerika Serikat yang pernah menjabat hingga saat ini.

Continue reading Review: Abraham Lincoln: Vampire Hunter (2012)

Review: Real Steel (2011)

Premis Real Steel yang mengisahkan mengenai pertarungan antara para robot kemungkinan besar akan membuat banyak penonton membayangkan berbagai adegan yang terdapat dalam franchise Transformers (2007 – 2011) milik Michael Bay. Namun, Real Steel sendiri merupakan sebuah film yang mendasarkan jalan ceritanya pada cerita pendek karya Richard Matheson yang berjudul Steel (1956) dan lebih menekankan pada perkembangan hubungan antara karakter ayah dan anak yang terdapat di dalam jalan cerita daripada mengumbar berbagai adegan aksi. Pun begitu, Shawn Levy sebagai seorang sutradara juga tidak serta merta meninggalkan sisi visual film ini dan turut mampu menghadirkan deretan adegan aksi dengan pencapaian special effect yang jauh dari kesan mengecewakan.

Continue reading Review: Real Steel (2011)