Tag Archives: Angga Dwimas Sasongko

Review: Filosofi Kopi the Movie (2015)

filosofi-kopi-the-movie-posterDiadaptasi dari sebuah cerita pendek berjudul Filosofi Kopi karya Dee Lestari, Filosofi Kopi the Movie berkisah mengenai dua sahabat, Ben (Chicco Jerikho) dan Jody (Rio Dewanto), yang kini mengelola sebuah kedai kopi yang mereka namakan Filosofi Kopi. Berbeda dengan kebanyakan tempat minum kopi lainnya, Filosofi Kopi menawarkan sebuah pengalaman meminum kopi yang maksimal dari biji kopi terbaik yang diolah dengan begitu seksama oleh Ben yang memang begitu terobsesi dengan kopi semenjak kecil. Sayang, hutang ratusan juta yang dimiliki oleh kedai kopi tersebut secara perlahan mulai memberikan kesulitan bagi Ben dan Jody untuk meneruskan usaha mereka. Sebuah kesempatan untuk terlepas dari lilitan utang muncul ketika seorang pengusaha (Ronny P. Tjandra) menawarkan uang Rp1 miliar kepada Ben dan Jody asalkan mereka dapat menghasilkan secangkir kopi paling enak bagi seorang penggila kopi yang juga akan menjadi calon investornya. Ben, yang selalu merasa bahwa ia adalah barista terbaik di Jakarta – bahkan Indonesia, jelas merasa tertantang akan tawaran tersebut. Namun, tawaran tersebut tidak hanya akan menguji kemampuan Ben dalam mengolah kopi. Secara perlahan, tawaran tersebut juga memberikan tantangan besar pada persahabatannya dengan Jody sekaligus kemampuannya dalam berhadapan dengan masa lalu yang semenjak lama telah ingin ia lupakan.

Berkaca dari Perahu Kertas (2012) – yang diadaptasi menjadi dua seri film, Rectoverso (2013), Madre (2013) serta Supernova: Ksatria, Putri, & Bintang Jatuh (2014), adalah tidak mudah untuk tetap mempertahankan berbagai filosofi pemikiran seorang Dee Lestari yang begitu personal sekaligus puitis dan kemudian membawanya untuk menjadi sebuah penceritaan audio visual yang lancar. Bahkan, berbagai penyesuaian yang dilakukan penulis naskah cerita film terhadap novel-novel Dee Lestari tersebut seringkali justru menghilangkan sebagian besar esensi utama tulisannya. Memang, ibaratnya menggarap secangkir kopi, tulisan-tulisan Dee Lestari adalah biji kopi dengan kualitas berkelas yang siap untuk diolah menjadi secangkir kopi nikmat. Namun, secangkir kopi nikmat tidak hanya hadir dari kualitas biji kopinya. Diperlukan tangan handal yang mengerti benar bagaimana kondisi dan kualitas biji kopi tersebut untuk kemudian dapat mengolahnya dengan tepat menjadi sajian yang dapat dinikmati banyak orang.

Beruntung Filosofi Kopi the Movie kemudian memiliki Jenny Jusuf dan Angga Dwimas Sasongko yang menjadi pengolah dan pembuat kopi penceritaan dari biji kopi cerita berkualitas karya Dee Lestari. Sebagai seorang penulis naskah cerita, Jenny Jusuf berhasil menyelami setiap konflik serta karakter yang hadir dalam cerita Filosofi Kopi untuk kemudian memberikan penyesuaian yang tepat bagi kisah Filosofi Kopi the Movie. Setiap karakter dalam film ini mampu diberikan ruang penceritaannya sendiri yang secara perlahan berkembang menjadi penceritaan utuh namun sama sekali tidak bertabrakan satu sama lain. Deretan konflik dari tiap karakter tersebut justru saling melengkapi dan berlindung dalam satu tema penceritaan besar mengenai persahabatan serta hubungan antara anak dan orangtua yang akan mampu menyentuh setiap penontonnya. Bukan berarti naskah cerita arahan Jenny Jusuf hadir tanpa ada kelemahan apapun – durasi film ini rasanya dapat lebih dipersingkat dengan mengurangi beberapa konflik dan karakter minor, namun jika dibandingkan dengan film-film yang naskah ceritanya berasal dari adaptasi karya Dee Lestari sebelumnya, Jenny Jusuf mampu memberikan keadilan tersendiri bagi Filosofi Kopi the Movie dengan sama sekali tidak menghilangkan kesan berbagai pemikiran filosofis popular yang biasanya selalu terpancar dari tulisan seorang Dee Lestari namun tetap menghadirkannya dalam tatanan bahasa yang mudah dicerna.

Jika Jenny Jusuf merupakan sosok yang memberikan olahan awal pada biji kopi penceritaan Filosofi Kopi milik Dee Lestari maka Angga Dwimas Sasongko adalah sosok yang bertanggungjawab untuk mengeksekusi – menyeduh dan menyajikan – kopi Filosofi Kopi the Movie bagi para penikmatnya. Seperti pada Hari Untuk Amanda (2010) dan Cahaya dari Timur: Beta Maluku (2014), Filosofi Kopi the Movie kembali membuktikan kepiawaian seorang Angga Dwimas Sasongko dalam bercerita. Angga mampu menyajikan Filosofi Kopi the Movie dalam tempo penceritaan yang tepat – tidak terlalu lamban dan tidak pernah terasa terburu-buru. Sentuhannya tersebut mampu membuat Filosofi Kopi the Movie terasa begitu akrab, nyaman dan terasa hangat dalam berkisah. Pengarahan teknikal Filosofi Kopi the Movie juga sangat berkelas mulai dari tata sinematografi hingga aransemen musik yang mampu mendukung atmosfer penceritaan film.

Dan, tentu saja, Filosofi Kopi the Movie juga menghadirkan departemen akting dalam kualitas terbaik. Jajaran pemerannya yang berisikan nama-nama seperti Chicco Jerikho, Rio Dewanto, Julie Estelle, Slamet Rahardjo hingga Jajang C. Noer berhasil memberikan penampilan yang begitu mampu menghidupkan setiap karakter yang mereka perankan. Chemistry yang tercipta antara Chicco Jerikho dengan Rio Dewanto juga terasa begitu kuat yang semakin mengukuhkan kekuatan persahabatan yang terjalin antara karakter Ben dan Jody yang mereka perankan. Secara keseluruhan, Filosofi Kopi the Movie jelas menunjukkan kematangan dari setiap orang yang terlibat didalamnya, mulai dari konsep penceritaan yang matang hingga eksekusi yang benar-benar mampu menghantarkan citarasa terbaik dari cerita yang ingin disampaikan. Sajian yang jelas layak dan wajib dinikmati oleh setiap penikmat film. [B-]

Filosofi Kopi the Movie (2015)

Directed by Angga Dwimas Sasongko Produced by Anggia Kharisma, Handoko Hendroyono Written by Jenny Jusuf (screenplay), Dee Lestari (short story, Filosofi Kopi) Starring Chicco Jerikho, Rio Dewanto, Julie Estelle, Jajang C. Noer, Slamet Rahardjo, Ronny P. Tjandra, Otig Pakis, Joko Anwar, Norman Akyuwen, Tara Basro, Verdi Solaiman, Tanta Ginting, Baim Wong Music by Glenn Fredly Cinematography Robie Taswin Editing by Ahsan Andrian Studio Visinema Pictures Running time 117 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Indonesian Movie Bloggers Choice Awards 2011 Nominations List

Inception, Alangkah Lucunya (Negeri Ini) dan Sang Pencerah memimpin daftar perolehan nominasi Indonesian Movie Bloggers Choice Awards 2011. Untuk di kategori film berbahasa asing, Inception berhasil meraih sebanyak 14 nominasi dari 18 kategori yang tersedia. Jumlah tersebut unggul satu kategori dari film karya David Fincher, The Social Network, yang membuntuti dengan perolehan sebanyak 13 nominasi. Inception dan The Social Network sendiri akan berhadapan di banyak kategori termasuk di kategori Film Jawara, Sutradara Jawara serta Naskah Jawara. Kedua film tersebut akan bersaing dengan The Ghost Writer, Toy Story 3 dan Uncle Boonme who can Recall His Past Lives untuk memperebutkan gelar sebagai Film Jawara.

Continue reading Indonesian Movie Bloggers Choice Awards 2011 Nominations List

Festival Film Indonesia 2010 Nominations List

Sebenarnya, di tengah persaingan antara banyak film-film berkualitas, adalah sangat wajar bila sebuah film yang dianggap sangat berpotensial untuk memenangkan banyak penghargaan ternyata tidak mendapatkan perhatian sedikitpun. Namun, tentu hal tersebut akan terdengar cukup mengherankan bila hal tersebut datang dari sebuah industri film yang kebanyakan film yang dihasilkannya adalah film-film berkualitas ‘buruk.’ Dan akan lebih sangat mengherankan lagi bila salah satu dari hanya beberapa film terbaik yang dihasilkan pada satu tahun di industri film tersebut malah sama sekali tidak mendapatkan perhatian dari sebuah penghargaan film terbesar di industri film tersebut.

Continue reading Festival Film Indonesia 2010 Nominations List

Review: Hari Untuk Amanda (2010)

Hari Untuk Amanda adalah sebuah film drama yang diarahkan oleh sutradara muda, Angga Dwimas Sasongko. Film ini pada awalnya akan dirilis tahun lalu, namun karena beberapa hal, Hari Untuk Amanda kemudian mengalami penundaaan rilis hingga awal tahun ini — yang mungkin sedikit menjelaskan mengapa gaya rambut Reza Rahardian berbeda antara poster dengan filmnya.

Continue reading Review: Hari Untuk Amanda (2010)