Tag Archives: Aida Nurmala

Review: This is Cinta (2015)

this-is-cinta-posterIt’s only February but heyit’s never too early to release the likely strong contender for the year’s worst movie, right? Dan beruntung, This is Cinta memiliki semua unsur yang akan membuat penontonnya merasa berdosa telah menghabiskan uang maupun waktu mereka guna menyaksikan film ini. Yes. It’s that bad.

Dengan naskah yang ditulis oleh Haqi Achmad (Refrain, 2013), This is Cinta bercerita mengenai seorang gadis bernama Rachel (Yuki Kato) dan seorang pemuda bernama Farel (Shawn Adrian Khulafa) yang dikisahkan telah menyukai satu sama lain semenjak mereka bersekolah di tingkat dasar namun kemudian terpisah ketika keluarga Rachel membawa gadis tersebut ke luar negeri. Meskipun terpisah dan sama sekali tidak pernah berkomunikasi satu sama lain, rasa suka antara keduanya tidak pernah menghilang dan justru terus menguat. Dua belas tahun kemudian, Rachel akhirnya kembali ke Indonesia. Tentu saja, Rachel dengan segera mencari dimana keberadaan Farel. Sayang, hubungan antara Rachel dan Farel kini terhambat oleh perjodohan yang dibentuk oleh Mama Rachel (Aida Nurmala) dengan anak dari sahabatnya, Nico (Fandy Christian).

Ada begitu banyak masalah dalam presentasi cerita This is Cinta. Yang pertama, dan mungkin sumber utama masalah terbesar bagi film ini, adalah naskah ceritanya. This is Cinta sebenarnya menawarkan garis penceritaan yang familiar dan jelas telah diramu oleh banyak film sejenis sebelumnya. Namun, ramuan Haqi Achmad untuk film ini terasa lemah di begitu banyak bagiannya – mulai dari penulisan dialog, karakter-karakter pendukung yang hadir tanpa porsi penceritaan yang jelas hingga motif dari beberapa karakter yang gagal untuk dikembangkan dengan baik. Lihat saja bagian dimana Mama Rachel digambarkan begitu membenci hubungan persahabatan antara anaknya dengan Farel tanpa penyebab yang pasti atau bagaimana karakter Nico tiba-tiba digambarkan menjadi sosok psikopat yang mampu menculik gadis idamannya atau ketika karakter Sasha (Fahira Alidrus) yang begitu menyukai Farel hadir di banyak adegan tanpa pernah dilibatkan atau serasa berguna dalam adegan tersebut. Terasa begitu konyol dan sangat, sangat menggelikan.

Tidak berhenti sampai disitu. Naskah cerita This is Cinta juga beberapa kali mengalami perubahan nada cerita pada paruh kedua dan ketiganya. Selain perubahan dari pengisahan drama romansa menjadi thriller ketika adegan karakter Nico digambarkan menculik dan menyekap Rachel, film ini juga berubah menjadi drama supranatural ketika jiwa dari karakter Rachel digambarkan terperangkap di dunia arwah dan tak mampu kembali lagi ke dunia nyata. Usaha yang sepertinya ingin meniru Just Like Heaven (Mark Waters, 2005) atau The Lovely Bones (Peter Jackson, 2009) namun sekali lagi berakhir sangat mamalukan akibat penulisan yang sangat lemah. Perubahan nada-nada penceritaan yang seringkali hadir secara tiba-tiba inilah yang membuat naskah cerita This is Cinta semakin terpuruk seiring dengan berjalannya durasi penceritaan film ini.

Pengarahan dari Sony Gaokasak (Bidadari-Bidadari Surga, 2012) juga jelas sama sekali tidak membantu. Sony terasa mengarahkan jalan cerita This is Cinta dengan tanpa adanya dorongan semangat sama sekali. This is Cinta akhirnya berjalan dengan ritme penceritaan yang berantakan dan datar dalam penyampaian emosionalnya. Keputusan Sony untuk menghadirkan gambar-gambar indah bagi This is Cinta memang cukup sesuai dengan mood penceritaan bagi film-film sejenis. Sayangnya, naskah penceritaan dan pengarahan yang demikian buruk telah mendorong kualitas This is Cinta untuk jatuh sedemikian dalam. Begitu pula dengan arahan musik dari Andhika Triyadi yang menampilkan tatanan musik khas film drama romansa Indonesia sejenis: berusaha (memaksa?) untuk menyentuh sanubari penonton dengan susunan musik orkestra di banyak adegan film.

Dari departemen akting, hampir seluruh jajaran pemeran film ini tampil lugas dalam menghidupkan karakter yang mereka perankan. Hampir, karena pemeran utama pria dalam film ini, Shawn Adrian Khulafa, sama sekali tidak berakting dalam film ini. Dan mengingat bahwa ia merupakan pemeran utama yang tampil hampir di setiap adegan maka ketidakmampuan Shawn jelas menjadi sebuah lubang yang sangat besar lainnya bagi kualitas film. Di sepanjang penceritaan film, Shawn Adrian Khulafa tampil dengan mimik wajah dan pengucapan dialog yang sangat, sangat datar. Mungkin Shawn berniat menampilkan sosok karakternya seperti karakter… let’s say… Edward Cullen dalam seri The Twilight Saga (2008 – 2012). Namun bahkan sosok pria yang telah bangkit dari kematiannya saja akan memiliki ekspresi wajah yang berbeda ketika ia baru saja mengalami kecelakaan dan kemudian lari kesana-kemari di rumah sakit untuk mencari tahu keadaan sang kekasih yang juga terlibat kecelakaan tersebut. Shawn Adrian Khulafa? Tidak. Tampil tetap dengan wajah datarnya yang sangat mengesalkan. Dan oh… Suara Shawn juga tampil sama datarnya ketika berduet dengan Yuki Kato dalam menyanyikan lagu tema film yang berjudul This is Cinta. Ouch.

Pemeran lain tampil tidak begitu mengecewakan. Yuki Kato cukup lugas dalam memerankan Rachel. She’s a good actress. Sayang Yuki seringkali terjebak dalam film-film berkualitas buruk atau medioker. Ari Wibowo dan Unique Priscilla tampil lumayan dalam peran yang begitu terbatas. Begitu pula dengan Fandy Christian dan Sasha Alidrus. Sementara itu, Aida Nurmala seringkali terlihat berlebihan dalam menterjemahkan karakternya sebagai seorang ibu yang overprotective terhadap anaknya. But wellthis movie probably deserves that kind of overacting and half-hearted performance. [E]

This is Cinta (2015)

Directed by Sony Gaokasak Produced by Fiaz Servia Written by Haqi Achmad Starring Yuki Kato, Shawn Adrian Khulafa, Unique Priscilla, Ari Wibowo, Aida Nurmala, Fandy Christian, Sandrinna Skornicki, Alwi Assegaf, Richelle Skornicki, Fahira Alidrus, Indra Bekti, Yuka Idol, Yama Carlos, Joe Richard, Joshua Pandelaki, Monica Oemardi, Emmie Lemu, McDanny, Uus, Mosidik, Faradilla Yoshi Music by Andhika Triyadi Cinematography Hani Pradigya Edited by Cesa David Luckmansyah Studio Starvision Running time 88 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: Make Money (2013)

make-money-header

Masih ingat dengan film Material Girls (2006) yang dibintangi oleh Hilary Duff dan Haylie Duff? Atau versi Latin dari film tersebut, From Prada to Nada (2011), yang dibintangi Camilla Belle dan Alexa Vega? WellMake Money juga memiliki premis yang sama – dua bersaudara yang berasal dari latar belakang keluarga yang memiliki segalanya namun harus kehilangan seluruh harta mereka setelah kematian sang ayah. Dalam Make Money, dua bersaudara tersebut adalah Rachmat (David Saragih) dan Aris (Panji Pragiwaksono) yang merupakan putera dari seorang pemilik perusahaan iklan raksasa, Pak Tri (Ray Sahetapy). Untuk memberikan pelajaran hidup bagi kedua puteranya yang tumbuh menjadi sosok yang arogan dan manja, Pak Tri awalnya berencana untuk memalsukan kematiannya dan kemudian memberikan seluruh hartanya pada seorang pemulung yang pernah menyelamatkan nyawanya, Odi (Ence Bagus). Tidak disangka… ketika rencana tersebut sedang dijalankan, Tuhan ternyata benar-benar mencabut nyawa Pak Tri.

Continue reading Review: Make Money (2013)

Review: Arisan! 2 (2011)

Di tahun 2003, Nia Dinata berhasil memberikan sebuah asupan tontonan yang sama sekali belum pernah dirasakan para pecinta film Indonesia sebelumnya. Lewat Arisan!, Nia, yang menulis naskah film tersebut bersama Joko Anwar, memberikan sebuah satir jujur mengenai kehidupan kaum kosmopolitan di Indonesia (baca: Jakarta), tentang bagaimana pergaulan mereka, orang-orang di sekitar mereka hingga hitam putih kehidupan yang menyeruak dalam keseharian mereka. Arisan! juga menjadi film pertama yang mendapatkan rekognisi nasional dalam mengangkat kehidupan kaum homoseksual – yang di kala itu jelas merupakan sebuah terobosan yang sangat berani. Hasilnya, Arisan! sukses menjadi sebuah kultur pop dalam dunia hiburan Indonesia, meroketkan nama Tora Sudiro dan berhasil memenangkan kategori Film Terbaik, Pemeran Utama Pria Terbaik, Pemeran Pendukung Pria Terbaik, dan Pemeran Pendukung Wanita Terbaik di ajang Festival Film Indonesia 2004.

Continue reading Review: Arisan! 2 (2011)

Review: Red CobeX (2010)

Walaupun memulai debut penyutradaraannya pada film 30 Hari Mencari Cinta (2004) yang sangat bertema girly, nama Upi Avianto sendiri mungkin lebih banyak dikenal melalui film-film bertema maskulin dan keras yang ia kerjakan selanjutnya, seperti Realita, Cinta dan Rock ‘n Roll (2006), Radit dan Jani (2008) serta Serigala Terakhir (2009). Lewat Red CobeX, sebuah film komedi yang ia rilis tahun ini, Upi sepertinya mencoba sebuah tema baru yang ingin ia tawarkan pada penikmat film Indonesia.

Continue reading Review: Red CobeX (2010)

Review: Hari Untuk Amanda (2010)

Hari Untuk Amanda adalah sebuah film drama yang diarahkan oleh sutradara muda, Angga Dwimas Sasongko. Film ini pada awalnya akan dirilis tahun lalu, namun karena beberapa hal, Hari Untuk Amanda kemudian mengalami penundaaan rilis hingga awal tahun ini — yang mungkin sedikit menjelaskan mengapa gaya rambut Reza Rahardian berbeda antara poster dengan filmnya.

Continue reading Review: Hari Untuk Amanda (2010)

Review: Jamila dan Sang Presiden (2009)

Jamila dan Sang Presiden adalah sebuah film layar perdana karya sutradara Ratna Sarumpaet, yang mungkin lebih dikenal sebagai seorang sutradara teater serta aktivis perempuan. Naskah cerita film ini sendiri diadaptasi Ratna dari karya teaternya yang berjudul Pelacur dan Sang Presiden, yang sempat meraih banyak pujian sekaligus kritikan dari beberapa pihak di Indonesia selama masa pementasannya.

Continue reading Review: Jamila dan Sang Presiden (2009)