Tag Archives: Aditya Rino

Review: Takut: Tujuh Hari Bersama Setan (2015)

takut-tujuh-hari-bersama-setan-posterMeskipun produktif – dengan tidak kurang dari delapan film yang mencantumkan namanya sebagai sutradara dirilis pada sepanjang tahun 2014 lalu – Nayato Fio Nuala bukanlah sosok pencerita yang baik. Bahkan, jika ingin membandingkan setiap film yang telah ia rilis sebelumnya, gaya penceritaan Nayato sama sekali tidak terasa memiliki perubahan maupun peningkatan kualitas apapun. Masih dengan gaya penceritaan yang terlalu berlebihan dalam mengeksplorasi kisah yang ingin ia sampaikan – baik ketika ia mengarahkan sebuah drama maupun horor yang telah menjadi “wilayah kekuasaannya”. Gaya penceritaan “berlebihan” itulah yang kembali ia hadirkan dalam film horor perdananya di tahun ini, Takut: Tujuh Hari Bersama Setan.

Dengan naskah cerita yang diadaptasi oleh Fatimah Fahim berdasarkan novel berjudul Tujuh Hari di Vila Mencekam yang ditulis Cerberus Plouton, Takut: Tujuh Hari Bersama Setan berkisah mengenai Elisa (Yudittia Mayang) yang bersama dengan sahabatnya, Dewa (Aditya Rino), mendatangi lereng Gunung Wilis guna mencari kakaknya, Erlita (Demmy Febriana), yang telah menghilang tanpa ada kabar apapun. Disana, keduanya kemudian bertemu dengan Yudha (Andrew Andhika), seorang pemuda yang terpaksa meninggalkan kehidupan perkotaan untuk tinggal di sebuah vila di lokasi yang sama akibat penyakit paru-paru yang ia miliki. Singkat cerita, kehidupan ketiga karakter pendatang tersebut mulai terusik dengan berbagai kejadian supranatural yang memang telah menjadi buah bibir bagi masyarakat sekitar Gunung Wilis.

Jadi seberapa buruk Takut: Tujuh Hari Bersama Setan? Sejujurnya, Takut: Tujuh Hari Bersama Setan masih memiliki kualitas penceritaan yang berada di atas kualitas kebanyakan film-film horor arahan Nayato Fio Nuala sebelumnya. Meskipun jauh dari kesan brilian maupun meyakinkan, jajaran pengisi departemen akting film ini juga tidak terlalu buruk – sekali lagi, dengan perbandingan penampilan pada film-film Nayato Fio Nuala lainnya. Terlepas dari chemistry antar pemeran yang benar-benar kosong serta beberapa penampil yang hadir dengan akting masih terkesan ragu-ragu – jika tidak ingin disebut kaku – departemen akting Takut: Tujuh Hari Bersama Setan hadir dengan kualitas yang seadanya untuk kualitas jalan cerita yang dihadirkan.

Namun bukan berarti Takut: Tujuh Hari Bersama Setan lantas layak diberikan pujian lebih. Hal-hal yang disebut diatas hampir tidak memiliki arti sama sekali jika dibandingkan dengan bagaimana lemahnya pengarahan Nayato Fio Nuala pada filmnya. Selain tata penceritaan yang dihadirkan dengan ritme yang berantakan, Nayato masih menganggap bahwa jump scares adalah hal terpenting dalam sebuah film horor. Memang benar, namun Nayato menghadirkan deretan momen-momen mengejutkan tersebut dalam setiap lima menit film ini berjalan. Hasilnya, tentu saja, bukannya menakutkan, Takut: Tujuh Hari Bersama Setan hadir begitu menjengkelkan. Dan tidak lupa, Nayato juga merasa perlu untuk melengkapi momen-momen mengejutkan tersebut dengan tata musik arahan Arya Gianino yang sama memaksakan kehadirannya.

Bukti lain bahwa Nayato gagal mengarahkan jalan cerita film ini? Twist yang dihadirkan oleh film ini bahkan telah demikian terbuka semenjak awal penceritaan. Petunjuk: tata rias yang terlalu terlihat jelas pada satu karakter lain dan sebuah dialog untuk karakter lainnya. Oh, petunjuk lain? Rumah produksi yang membiayai Takut: Tujuh Hari Bersama Setan menjelaskannya secara panjang kali lebar dalam sinopsis film yang mereka tuliskan. Yeah. They don’t care. They just want your moooney, honey. [D-]

Takut: Tujuh Hari Bersama Setan (2015)

Directed by Nayato Fio Nuala Produced by Rafdy Farizan Bintang Written by Fatimah Fahim (screenplay), Cerberus Plouton (novel, Tujuh Hari di Vila Mencekam) Starring Andrew Andika, Yudittia Mayang, Aditya Rino, Demmy Febriana, Kenny Mayang Sari, Akbar Kurniawan, Damita Argobie, Audia Shavira Music by Arya Gianino Cinematography Freddy A. Lingga Edited by Tiara Puspa Rani Production company BIC Pictures Running time 82 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: 3 Playboy Galau (2013)

3-playboy-galau-header

Wellsometimes, you can actually judge a book by its cover. Dan ketika Anda memilih untuk menyaksikan sebuah film dengan desain poster seperti yang digunakan film 3 Playboy Galau, yang dirilis oleh rumah produksi yang juga pernah merilis judul-judul film seperti Psikopat (2005), Santet Kuntilanak (2012) dan Pacarku Kuntilanak Kembar (2012) serta diarahkan oleh seorang sutradara yang sebelumnya bertanggungjawab atas keberadaan naskah cerita film Skandal Cinta Babi Ngepet (2008) dan Anda Puas Saya Loyo (2008), Anda seharusnya tahu pasti kualitas apa yang seharusnya akan Anda dapatkan. Walaupun… persiapan sebaik apapun dalam rangka menyambut sebuah kualitas penampilan film yang buruk rasanya tetap tidak akan mampu mencegah Anda untuk merasa begitu muak seusai menyaksikan film ini.

Continue reading Review: 3 Playboy Galau (2013)