Tag Archives: Adinia Wirasti

Review: Kapan Kawin? (2015)

kapan-kawin-posterMeskipun lebih dikenal sebagai sosok aktor dramatis yang selalu mampu untuk menghidupkan setiap karakter yang ia perankan, Reza Rahadian sebenarnya juga memiliki kemampuan yang sama mengagumkannya ketika ia berperan dalam film-film bernuansa komedi. Seperti yang ia tampilkan dalam film-film seperti Test Pack: You Are My Baby (Monty Tiwa, 2012), Finding Srimulat (Charles Ghozali) dan Strawberry Surprise (Hanny R. Saputra, 2014), Reza hadir dengan penampilan akting yang begitu santai dan jauh dari kesan kompleks yang sering ia sajikan dalam karakter-karakter dramatisnya – dan tetap muncul sebagai aktor dengan pesona akting yang kuat. Kelebihan inilah yang memang menjadikan Reza Rahadian sebagai aktor film Indonesia terbaik di generasinya.

Penampilan sederhana dan santai itulah yang kembali dihadirkan Reza Rahadian dalam film drama komedi romansa berjudul Kapan Kawin? yang diarahkan oleh Ody C. Harahap (Cinta/Mati, 2013). Mengangkat fenomena mengenai budaya ketimuran yang menuntut mereka yang telah berusia dewasa dan memiliki karir sukses untuk segera mencari jodoh serta melangsungkan pernikahan, Kapan Kawin? sebenarnya dapat saja berakhir sebagai sebuah drama komedi romansa klise di tangan penggarap cerita yang salah. Untungnya, trio penulis naskah film ini, sutradara Ody C. Harahap yang bekerjasama dengan Monty Tiwa dan Robert Ronny, mampu menggarap premis tersebut lebih mendalam, menyentuh sisi personal dan sosial dari masalah yang mereka angkat dengan karakter-karakter yang mampu ditulis dengan begitu nyata sekaligus tidak melupakan balutan unsur komedi yang semakin membuat Kapan Kawin? terasa begitu ringan dalam penceritaannya. Dialog-dialog yang dihadirkan juga terasa begitu manis tanpa pernah terasa berusaha terlalu keras sehingga – seperti yang sering terjadi pada kebanyakan film drama romansa Indonesia – berakhir dengan terdengar menggelikan.

Kapan Kawin? sendiri bukanlah hadir tanpa permasalahan, khususnya di paruh ketiga penceritaan. Seusai mengisahkan perkenalan antara dua karakter utamanya, Dinda (Adinia Wirasti) dan Satrio (Reza Rahadian), serta rentetan konflik yang terjalin baik antara mereka maupun dengan karakter-karakter lain secara perlahan, paruh ketiga Kapan Kawin? terasa sedikit kehilangan arah sebelum menentukan konklusi yang tepat dari jalan cerita yang telah disajikan. Hal ini begitu terasa dari perubahan sosok karakter Jerry (Erwin Sutodihardjo) yang awalnya hanya digambarkan sebagai karakter sampingan kemudian berubah menjadi sosok antagonis yang mampu mengambil alih perhatian cerita.

Karakter kedua orangtua Dina (Adi Kurdi dan Ivanka Suwandi) juga terasa tidak mampu dikembangkan dengan baik. Sosok mereka yang banyak menuntut tanpa pernah mendapatkan porsi penceritaan yang berimbang justru seringkali menjadikan karakter mereka terlihat sebagai sosok yang mengganggu daripada sebagai sosok orangtua yang (harusnya) menginginkan hidup yang lebih baik bagi anaknya melalui pernikahan. Paruh ketiga film juga terasa berjalan lebih terburu-buru jika dibandingkan dengan dua bagian pendahulunya. Semua konflik, baik mayor maupun minor, yang telah terbuka di penceritaan sebelumnya mendapatkan penyelesaian yang singkat di bagian ini. Masalah kecil sebenarnya dan tidak sampai merusak keutuhan kualitas Kapan Kawin? namun tetap terasa jomplang jika dibandingkan dengan dua paruh penceritaan yang begitu terstruktur dan tergarap dengan rapi penceritaannya.

Diatas keunggulan dan kelemahan diatas, kekuatan utama Kapan Kawin? yang membuat film ini begitu nyaman untuk diikuti jelas adalah chemistry yang fantastis antara para pengisi departemen aktingnya. Penampilan Reza Rahadian dan Adinia Wirasti terasa mampu berpadu dengan kuat, saling melengkapi satu sama lain. Begitu hangat, begitu meyakinkan. Dukungan akting yang mumpuni juga datang dari para pemeran lain, mulai dari Adi Kurdi, Ivanka Suwandi, Febby Febiola, Erwin Sutodihardjo hingga aktor cilik Firman Ferdiansyah. Kualitas departemen akting yang begitu mampu menyatu menjadi kumpulan karakter yang berhasil membawakan jalan cerita Kapan Kawin? menjadi sebuah presentasi cerita yang begitu mampu menghibur sekaligus menyentuh para penontonnya. Drama komedi romansa Indonesia terbaik sejak Test Pack: You Are My Baby — yang juga melibatkan keterlibatan Monty Tiwa dan Reza Rahadian. [B-]

Kapan Kawin? (2015)

Directed by Ody C. Harahap Produced by Robert Ronny Written by Monty Tiwa, Robert Ronny, Ody C. Harahap Starring Adinia Wirasti, Reza Rahadian, Adi Kurdi, Ivanka Suwandi, Febby Febiola, Erwin Sutodihardjo, Firman Ferdiansyah, Ellis Alisha Music by Aghi Narottama, Bemby Gusti Cinematography Padri Nadeak Edited by Aline Jusria Studio Legacy Pictures Running time 115 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Festival Film Indonesia 2013 Winners List

ffi2013Wellwellwell… Meskipun menjadi film yang berhasil meraih jumlah nominasi terbanyak di ajang Festival Film Indonesia 2013, namun Belenggu justru hanya mampu membawa pulang dua penghargaan dari 13 (!) nominasi yang diraihnya, Penata Artistik Terbaik dan Penata Musik Terbaik. Untuk tahun ini sendiri, komite juri Festival Film Indonesia memilih film yang akan mewakili Indonesia di ajang Academy Awards mendatang, Sang Kiai, sebagai pemenang Film Terbaik. Selain memenangkan penghargaan utama, Sang Kiai juga berhasil memenangkan tiga kategori lainnya, Sutradara Terbaik untuk Rako Prijanto, Pemeran Pendukung Pria Terbaik untuk Adipati Dolken (!) dan Penata Suara Terbaik untuk Khikmawan Santosa, M. Ikhsan dan Yusuf A. Pattawari.

Continue reading Festival Film Indonesia 2013 Winners List

Festival Film Indonesia 2013 Nominations List

ffi2013Setelah Fiksi yang berhasil memenangkan beberapa kategori utama, termasuk Film Bioskop Terbaik dan Sutradara Terbaik di ajang Festival Film Indonesia 2008, tahun ini panitia penyelenggara Festival Film Indonesia kembali menunjukkan rasa cinta mereka terhadap genre horor dengan memberikan 13 nominasi kepada film Belenggu arahan Upi. 13 dari 15 kategori yang tersedia dalam Festival Film Indonesia 2013! That’s huge! Belenggu berhasil mendapatkan nominasi di beberapa kategori utama seperti Naskah Asli Terbaik dan Sutradara Terbaik untuk Upi, Pemeran Utama Pria Terbaik untuk Abimana, Pemeran Utama Wanita Terbaik untuk dua pemerannya, Imelda Therinne dan Laudya Cinthya Bella, serta Film Terbaik dimana Belenggu akan bersaing dengan 5 cm, Habibie & Ainun, Laura & Marsha dan Sang Kiai.

Continue reading Festival Film Indonesia 2013 Nominations List

Review: Laura & Marsha (2013)

laura_marsha_header

Wellisn’t this nice? Dua aktris muda paling bertalenta di industri film Indonesia saat ini saling beradu peran dalam satu film. Di bawah arahan Dinna Jasanti (Burung-Burung Kertas, 2007) dengan naskah yang ditulis oleh Titien Wattimena (Sang Pialang, 2013), Laura & Marsha menempatkan Prisia Nasution dan Adinia Wirasti sebagai dua sahabat yang memutuskan untuk meninggalkan kesibukan harian mereka di Jakarta untuk sementara dan kemudian melakukan perjalanan bersama ke beberapa negara Eropa. Yep. Laura & Marsha adalah sebuah road movie yang akan membawa penontonnya untuk menikmati keindahan klasik kota-kota Eropa seperti Amsterdam, Verona hingga Viena. As usual, the basic rule of a road movie is: it’s not the destination that matters, but it’s the journey. Dan apakah Laura & Marsha mampu memberikan perjalanan yang  dapat dinikmati tersebut kepada para penontonnya?

Continue reading Review: Laura & Marsha (2013)

Review: Arisan! 2 (2011)

Di tahun 2003, Nia Dinata berhasil memberikan sebuah asupan tontonan yang sama sekali belum pernah dirasakan para pecinta film Indonesia sebelumnya. Lewat Arisan!, Nia, yang menulis naskah film tersebut bersama Joko Anwar, memberikan sebuah satir jujur mengenai kehidupan kaum kosmopolitan di Indonesia (baca: Jakarta), tentang bagaimana pergaulan mereka, orang-orang di sekitar mereka hingga hitam putih kehidupan yang menyeruak dalam keseharian mereka. Arisan! juga menjadi film pertama yang mendapatkan rekognisi nasional dalam mengangkat kehidupan kaum homoseksual – yang di kala itu jelas merupakan sebuah terobosan yang sangat berani. Hasilnya, Arisan! sukses menjadi sebuah kultur pop dalam dunia hiburan Indonesia, meroketkan nama Tora Sudiro dan berhasil memenangkan kategori Film Terbaik, Pemeran Utama Pria Terbaik, Pemeran Pendukung Pria Terbaik, dan Pemeran Pendukung Wanita Terbaik di ajang Festival Film Indonesia 2004.

Continue reading Review: Arisan! 2 (2011)

Review: Jakarta Maghrib (2010)

Salman Aristo – salah satu nama yang bertanggungjawab atas kehadiran beberapa judul terpopuler di industri perfilman Indonesia, seperti Laskar Pelangi (2008), Ayat-Ayat Cinta (2008) dan Hari Untuk Amanda (2010) – melakukan debut penyutradaraannya lewat sebuah film omnibus bertajuk Jakarta Maghrib. Dalam film yang juga ia  tulis naskahnya ini, Salman berusaha untuk menghadirkan arti dari sebuah waktu maghrib bagi sekelompok kalangan – dalam hal ini, kalangan masyarakat di berbagai sudut kota Jakarta. Lewat lima cerita pendek yang ia hadirkan, Salman dapat dengan bebas menggambarkan maghrib sebagai sebuah waktu transisi dari siang ke malam lewat berbagai genre penceritaan. Usaha yang cukup meyakinkan walau masih belum dapat dikatakan memuaskan secara menyeluruh.

Continue reading Review: Jakarta Maghrib (2010)