Review: Pertaruhan (2017)

Setelah sebelumnya menjadi produser bagi film-film Indonesia seperti Coklat Stroberi (2007) dan Tarzan ke Kota (2008), Krishto Damar Alam melakukan debut pengarahannya melalui Pertaruhan yang naskah ceritanya ditulis oleh Upi – yang baru saja meraih sukses besar lewat My Stupid Boss (2016), Sebagai sebuah debutan, Alam harus diakui mampu menampilkan filmnya dengan ritme pengisahan yang tepat, kualitas produksi yang meyakinkan sekaligus berhasil menghadirkan penampilan prima dari jajaran pengisi departemen aktingnya yang diisi nama-nama seperti Tio Pakusadewo, Adipati Dolken, Aliando Syarief, Jefri Nichol dan Giulio Parengkuan. Film ini, sayangnya, kemudian harus takluk terhadap lemahnya penulisan naskah cerita yang akhirnya membuat Pertaruhan gagal untuk tampil untuk menjadi sebuah drama yang lebih mengesankan. Continue reading Review: Pertaruhan (2017)

Review: Raees (2017)

Bersinggungan dengan tema agama dan politik dalam jalan cerita filmnya bukanlah hal yang baru bagi sutradara Rahul Dholakia. Dua film yang ia arahkan sebelumnya membuktikan akan hal tersebut: Parzania (2007) yang mengangkat tentang kerusuhan antar umat beragama yang terjadi di Gujarat, India pada tahun 2002 dan Lamhaa (2010) yang berkisah tentang konflik perebutan wilayah Kashmir antara India dengan Pakistan. Dholakia bahkan berhasil memenangkan penghargaan Best Director untuk arahannya bagi Parzania dari ajang penghargaan film tertinggi di India, National Film Awards, pada tahun 2007. Untuk film terbarunya, Raees, Dholakia berkisah mengenai kehidupan seorang kriminal yang memiliki pengaruh yang begitu kuat sehingga banyak polisi dan politisi yang takluk pada perintahnya – sebuah alur kisah yang dikabarkan terinspirasi dari sosok kriminal asal Gujarat, India bernama Abdul Latif meskipun pernyataan tersebut kemudian dibantah oleh Dholakia. Continue reading Review: Raees (2017)

Review: Bleed for This (2016)

Bleed for This adalah film perdana arahan Ben Younger setelah sebelumnya mengarahkan Meryl Streep dan Uma Thurman dalam Prime di tahun 2005 lalu. Naskah ceritanya sendiri bercerita mengenai perjuangan seorang petinju untuk meraih kembali karirnya yang sempat terancam akibat kecelakaan fatal yang ia alami. Sounds familiar eh? Lalu apa yang membedakan Bleed for This dengan film-film sepantarannya? Well… film yang naskah ceritanya juga ditulis oleh Younger ini sendiri mendasarkan penceritaannya pada kisah nyata tentang sekelumit bagian dari kehidupan petinju Vinny Pazienza, seorang petinju asal Amerika Serikat yang sempat memegang gelar juara dunia beberapa kali. Didukung oleh performa meyakinkan Miles Teller dan Aaron Eckhart, Bleed for This tampil tidak mengecewakan sebagai sebuah drama olahraga. Walaupun, dengan material yang ditawarkan, film ini sebenarnya memiliki potensi untuk tampil jauh lebih mengesankan jika dihadirkan dengan pengarahan cerita yang lebih kuat. Continue reading Review: Bleed for This (2016)

Review: Kaabil (2017)

Dalam tradisi Zinda (2006) yang alur ceritanya terinspirasi dari Oldboy (Park Chan-wook, 2003), Musafir (2004) yang membasiskan pengisahannya pada U Turn (Oliver Stone, 1997) serta Kaante (2002) yang naskah ceritanya ditulis berdasarkan Reservoir Dogs (Quentin Tarantino, 1992), sutradara spesialis crime thriller, Sanjay Gupta, kali ini menghadirkan film terbarunya, Kaabil. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Vijay Kumar Mishra dan Sanjay Masoom serta plot penceritaan yang terinspirasi dari Blind Fury (Phillip Noyce, 1989) dan Broken (Lee Jeong-ho, 2014), Kaabil berkisah tentang usaha seorang suami untuk mencari tahu dan membalaskan dendam kematian istrinya. Dipadukan dengan sentuhan drama romansa, Kaabil sebenarnya memiliki potensi yang kuat untuk tampil sebagai sebuah pengisahan yang memikat. Sayangnya, pengarahan Gupta atas ritme penceritaan Kaabil yang seringkali terasa goyah membuat film ini gagal untuk meninggalkan kesan emosional yang lebih kuat. Continue reading Review: Kaabil (2017)

Review: Resident Evil: The Final Chapter (2017)

Meskipun terus mendapatkan penilaian negatif dari banyak kritikus, seri film Resident Evil secara konsisten juga terus berhasil mendapatkan kesuksesan komersial dari para penontonnya. Bahkan, dengan lima film yang telah dirilis semenjak tahun 2002 dan berhasil meraih pendapatan komersial sebesar lebih dari US$900 juta dari perilisannya di seluruh dunia, Resident Evil kini tercatat sebagai seri film hasil adaptasi permainan video tersukses sepanjang masa. Lima tahun semenjak perilisan Resident Evil: Retribution, Paul W.S. Anderson kembali menghadirkan lanjutan kisah petualangan Alice dalam melawan Umbrella Corporation dalam seri keenam Resident Evil, Resident Evil: The Final Chapter, yang – sesuai dengan judulnya – dicanangkan akan menjadi penutup bagi seri film ini. Lalu apa yang akan ditawarkan Anderson kali ini? Continue reading Review: Resident Evil: The Final Chapter (2017)

The 89th Annual Academy Awards Nominations List

Film drama musikal arahan Damien Chazelle, La La Land berhasil memimpin daftar nominasi The 89th Annual Academy Awards dengan meraih 14 nominasi. Dengan raihan tersebut, La La Land berhasil menyamai pencapaian All About Eve (Joseph L. Mankiewicz, 1950) dan Titanic (James Cameron, 1997) sebagai film dengan raihan nominasi Academy Awards terbanyak di sepanjang sejarah. Film yang dibintangi Ryan Gosling dan Emma Stone – yang sama-sama berhasil meraih nominasi Academy Awards di kategori Best Actor dan Best Actress – tersebut akan bersaing dengan Arrival, Fences, Hacksaw Ridge, Hell or High Water, Hidden Figures, Lion, Manchester by the Sea dan Moonlight di kategori Best Picture. La La Land juga berhasil meraih nominasi di kategori Best Director dan Best Original Screenplay untuk Chazelle. Continue reading The 89th Annual Academy Awards Nominations List

Review: xXx: Return of Xander Cage (2017)

Pertama kali dirilis di tahun 2002, xXx sepertinya dimaksudkan untuk memberikan penikmat film dunia seorang karakter agen rahasia alternatif yang memiliki karakteristik yang bertolakbelakang dengan karakter agen rahasia James Bond buatan Ian Fleming yang telah lebih dahulu popular dan melegenda. Berbeda dengan James Bond yang digambarkan sebagai sosok pria berkelas, xXx adalah sosok agen rahasia dengan latar belakang seorang pemberontak yang cenderung lebih keras. Dengan menempatkan kolaborasi sutradara Rob Cohen dan aktor Vin Diesel yang baru saja meraih kesuksesan besar lewat The Fast and the Furious (2001), xXx kemudian berhasil meraih kesuksesan komersial dengan mengumpulkan pendapatan sebesar US$277 juta dari biaya produksinya yang “hanya” sebesar US$70 juta. Continue reading Review: xXx: Return of Xander Cage (2017)

Review: Patriots Day (2016)

Merupakan kali ketiga sutradara Peter Berg bekerjasama dengan aktor Mark Wahlberg setelah Lone Survivor (2013) dan Deepwater Horizon (2016), Patriots Day berkisah mengenai tragedi pengeboman bermotif terorisme yang dilakukan Dzhokhar Tsarnaev dan Tamerlan Tsarnaev pada Boston Marathon yang berlangsung di kota Boston, Amerika Serikat di tahun 2013 lalu. Dengan mendasarkan kisahnya pada buku berjudul Boston Strong yang ditulis oleh Casey Sherman dan Dave Wedge, Patriots Day juga memfokuskan kisahnya pada proses pengejaran yang dilakukan pihak kepolisian untuk menangkap Tsarnaev bersaudara yang berlangsung dramatis sekaligus kisah-kisah para korban dari tragedi tersebut dalam usaha mereka untuk melanjutkan hidup. Secara mengejutkan, Berg mampu menggarap Patriots Day dengan penuh kelembutan – berbeda dengan kebanyakan filmnya yang seringkali tampil dengan aura kemaskulinan yang kuat. Sebuah sentuhan yang membuat film ini terasa hangat sekaligus sensitif dalam membawakan pesan-pesannya tentang perdamaian yang seringkali terasa menghilang dari banyak elemen kehidupan manusia akhir-akhir ini. Continue reading Review: Patriots Day (2016)

Review: The Bye Bye Man (2017)

2016 is a great year for horror movies. Yes it was. No doubt. So what’s in store for horror fans this year? Wellhere’s the first official peek, The Bye Bye Man. Diarahkan oleh Stacy Title, The Bye Bye Man berkisah tentang Elliott (Douglas Smith) yang bersama dengan kekasih, Sasha (Cressida Bonas), dan sahabatnya, John (Lucien Laviscount), memutuskan untuk keluar dari asrama kampus mereka dan tinggal bersama di sebuah rumah yang mereka sewa. Seperti yang dapat diduga, tidak lama semenjak kepindahan mereka, ketiga mahasiswa tersebut mulai mengalami berbagai kejadian aneh yang mengikuti keseharian mereka. Panik, Sasha lantas mencoba untuk meminta bantuan teman sekelasnya, Kim (Jenna Kanell), yang memiliki kemampuan supranatural untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di rumah tersebut. Usaha tersebut, sayangnya, tidak memberikan pengaruh apapun. Gangguan yang dialami Elliott, Sasha dan John malah semakin sering terjadi dan justru mulai mengancam nyawa mereka. Continue reading Review: The Bye Bye Man (2017)

Review: A Gift (2016)

Seperti halnya mantan Presiden Republik Indonesia, Soesilo Bambang Yudhoyono, mantan pemimpin negara Thailand yang baru saja meninggal akhir tahun lalu, Raja Bhumibol Adulyadej, memiliki ketertarikan yang luar biasa kepada musik. Sang raja, yang merupakan komposer sekaligus peniup saksofon jazz yang handal dan telah menulis puluhan komposisi lagu, bahkan menjadi orang Asia pertama yang mendapatkan anugerah penghargaan Sanford Medal dari Yale School of Music di tahun 2000 atas kontribusinya untuk dunia musik. Sebuah dokumenter yang berkisah tentang sang raja dan kecintaannya pada dunia musik berjudul Gitarajan juga pernah dirilis oleh pemerintah Thailand pada tahun 1996. Kini, sebagai bagian dari penghormatan kepada sang raja, rumah produksi Thailand, GDH 559, merilis A Gift yang merupakan omnibus berisi tiga film pendek yang alur kisahnya terinspirasi dari tiga lagu yang pernah ditulis oleh Raja Bhumibol Adulyadej. Continue reading Review: A Gift (2016)

Review: Live by Night (2016)

Menjadi film pertama arahan Ben Affleck setelah filmnya, Argo (2012), memenangkan Best Picture di ajang The 85th Annual Academy Awards sekaligus menjadi film kedua Affleck yang merupakan adaptasi dari novel milik Dennis Lehane setelah Gone Baby Gone (2007), Live by Night mengisahkan perjalanan hidup dari seorang pria bernama Joe Coughlin (Affleck) yang merupakan putra dari seorang kapten di Kepolisian Boston, Thomas Coughlin (Brendan Gleeson). Namun, berbeda dari sang ayah, Joe menjalani sebuah kehidupan yang jauh berbeda. Setelah kekasihnya, Emma (Sienna Miller), diculik dan dibunuh oleh seorang gangster bernama Albert White (Robert Glenister), Joe kemudian berusaha membalaskan dendamnya dengan bergabung bersama kelompok mafia Italia pimpinan Maso Pescatore (Remo Girone) yang menjadi rival Albert White. Bersama dengan kelompok tersebut, karir Joe sebagai sosok penjahat yang disegani mulai meningkat dan bahkan mulai mampu menyaingi berbagai usaha yang dimiliki Albert White. Namun, ketika Joe dan rekan bisnisnya, Dion Bartolo (Chris Messina), gagal untuk menjalankan sebuah tugas dari Maso Pescatore, usaha sekaligus kehidupan keduanya mulai mendapatkan ancaman. Continue reading Review: Live by Night (2016)

Review: La La Land (2016)

It takes big, huge guts to tackle a movie musical. Film musikal jelas bukan hanya tentang menyelinapkan deretan lagu dan nyanyian diantara barisan dialog maupun adegan sebuah film. Butuh konsep yang tepat dan matang untuk menyajikan sebuah film musikal yang tidak hanya mampu tampil menghibur tapi juga dapat meyakinkan para penontonnya bahwa realita penuh nyanyian yang sedang mereka saksikan adalah sebuah realita yang benar-benar dapat diterima – and who knows, mungkin saja dapat terjadi dalam keseharian mereka. Tidak mengherankan jika kemudian film musikal menjadi salah satu genre yang jarang dieksplorasi oleh banyak pembuat film. Bahkan sutradara sekelas Martin Scorsese (New York, New York, 1977), Richard Attenborough (A Chorus Line, 1985), Chris Columbus (Rent, 2005) hingga Nia Dinata (Ini Kisah Tiga Dara, 2015) yang dikenal handal dalam bercerita gagal untuk mendapatkan formula yang benar-benar tepat untuk film musikal yang mereka garap. Clearly, not everyone knows how to make a good musical. Continue reading Review: La La Land (2016)

Review: Arrival (2016)

Seperti halnya film animasi rilisan Walt Disney Pictures, Zootopia (Byron Howard, Rich Moore, 2015), sulit untuk tidak merasa terhubung dengan pengisahan yang dibawakan oleh film terbaru arahan Denis Villeneuve (Sicario, 2015), Arrival. Jika Zootopia berbicara mengenai rasisme dan praduga ras, maka Arrival memaparkan bagaimana ego manusia seringkali menghalangi mereka untuk berusaha berkomunikasi dan mencoba mengerti posisi satu sama lain – beberapa permasalahan sosial yang sepertinya justru terasa semakin pelik seiring dengan berjalannya waktu. Diadaptasi dari cerita pendek berjudul Story of Your Life (1998) karya Ted Chiang oleh Eric Heisserer (Lights Out, 2016), Arrival tampil begitu humanis sekaligus tajam dalam menelanjangi jalinan hubungan manusia di era modern terlepas dari kemasan apiknya yang berwujud sebagai sebuah film fiksi ilmiah tentang kunjungan makhluk angkasa luar ke Bumi. Continue reading Review: Arrival (2016)

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar