Review: Hangout (2016)

Film garapan terbaru Raditya Dika, Hangout, dibintangi oleh Dika bersama dengan Soleh Solihun, Prilly Latuconsina, Gading Marten, Bayu Skak, Surya Saputra, Dinda Kanya Dewi, Titi Kamal dan Mathias Muchus – yang masing-masing berperan sebagai “versi alternatif” dari diri mereka sendiri. Kesembilan tokoh publik tersebut secara tidak sengaja bertemu di sebuah pulau setelah masing-masing mendapatkan sebuah undangan dari sosok yang sebelumnya belum familiar bagi mereka namun diduga sebagai seorang produser yang berencana akan melakukan proses casting untuk film terbarunya. Dalam suasana santai, kesembilannya menikmati saja semua fasilitas liburan yang telah diberikan pada mereka. Horor kemudian dimulai ketika Mathias Muchus tewas akibat racun yang secara tidak sadar ia konsumsi ketika makan malam. Panik jelas melanda kedelapan orang yang tersisa. Ancaman kematian yang menjebak mereka di pulau tersebut siap menjemput nyawa mereka satu persatu. Continue reading Review: Hangout (2016)

Review: Assassin’s Creed (2016)

Expectations are quite high with this one. Selain karena belum ada film hasil adaptasi dari permainan video yang kualitasnya benar-benar tampil memuaskan, Assassin’s Creed juga kembali mempertemukan sutradara Justin Kurzel dengan dua aktor kaliber Oscar, Michael Fassbender dan Marion Cotillard, yang sebelumnya meraih sukses lewat Macbeth (2015) – yang kini dianggap sebagai salah satu adaptasi karya William Shakespeare terbaik oleh para kritikus film dunia. So what could go wrong, right? Continue reading Review: Assassin’s Creed (2016)

Review: Collateral Beauty (2016)

How do you cope with grief and loss of your loved one? Dalam film terbaru arahan David Frankel (The Devil Wears Prada, 2006), Collateral Beauty, Will Smith berperan sebagai seorang eksekutif periklanan bernama Howard Inlet yang sedang berada dalam masa duka akibat kehilangan puteri satu-satunya yang meninggal dunia. Rasa duka tersebut telah merubah diri Howard sepenuhnya. Howard yang dulu adalah sosok pemimpin perusahaan yang optimistis dan mampu mendorong semangat orang-orang yang berada di sekitarnya kini berubah menjadi seseorang yang penyendiri, tertutup dan hampir tidak pernah berkomunikasi lagi dengan siapapun termasuk orang-orang terdekatnya. Perubahan tersebut secara perlahan akhirnya mempengaruhi kestabilan perusahaan yang dipimpin oleh Howard. Continue reading Review: Collateral Beauty (2016)

Review: Sing (2016)

Di sepanjang karirnya sebagai seorang sutradara musik video, Garth Jennings telah menghasilkan beberapa musik video yang cukup mengesankan seperti Freedom (Robbie Williams, 1996), Right Here, Right Now (Fatboy Slim, 1999), Coffee & TV (Blur, 1999) hingga Imitation of Life (R.E.M., 2001) dan Lotus Flower (Radiohead, 2011). Kesuksesannya tersebut lantas membuat Jennings mencoba peruntungannya dalam mengarahkan film layar lebar. Film layar lebar perdana yang ia arahkan, The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy (2005), mendapatkan sambutan yang cukup beragam, baik dari kalangan kritikus maupun para penikmat film. Film keduanya, Son of Rambow (2007), bernasib sedikit lebih baik. Meskipun gagal untuk mendapatkan jumlah penonton dalam jumlah yang lebih luas, film komedi tersebut cukup berhasil membuat banyak kritikus film memberikan pujian pada Jennings. Continue reading Review: Sing (2016)

Review: Rogue One: A Star Wars Story (2016)

Setelah menghabiskan dana sebesar US$4.06 milyar untuk mengakuisisi Lucasfilm pada tahun 2012 lalu, The Walt Disney Company sepertinya tidak menyia-nyiakan waktu mereka untuk memproduksi lanjutan perjalanan seri film milik Lucasfilm terpopuler, Star Wars. Dimulai dengan perilisan Star Wars: Episode VII – The Force Awakens (J.J. Abrams, 2015), The Walt Disney Company kemudian berencana untuk merilis episode terbaru dari seri Star Wars setiap dua tahun sekali. Tidak hanya itu, untuk mengisi senggang waktu dua tahun dari jarak perilisan tiap film, seri film Star Wars akan dilengkapi dengan Star Wars Anthology yang merupakan rangkaian film yang berdiri sendiri dan memiliki latar belakang waktu penceritaan sebelum terjadinya berbagai konflik yang dikisahkan pada Star Wars: Episode IV – A New Hope (George Lucas, 1977). Dan Rogue One: A Star Wars Story akan menjadi film pertama dari tiga film yang telah direncanakan The Walt Disney Company untuk dirilis sebagai bagian Star Wars Anthology tersebut. Continue reading Review: Rogue One: A Star Wars Story (2016)

Review: Headshot (2016)

Enam tahun setelah merilis Rumah Dara, duo sutradara Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel yang lebih dikenal sebagai Mo Brothers kembali hadir dengan film arahan terbaru mereka, Headshot. Berbeda dengan Rumah Dara yang berhasil meraih sejumlah penggemar fanatik dari kalangan pecinta horor sekaligus menjadikan karakter utamanya, Dara, menjadi salah satu karakter ikonik dari film horor Indonesia, Headshot adalah sebuah film aksi yang lebih bercermin pada Killers (2014) yang menjadi debut penyutradaraan layar lebar perdana bagi karir solo Tjahjanto. Sayangnya, serupa dengan Rumah Dara maupun Killers, Headshot masih menampilkan Mo Brothers dengan permasalahan yang sama: pengembangan konflik dan karakter yang seringkali terasa (terlalu) minimalis dan kurang meyakinkan. Continue reading Review: Headshot (2016)

Review: Equals (2016)

Berlatarbelakang pengisahan di masa yang akan datang dimana para manusia telah berevolusi menjadi sosok yang tidak lagi dapat merasakan berbagai gejolak emosi, Equals memulai pengisahannya ketika Silas (Nicholas Hoult) mulai merasakan adanya perubahan dalam dirinya. Oleh tim medis, Silas kemudian divonis terkena epidemi Switched On Syndrome dimana para korbannya mulai dapat kembali merasakan berbagai rangsangan gejolak emosi dalam diri mereka. Karena penyakitnya masih berada pada stadium awal, Silas hanya diwajibkan untuk mengkonsumsi pengobatan yang telah diberikan serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara regular. Namun, oleh dorongan emosi yang kembali muncul dalam dirinya, Silas mulai merasakan hal-hal lain yang selama ini belum pernah ia rasakan, termasuk jatuh cinta. Continue reading Review: Equals (2016)

Review: Dear Zindagi (2016)

Genius is about knowing when to stop.”

We are all our own teachers in the school of life.”

Don’t let the past blackmail your presentto ruin a beautiful future.”

Nope. Ketiga “kalimat mutiara” diatas bukanlah kutipan yang diambil dari sebuah buku motivasional diri yang kini sedang popular dan banyak ditemukan di berbagai toko buku. Kalimat diatas, dan puluhan kalimat senada lainnya, dikutip dari dialog yang dituliskan oleh Gauri Shinde untuk film arahan terbarunya, Dear Zindagi. Tentu saja, bukanlah sebuah masalah jika sebuah film menggunakan dialog-dialog puitis untuk membentuk jalinan interaksi antara karakter-karakternya. Hal yang berbeda terjadi pada Dear Zindagi. Continue reading Review: Dear Zindagi (2016)

Review: Incarnate (2016)

Diarahkan oleh Brad Peyton – yang sebelumnya mengarahkan film-film seperti Cats & Dogs: The Revenge of Kitty Galore (2010), Journey 2: The Mysterious Island (2012) dan San Andreas (2015) namun sama sekali belum pernah menyutradarai film dari genre horor, Incarnate memiliki premis cerita yang sebenarnya cukup menarik. Incarnate mencoba berbicara tentang proses pengusiran setan dari tubuh seseorang yang sedang kerasukan. But here’s the catch. Daripada berkisah tentang proses pengusiran setan yang melibatkan seorang tokoh agama seperti yang disajikan oleh banyak film sejenis, Incarnate mencoba menghadirkan kisah proses pengusiran setan tersebut melalui cara pandang ilmiah. Sentuhan yang cukup menyegarkan bukan? Think of it as ummmThe Exorcist (William Friedkin, 1973) meets ummmInception (Christopher Nolan, 2010). Continue reading Review: Incarnate (2016)

Review: Cinta Laki-Laki Biasa (2016)

Setelah sebelumnya bekerjasama dalam Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea (2016), sutradara Guntur Soeharjanto kembali bekerjasama dengan penulis Asma Nadia dan Alim Sudio untuk Cinta Laki-Laki Biasa. Well… Judul film ini mungkin akan membuat beberapa orang lantas memandang sebelah mata. Atau malah premis yang dijual tentang kisah cinta segitiga dalam balutan nuansa reliji yang, harus diakui, telah terlalu sering “dieksploitasi” oleh banyak pembuat film Indonesia. Namun, jika Anda mampu melepas segala prasangka dan memberikan film ini sebuah kesempatan, Cinta Laki-Laki Biasa adalah sebuah drama romansa yang tergarap dengan cukup baik, mulai dari penataan naskah dan ritme penceritaan hingga chemistry yang terasa begitu hangat dan meyakinkan antara dua bintang utamanya, Deva Mahenra dan Velove Vexia. Continue reading Review: Cinta Laki-Laki Biasa (2016)

Review: Underworld: Blood Wars (2016)

Cukup sulit untuk dapat mengetahui apa yang sebenarnya diinginkan oleh Sony Pictures dari seri film Underworld yang telah berusia lebih dari satu dekade ini. Secara kualitas, film-film dari seri film ini tampil dengan kualitas yang cukup menyedihkan. Setiap sekuel Underworld yang dirilis bahkan terasa memiliki kualitas penceritaan yang cenderung lebih buruk dari pendahulunya. Dari segi komersial, seri film Underworld juga tidak mendapatkan respon yang terlalu menggembirakan dari para penggemar film. Dengan bujet sebesar US$177 juta yang dibutuhkan untuk memproduksi empat film sebelumnya, seri film Underworld hanya mampu meraih total pendapatan sebesar US$222 juta di Amerika Utara – meskipun pendapatan film dari perilisan di luar teritori tersebut masih mampu memberikan alasan bagi Sony Pictures untuk tetap mempertahankan keberadaan seri film ini. Lalu apa yang dapat ditawarkan oleh seri kelima dari Underworld, Underworld: Blood Wars? Continue reading Review: Underworld: Blood Wars (2016)

Review: Moana (2016)

Walt Disney Pictures kembali membuktikan keunggulannya di tahun 2016 ini. Tidak hanya dari segi komersial – dimana rumah produksi yang dibangun oleh Walt Disney dan Roy O. Disney di tahun 1923 sekali lagi berhasil menjadi rumah produksi tercepat dalam membukukan pendapatan komersial sebesar US$1 miliar dari film-film yang mereka produksi – Walt Disney Pictures juga tetap berhasil mempertahankan kualitas kokoh dari setiap film yang mereka produksi. Lihat saja dua film yang dirilis divisi animasi mereka, Walt Disney Animation Studios, untuk tahun ini: Zootopia (Byron Howard, Rich Moore) dan Moana. Continue reading Review: Moana (2016)

Review: Rumah Malaikat (2016)

Cukup mudah untuk merasakan bahwa Billy Christian adalah salah satu sosok pembuat film Indonesia yang memiliki begitu banyak ide segar di kepalanya. Lihat saja film-film horor yang pernah ia garap seperti Tuyul – Part 1 (2015) atau Kampung Zombie (2015) yang mampu hadir dengan sentuhan kesegaran ide yang cukup berbeda jika dibandingkan dengan kebanyakan film horor produksi pembuat film Indonesia lainnya. Bahkan pada film komedi seperti The Legend of Trio Macan (2013) atau drama romansa seperti 7 Misi Rahasia Sophie (2013), Christian tetap mampu menyelipkan sentuhan-sentuhan tersebut untuk membuat filmnya terasa lebih berisi meskipun dengan jalan cerita yang sebenarnya telah familiar. Continue reading Review: Rumah Malaikat (2016)

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar