Review: Maggie (2015)

maggie-posterDiarahkan oleh seorang sutradara debutan, Henry Hobson, berdasarkan naskah cerita yang juga digarap oleh seorang penulis naskah debutan, John Scott III, Maggie jelas menawarkan sesuatu yang berbeda dengan kebanyakan film-film bertema mayat hidup lainnya. Film ini tidak menawarkan deretan adegan berdarah ketika sekelompok mayat hidup menyerang mangsanya ataupun adegan berdarah ketika mereka yang justru menjadi mangsa sekelompok karakter manusia yang berusaha untuk bertahan hidup. Maggie justru tampil sebagai sebuah film drama intim yang berkisah tentang hubungan antara seorang ayah dengan puterinya yang sedang berada dalam proses perubahan menjadi sosok mayat hidup yang dapat saja membahayakan nyawanya. Sebuah sentuhan cerita yang cukup menyegarkan meskipun Maggie masih seringkali terasa kaku dalam beberapa bagian pengembangan ceritanya. Continue reading Review: Maggie (2015)

Review: Lamaran (2015)

lamaran-posterJika judul sebuah film dapat diibaratkan sebagai sebuah kata pembuka yang mampu memberikan penonton perkenalan mengenai jalan cerita film yang akan mereka saksikan, maka Lamaran jelas bukanlah sebuah judul yang tepat bagi film terbaru arahan Monty Tiwa (Operation Wedding, 2013) ini. Kembali menggarap naskah cerita yang ditangani oleh Cassandra Massardi (Aku, Kau & KUA, 2014), Lamaran memang berkisah tentang kerumitan hubungan asmara antara seorang gadis berdarah Batak dengan seorang pemuda berdarah Sunda akibat tekanan adat yang datang dari kedua keluarga mereka. Namun, kisah romansa tersebut hanyalah satu dari sekian banyak konflik yang dihadirkan dalam film berdurasi 105 menit ini dan sama sekali tidak pernah benar-benar menjadi fokus penceritaan utama film. Hal inilah yang seringkali membuat Lamaran gagal untuk tampil solid dalam mengisahkan penceritaan seluruhnya.

Jalan cerita Lamaran sendiri dimulai ketika seorang pengacara wanita ambisius bernama Tiar Sarigar (Acha Septriasa) dengan berani mengambil langkah untuk menangani sebuah kasus korupsi yang membuatnya berhadapan dengan seorang pimpinan kelompok mafia bernama Arif Rupawan (Dwi Sasono). Untuk melindungi Tiar dari ancaman yang dapat membahayakan hidupnya selama menangani kasus tersebut, dua agen rahasia, Ari (Arie Kriting) dan Sacha (Sacha Stevenson), akhirnya ditugaskan untuk mengawal keberadaannya. Ari dan Sacha kemudian merekrut resepsionis kantor Tiar yang polos, Aan (Reza Nangin), untuk berpura-pura sebagai kekasih Tiar agar dapat terus berada di samping gadis berdarah Batak tersebut. Sialnya, keberadaan Aan yang berdarah Sunda mendapat tentangan dari keluarga Tiar yang lebih memilih agar Tiar mendapatkan suami yang juga memiliki latar belakang adat yang sama dengan dirinya. Keributan antar keluarga tentang hubungan asmara Tiar dengan Aan jelas tidak dapat dihindari.

Lamaran bukannya hadir tanpa momen-momen romansa maupun komedi yang mampu menghibur penontonnya. Beberapa bagian film ini akan sukses mengundang tawa, khususnya yang berasal dari karakter Bu Sarigar yang diperankan oleh Mak Gondut atau dari interaksi antara karakter Arie dan Sacha, serta beberapa momen romansa yang muncul dari hubungan karakter Aan dan Tiar. Sayangnya, Lamaran terlalu banyak mencoba untuk menghadirkan begitu banyak konflik dalam jalan ceritanya. Mulai dari konflik latar belakang adat antara keluarga karakter Tiar dan Aan, perkembangan hubungan antara Tiar dan Aan hingga kasus korupsi yang sedang ditangani karakter Tiar. Akibatnya, tak satupun diantara konflik tersebut yang mampu berkembang dengan penuh dan akhirnya terasa muncul sebagai potongan-potongan kisah yang tersaji secara setengah matang.

Banyaknya konflik yang hadir juga menyisakan ruang yang minim bagi banyak karakter yang hadir dalam jalan cerita film ini untuk mendapatkan pengembangan kisahnya. Yang paling miris jelas terlihat pada karakter Aan yang seringkali hanya ditampilkan sebagai karakter yang tidak melakukan tindakan apapun – meskipun sosoknya adalah salah satu sosok karakter utama. Untungnya Reza Nangin memiliki daya tarik tersendiri yang mampu membuat karakternya tetap tampil menarik. Chemistry yang ia jalin bersama Acha Septriasa jelas bukanlah salah satu on-screen chemistry terkuat yang pernah tampil dalam sebuah film Indonesia. Meskipun begitu, hubungan antara karakter Aan dan Tiar tetap mampu ditampilkan secara manis, khususnya di paruh akhir penceritaan film.

Acha Septriasa sendiri tampil tidak mengecewakan – terlepas dari aksen Batak-nya yang lebih sering berkesan stereotypical daripada meyakinkan sebagai seorang wanita berdarah Batak. Para pemeran pendukung dalam Lamaran cukup mampu mencuri perhatian, seperti Mak Gondut, duo Arie Kriting dan Sacha Stevenson ataupun Dwi Sasono dan Mongol Stres meskipun keduanya hadir tanpa plot penceritaan dan karakter yang begitu jelas. Lamaran, secara keseluruhan, bukanlah presentasi yang benar-benar buruk. Film ini hanya melantur terlalu banyak dengan menyajikan terlalu banyak konflik yang gagal untuk dikembangkan dengan baik dalam penceritaannya sehingga gagal untuk benar-benar mampu menampilkan sebuah jalan cerita yang solid. [C-]

Lamaran (2015)

Directed by Monty Tiwa Produced by Gope T. Samtani Written by Cassandra Massardi Starring     Reza Nangin, Acha Septriasa, Arie Kriting, Sacha Stevenson, Cok Simbara, Mak Gondut, Wieke Widowati, Mongol Stres, Restu Sinaga, Marwoto, Tora Sudiro, Dwi Sasono, Eka D. Sitorus, Dharty Manulang, Ozzol Ramdan, Project Pop Music by Ganden Bramanto Cinematography by Rollie Markiano Editing by Ganda Harta Studio  Rapi Films Running time 100 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: Comic 8: Casino Kings – Part 1 (2015)

comic-8-casino-kings-part-1-posterComic 8: Casino Kings – Part 1 adalah bagian pertama dari dua bagian film yang telah direncanakan sebagai sekuel dari film Comic 8 yang berhasil meraih predikat sebagai film Indonesia dengan jumlah penonton terbanyak ketika dirilis pada awal tahun 2014 lalu. Seperti layaknya sebuah sekuel, Anggy Umbara merancang Comic 8: Casino Kings – Part 1 sebagai sebuah sajian yang lebih mewah dan megah jika dibandingkan dengan pendahulunya. Berhasil? WellComic 8: Casino Kings – Part 1 memang mampu tampil dengan deretan guyonan yang beberapa kali berhasil mengundang tawa penonton. Jajaran pemerannya yang berisi (sangat) banyak wajah familiar di industri film Indonesia juga tampil menyenangkan dalam peran komikal mereka. Namun, terlepas dari penampilannya yang lebih mewah, Comic 8: Casino Kings – Part 1 masih gagal untuk menghindar dari kesalahan yang telah dibuat oleh film pendulunya. Hal ini masih ditambah dengan keberadaan sindrom film yang jalan ceritanya dibagi menjadi dua bagian yang kemudian membuat Comic 8: Casino Kings – Part 1 terasa berjalan begitu bertele-tele khususnya di bagian akhir pengisahannya.

Dengan naskah cerita yang masih digarap oleh Anggy Umbara bersama dengan Fajar Umbara, Comic 8: Casino Kings – Part 1 melanjutkan kisah seri pendahulunya ketika delapan agen rahasia yang berada dibawah pimpinan Indro Warkop untuk menyamar menjadi komika demi mencari seorang komika yang menjadi penghubung ke seorang pemilik kasino terbesar di Asia yang sering disebut dengan sebutan nama The King. Jelas bukan sebuah tugas yang mudah. Kedelapan agen rahasia tersebut masih harus dikejar-kejar pihak kepolisian akibat tindakan perampokan bank yang telah mereka lakukan di seri sebelumnya. Mereka juga harus menghadapi sederetan kelompok penjahat yang berusaha menghalangi agar tugas mereka gagal untuk terselesaikan.

Bagian awal penceritaan Comic 8: Casino Kings – Part 1 jelas merupakan bagian terbaik dari film ini. Anggy Umbara memulai filmnya dengan tampilan visual berteknologi tinggi yang akan mampu memuaskan setiap penonton yang menginginkan lebih banyak adegan aksi dari film ini. Para pemeran film, mulai dari delapan komika yang berperan sebagai agen rahasia hingga para pemeran pendukung lain seperti Boy William, Prisia Nasution, Dhea Ananda hingga Gita Bhebita, juga berhasil mengeksekusi dialog-dialog penuh komedi mereka dengan sangat baik. Anggy Umbara sendiri mengemas Comic 8: Casino Kings – Part 1 sebagai satuan potongan-potongan cerita dan kemudian seperti mengacak linimasa penceritaan sehingga tidak lantas berjalan linear. Sayang, pengacakan linimasa yang dihadirkan dalam film ini terkesan sebagai gimmick belaka tanpa pernah benar-benar terasa sebagai sebuah hal yang esensial maupun berpengaruh pada kualitas penceritaan secara keseluruhan.

Memasuki pertengahan penceritaan, seiring dengan semakin banyaknya karakter yang memenuhi garis pengisahan film, Comic 8: Casino Kings – Part 1 mulai terasa kehilangan arah. Banyak diantara karakter yang hadir tampil tanpa peran penceritaan yang kuat. Begitu juga dengan plot penceritaan yang hadir dengan konflik yang terkesan sengaja ditahan untuk disimpan dan disimpan pada bagian film berikutnya. Hasilnya jelas membuat Comic 8: Casino Kings – Part 1 terasa tidak maksimal dalam presentasinya. Setelah dimulai dengan berbagai keberhasilan untuk tampil menghibur, paruh kedua dan ketiga penceritaan film serasa berjalan melamban tanpa pernah sekalipun mampu menghasilkan kualitas hiburan yang sama seperti paruh penceritaan pendahulunya. Cukup disayangkan mengingat Comic 8: Casino Kings – Part 1 memiliki potensi yang sangat kuat untuk menjadi film aksi komedi yang cukup fantastis.

Adalah mudah untuk mengetahui bahwa Anggy Umbara memiliki konsep yang sangat megah untuk sekuel Comic 8. Sayangnya, sebagai sebuah film yang diniatkan untuk hadir dalam dua bagian film, Comic 8: Casino Kings – Part 1 jelas masih memiliki garis penceritaan yang cukup rapuh. Berbagai plot dan konflik yang sengaja ditampilkan setengah matang untuk kemudian diselesaikan pada bagian film selanjutnya justru membuat Comic 8: Casino Kings – Part 1 kehilangan banyak momen emasnya. Jajaran pemeran film ini memang masih sangat mampu memberikan banyak hiburan kepada para penonton. Namun, lebih dari itu, Comic 8: Casino Kings – Part 1 gagal untuk menjadi sebuah sajian yang kuat secara keseluruhan. Mudah-mudahan saja Comic 8: Casino Kings – Part 2 yang rencananya dirilis awal tahun mendatang dapat tampil lebih baik dari bagian pertamanya ini. [C]

Comic 8: Casino Kings – Part 1 (2015)

Directed by Anggy Umbara Produced by Frederica Written by Fajar Umbara Starring Mongol Stres, Ernest Prakasa, Kemal Palevi, Bintang Timur, Babe Cabiita, Fico Fachriza, Arie Kriting, Ge Pamungkas, Indro Warkop, Sophia Latjuba, Prisia Nasution, Nikita Mirzani, Pandji Pragiwaksono, Hannah Al Rashid, Yayan Ruhian, Cak Lontong, Joehana Sutisna, Boy William, Ence Bagus, Donny Alamsyah, Agung Hercules, Agus Kuncoro, Candil, Barry Prima, George Rudy, Willy Dozan, Lydia Kandou, Sacha Stevenson, Soleh Solihun, Dhea Ananda, Bagus Netral, Ray Sahetapy, Arief Didu, Adjis Doaibu, Isman HS, Gilang Bhaskara, Akbar Kobar, Asep Suaji, Awwe, Uus, Temon, Boris Bokir, Lolox, Bene Rajagukguk, Gita Bhebhita, Mo Sidik, Jovial da Lopez, Andovi da Lopez, DJ Karen Garrett Music by Indra Q Cinematography by Dicky R. Maland Editing by Andi Mamo Studio  Falcon Pictures Running time 104 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: Mencari Hilal (2015)

mencari-hilal-posterMerupakan film kedua setelah Ayat-Ayat Adinda (Hestu Saputra, 2015) dari lima film yang direncanakan akan diproduksi dalam Gerakan Islam Cinta dan Indonesia Tanpa Diskriminasi, Mencari Hilal arahan Ismail Basbeth (Another Trip to the Moon, 2015) mengisahkan tentang perjalanan Heli (Oka Antara) dalam menemani sang ayah, Mahmud (Deddy Sutomo), untuk mengulang kembali tradisi yang pernah ia lakukan dahulu semasa masih menuntut ilmu di pesantren dalam mencari hilal – sebuah fenomena alam akan penampakan bulan sabit baru yang juga menunjukkan masuknya bulan baru dalam sistem kalender Hijriah. Hubungan antara Heli dan Mahmud sendiri telah lama merenggang akibat banyaknya pertentangan antara keduanya, terlebih semenjak Heli memutuskan untuk meninggalkan rumah orangtuanya untuk menjadi seorang aktivis lingkungan. Jelas, perjalanan setengah hati yang dilakukan Heli untuk menemani sang ayah akhirnya diisi dengan begitu banyak konfrontasi. Namun, dalam konfrontasi yang terjadi dalam perjalanan itulah, Heli dan Mahmud secara perlahan mulai mempelajari lebih banyak tentang satu sama lain dan mulai memahami sekaligus membuka diri tentang berbagai perbedaan pola pemikiran antara keduanya.

Sebagai sebuah road movie yang mendalami tentang hubungan antara sosok ayah dan anak – dan mungkin akan mengingatkan beberapa orang pada film asal Perancis arahan Ismaël Ferroukhi, Le Grand Voyage (2004) – Mencari Hilal jelas membutuhkan deretan dialog dan konflik yang kuat untuk dapat membuat penonton turut merasa terikat akan naik turunnya hubungan dua karakter yang bagian kisah hidupnya sedang mereka ikuti. Beruntung, naskah cerita garapan Salman Aristo, Bagus Bramanti dan Ismail Basbeth mampu menata pengisahan tersebut dengan sangat baik. Perjalanan yang dilakukan oleh karakter Heli dan Mahmud diisi dengan dialog-dialog yang dapat membuka kepribadian kedua karakter tersebut kepada para penonton sekaligus menjabarkan kondisi hubungan mereka. Naskah cerita film juga secara cerdas menyelipkan banyak isu-isu sosial yang berkenaan dengan “toleransi” dan “diskriminasi” – yang sepertinya memang akan kerap disajikan pada setiap film-film yang diproduksi dalam Gerakan Islam Cinta dan Indonesia Tanpa Diskriminasi – guna menjadikan jalan cerita Mencari Hilal semakin kuat dan seringkali terasa emosional.

Tidak sepenuhnya berjalan mulus. Mencari Hilal seringkali terasa menginvestasikan terlalu banyak porsi penceritaannya pada konflik eksternal yang dihadapi kedua karakter dalam perjalanan mereka. Bukan berarti buruk, namun hubungan ayah dan anak antara karakter Mahmud dan Heli jelas akan terasa lebih mengikat secara emosional jika keduanya diberikan lebih banyak kesempatan untuk berhadapan dengan konflik internal mereka. Latar belakang kisah yang dihadirkan untuk kedua karakter juga masih terasa minim untuk penonton dapat memberikan perhatian lebih besar pada keduanya. Namun, kelemahan-kelemahan tersebut untungnya mampu ditutupi dengan pengarahan Ismail Basbeth yang terasa begitu intim. Fokus personal yang diberikan Ismail Basbeth pada jalan ceritanya membuat Mencari Hilal seringkali mampu berbicara lebih besar dari apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh naskah cerita filmnya. Pilihannya untuk menghadirkan jalan cerita film dengan nada penceritaan yang sederhana juga berhasil memberikan ruang yang luas bagi penonton untuk dapat meresapi berbagai konflik yang berjalan di sepanjang durasi film.

Ismail Basbeth juga mendapatkan dukungan yang berkelas dari departemen produksi serta departemen akting filmnya. Gambar-gambar yang disajikan oleh Satria Kurnianto tampil begitu indah. Seperti jalan ceritanya, deretan gambar yang menghiasi Mencari Hilal seringkali tampil indah dalam artian puitis daripada bermaksud untuk sekedar menjadi ajang pameran keindahan tata sinematografi. Kualitas yang sama juga dapat dirasakan dari tampilan musik, artistik hingga penataan gambar yang mendukung kualitas film secara keseluruhan. Dari departemen akting, Deddy Sutomo dan Oka Antara berhasil menghidupkan karakter yang mereka perankan dengan baik. Meskipun penampilan Oka Antara kadang masih terasa berjalan dalam satu nada emosi yang sama di sepanjang film, namun chemistry yang ia bentuk bersama aktor senior Deddy Sutomo – yang tampil begitu brilian – mampu menjadi kunci bagi penampilan keduanya sebagai pasangan ayah dan anak untuk terlihat meyakinkan.

Terlepas dari beberapa kekurangannya, Mencari Hilal mampu muncul sebagai sebuah sajian yang berhasil berbicara secara personal kepada setiap penikmatnya tanpa pernah terasa menggurui atau menceramahi meskipun dengan tema penceritaan yang dibawakannya. Salah satu film yang jelas akan meninggalkan kesan begitu mendalam pada setiap penontonnya jauh seusai mereka menyaksikan film ini. [B]

Mencari Hilal (2015)

Directed by Ismail Basbeth Produced by Putut Widjanarko, Raam Punjabi, Salman Aristo Written by Salman Aristo, Bagus Bramanti, Ismail Basbeth Starring Deddy Sutomo, Oka Antara, Torro Margens, Erythrina Baskoro Music by Charlie Meliala Cinematography Satria Kurnianto Editing by Wawan I. Wibowo Studio Multivision Plus Pictures/Studio Denny JA/Mizan Productions/Dapur Film Production/Argi Film Running time 94 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: Ant-Man (2015)

ant-man-posterJika barisan pahlawan super dan berbagai varian yang telah dikenal selama ini masih belum mampu memuaskan Anda… wellmeet Ant-Man. Seperti halnya Captain America: The Winter Soldier (Anthony Russo dan Joe Russo, 2014) atau Guardians of the Galaxy (James Gunn, 2004) atau Avengers: Age of Ultron (Joss Whedon, 2015), Ant-Man juga merupakan satu karakter pahlawan super yang kisahnya diadaptasi dari seri komik terbitan Marvel Comics. Pertama kali dirilis ke hadapan publik pada tahun 1962, usaha untuk mengangkat kisah Ant-Man ke layar lebar sendiri telah dimulai semenjak akhir tahun 1980an. Namun, baru semenjak tahun 2003 ketika sutradara Edgar Wright (Scott Pilgrim vs. The World, 2010) bersama dengan rekan penulis naskahnya, Joe Cornish, memulai usaha untuk membangun penceritaan untuk Ant-Man, adaptasi kisah untuk versi layar lebar dari Ant-Man baru mulai benar-benar berjalan. Dengan naskah cerita final yang juga dibantu oleh sentuhan komedi Adam McKay (The Other Guys, 2010) dan Paul Rudd, Ant-Man akhirnya memulai masa produksinya pada akhir tahun 2014 dengan arahan sutradara Peyton Reed (Yes Man, 2008) untuk dipersiapkan sebagai salah satu sentuhan akhir bagi fase kedua dari Marvel Cinematic Universe.

Jika Peter Parker adalah Spider-Man dan Steve Rogers adalah Captain America dan Bruce Banner adalah Hulk, maka Scott Lang (Paul Rudd) adalah kepribadian yang berada di balik kostum Ant-Man. Who’s Scott Lang? Scott Lang adalah seorang mantan narapidana yang kemudian dipilih oleh seorang ilmuwan bernama Hank Pym (Michael Douglas) untuk mengenakan kostum Ant-Man yang ia ciptakan. Dengan kostum tersebut, Scott Lang memiliki kekuatan untuk mengecilkan tubuhnya setara dengan ukuran… well… semut, obviously, sekaligus berbagai kekuatan lainnya. Hank Pym sendiri memberikan kostum Ant-Man tersebut pada Scott Lang bukannya tanpa alasan. Hank Pym berniat untuk menghalangi proyek mantan muridnya, Darren Cross (Corey Stoll), yang meniru formula Ant-Man yang diciptakannya untuk kemudian dijual kepada pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab dan dapat mengancam perdamaian dunia.

Layaknya kebanyakan bagian awal dari sebuah seri film yang berkisah tentang seorang pahlawan super, Ant-Man juga menghabiskan sebagian durasi penceritaannya untuk menggali lebih dalam mengenai sosok karakter yang berada di balik tokoh Ant-Man sekaligus karakter-karakter lain yang berada di kehidupannya. Tentu, jika dibandingkan dengan kebanyakan film rilisan Marvel Studios sebelumnya yang tampil maksimal dalam penggarapan deretan adegan aksinya yang bombastis, tampilan Ant-Man yang hadir dengan ritme penceritaan yang sederhana dan lebih menekankan unsur drama akan memberikan sedikit kejutan bagi para penontonnya, khususnya mereka yang mungkin telah cukup familiar dengan film-film yang berada dalam Marvel Cinematic Universe. Buruk? Sama sekali tidak. Perubahan warna penceritaan yang dibawa Ant-Man justru memberikan kejutan yang menyegarkan sekaligus jeda yang mungkin memang dibutuhkan oleh sejenis.

Jangan khawatir. Ant-Man masih mampu menghadirkan deretan adegan aksi yang tergarap dengan cukup baik dalam banyak bagian penceritaannya. Namun, adalah unsur drama dan komedi yang menjadikan Ant-Man tampil begitu memikat. Jika selama ini unsur komedi hanya menjadi formula tambahan dalam film-film rilisan Marvel Studios, maka Ant-Man menjadikan formula tersebut sebagai bahan utamanya, meracik tiap adegan dan dialog dengan sentuhan komedi yang kental walaupun sama sekali tidak pernah melepaskan identitas sejatinya sebagai sebuah film bertemakan pahlawan super buatan Marvel Studios. Naskah cerita garapan Wright, Cornish, McKay dan Rudd mampu tersusun dengan baik untuk mengenalkan sang karakter pahlawan super kepada penonton. Begitu pula dengan eksekusi Reed atas naskah cerita tersebut yang – meskipun masih terasa datar pada bagian akhir paruh pertama hingga pertengahan paruh kedua penceritaan – menjadikan Ant-Man sebagai sebuah sajian kisah yang sangat menarik dan menghibur.

Kelihaian Marvel Studios dalam memilih deretan aktor yang tepat untuk menghidupkan karakter-karakter mereka juga sekali lagi menjadi poin keunggulan tersendiri bagi Ant-Man. Paul Rudd tampil begitu mengesankan sebagai Scott Lang/Ant-Man. Kharismanya yang kuat mampu membuat karakternya sebagai sosok pria/ayah/pahlawan super menjadi begitu humanis sekaligus mudah untuk disukai. Chemistry yang dijalin Rudd dengan para pemeran lain juga menjadikan naskah cerita Ant-Man yang cukup bergantung pada deretan dialognya tampil dinamis dalam presentasinya. Para pemeran pendukung seperti Michael Douglas, Evangeline Lilly hingga Corey Stoll juga hadir dengan penampilan akting yang prima. Namun adalah Michael Peña yang seringkali hadir dan mencuri perhatian dengan penampilan komikalnya. Peran Peña memang harus diakui cukup terbatas. Meskipun begitu, Peña mampu mengeksekusi setiap bagian kisahnya dengan begitu baik. [B-]

Ant-Man (2015)

Directed by Peyton Reed Produced by Kevin Feige Written by Edgar Wright, Joe Cornish, Adam McKay, Paul Rudd (screenplay), Edgar Wright, Joe Cornish (story), Stan Lee, Larry Lieber, Jack Kirby (comic book, Ant-Man) Starring Paul Rudd, Evangeline Lilly, Corey Stoll, Bobby Cannavale, Michael Peña, Tip “T.I.” Harris, Anthony Mackie, Wood Harris, Judy Greer, David Dastmalchian, Michael Douglas, John Slattery, Hayley Atwell, Abby Ryder, Gregg Turkington, Martin Donovan, Garrett Morris, Stan Lee, Chris Evans, Sebastian Stan, Hayley Lovitt Music by Christophe Beck Cinematography Russell Carpenter Edited by Dan Lebental, Colby Parker, Jr. Studio Marvel Studios Running time 117 minutes Country United States Language English

Review: Poltergeist (2015)

poltergeist-posterPada tahun 1982, sutradara Tobe Hooper (The Texas Chainsaw Massacre, 1974) bekerjasama dengan produser sekaligus penulis naskah Steven Spielberg untuk memproduksi sebuah film horor sederhana berjudul Poltergeist. Dengan dana produksi yang hanya mencapai US$10.7 juta namun didukung dengan kualitas penceritaan, produksi serta penampilan akting yang apik – dan rumor bahwa proses pembuatan film horor tersebut mendapatkan kutukan, Poltergeist berhasil menarik minat banyak penikmat film horor dunia dan memberikan film tersebut kesuksesan kritikal – termasuk tiga nominasi Academy Awards – dan, tentu saja, komersial – dengan raihan pendapatan yang mencapai sepuluh kali biaya produksinya. Kini, setelah dua sekuelnya yang sama sekali tidak melibatkan Hooper maupun Spielberg dan menemui kegagalan ketika dirilis di pasaran pada tahun 1986 dan 1988, Hollywood mencoba membawa kembali kengerian Poltergeist yang kali ini berada dalam arahan sutradara Gil Kenan (Monster House, 2006) serta duo produser Sam Raimi dan Robert G. Tapert yang sebelumnya pernah menghasilkan trilogi film The Evil Dead (1981 – 1993) yang melegenda itu.

Dengan naskah cerita yang digarap oleh David Lindsay-Abaire (Rabbit Hole, 2010), versi teranyar dari Poltergeist mengisahkan tentang pasangan Eric (Sam Rockwell) dan Amy Bowen (Rosemarie DeWitt) dan ketiga anak mereka, Kendra (Saxon Sharbino), Griffin (Kyle Catlett) dan Madison (Kennedi Clements) yang baru saja pindah rumah ke sebuah wilayah pinggiran kota setelah Eric diberhentikan dari pekerjaannya. Keberadaan mereka di rumah itu awalnya berjalan dengan tenang. Namun, setelah beberapa gangguan misterius yang dialami oleh Griffin serta perubahan sikap yang terjadi pada Madison, secara perlahan ketenangan keluarga tersebut mulai terusik. Kondisi tersebut semakin memburuk ketika Madison secara tiba-tiba menghilang begitu saja dari rumah tersebut. Sadar kalau yang mereka hadapi adalah gangguan supranatural yang di luar jangkauan kemampuan mereka, Eric dan Amy akhirnya menghubungi ahli paranormal, Dr. Brooke Powell (Jane Adams), dan spesialis masalah supranatural, Carrigan Burke (Jared Harris), untuk membantu mereka.

Sebagai sebuah film yang mencoba untuk mengulang kesuksesan sebuah film seikonik Poltergeist buatan Hooper dan Spielberg, versi terbaru Poltergeist yang melengkapi para ahli supranaturalnya dengan berbagai perlengkapan komputer super canggih ini harus diakui tidak tampil begitu buruk – dan bahkan mampu memberikan beberapa momen menegangkan yang akan cukup mampu menyenangkan para penikmat film-film sejenis. Keberhasil tersebut jelas dapat diraih karena baik pengarahan Kenan maupun naskah cerita garapan Lindsay-Abaire mencoba mengikuti setiap formula yang telah diterapkan film Poltergeist pendahulunya. Tetap saja, kemampuan untuk mengikuti formula yang telah ada tersebut akan membuat versi modern dari Poltergeist seringkali menjadi terasa kurang mengejutkan. Jika Poltergeist sebelumnya mampu menciptakan standar baru bagi film-film dengan tema rumah berhantu, maka versi modern-nya hanya terasa sebagai sebuah film rumah berhantu lain yang mengikuti formula horor Hollywood yang telah berulangkali dieksplorasi.

Versi terbaru dari Poltergeist juga terasa ringan secara emosional jika dibandingkan dengan pendahulunya. Seperti halnya trilogi The Evil Dead, Raimi dan Tapert sepertinya memilih untuk menginjeksikan beberapa sentuhan komedi lewat dialog maupun karakter yang dihadirkan mereka lewat film ini. Sayang, beberapa elemen emosional yang justru menjadi elemen terkuat dalam film orisinalnya justru menguap begitu saja. Lihat saja bagaimana hubungan emosional antara anggota keluarga Bowen yang terasa mengalir begitu saja tanpa pernah berusaha digambarkan hadir dengan ikatan emosional yang begitu mengikat satu sama lain. Versi modern Poltergeist juga tidak begitu memberikan ruang yang luas bagi pengembangan karakter-karakternya sehingga akan cukup sulit bagi penonton untuk merasakan kepedulian yang lebih mendalam bagi karakter-karakter tersebut.

Beruntung, Poltergeist berhasil mendapatkan dukungan penampilan akting yang sangat solid dari jajaran pemerannya. Berbeda dengan penampilan departemen akting versi orisinal Poltergeist yang bernada jauh lebih serius, penampilan Sam Rockwell, Rosemarie DeWitt dan jajaran pemeran lain dalam Poltergeist versi terbaru terasa lebih lugas dan rileks dalam menghidupkan setiap karakter mereka. Poltergeist juga mampu dihadirkan dengan kualitas produksi yang sangat berkelas. Kenan mampu mendapatkan dukungan terbaik dari tim produksinya untuk mampu menghasilkan gambar-gambar yang kelam sehingga berhasil menciptakan atmosfer horor yang cukup dalam pada beberapa bagian penceritaannya. Sebagai sebuah remake horor, Poltergeist jelas bukanlah sebuah karya yang buruk. Mungkin film ini akan mampu mendapatkan apresiasi yang lebih jika saja memilih untuk tidak menggunakan judul Poltergeist yang telah terlalu ikonik itu dalam masa perilisannya. [C]

Poltergeist (2015)

Directed by Gil Kenan Produced by Roy Lee, Sam Raimi, Robert G. Tapert Written by David Lindsay-Abaire (screenplay), Steven Spielberg (story) Starring Sam Rockwell, Rosemarie DeWitt, Jared Harris, Jane Adams, Saxon Sharbino, Kyle Catlett, Kennedi Clements, Nicholas Braun, Susan Heyward, Soma Bhatia Music by Marc Streitenfeld Cinematography Javier Aguirresarobe Edited by Jeff Betancourt, Bob Murawski Studio Metro-Goldwyn-Mayer/Ghost House Pictures/Vertigo Entertainment Running time 93 minutes Country United States Language English

Review: Minions (2015)

Minions-posterDunia pertama kali mengenal sekumpulan makhluk kecil berwarna kecil yang dikenal dengan sebutan minions ketika karakter-karakter tersebut hadir sebagai karakter pendukung pada film animasi produksi Illumination Entertainment, Despicable Me (Pierre Coffin dan Chris Renaud, 2010). Tidak hanya menjadi salah satu bagian terbaik dari Despicable Me, para minions berhasil mencuri jutaan hati para penikmat film tersebut yang kemudian menjadikan porsi penceritaan mereka meningkat secara signifikan ketika Despicable Me 2 dirilis tiga tahun kemudian. Kepopuleran minions yang cukup besar lantas mendorong para produser seri film Despicable Me untuk memproduksi sebuah film yang menjadikan minions sebagai bintang utamanya. Namun apakah para karakter yang terbiasa hadir sebagai karakter pendukung tersebut memiliki daya tarik yang sama (atau bahkan lebih?) kuat ketika ditempatkan pada garda terdepan sebuah film? Tidak, sayangnya.

Film Minions sendiri dimaksudkan untuk menjadi prekuel bagi seri Despicable Me dimana film ini mengisahkan tentang awal mula keberadaan minions sekaligus awal pertemuan mereka dengan Gru muda (Steve Carrell) yang kelak akan menjadi tuan mereka. Dikisahkan, minions merupakan makhluk yang telah ada semenjak Bumi diciptakan. Keberadaan minions sendiri memiliki satu tujuan: untuk menjadi pelayan bagi seorang tuan dengan sikap yang begitu jahat. Setelah melayani Tyrannosaurus rex, manusia primitif, Genghis Khan, Napoleon Bonaparte dan seorang drakula, minions tidak lagi menemukan seseorang yang tepat untuk dapat mereka layani. Keadaan tersebut membuat mereka menjadi depresi dan memilih untuk mengisolasi diri mereka ke Antartika. Tidak tahan dengan keadaan tersebut, tiga minion yang bernama Kevin, Stuart dan Bob (ketiganya diisisuarakan oleh Pierre Coffin) akhirnya memilih untuk melakukan perjalanan untuk menemukan seorang tuan yang baru. Setelah melalui beberapa rintangan, Kevin, Stuart dan Bob merasa mereka telah menemukan tuan yang tepat setelah berjumpa dengan seorang wanita penjahat yang kejam bernama Scarlett Overkill (Sandra Bullock).

Minions jelas memiliki penampilan yang cukup kuat untuk mengundang senyum atau bahkan tawa setiap penontonnya. Namun, dengan durasi penceritaan sepanjang 91 menit, penampilan lucu dari minions tersebut – yang dialognya hanya terdiri dari gumaman atau bentukan kata-kata yang kebanyakan tiada berarti – jelas tidak akan sanggup membuat film ini tampil menarik. Sayangnya, naskah cerita arahan Brian Lynch sepertinya benar-benar hanya mengandalkan guyonan khas minions untuk dapat menghibur penontonnya. Sebagian guyonan tersebut harus diakui masih mampu tampil lugas namun pada kebanyakan bagian guyonan-guyonan ciptaan Lynch gagal untuk tampil istimewa. Daya tarik minions sebagai penghibur yang dahulu begitu mencuri perhatian dalam dua seri Despicable Me jelas terasa menghilang ketika “dieksploitasi” secara lebih luas.

Seperti halnya ketiadaan seorang sosok tuan dalam kehidupan minions yang menyebabkan mereka merasa sengsara, naskah arahan Lynch juga gagal untuk tampil prima akibat ketiadaan karakter pendamping minions seperti karakter Gru dan ketiga anaknya dalam film ini. Minions memang menyajikan karakter Scarlett Overkill, namun karakter tersebut hadir dengan karakterisasi dan porsi penceritaan yang terlalu minim untuk dapat mencuri perhatian penonton. Karakter pasangan suami istri yang berprofesi sebagai penjahat, Walter dan Madge Nelson, sebenarnya lebih sering tampil dengan plot penceritaan yang menarik. Namun peran keduanya yang hanya tampil sebagai karakter pendukung sekunder jelas membuat kehadiran mereka lebih minim dengan fungsi penceritaan yang tidak terlalu berkembang.

Tidak sepenuhnya buruk. Selain dari beberapa guyonannya yang masih mampu memancing senyum, duo sutradara Pierre Coffin dan Kyle Balda berhasil menyajikan pengisahan filmnya dengan ritme yang cepat – meskipun tidak berpengaruh banyak akibat lemahnya kualitas penulisan naskah cerita film. Paruh ketiga dari Minions jelas adalah bagian paling kuat dari penceritaan film dimana baik Coffin maupun Balda mampu mengeksekusi sisi aksi dalam pengisahan Minions dengan cukup apik. Minions juga didukung dengan keberadaan deretan pengisi suara yang mampu memberikan karakter-karakter mereka identitas yang terasa unik dan begitu hidup. Lihat bagaimana pasangan Michael Keaton dan Allison Janney mampu membuat karakter Walter dan Madge Nelson menjadi begitu menarik. Atau Jennifer Saunders yang tampil jenaka dengan kemampuannya mengeksekusi setiap dialog yang dilontarkan karakter Queen Elizabeth II. Atau Geoffrey Rush yang mampu menjadi seorang narator yang baik dalam mewakili kisah perjalanan minions. Sayang, penampilan suara dari Sandra Bullock dan Jon Hamm terasa gagal dalam memberikan karakter mereka penampilan yang lebih baik. Bukan salah Bullock maupun Hamm sepenuhnya karena karakter-karakter mereka memang tergambar dengan begitu sempit. Bukan sebuah film animasi yang menyenangkan – bahkan ketika Anda mengharapkan sebuah film animasi untuk hanya menjadi sebuah tontonan bagi para penonton muda. [C-]

Minions (2015)

Directed by Pierre Coffin, Kyle Balda Produced by Chris Meledandri, Janet Healy Written by Brian Lynch Starring Pierre Coffin, Sandra Bullock, Jon Hamm, Michael Keaton, Allison Janney, Steve Coogan, Geoffrey Rush, Jennifer Saunders, Steve Carrell, Hiroyuki Sanada Music by Heitor Pereira Editing by Claire Dodgson Studio Illumination Entertainment Running time 91 minutes Country United States Language English

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar