Review: Under the Shadow (2016)

2016 is a fucking great year for horror movies. Film-film horor di tahun ini tidak hanya mampu memberikan kemasan yang lebih segar dan tetap menakutkan pada jalinan formula penceritaan yang telah begitu familiar – seperti Ouija: Origin of Evil (Mike Flanagan, 2016)  atau Don’t Breathe (Fede Alvarez, 2016) atau Train to Busan (Yeon Sang-ho, 2016) – namun juga berhasil memberikan alternatif cerita yang bahkan lebih berani dan lebih segar jika dibandingkan dengan banyak judul dari genre film lain – seperti The Wailing (Na Hong-jin, 2016), The Witch (Robert Eggers, 2016) atau The Neon Demon (Nicholas Winding Refn, 2016). Under the Shadow – sebuah horor yang menjadi debut pengarahan bagi sutradara sekaligus penulis naskah kelahiran Iran, Babak Anvari – berhasil menggabungkan dua elemen kesuksesan tersebut. Continue reading Review: Under the Shadow (2016)

Review: Allied (2016)

Film terbaru arahan Robert Zemeckis, Allied, memulai perjalanannya di kota Casablanca, Maroko pada tahun 1942 ketika Perang Dunia II sedang berlangsung. Dikisahkan, agen rahasia asal Kanada, Max Vatan (Brad Pitt), bertemu dengan seorang pemberontak asal Perancis, Marianne Beausejour (Marion Cotillard), untuk saling bekerjasama dalam menyelesaikan sebuah misi. Layaknya sebuah drama romansa, Max dan Marianne saling jatuh cinta. Setelah menyelesaikan misi mereka, Max akhirnya meminta Marianne untuk menikahinya, pindah ke London dan membentuk keluarga bersama. Sebuah permintaan yang kemudian disetujui oleh Marianne. Pernikahan Max dan Marianne berjalan dengan indah apalagi setelah keduanya dikaruniai seorang putri. Masalah muncul ketika Max dipanggil oleh atasannya yang mencurigai bahwa Marianne sebenarnya adalah sosok agen rahasia yang bekerja untuk Jerman. Oleh atasannya, Max diberikan beberapa hari untuk membuktikan bahwa Marianne tidak bersalah. Namun, jika Marianne adalah benar merupakan sosok agen rahasia untuk Jerman, Max sendiri yang diharuskan untuk membunuh Marianne. Continue reading Review: Allied (2016)

Review: Fantastic Beasts and Where to Find Them (2016)

Dengan pendapatan sebesar lebih dari US$7,8 milyar dari masa perilisan delapan filmnya di sepanjang satu dekade (2001 – 2011), jelas adalah sangat naif untuk beranggapan bahwa Warner Bros. akan melepaskan begitu saja kesempatan untuk kembali meraih peruntungan komersial dari seri Harry Potter. Well… kesempatan itu datang dari Fantastic Beasts and Where to Find Them, sebuah buku karya J.K. Rowling yang dirilis pada tahun 2001 dan awalnya diniatkan sebagai “bacaan pendamping” bagi buku seri pertama dari Harry Potter, Harry Potter and the Sorcerer’s Stone (1997). Continue reading Review: Fantastic Beasts and Where to Find Them (2016)

Review: Hacksaw Ridge (2016)

Masih ingat ketika Clint Eastwood merilis dua film bertema peperangan di tahun 2006 yang lalu? Well… Jika Billy Lynn’s Long Halftime Walk arahan Ang Lee adalah Flags of Our Fathers yang lebih terasa personal, meditatif dan berfokus pada sisi drama dari penceritaannya maka Hacksaw Ridge milik Mel Gibson adalah Letters from Iwo Jima yang mengandalkan banyak adegan aksi di tengah laga peperangan – meskipun juga sama sekali tidak pernah kehilangan kontrol akan sisi penceritaan dramanya. And let’s just say… Sama seperti halnya Flags of Our Fathers dibandingkan dengan Letters from Iwo Jima, Hacksaw Ridge memiliki beberapa keunggulan yang lebih kuat dibandingkan dengan Billy Lynn’s Long Halftime Walk. Continue reading Review: Hacksaw Ridge (2016)

#StreamOnTerus iflix dengan IM3 Ooredoo

Have you guys heard about iflix?

iflix adalah layanan video on demand yang menyediakan ribuan judul film dan serial televisi melalui internet streaming. Merupakan layanan video on demand dengan perkembangan paling pesat di Asia Tenggara, iflix resmi membuka layanannya di Indonesia semenjak Juni 2016 setelah sebelumnya menghampiri Malaysia, Thailand dan Filipina. Meskipun tergolong baru, iflix telah mampu menghadirkan ribuan judul film dan serial televisi dalam pustakanya termasuk film-film Hollywood favorit dunia seperti Titanic (1997), The Devil Wears Prada (2006) hingga Avatar (2009), berbagai serial televisi pemenang Emmy Awards seperti American Horror Story, Fargo dan Glee serta banyak film Indonesia mulai dari yang terbaru seperti Manusia Setengah Salmon (2013), Gangster (2015) dan London Love Story (2016) hingga film-film Indonesia klasik seperti Romi dan Juli (1974), Catatan Si Boy (1987), Nagabonar (1987) dan Laskar Pelangi (2008). Continue reading #StreamOnTerus iflix dengan IM3 Ooredoo

Review: Billy Lynn’s Long Halftime Walk (2016)

Setelah Life of Pi (2012) yang berhasil meraih nominasi Best Picture sekaligus memenangkannya Academy Awards kedua sebagai Best Director dalam ajang The 85th Annual Academy Awards, Ang Lee sepertinya telah jatuh cinta dengan berbagai inovasi teknologi dalam pembuatan film. Kecintaannya tersebut kembali dibuktikan Lee lewat Billy Lynn’s Long Halftime Walk. Lee menginginkan penontonnya untuk merasakan pengalaman yang lebih nyata dan realistis dalam mengikuti kisah yang disajikan. Karenanya, Lee tidak hanya menghadirkan Billy Lynn’s Long Halftime Walk dalam teknologi tiga dimensi seperti halnya Life of Pi. Ia juga menyajikan gambar filmnya dalam jumlah bingkai gambar berkecepatan 120 bingkai gambar setiap detiknya – dimana standar film umum dihadirkan dalam 24 bingkai gambar per detik. Tidak hanya itu, resolusi gambar yang disajikan Lee dalam Billy Lynn’s Long Halftime Walk juga berada pada tingkat resolusi gambar tertinggi untuk saat ini, 4000 piksel. Continue reading Review: Billy Lynn’s Long Halftime Walk (2016)

Review: Maggie (2015)

maggie-posterDiarahkan oleh seorang sutradara debutan, Henry Hobson, berdasarkan naskah cerita yang juga digarap oleh seorang penulis naskah debutan, John Scott III, Maggie jelas menawarkan sesuatu yang berbeda dengan kebanyakan film-film bertema mayat hidup lainnya. Film ini tidak menawarkan deretan adegan berdarah ketika sekelompok mayat hidup menyerang mangsanya ataupun adegan berdarah ketika mereka yang justru menjadi mangsa sekelompok karakter manusia yang berusaha untuk bertahan hidup. Maggie justru tampil sebagai sebuah film drama intim yang berkisah tentang hubungan antara seorang ayah dengan puterinya yang sedang berada dalam proses perubahan menjadi sosok mayat hidup yang dapat saja membahayakan nyawanya. Sebuah sentuhan cerita yang cukup menyegarkan meskipun Maggie masih seringkali terasa kaku dalam beberapa bagian pengembangan ceritanya. Continue reading Review: Maggie (2015)

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar