Review: Ghost in the Shell (2017)


Tidak dapat disangkal, The Ghost in the Shell merupakan salah satu manga ikonik sekaligus paling berpengaruh yang pernah dirilis hingga saat ini. Diterbitkan pertama kali pada tahun 1989, The Ghost in the Shell kemudian diadaptasi ke berbagai media termasuk permainan video, serial televisi hingga beberapa film animasi layar lebar dengan Ghost in the Shell (Mamoru Oshii, 1995) menjadi produk adaptasi paling populernya. Jelas tidak mengherankan bila kemudian Hollywood turut serta melirik kesempatan untuk memproduksi dan merilis hasil adaptasi mereka sendiri. Dimulai pada tahun 2008, rumah produksi DreamWorks Pictures membeli hak adaptasi The Ghost in the Shell yang sekaligus mengawali proses pembuatan versi live-action Hollywood dari manga yang ditulis oleh Masamune Shirow tersebut. Setelah sempat mengalami beberapa pergantian pemeran dan kru produksi, DreamWorks Pictures kemudian mengumumkan di tahun 2014 bahwa Rupert Sanders (Snow White and the Huntsman, 2012) akan duduk di kursi sutradara serta aktris Scarlett Johansson akan menjadi pemeran utama bagi Ghost in the Shell – sebuah keputusan yang kemudian memicu kontroversi karena karakter utama dalam manga tersebut adalah sesosok wanita yang memiliki latar belakang ras Asia.

Terlepas dari berbagai kontroversi tersebut, pemilihan Johansson sendiri menjadi kunci kesuksesan krusial bagi Ghost in the Shell. Dengan pengalamannya dalam memerankan karakter-karakter wanita berkarakteristik kuat seperti agen rahasia Natasha Romanoff dalam Iron Man 2 (Jon Favreau, 2010), sosok wanita pemangsa pria dalam Under the Skin (Jonathan Glazer, 2014) dan sebagai Lucy yang memiliki kekuatan otak yang melebihi kapablitas manusia biasa dalam Lucy (Luc Besson, 2014), Johansson berhasil menyajikan karakter The Major sebagai sosok yang dingin dan tangguh namun mampu membentuk keterikatan tersendiri dengan para penonton film ini. Sayangnya, penampilan apik Johansson tersebut tenggelam dalam kedangkalan naskah cerita yang digarap Jamie Moss (Street Kings, 2008), William Wheeler (Queen of Katwe, 2016) dan Ehren Kruger (Transformers: Age of Extinction, 2014). Naskah cerita Ghost in the Shell sama sekali tidak pernah terasa mampu menggali maupun bercerita lebih dalam mengenai deretan konflik yang ingin disajikan. Ditambah dengan arahan Sanders yang tampil begitu datar, Ghost in the Shell gagal untuk tampil sejajar dengan adaptasi animasi arahan Oshii yang ikonik itu.

Berlatar belakang kisah di masa depan dimana manusia dan teknologi merupakan dua elemen yang sulit dipisahkan keberadaannya, Ghost in the Shell berkisah mengenai Major (Johansson), robot dengan otak manusia yang kini bertugas sebagai komandan lapangan bagi sebuah kelompok anti-terorisme dunia maya yang bernama Section 9. Di bawah pimpinan Chief Daisuke Aramaki (Takeshi Kitano), Major bersama dua rekannya, Batou (Pilou Asbæk) dan Togusa (Chin Han), kini ditugaskan untuk melacak keberadaan seorang peretas misterius yang dikenal dengan sebutan Kuze (Michael Pitt) yang berniat untuk menghancurkan perusahaan pengembang teknologi intelejensia buatan bernama Hanka Robotics. Dengan kecerdasan dan keberaniannya, Major berhasil mengumpulkan deretan petunjuk mengenai keberadaan Kuze. Namun, dalam pengerjaan tugasnya tersebut pula, Major menemukan kumpulan teka-teki mengenai masa lalunya sekaligus sebuah konspirasi yang mengancam keberadaan hidupnya.

Meskipun mampu membungkus filmnya dalam tampilan visual mengenai kehidupan di masa mendatang yang begitu imajinatif, Sanders sayangnya gagal untuk memberikan kehidupan bagi jalan cerita Ghost in the Shell. Dengan durasi penceritaan sepanjang 106 menit, Sanders menghadirkan filmnya dalam alur pengisahan yang bertutur cukup lamban sehingga terasa menjemukan. Sanders, entah mengapa, juga seperti menjadikan tampilan visual lingkungan masa depan dalam filmnya hanya sebagai pemandangan visual belaka tanpa pernah berusaha untuk menjadikannya sebagai elemen pendukung pengisahan. Beberapa adegan aksi yang dieksekusi Sanders juga tampil tidak terlalu mengesankan dan malah seringkali terasa medioker. Kredit khusus layak diberikan pada dua komposer film ini, Clint Mansell dan Lorne Balfe. Dengan tata musik yang bernuansa elektronik, Mansell dan Balfe berhasil menciptakan dukungan emosional yang seringkali hilang dari banyak bagian pengisahan film.

Harus diakui, kesalahan memang tidak selayaknya diemban Sanders seorang. Naskah cerita garapan Moss, Wheeler dan Kruger memang tampil terlalu datar dan gagal untuk memberikan penggalian yang lebih dalam mengenai ide maupun konflik yang ingin diajukan Ghost in the Shell – khususnya pada dua paruh awal pengisahan dimana penceritaan film terasa melangkah tanpa arah serta tujuan yang pasti. Ghost in the Shell mulai terasa memiliki nyawa ketika jalan cerita film ini mulai berfokus penuh pada karakter Major dan kisah masa lalunya. Walau masih terasa begitu terbatas, penceritaan Ghost in the Shell yang tadinya tampil begitu dingin dan kaku mulai mencair dan membentuk deretan garis emosional yang humanis. Tidak hanya pada pengolahan cerita, karakter-karakter yang tersaji dalam Ghost in the Shell juga hadir dalam berbagai keterbatasan, termasuk karakter Major sendiri. Johansson dan beberapa pemeran lain seperti Asbæk, Pitt dan Juliette Binoche memang mampu menghadirkan penampilan akting yang prima. Namun, dengan pengisahan karakter yang terlalu dangkal, karakter-karakter tersebut gagal untuk memberikan kesan pengisahan yang lebih kuat.  [C-]

ghost-in-the-shell-movie-posterGhost in the Shell (2017)

Directed by Rupert Sanders Produced by Avi Arad, Ari Arad, Steven Paul, Michael Costigan Written by  Jamie Moss, William Wheeler, Ehren Kruger (screenplay), Masamune Shirow (comic, The Ghost in the Shell) Starring Scarlett Johansson, Takeshi Kitano, Michael Pitt, Pilou Asbæk, Chin Han, Juliette Binoche, Lasarus Ratuere, Yutaka Izumihara, Tawanda Manyimo, Danusia Samal, Peter Ferdinando, Pete Teo, Rila Fukushima, Yuta Kazama, Christopher Obi, Michael Wincott, Kaori Momoi, Tricky Music by  Clint Mansell, Lorne Balfe Cinematography Jess Hall Edited by Neil Smith, Billy Rich Production company Arad Productions/DreamWorks Pictures/Grosvenor Park Productions/Paramount Pictures/Reliance Entertainment/Seaside Entertainment/Steven Paul Production Running time 106 minutes Country United States Language English, Japanese

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s