Review: Bid’ah Cinta (2017)


Art imitates life. Dan film, sebagai salah satu bentuk produk kesenian, seringkali merefleksikan kondisi politik, sosial maupun budaya yang pernah atau sedang dialami para pembuatnya. Film terbaru arahan Nurman Hakim, Bid’ah Cinta, sepertinya berusaha menjadi cermin mengenai kondisi sosial masyarakat Indonesia yang sedang menghangat belakangan ini, khususnya dari kalangan pemeluk agama Islam. Kondisi sosial dimana beberapa kelompok merasa bahwa ajaran Islam yang mereka peluk lebih “murni” dan “kuat” dibandingkan dengan ajaran Islam yang dipeluk dan dipraktekkan oleh beberapa kelompok lain sehingga membuat mereka berusaha keras agar kelompok yang berbeda tersebut mau untuk “bertobat” dan kemudian mengikuti ajaran Islam mereka yang lebih “murni” dan “kuat” tersebut. Tentu, sebuah bahasan yang cukup kompleks untuk dijabarkan dalam sebuah jalan pengisahan yang berdurasi 128 menit. Namun, dengan kelihaiannya bercerita, Hakim mampu menggarap Bid’ah Cinta dengan ritme yang tepat sehingga filmnya tetap tajam dalam berkisah dan tidak pernah terasa membosankan dalam pemaparannya.

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Hakim bersama dengan Zaim Rofiqi dan Ben Sohib, Bid’ah Cinta memulai pengisahannya dengan dilema cinta yang sedang dihadapi oleh pasangan Kamal (Dimas Aditya) dan Khalida (Ayushita Nugraha). Meskipun keduanya sama-sama memeluk agama yang sama, Kamal berasal dari latar belakang keluarga yang mempraktekkan Islam secara tegas dan menganggap praktek Islam yang dijalankan oleh keluarga Khalida seringkali mengandung bid’ah – sebuah perbuatan yang dikerjakan tidak menurut contoh yang sudah ditetapkan, termasuk menambah atau mengurangi ketetapan. Kondisi pertentangan antara dua aliran dalam Islam itu sendiri tidak hanya dialami oleh keluarga Kamal dan Khalida. Masyarakat di sekitar tempat tinggal mereka juga secara perlahan mulai mengalami hal yang sama, khususnya ketika Ustadz Jaiz (Alex Abbad) yang baru menyelesaikan pendidikannya di Arab Saudi kembali dan terus mengajarkan bahwa ajaran Islam harus kembali pada ajarannya yang murni serta tidak terpengaruh oleh kebudayaan-kebudayaan setempat. Pertentangan yang awalnya hanya berbentuk sebuah pertentangan pemikiran secara perlahan mulai berubah menjadi pertentangan terbuka dan menimbulkan konflik diantara penduduk.

Meskipun menjual kisah cinta antara karakter Kamal dan Khalida – yang kemudian secara perlahan berkembang menjadi jalinan kisah cinta segitiga dengan munculnya karakter Hasan (Ibnu Jamil) – sebagai sajian utamanya, Bid’ah Cinta sebenarnya lebih banyak mengeksplorasi kisah-kisah mengenai konflik perbedaan yang terjadi antara karakter-karakter yang berada di sekitar mereka. Lewat alur kisah tentang konflik perbedaan itulah Hakim kemudian bertutur secara gamblang mengenai bagaimana sebuah perbedaan – yang harusnya justru menjadi elemen penguat wawasan mengenai sebuah bidang keilmuan – justru seringkali menjadi pemicu konflik akibat pemahaman orang-orang dengan alur pemikiran yang dangkal. Hakim sendiri tidak menggambarkan konflik tersebut secara hitam dan putih. Mereka yang menganut “garis keras” tidak lantas digambarkan sebagai sosok teroris dan mereka yang berlaku “moderat” tidak begitu saja dijadikan protagonis yang selalu benar perbuatannya. Kedua sisi diberikan ruang pengisahan yang cukup berimbang yang akan mampu membuat penonton film ini mencerna kembali apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam keseharian hidup mereka.

Harus diakui, dengan durasi pengisahan yang cukup panjang, Hakim terasa sedikit terlalu ambisius dalam berkisah pada beberapa bagian Bid’ah Cinta. Cukup dapat dimengerti bahwa Hakim ingin berbicara mengenai banyak aspek dari konflik perbedaan yang ingin ia ajukan dalam Bid’ah Cinta. Namun, di saat yang bersamaan, terlalu banyaknya isu maupun konflik yang ingin dibicarakan membuat film ini kehilangan begitu banyak fokus penceritaan maupun banyak isu yang diangkat menjadi gagal untuk tergali dengan baik. Lihat saja bagaimana kisah cinta segitiga antara karakter Kamal, Khalida dan Hasan yang terombang-ambing dan timbul tenggelam dalam pengisahan film yang seharusnya berfokus penuh pada ketiganya. Atau isu transgender yang, meskipun terkemas dengan baik, namun gagal untuk memberikan pengisahan yang lebih mendalam lagi. Atau beberapa karakter yang tidak mampu dieksplorasi secara lenbih kuat. Terlepas dari kelemahan-kelemahan tersebut, Hakim mampu mengendalikan alur pengisahan filmnya dengan baik. Tidak seperti film Hakim sebelumnya, The Window (2016), yang banyak bermain dengan simbol, Bid’ah Cinta hadir lebih lugas dan komunikatif. Elemen drama dan komedi yang disajikan mampu mengisi celah penceritaan sehingga Bid’ah Cinta tidak pernah terasa bertele-tele dan tetap terasa begitu nyaman untuk diikuti.

Departemen akting film juga diisi oleh deretan penampilan yang berhasil memperkuat solidnya kualitas film ini secara keseluruhan. Meskipun kisah dan karakter mereka sering dikesampingkan, Aditya, Nugraha dan Jamil cukup mampu membawakan peran dan chemistry mereka dengan baik. Wawan Cenut dan Norman Akyuwen juga hadir mencuri perhatian dengan karakter mereka yang dikisahkan sebagai dua orang pemabuk yang baru saja menemukan hidayah agama. Namun, penampilan Alex Abbad jelas merupakan penampilan yang paling kuat di sepanjang pengisahan Bid’ah Cinta. Meskipun karakternya hadir sebagai karakter pendukung, penampilan Abbad yang begitu kuat membuat karakternya mampu mengendalikan atmosfer pengisahan setiap kali karakter tersebut hadir di dalam jalan penceritaan. Ditambah dengan kualitas produksi yang hadir dengan memuaskan, Bid’ah Cinta berhasil menjelma menjadi sebuah film yang tidak hanya menjadi refleksi kondisi sosial dan budaya masyarakat Indonesia saat ini namun juga memberikan sumbangan pemikiran tersendiri bagi penonton filmnya untuk mungkin dapat melihat kondisi tersebut dalam sudut pandang yang berbeda. [B]

bidah-cinta-movie-posterBid’ah Cinta (2017)

Directed by Nurman Hakim Produced by Nurman Hakim, Joya D. Sahri Written by  Nurman Hakim, Zaim Rofiqi, Ben Sohib Starring Dimas Aditya, Ayushita Nugraha, Ibnu Jamil, Dewi Irawan, Alex Abbad, Ronny P. Tjandra, Fuad Idris, Karlina Inawati, Yoga Pratama, Jajang C. Noer, Tanta Ginting, Ade Firman Hakim, Norman Akyuwen, Khiva Iskak, Wawan Cenut Music by Thoersi Argeswara Cinematography Billy Tristiandy Edited by Ahmad Mujibur Rahman Production company Kaninga Pictures Running time 128 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s