Review: Kong: Skull Island (2017)


Setelah Godzilla (Gareth Edwards, 2014), rumah produksi Legendary Pictures melanjutkan ambisinya dalam membangun MonsterVerse dengan Kong: Skull Island. Film yang diarahkan oleh Jordan Vogt-Roberts (The Kings of Summer, 2013) ini merupakan reboot dari seri film King Kong yang pertama kali diproduksi Hollywood pada tahun 1933 dan sempat memiliki sejumlah sekuel sekaligus diulangbuat beberapa kali. Pengisahan Kong: Skull Island sendiri memiliki perspektif yang berbeda jika dibandingkan dengan film-film dalam seri King Kong sebelumnya – meskipun masih tetap menghadirkan beberapa tribut terhadap alur kisah klasik King Kong dalam beberapa adegan maupun konfliknya. Namun, tidak seperti Godzilla garapan Edwards yang cukup mampu membagi porsi penceritaan antara karakter-karakter manusia dengan monster-monster yang dihadirkan, Kong: Skull Island justru terasa lebih menginginkan agar penonton berfokus penuh pada karakter Kong dan kehidupan yang berada di sekitarnya. Sebuah pilihan yang kemudian membuat karakter-karakter manusia dalam jalan penceritaan film ini menjadi sama sekali tidak berguna kehadirannya.

Dengan naskah cerita yang digarap bersama oleh Dan Gilroy (Nightcrawler, 2014), Max Borenstein (Godzilla, 2014) dan Derek Connolly (Jurassic Park, 2015), Kong: Skull Island yang memiliki latarbelakang waktu pengisahan di tahun 1973 memulai pengisahannya ketika sekelompok pasukan helikopter yang dipimpin Lieutenant Colonel Preston Packard (Samuel L. Jackson) dan seorang mantan pasukan elit militer Inggris, Captain James Conrad (Tom Hiddleston), dipekerjakan oleh agen pemerintah Bill Randa (John Goodman) untuk mengawal ekspedisinya dalam memetakan sebuah pulau asing di Samudera Pasifik yang selama ini dikenal sebagai Skull Island. Perjalanan itu juga diikuti oleh jurnalis foto, Mason Weaver (Brie Larson), yang mencurigai bahwa ekspedisi ilmu pengetahuan tersebut hanyalah sebuah samaran bagi sebuah operasi militer rahasia yang sedang dijalankan pemerintah. Setibanya di Skull Island, pasukan helikopter yang dibawa Bill Randa mulai menjatuhkan rentetan bom yang digunakan untuk mengetahui kondisi tanah di pulau tersebut. Tanpa disangka, satu sosok makhluk raksasa penghuni Skull Island yang merasa terganggu atas kedatangan kelompok tersebut lantas melakukan serangan mematikan. Captain James Conrad dan kawanannya yang selamat dari serangan pertama kini harus bertahan hidup di pulau tersebut sebelum pasukan penyelamat datang tiha hari kemudian.

Kong, karakter kera berukuran raksasa yang digambarkan memiliki tinggi 100 kaki, merupakan bagian terbaik dalam Kong: Skull Island. Dengan sentuhan efek visual sekaligus dukungan penampilan motion capture dari aktor Terry Notary yang memerankannya, kehadiran Kong tampil sangat meyakinkan. Kong bahkan memiliki kepribadian yang jauh lebih berwarna dari kebanyakan karakter manusia yang mengisi jalan cerita film ini – sebuah pencapaian yang berhasil dilakukan melalui deskripsi beberapa karakter manusia akan Kong maupun dengan tingkah laku yang digambarkan dalam film ini, termasuk perhatian Kong pada karakter Mason Weaver yang jelas merupakan sebuah tribut pada konflik klasik di film King Kong terdahulu. Tidak hanya Kong, Kong: Skull Island juga diisi dengan kehadiran karakter-karakter hewan berukuran raksasa lainnya yang berhasil tergarap dengan baik sekaligus menjadi nyawa utama bagi film ini. Adegan pertarungan antara Kong dengan Skull Crawler – seekor kadal raksasa yang dikisahkan pernah membunuh keluarga Kong dan menjadi musuh utama bagi para penghuni Skull Island – yang mengisi paruh akhir penceritaan Kong: Skull Island menghadirkan puncak ketegangan maksimal bagi jalan cerita film dan mampu tereksekusi dengan sangat baik.

Kualitas tata produksi Kong: Skull Island memang harus diakui berada pada pencapaian yang sangat memuaskan. Mulai dari tata sinematografi yang tampil memikat hingga desain produksi dari Skull Island yang akan membawa setiap penontonnya ke atmosfer pulau terasing yang dapat membahayakan kehidupan siapa saja yang coba melangkahkan kaki mereka kesana. Tidak sepenuhnya berjalan lancar. Tata gambar film ini seringkali merusak suasana penceritaan yang sebenarnya sedang terbangun dengan penggantian fokus antar konflik maupun karakter yang seringkali terasa tiba-tiba berubah dengan cepat. Usaha Vogt-Roberts untuk memasukkan deretan lagu-lagu rock popular di tahun ‘70an ke dalam banyak adegan film juga tidak terasa mengesankan. Tidak seperti Guardians of the Galaxy (James Gunn, 2014) yang sukses menjadikan setiap lagu klasik dalam adegan filmnya sebagai pendukung suasana pengisahan, deretan lagu yang berada dalam jalinan kisah Kong: Skull Island tidak pernah terasa lebih dari sekedar gimmick yang sia-sia belaka kehadirannya.

Oh. Dan, tentu saja, deretan karakter manusia yang mengisi jalan cerita film ini. Naskah cerita Kong: Skull Island menghadirkan sangat banyak karakter manusia namun tak satupun diantara karakter tersebut yang memiliki pendalaman kisah yang cukup berarti. Kebanyakan diantara mereka malah hanya dihadirkan sebagai korban keganasan raksasa-raksasa penghuni Skull Island dengan deretan dialog yang cukup menggelikan. Namun, beberapa karakter masih cukup mampu dihadirkan dengan karakterisasi yang kuat. Karakter Hank Marlow yang diperankan oleh John C. Reilly dan digambarkan sebagai sosok mantan anggota pasukan militer Amerika Serikat yang telah terdampar di Skull Island selama 28 tahun memiliki deretan kisah yang membuat karakternya begitu menarik. Begitu pula dengan karakter Lieutenant Colonel Preston Packard yang diperankan Jackson. Meskipun hadir terlalu terbatas, karakteristik antagonis dalam perannya mampu diterjemahkan dengan baik. Dengan apa yang dihadirkan Godzilla dan Kong: Skull Island, Legendary Pictures jelas memiliki potensi besar dengan MonsterVerse mereka. Sayang, potensi tersebut masih belum benar-benar terealisasi ataupun tereksekusi dengan baik untuk dapat meyakinkan penonton luas bahwa setiap film dalam MonsterVerse akan hadir dengan kualitas pengisahan yang prima. [C]

kong-skull-island-movie-posterKong: Skull Island (2017)

Directed by Jordan Vogt-Roberts Produced by Thomas Tull, Jon Jashni, Mary Parent, Alex Garcia Written by Dan Gilroy, Max Borenstein, Derek Connolly (screenplay), John Gatins, Dan Gilroy (story), Merian C. Cooper, Edgar Wallace (movie, King KongStarring Tom Hiddleston, Samuel L. Jackson, John Goodman, Brie Larson, Jing Tian, Toby Kebbell, John Ortiz, Corey Hawkins, Jason Mitchell, Shea Whigham, Thomas Mann, Terry Notary, John C. Reilly, Will Brittain, Marc Evan Jackson, Eugene Cordero, Thomas Middleditch, Richard Jenkins, MIYAVI Music by Henry Jackman Cinematography by Larry Fong Edited by Richard Pearson Production company Legendary Pictures/Tencent Pictures Running time 118 minutes Country United States Language English

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s