Review: Interchange (2016)


Interchange adalah film terbaru arahan sutradara asal Malaysia, Dain Iskandar Said, setelah sebelumnya mengarahkan Bunohan: Return to Murder (2012) yang sukses terpilih mewakili Malaysia untuk berkompetisi pada kategori Best Foreign Language Film di ajang The 85th Annual Academy Awards. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Said bersama dengan June Tan, Nandita Solomon dan Redza Minhat, Interchange berkisah mengenai serangkaian pembunuhan sadis yang terjadi di Kuala Lumpur, Malaysia. Detektif Man (Shaheizy Sam) yang bertugas untuk menangani kasus tersebut lantas meminta bantuan temannya, Adam (Iedil Putra), yang merupakan mantan fotografer kepolisian di bidang forensik. Adam sebenarnya berniat untuk menolak permintaan Man karena merasa trauma berhubungan dengan deretan mayat korban kejahatan yang harus dihadapi dalam pekerjaannya terdahulu. Namun, perkenalannya dengan seorang wanita misterius, Iva (Prisia Nasution), justru mendorong Adam semakin dalam menyelami misteri kasus pembunuhan berantai tersebut. Sebuah kasus yang berhubungan dengan kisah supranatural yang telah berlangsung selama lebih dari 100 tahun.

First of all, Said harus diakui memiliki konsep yang cukup menarik dan segar yang coba ia hantarkan dalam filmnya. Sebuah konsep pengisahan yang melibatkan misteri, fantasi serta dongeng dan ritual tradisional dari masyarakat Asia Tenggara – tentang bagaimana masyarakat dahulu percaya bahwa jika seseorang memotret mereka maka jiwa mereka akan terenggut masuk ke dalam potret yang dihasilkan. Sayangnya, pengisahan tersebut disajikan dalam balutan drama prosedural polisi yang datar – jika tidak ingin mengatakannya sebagai sebuah eksekusi yang berantakan. Ketika Said akhirnya membuka motif dan alasan sesungguhnya mengapa deretan pembunuhan itu terjadi di paruh ketiga pengisahan Interchange, penonton dibiarkan kebingungan mengenai apa yang sebenarnya terjadi dalam dua paruh pengisahan film sebelumnya. Mitologi yang ingin disampaikan tidak pernah benar-benar mampu untuk dikembangkan secara utuh dan begitu banyak karakter yang mengalami perubahan karakterisasi secara mendadak sehingga membuat kehadiran mereka justru terasa semakin mengganggu aliran cerita film.

Said juga terasa tidak begitu mempedulikan karakter-karakter yang hadir dalam pengisahan filmnya. Selain dari karakter Adam – itu juga dalam lingkup pengisahan yang masih cukup terbatas, karakter-karakter lain dalam jalan penceritaan Interchange sama sekali tidak memiliki karakterisasi yang kuat ataupun menarik. Beberapa gimmick yang diciptakan Said untuk beberapa karakter – betapa eratnya hubungan karakter Man dan Adam sehingga Man dalam satu adegan memohon, “You can take anyone else but not Adam!” atau karakter Iva yang memiliki ketertarikan yang aneh pada batu es – justru menjadi aneh dan menciptakan ketidakkonsistenan alur cerita ketika akhirnya gagal untuk mendapatkan pendalaman yang lebih lanjut. Penterjemahan yang dilakukan oleh para pengisi departemen akting terhadap karakter-karakter tersebut juga sering bermasalah. Mereka yang familiar dengan aksen Malaysia atau Indonesia jelas akan merasa bingung dengan latar belakang lokasi jalan cerita film ini berlangsung akibat perubahan aksen yang dialami oleh beberapa karakter ketika mereka berdialog. Berbagai permasalahan karakterisasi ini membuat deretan karakter dalam jalan cerita Interchange menjadi sukar untuk membangun jalinan emosional kepada penonton – yang jelas akan berefek kepada penonton yang menjadi sama sekali tidak peduli pada konflik atau kisah yang sedang mereka coba sampaikan.

Dengan deskripsi karakter yang terbatas, untungnya deretan pengisi departemen akting Interchange mampu memberikan penampilan yang cukup maksimal. Sebagai sosok wanita misterius dengan masa lalu yang kelam, Nasution berhasil menyajikan sosok karakter yang menarik untuk terus diikuti kisahnya. Karakter Detektif Man yang diperankan oleh Sam seringkali terasa mengalami perubahan karakterisasi secara tiba-tiba. Meskipun begitu, Sam berhasil tetap menampilkannya sebagai karakter yang simpatik. Nicholas Saputra, yang berperan sebagai seorang pemuda misterius bernama Belian, dan Nadiya Nisaa, seorang wanita yang memiliki toko barang-barang antik, merupakan dua pemeran dengan dua karakter yang paling menarik perhatian. Keduanya, Saputra dan Nisaa berhasil hadir dengan kuat – khususnya Saputra yang tampil jauh dari karakter-karakter yang biasa ia perankan. Harus diakui, Putra yang berperan sebagai Adam tampil cukup mengecewakan. Chemistry-nya dengan Nasution yang harusnya tampil memikat hadir secara datar. Penampilannya juga seringkali terasa hadir dengan satu nada yang sama di sepanjang film – sebuah hal yang jelas mengecewakan mengingat karakter Adam yang ia perankan memiliki banyak peran krusial dalam jalan pengisahan Interchange.

Apakah Interchange adalah sebuah film yang buruk? Well… tidak juga. Said sebenarnya tahu pasti apa yang ingin ia sampaikan kepada penonton. Hal ini terlihat dari penataan visual dan desain produksi yang benar-benar cermat dan cerdas. Gambaran akan tubuh-tubuh korban yang tewas mampu digarap dengan artistik dan jauh dari kesan sadis. Begitu pula dengan desain akan kehidupan suku tradisional di masa lampau atau gambaran efek visual yang berhasil ditampilkan secara meyakinkan. Tata sinematografi film juga secara lancar menangkap atmosfer kesuraman jalan cerita. Yang membuat Interchange tidak mampu bercerita dengan baik adalah keputusan Said yang memilih untuk mengitari berbagai sudut cerita untuk mendapatkan “efek kerumitan” daripada menyajikannya sebagai sebuah misteri yang lebih lugas dalam berkisah. Dengan eksekusi yang jauh dari kesan memuaskan, kerumitan itu justru menjebak pengisahan Interchange dan menjadikannya sebagai sebuah penyajian yang membosankan. [C-]

interchange-nicholas-saputra-prisia-nasution-film-posterInterchange (2016)

Directed by Dain Iskandar Said Produced by Nandita Solomon Written by Redza Minhat, Dain Iskandar Said, Nandita Solomon, June Tan Starring Prisia Nasution, Iedil Putra, Shaheizy Sam, Nicholas Saputra, Nadiya Nisaa, Alvin Wong, Chew Kin Wah, Junad M. Nor Music by Luka Kuncevic Cinematography by Jordan Wei Meng Chiam Edited by Samir Arabzadeh, Herman Panca Production company APPARAT Running time 102 minutes Country Malaysia Language Malay, English

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s