under-the-shadow-header-002

Review: Under the Shadow (2016)


2016 is a fucking great year for horror movies. Film-film horor di tahun ini tidak hanya mampu memberikan kemasan yang lebih segar dan tetap menakutkan pada jalinan formula penceritaan yang telah begitu familiar – seperti Ouija: Origin of Evil (Mike Flanagan, 2016)  atau Don’t Breathe (Fede Alvarez, 2016) atau Train to Busan (Yeon Sang-ho, 2016) – namun juga berhasil memberikan alternatif cerita yang bahkan lebih berani dan lebih segar jika dibandingkan dengan banyak judul dari genre film lain – seperti The Wailing (Na Hong-jin, 2016), The Witch (Robert Eggers, 2016) atau The Neon Demon (Nicholas Winding Refn, 2016). Under the Shadow – sebuah horor yang menjadi debut pengarahan bagi sutradara sekaligus penulis naskah kelahiran Iran, Babak Anvari – berhasil menggabungkan dua elemen kesuksesan tersebut. Tidak hanya mampu menghadirkan kisah seorang ibu dan anak dalam menghadapi sosok teror supranatural yang mungkin telah terasa familiar dengan eksekusi yang begitu menyegarkan, Anvari juga sukses menyelinapkan beberapa pesan sosial dan politik yang begitu kental dalam jalinan horor sajiannya. Menarik? Menegangkan!

Berlatarbelakang di kota Tehran, Iran pada masa peperangan antara negara tersebut dengan Irak pada tahun 1980 – 1988, Under the Shadow memulai kisahnya ketika seorang mantan mahasiswa kedokteran bernama Shideh (Narges Rashidi) yang baru saja ditolak permohonan untuk melanjutkan pendidikannya oleh pihak universitas terkait aktivitas politiknya di masa lampau. Kecewa, Shideh yang kini telah menjadi istri dari seorang dokter, Iraj (Bobby Naderi), dan ibu bagi seorang anak perempuan bernama Dorsa (Avin Manshadi), akhirnya memutuskan untuk mengubur dalam-dalam impiannya untuk menjadi seorang dokter. Rasa kecewa Shideh masih berlanjut ketika Iraj menyampaikan bahwa dirinya ditugaskan untuk menjadi anggota tim medis di medan peperangan. Shideh akhirnya harus tinggal berdua saja dengan Dorsa di masa kengerian perang terus menghantui mereka setiap harinya. Namun, sebuah teror yang lebih mengerikan datang menghampiri keduanya. Setelah perumahan yang mereka tempati dijatuhi sebuah rudal yang gagal meledak, Shideh merasakan perubahan terjadi disekitarnya. Perubahan yang membuat atmosfer kehidupan di sekitar Shideh dan Dorsa terasa begitu kelam dan begitu mencekam.

Sebagai sebuah film yang seharusnya hadir untuk menakuti para penontonnya, Under the Shadow menghabiskan hampir setengah dari durasi tayangnya untuk menyajikan drama rumah tangga dari karakter sentralnya. Mereka yang mengharapkan kehadiran deretan tokoh supranatural untuk hadir dan memberikan kejutan mungkin akan kecewa. Namun, dengan sentuhan yang terasa seperti sebuah drama rumah tangga milik Asghar Farhadi, Anvari menyajikan latar belakang karakter sekaligus pandangan sosial dan politik lingkungan mereka sebagai tulang punggung dari penceritaan Under the Shadow. Di bagian ini, penonton diberikan kesempatan untuk mengenal Shideh. Bagaimana sosoknya yang modern kemudian terkurung oleh jeratan politik sekaligus sosial dan budaya yang tidak memperbolehkan untuk menjadi lebih dari “seorang wanita.” Karakter Shideh mungkin bukanlah sosok yang mudah untuk disukai – pada beberapa adegan film, Shideh digambarkan sebagai sosok ibu yang emosional dan jauh dari kesan bertanggungjawab terhadap anaknya. Namun, dengan bantuan latarbelakang kisah yang terjadi di sekitarnya, Anvari berhasil membantu penonton untuk memahami tekanan yang dirasakan dan akhirnya secara perlahan membentuk karakter utama filmnya.

Anvari secara perlahan juga mampu membentuk atmosfer kelam bagi Under the Shadow. Setelah memberikan beberapa petunjuk tentang teror apa yang akan dan sedang dihadapi Shideh dan Dorsa, Anvari kemudian mulai memberikan teror horor secara nyata kepada penonton di paruh kedua penceritaan film. Horor yang diberikan Anvari mungkin terkesan begitu minimalis – Anvari, secara nyata, hanya mengibarkan lembaran kain di berbagai sudut rumah karakternya untuk memberikan kejutan horor pada penontonnya. Meskipun begitu, dengan bangunan kisah yang telah terbangun kuat dan atmosfer penceritaan yang semakin kelam, Under the Shadow terbukti berhasil menjadi sebuah horor yang kuat. Horor yang tidak hanya mampu menakuti namun juga memberikan serangan pemikiran kepada penonton mengenai berbagai adegan yang mereka saksikan sekaligus menghadirkan simpati yang mendalam kepada karakter-karakternya. Sebuah kesuksesan yang jelas tidak dapat dicapai dengan mudah.

Sebagai seorang penulis naskah, Anvari juga berhasil menyajikan Under the Shadow sebagai sebuah lembar pemikiran. Teror supranatural yang dialami oleh karakter Shideh jelas adalah sebuah pernyataan politis Anvari mengenai tekanan yang dialami oleh para wanita dari lingkungannya. Bagaimana mereka tidak diperbolehkan untuk menggapai mimpi mereka, mengekspresikan diri melalui potongan pakaian yang mereka suka, menyembunyikan kegemaran mereka karena takut mendapatkan penilaian buruk dari khalayak ramai hingga berbagai tekanan mengenai bagaimana untuk menjadi seorang ibu yang baik bagi anak-anak mereka. Sebuah gambaran nyata dari perempuan-perempuan Iran pada masa jalan cerita film ini berlangsung namun juga masih saja dapat ditemukan pada kehidupan wanita di era modern ini. Well… Anda dapat memandangnya dengan jalan tersebut. Aatau murni hanya sebagai sebuah teror supranatural yang terjalin di sebuah film horor. Bagaimanapun, Anvari berhasil menyajikan kisahnya dengan sangat, sangat baik.

Dukungan departemen akting yang solid juga semakin membantu Under the Shadow untuk mencapai gelar sebagai salah satu film horor terbaik di sepanjang tahun ini. Narges Rashidi jelas berada di garda departemen akting film dan mampu menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Rashidi mampu menampilkan kejatuhan emosional karakternya dengan begitu meyakinkan. Sosok yang awalnya begitu berpegang teguh pada keyakinan logikanya secara perlahan tenggelam dalam kekelaman atmosfir supranatural yang menghantui diri dan anaknya. Aktris cilik, Avin Manshadi, juga tak kalah bersaing dengan lawan mainnya yang lebih dewasa. Penampilan Manshadi menjadi pendamping yang sempourna bagi penampilan Rashidi. Dua penampilan yang akan membangun emosi para penonton dengan sepenuhnya. Departemen akting Under the Shadow juga dilengkapi oleh penampilan pendukung minor lainnya. Tidak memberikan ruang yang cukup besar untuk menarik perhatian namun jelas sama sekali bukanlah penampilan-penampilan yang percuma dalam jalan penceritaan film. [A-]

under-the-shadow-posterUnder the Shadow (2016)

Directed by Babak Anvari Produced by Emily Leo, Oliver Roskill, Lucan Toh Written by Babak Anvari Starring Narges Rashidi, Avin Manshadi, Bobby Naderi, Ray Haratian, Arash Marandi, Bijan Daneshmand, Aram Ghasemy, Behi Djanati Atai, Sajjad Delafrooz Music by Gavin Cullen Cinematography Kit Fraser Edited by Christopher Barwell Production company Wigwam Films Running time 88 minutes Country United Kingdom, Jordan, Qatar Language Persian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s