Review: Allied (2016)


Film terbaru arahan Robert Zemeckis, Allied, memulai perjalanannya di kota Casablanca, Maroko pada tahun 1942 ketika Perang Dunia II sedang berlangsung. Dikisahkan, agen rahasia asal Kanada, Max Vatan (Brad Pitt), bertemu dengan seorang pemberontak asal Perancis, Marianne Beausejour (Marion Cotillard), untuk saling bekerjasama dalam menyelesaikan sebuah misi. Layaknya sebuah drama romansa, Max dan Marianne saling jatuh cinta. Setelah menyelesaikan misi mereka, Max akhirnya meminta Marianne untuk menikahinya, pindah ke London dan membentuk keluarga bersama. Sebuah permintaan yang kemudian disetujui oleh Marianne. Pernikahan Max dan Marianne berjalan dengan indah apalagi setelah keduanya dikaruniai seorang putri. Masalah muncul ketika Max dipanggil oleh atasannya yang mencurigai bahwa Marianne sebenarnya adalah sosok agen rahasia yang bekerja untuk Jerman. Oleh atasannya, Max diberikan beberapa hari untuk membuktikan bahwa Marianne tidak bersalah. Namun, jika Marianne adalah benar merupakan sosok agen rahasia untuk Jerman, Max sendiri yang diharuskan untuk membunuh Marianne.

Sayang, dengan begitu banyak talenta yang terlibat dalam pembuatan Allied, naskah cerita buatan Steven Knight (Seventh Son, 2015) tidak memberikan struktur penceritaan yang benar-benar memuaskan. Permasalahan utama dari naskah cerita Knight adalah naskah cerita Allied gagal untuk menemukan jati dirinya. Allied berusaha untuk menjadi banyak hal – sebuah film aksi di masa Perang Dunia II, sebuah film drama romansa, sebuah film tentang agen rahasia yang berusaha memainkan intrik antara satu dengan yang lain – namun sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk menampilkan potensi penceritaan tersebut secara sempurna. Ini masih ditambah dengan berbagai inkonsistensi maupun kegagalan untuk mendalami beberapa konflik di berbagai bagian plot ceritanya. Allied akhirnya terasa sebagai sebuah paduan berbagai formula penceritaan namun gagal untuk diolah dengan baik dan akhirnya hanya dapat tersaji sebagai sebuah sajian yang terasa setengah matang.

Kehadiran Pitt dan Cotillard juga sama sekali tidak membantu peningkatan kualitas Allied. Chemistry yang dihadirkan keduanya terasa begitu kaku, tidak pernah terasa hangat ataupun meyakinkan sebagai dua sosok manusia yang saling jatuh cinta satu sama lain dengan begitu membara. Tentu, keduanya masih tampil dengan penampilan akting yang cukup memuaskan. Namun minimalisnya chemistry antara kedua bintang tersebut – sebuah faktor yang harusnya menjadi sajian utama dari Allied – cukup membuat film ini terpuruk semakin dalam. Naskah cerita Knight sendiri tidak memberikan ruang yang cukup bagi karakter-karakter pendukung untuk mendapatkan porsi penceritaan yang layak. Talenta-talenta seperti Jared Harris, Matthew Goode dan Lizzy Caplan akhirnya terbuang dengan percuma tanpa sebuah momen yang berarti.

Terlepas dari berbagai kelemahan tersebut, Zemeckis masih cukup mampu mengemas Allied menjadi sebuah sajian yang… well… menghibur. Meskipun lebih sering terasa sebagai sebuah sajian yang hambar, Zemeckis membungkus Allied dengan tampilan teknikal yang cukup membuai mata. Pengarahan Zemeckis atas penceritaan Allied juga sebenarnya tidak begitu buruk. Film ini hadir dengan ritme yang cukup tepat sehingga sama sekali tidak pernah benar-benar terasa sebagai sebuah film yang membosankan. Sayang Allied tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk menjadikannya sebagai sebuah sajian yang lebih menarik. [C]

allied-movie-posterAllied (2016)

Directed by Robert Zemeckis Produced by Graham King, Steve Starkey, Robert Zemeckis Written by Steven Knight Starring Brad Pitt, Marion Cotillard, Jared Harris, Matthew Goode, Lizzy Caplan, Anton Lesser, August Diehl, Camille Cottin, Charlotte Hope, Marion Bailey, Simon McBurney, Daniel Betts, Thierry Frémont Music by Alan Silvestri Cinematography Don Burgess Edited by Mick Audsley, Jeremiah O’Driscoll Production company GK Films/ImageMovers Running time 124 minutes Country United States, United Kingdom Language English, French

Advertisements

2 thoughts on “Review: Allied (2016)”

    1. Haha. Justru karena itu, Mbak. Jadi gak yakin kalo mereka selingkuh karena chemistry mereka beneran sama sekali gak kerasa. Malah seperti berusaha menjauh satu sama lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s