dejavu-header

Review: Dejavu: Ajian Puter Giling (2015)


dejavu-posterSetelah Mirror (2005) dan The Real Pocong (2009), sutradara Hanny R. Saputra kembali ke ranah horor lewat Dejavu: Ajian Puter Giling. Dengan naskah cerita yang digarap oleh Baskoro Adi (Kampung Zombie, 2015), Dejavu: Ajian Puter Giling berkisah mengenai Mirna (Ririn Ekawati) yang bekerja sebagai seorang perawat pribadi bagi Sofia (Ririn Dwi Aryanti) yang menderita trauma akibat kecelakaan yang baru saja ia alami. Mirna tidak sendirian. Suami Sofia, Yudo (Dimas Seto), juga setia berada di rumah tua tersebut untuk menjaga sang istri. Semenjak pertama kali menginjakkan kakinya, Mirna selalu merasa bahwa dirinya dihantui akan berbagai kenangan masa lalu dari rumah itu. Keberadaan Mirna juga sering dibayangi oleh berbagai hal misterius, mulai dari sosok tak dikenal yang berada di kamarnya hingga suara-suara halus yang terus mengikutinya. Walau merasa takut, Mirna mulai mengumpulkan keberaniannya guna mengungkap misteri apa yang sebenarnya terjadi di rumah tua tersebut.

Naskah cerita Dejavu: Ajian Puter Giling yang digarap oleh Baskoro Adi harus diakui memiliki konsep yang cukup menarik dalam penceritaannya. Dengan memanfaatkan fenomena déjà vu – sebuah perasaan ketika seseorang merasa pernah mengalami atau menyaksikan suatu kejadian atau pernah berada di suatu tempat sebelumnya, naskah cerita Dejavu: Ajian Puter Giling berusaha untuk menyatukan dua buah kisah dalam dua linimasa yang berbeda untuk kemudian membalutnya dalam elemen horor tradisional khas Indonesia. Jelas sebuah sentuhan yang cukup menyegarkan jika dibandingkan dengan jalan cerita yang disajikan oleh kebanyakan film-film horor Indonesia belakangan. Sayang, konsep tersebut kemudian gagal mendapatkan pembangunan cerita yang kokoh. Baskoro Adi terkesan kebingungan untuk menghadirkan misteri demi misteri yang ada dalam jalan ceritanya sehingga Dejavu: Ajian Puter Giling akhirnya terasa membingungkan untuk diikuti pengisahannya, khususnya di paruh pertama dan kedua penceritaannya.

Tidak hanya dari segi penceritaan. Ketiga karakter utama yang dihadirkan dalam film ini juga terasa gagal untuk disajikan dengan lebih kuat. Deretan konflik yang terjadi diantara ketiga karakter tersebut seringkali terasa hambar akibat konflik demi konflik yang tersaji secara cukup dangkal. Hanny R. Saputra sendiri menyajikan Dejavu: Ajian Puter Giling dengan tempo penceritaan yang sederhana. Dua paruh awal penceritaan yang memang diniatkan untuk mengenalkan konsep déjà vu sekaligus mengenal konflik awal serta karakter-karakter yang hadir dalam film ini disajikan dengan tempo penceritaan yang cukup lamban sebelum akhirnya film hadir dengan penceritaan yang lebih lugas di paruh ketiganya. Cukup membutuhkan kesabaran ekstra tinggi untuk menikmatinya, khususnya ketika departemen penataan musik Dejavu: Ajian Puter Giling memutuskan untuk menyajikan kejutan-kejutan dalam penceritaan dengan cara meningkatkan volume musiknya secara berulang kali.

Dengan karakter yang memiliki latar penceritaan cukup terbatas, ketiga pemeran utama Dejavu: Ajian Puter Giling cukup mampu menampilkan penampilan akting terbaik dalam menghidupkan setiap karakter yang mereka perankan. Ririn Ekawati jelas menjadi perhatian utama dalam film ini ketika dirinya berhasil menyajikan sosok karakter yang begitu kebingungan tentang berbagai misteri yang ada di sekitarnya sekaligus membuat penonton terus menetapkan perhatian mereka pada karakter tersebut. Dimas Seto dan Ririn Dwi Aryanti juga tampil meyakinkan dalam peran mereka yang benar-benar terbatas. Seandainya dua karakter yang diperankan oleh keduanya diberikan kisah yang lebih mendalam lagi, mungkin Dejavu: Ajian Puter Giling akan mampu hadir dengan penceritaan yang lebih kuat. Secara keseluruhan, meskipun hadir dengan konsep cerita yang cukup segar serta beberapa momen horor yang mampu terkeksekusi dengan baik, Dejavu: Ajian Puter Giling masih belum mampu untuk tampil dengan kualitas penceritaan horor yang lebih istimewa. Cukup disayangkan. [C-]

Dejavu: Ajian Puter Giling (2015)

Directed by Hanny R. Saputra Produced by Firman Bintang Written by Baskoro Adi Starring Ririn Ekawati, Dimas Seto, Ririn Dwi Aryanti Music by Areza Riandra Cinematography Rizko Angga Vivedru Editing by Lilik Subagyo Studio BIC Pictures Running time 82 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s