bulan-di-atas-kuburan-header

Review: Bulan di Atas Kuburan (2015)


bulan-di-atas-kuburan-posterBulan di Atas Kuburan merupakan sebuah film drama yang diadaptasi dari film Indonesia berjudul sama arahan Asrul Sani yang sebelumnya sempat dirilis pada tahun 1973. Asrul Sani sendiri mendapatkan inspirasi untuk menuliskan naskah cerita dari film yang berhasil memenangkan dua penghargaan di ajang Festival Film Indonesia pada tahun 1975 tersebut dari sebuah puisi karya Sitor Situmorang yang berjudul Malam Lebaran – sebuah puisi yang hanya berisikan frase “Bulan di atas kuburan” sebagai bait satu-satunya. Untuk versi teranyarnya, naskah cerita Bulan di Atas Kuburan dikerjakan oleh Dirmawan Hatta (Optatissimus, 2013) dengan melakukan pembaharuan pada linimasa penceritaan yang disesuaikan dengan kondisi sosial dan politik masyarakat Indonesia di era modern. Edo WF Sitanggang, yang sebelumnya bertugas sebagai penata suara bagi film-film semacam Emak Ingin Naik Haji (2009), Toilet Blues (2013) dan Selamat Pagi, Malam (2014), melakukan debut pengarahannya bagi film ini.

Bulan di Atas Kuburan sendiri berkisah tentang tiga pemuda yang berasal dari tanah Samosir, Sumatera Utara, Sahat (Rio Dewanto), Tigor (Donny Alamsyah) dan Sabar (Tio Pakusadewo). Setelah melihat kesuksesan Sabar dalam merantau ke Jakarta, Sahat dan Tigor yang saling bersahabat lantas memutuskan untuk mencoba peruntungan mereka dengan turut datang ke ibukota. Lagipula, Sahat yang semenjak lama berniat untuk menjadi seorang penulis, baru saja mendapatkan kabar kalau naskah tulisannya akan diterbitkan oleh salah satu penerbit populer disana. Sayang, setibanya di Jakarta, Sahat dan Tigor harus berhadapan dengan realita kehidupan yang begitu keras di kota tersebut. Sabar yang dikira telah menjalani hidup enak ternyata hanyalah seorang kriminal kecil berdasi yang hidup pas-pasan. Naskah tulisan Sahat sendiri gagal untuk diterbitkan dan lantas terjebak dalam permainan politik seorang politikus (Remy Silado) yang berniat mencalonkan dirinya sebagai seorang presiden. Sementara Tigor harus kembali menjalani pekerjaannya seperti dahulu di Samosir, menjadi seorang sopir, dengan kondisi persaingan yang lebih berat dan bahkan harus berhadapan dengan deretan kriminal jalanan di Jakarta.

Lewat Bulan di Atas Kuburan, Dirmawan Hatta mencoba bercerita mengenai banyak hal melalui naskah cerita yang digarapnya. Berbagai sindiran sosial dan politik seperti kesenjangan antara si miskin dan si kaya, berbagai mimpi (mitos?) mengenai tanah Jakarta yang begitu menjanjikan, sikap sukuisme hingga obsesi untuk menjadi yang paling berkuasa – baik di jalanan maupun di ranah politik – disajikan dalam drama berdurasi 120 menit ini. Sayangnya, dengan konten yang terlalu padat, jalan cerita Bulan di Atas Kuburan gagal dipresentasikan dengan ritme penceritaan yang tepat. Selain kadang terasa terlalu lamban berjalan akibat dibebani terlalu banyak detil cerita yang sebenarnya kurang begitu diperlukan, Bulan di Atas Kuburan juga hadir dengan linimasa penceritaan yang terlalu acak. Dengan banyaknya konflik dan karakter, sulit untuk mengikuti perkembangan sudut pandang dari satu karakter ketika film ini memutuskan untuk meleburkan keseluruhan elemen ceritanya pada satu titik daripada berusaha menyajikannya dengan ritme penceritaan yang telabih beraturan.

Departemen akting Bulan di Atas Kuburan sendiri hadir dengan kualitas yang memuaskan. Meski hadir dengan chemistry yang jauh dari kesan meyakinkan ketika tampil dalam satu adegan bersama Atiqah Hasiholan, penampilan Rio Dewanto sebagai sosok pemuda berdarah Batak hadir dengan memuaskan. Transformasinya sebagai sosok pemuda daerah yang kemudian terjebak dalam rutinitas ibukota berhasil disajikan dengan baik. Begitu pula dengan Donny Alamsyah dan Tio Pakusadewo yang masing-masing mampu memberikan karakter mereka kompleksitas tersendiri atas berbagai konflik yang mereka hadapi dalam kehidupan. Para pemeran lain seperti Ria Irawan, Atiqah Hasiholan, Andre Hehanusa, Arthur Tobing, Nungky Kusumastuti hingga deretan kameo yang datang dari Amink, Meriam Bellina, Dayu Wijanto dan Denada Tambunan menambah solid kualitas departemen akting dari Bulan di Atas Kuburan.

Bulan di Atas Kuburan juga mampu tampil dengan kualitas teknikal yang kuat. Yang paling menonjol adalah tata sinematografi arahan Donny H. Himawan Nasution dan Samuel Uneputty yang mampu menyajikan gambar-gambar yang begitu indah namun tetap sesuai dengan atmosfer penceritaan yang dibutuhkan film ini. Begitu juga dengan aransemen musik bernuansa Batak arahan Willy Haryadi yang dibantu dengan Vicky Sianipar. Tampil begitu kuat dalam mengisi elemen emosional dari jalan cerita yang seringkali terasa kurang begitu mampu ditonjolkan. [C]

Bulan di Atas Kuburan (2015)

Directed by Edo WF Sitanggang Produced by Tim Matindas, Dennis Chandra, Leonardo A. Taher Written by Dirmawan Hatta (screenplay), Asrul Sani (previous screenplay, Bulan di Atas Kuburan) Starring Rio Dewanto, Tio Pakusadewo, Donny Alamsyah, Atiqah Hasiholan, Andre Hehanusa, Annisa Pagih, Ria Irawan, Ray Sahetapy, Arthur Tobing, Nungky Kusumastuti, Remy Sylado, Mutiara Sani, Mentari De Marelle, Meriam Bellina, Monica Setiawan, Otis Pamutih, Dayu Wijanto, Alfridus Godfred, Ferry Salim, Amink, Denada Tambunan Music by Willy Haryadi Cinematography Donny H. Himawan Nasution, Samuel Uneputty Editing by Edo Dunggio, Thomson Sianturi Studio Sunshine Pictures/MAV Production/FireBird Films Running time 120 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s