danum-baputi-header

Review: Danum Baputi: Penjaga Mata Air (2015)


danum-baputi-posterMeskipun memiliki tampilan poster yang mungkin akan mengingatkan Anda pada kisah cinta segitiga antara seorang vampir dengan seorang gadis manusia biasa dengan seorang manusia serigala dalam sebuah seri film Hollywood – ataupun deretan tiruannya yang banyak tayang sebagai serial di berbagai saluran televisi Indonesia – Danum Baputi: Penjaga Mata Air sesungguhnya memiliki niat yang cukup mulia dalam garis penceritaannya. Namun, tentu saja, niat mulia tidak akan pernah cukup untuk menghasilkan sebuah sajian tontonan yang layak jika tidak dieksekusi dengan baik. Sayangnya, disanalah letak kelemahan terbesar dari film perdana arahan sutradara Gunawan Panggaru semenjak mengarahkan film Mata Pena Mata Hati Raja Ali Haji pada tahun 2009 lalu.

Dikemas sebagai sebuah drama fantasi, Danum Baputi: Penjaga Mata Air berkisah mengenai sekelompok masyarakat di pedalaman Kalimantan yang begitu menghormati sekaligus menjunjung tinggi wilayah lingkungan hutan tempat mereka tinggal sekaligus mencari makan. Guna mencegah terjadinya satu ramalan nenek moyang mereka yang mengatakan bahwa wilayah hutan tersebut akan rusak akibat keserakahan umat manusia, kepala suku kelompok tersebut (Dolly Martin) kemudian mengangkat putrinya, Danum Baputi (Jovita Dwijayanti), sebagai Danum Pambelum atau penjaga mata air di lingkungan tersebut. Benar saja. Tak lama semenjak pemilihan Danum Baputi sebagai Danum Pambelum, sekelompok pengusaha asing kemudian datang dengan niat untuk melakukan pembukaan hutan guna dijadikan areal perkebunan kelapa sawit. Dan ketika masyarakat menentang keinginan tersebut, aksi brutal lantas dilayangkan oleh para pengusaha tersebut yang membuat warga mulai dihantui rasa ketakutan yang mendalam.

Danum Baputi: Penjaga Mata Air sebenarnya mencoba untuk menyinggung isu mengenai bagaimana manusia seringkali melupakan keseimbangan maupun kelestarian alam dalam usaha mereka untuk meraih keuntungan sendiri. Namun pesan sosial tersebut kemudian terasa tenggelam berkat ketidakmampuan para penulis naskah cerita film ini untuk mengemas kisahnya dalam balutan plot maupun penulisan karakter yang baik. Dengan durasi penceritaan yang berjalan hingga 120 menit, ada banyak momen dalam pengisahan film yang sebenarnya terasa monoton maupun tidak begitu berarti kehadirannya. Lihat saja plot tentang kepergian karakter Danum Baputi untuk melanjutkan pendidikannya di Pulau Jawa yang sama sekali tidak memiliki keterikatan apapun dengan jalan cerita utama. Atau bagian dimana karakter Penyang (Raditya Agung Yudistira) turut berangkat ke Jakarta dengan motivasi untuk menemui Danum Baputi – dan kemudian karakter tersebut tidak dikisahkan kegunaannya berangkat ke Jakarta dan juga gagal untuk bertemu Danum Bupati selama berada di Jakarta. Plot-plot kecil yang sama sekali tidak relevan dengan kisah utama yang kemudian hanya membuang-buang waktu penceritaan.

Naskah cerita yang dikemas oleh Gunawan Panggaru bersama dengan Azwar Sutan Malaka juga menyajikan terlalu banyak karakter yang terlibat dalam jalan cerita film. Dan, sayangnya, karakter-karakter dalam jumlah banyak tersebut kemudian tidak mampu dikendalikan kehadirannya di dalam cerita. Akhirnya, banyak karakter yang terasa datang dan menghilang di sepanjang penceritaan Danum Baputi: Penjaga Mata Air. Departemen akting film yang banyak diisi wajah-wajah baru sebenarnya tampil dalam kualitas yang tidak terlalu buruk. Meskipun masih diisi dengan beberapa kekakuan penampilan dalam beberapa adegan, namun secara keseluruhan, kualitas departemen akting Danum Baputi: Penjaga Mata Air tidaklah termasuk dalam bagian yang paling mengecewakan dari film ini.

Selain hadir dengan kualitas penceritaan yang cukup berantakan, Danum Baputi: Penjaga Mata Air juga gagal untuk dikemas dalam tampilan teknis yang kuat. Hampir tidak ada kualitas teknikal film ini yang dapat dibanggakan kemunculannya. Penggunaan tata musik yang sama di berbagai adegan jelas akan terasa begitu mengganggu. Begitu pula dengan penataan gambar yang terlihat menyatukan satu adegan dengan adegan lain dengan begitu kasar. Namun kejahatan terbesar Danum Baputi: Penjaga Mata Air jelas adalah menggunakan potongan-potongan gambar yang entah berasal darimana untuk mengisi banyak adegan film – entah dengan menggunakan izin atau enggak. Parahnya, banyak potongan-potongan gambar tersebut hadir dengan kualitas buruk yang jelas tampil semakin buruk ketika disajikan di layar lebar bioskop. [D-]

Danum Baputi: Penjaga Mata Air (2015)

Directed by Gunawan Panggaru Produced by R. Yayank NN Written by Azwar Sutan Malaka, Gunawan Panggaru (screenplay), R. Yayank NN, Arifah Prihartini (story) Starring Jovita Dwijayanti, Raditya Agung Yudistira, Reiner Manopo, Yati Surachman, Dolly Martin, Billy Boedjanger, Arif Rahman, Hetty Soendjaya, Helmy Jagar, Putri Sabilah, E. F. Mahendra, Laras Sardipuri, Henky Hedo, Iid Nadjmoedin, Ferry Herawan, Yanti Wirawan, Andi Bersama, Hendra Conty, Khanza E. F., R. Yeyet Nadjmoedin, Marina Martin, Isnaldi Yahya, Yanthie I. Barakusuma, D. D. Yani, Ayi Suparti, Rita Arena Music by Titi Barce Van Houten Cinematography Capink VB Edited by Andi Shabrina Panggaru Production company Sa Villa Production/PT Vidi Vici Multimedia Running time 120 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s