Review: The Raid 2: Berandal (2014)


The Raid 2: Berandal (PT. Merantau Films/XYZ Films, 2014)
The Raid 2: Berandal (PT. Merantau Films/XYZ Films, 2014)

Terlepas dari kesuksesan megah yang berhasil diraih oleh The Raid (2012) – baik sebagai sebuah film Indonesia yang mampu mencuri perhatian dunia maupun sebagai sebuah film yang bahkan diklaim banyak kritikus film dunia sebagai salah satu film aksi terbaik yang pernah diproduksi dalam beberapa tahun terakhir – tidak ada yang dapat menyangkal bahwa film garapan sutradara Gareth Huw Evans tersebut memiliki kelemahan yang cukup besar dalam penataan ceritanya. Untuk seri kedua dari tiga seri yang telah direncanakan untuk The Raid, Evans sepertinya benar-benar mendengarkan berbagai kritikan yang telah ia terima mengenai kualitas penulisan naskahnya. Menggunakan referensi berbagai film aksi klasik seperti The Godfather (1972) dan Infernal Affairs (2002), Evans kemudian memberikan penggalian yang lebih mendalam terhadap deretan karakter maupun konflik penceritaan sekaligus menciptakan jalinan kisah berlapis yang tentu semakin menambah kompleks presentasi kisah The Raid 2: Berandal. Lalu bagaimana Evans mengemas pengisahan yang semakin rumit tersebut dengan sajian kekerasan nan brutal yang telah menjadi ciri khas dari The Raid?

Dengan jalan cerita yang berjalan sekitar dua jam setelah berbagai peristiwa yang terjadi dalam The Raid, The Raid 2: Berandal mengisahkan mengenai Rama (Iko Uwais) yang kini telah bergabung dengan sebuah pasukan khusus pimpinan Bunawar (Cok Simbara) yang memiliki misi untuk membongkar keterlibatan para polisi dalam berbagai organisasi kriminal. Untuk menjalankan misinya, Rama diharuskan membuang identitas dirinya untuk kemudian mendekati sekaligus memasuki sebuah organisasi kriminal besar yang dipimpin oleh Bangun (Tio Pakusadewo). Berbekal dengan persahabatan yang ia jalin dengan putera tunggal Bangun, Uco (Arifin Putra), Rama mulai mendapatkan kepercayaan Bangun dan secara perlahan memulai investigasinya pada orang-orang yang terlibat dalam jaringan kriminal pimpinan Bangun.

Intrik ternyata tidak berhenti hanya pada usaha Rama dalam menjalankan misi rahasianya. Di saat yang bersamaan, keterlibatannya yang semakin mendalam dalam organisasi kriminal pimpinan Bangun ternyata turut menyeretnya dalam konflik internal yang mulai memanas antara Bangun dan Uco. Uco yang merasa bahwa sang ayah sama sekali tidak akan pernah memberikan kesempatan baginya untuk duduk di kursi pimpinan, mulai menyusun rencana untuk melakukan kudeta bersama dengan seorang kriminal lain bernama Bejo (Alex Abbad) yang semenjak lama juga telah mengincar beberapa wilayah yang selama ini berada dibawah kekuasaan Bangun. Terjebak diantara misi pribadi dan konflik internal sebuah organisasi kriminal, Rama harus segera memutar otaknya untuk dapat menyelesaikan tugas sekaligus menyelamatkan nyawanya di saat yang bersamaan.

Berbeda dengan The Raid yang lebih mengunggulkan kehadiran presentasi adegan aksinya yang demikian brutal daripada meluangkan waktu lebih banyak dalam menggali berbagai unsur penceritaannya, Gareth Huw Evans jelas terlihat berusaha untuk menghadirkan plot penceritaan yang lebih kompleks, berlapis dan mendalam bagi The Raid 2: Berandal. Sebuah usaha yang tidak mudah – dan Evans sesungguhnya masih terasa sedikit terbata-bata dalam menghadirkan jalan cerita yang ingin ia sampaikan. Beberapa masalah yang muncul dalam perwujudan naskah cerita film yang lebih kompleks arahan Evans tersebut adalah seperti ketidakmampuan Evans dalam mengelola beberapa konflik sehingga terasa menggantung, penyampaian yang masih terasa bertele-tele sehingga beberapa kali terasa mengganggu kedinamisan jalan penceritaan maupun sikap “serakah” Evans dalam menghadirkan terlalu banyak lapisan cerita namun gagal untuk memberikan pengembangan yang lebih meyakinkan. Deretan problema tersebut juga masih ditambah dengan beberapa kerikil kecil seperti inkonsistensi dalam penyusunan dialog yang juga hadir dalam susunan naskah cerita The Raid namun masih belum dapat dihilangkan dalam jalan cerita The Raid 2: Berandal.

Jadi apakah perubahan yang dilakukan Evans berdampak buruk bagi kualitas presentasi The Raid 2: Berandal secara keseluruhan? Sama sekali tidak! Evans harus diakui adalah sosok sutradara yang cukup cerdas. Ia tahu persis mengenai apa yang ia inginkan untuk hadir dalam filmnya, baik dari segi cerita, karakter maupun perwujudan visual filmnya. Karenanya, terlepas dari masih terbatasnya kemampuan Evans dalam merangkai jalinan cerita, The Raid 2: Berandal masih mampu dibekali dengan karakter-karakter kuat yang akan berhasil mencuri perhatian setiap penontonnya. Tidak seperti di film sebelumnya dimana banyak karakter terasa hanya menjadi sosok pelengkap bagi kehadiran adegan aksi, karakter justru menjadi pusat penceritaan dalam The Raid 2: Berandal. Karakter-karakter inilah yang menggerakkan penceritaan, memicu kehadiran konflik dan akhirnya meledakkan deretan adegan aksi dalam film ini. Dan layaknya The Raid, Evans kembali menghadirkan deretan koreografi aksi yang kini tidak hanya terasa semakin brutal namun juga tampil begitu indah dalam eksekusinya berkat dukungan tata kamera yang begitu handal dari Matt Flannery dan Dimas Imam Subhono. Tata musik arahan Aria Prayogi, Joseph Trapanese dan Fajar Yuskemal juga membantu meningkatkan serta menjaga intensitas emosional penceritaan di sepanjang presentasi film. Peningkatan kualitas yang cukup mengesankan.

Berbicara mengenai karakter, selain mendapatkan penggalian yang lebih mendalam, kehadiran deretan karakter dalam jalan cerita The Raid 2: Berandal juga menjadi lebih kuat berkat kemampuan para pemerannya dalam menghidupkan karakter-karakter tersebut. Didukung dengan penampilan aktor-aktor watak seperti Cok Simbara, Tio Pakusadewo, Oka Antara hingga aktor asal Jepang, Kenichi Endo, karakter-karakter yang mereka perankan jelas akan mampu meninggalkan kesan lebih mendalam jauh setelah penonton selesai menyaksikan film ini. Iko Uwais sendiri juga mampu memberikan peningkatan kemampuan akting yang signifikan dalam film ini. Kemampuannya dalam mengolah dialog terdengar jauh lebih baik dan lebih hidup dari apa yang dihadirkannya dalam The Raid. Kredit yang sama juga layak disematkan pada Arifin Putra dan Alex Abbad yang mampu membawakan karakter mereka dengan begitu baik. The Raid 2: Berandal juga didukung dengan penampilan singkat namun begitu mengesankan dari duet Julie Estelle dan Very Tri Yulisman yang begitu dinamis, Epy Kusnandar yang selalu berhasil mencuri perhatian, Cecep Arif Rahman yang tampil dengan koreografi laga yang begitu mematikan hingga kemunculan kembali Yayan Ruhian dalam karakter baru namun tetap akan mampu membuat banyak penonton berdecak kagum karenanya.

Jelas adalah sangat menyenangkan untuk menyaksikan bahwa Gareth Huw Evans tidak serta merta menghadirkan The Raid 2: Berandal dengan mengandalkan formula kesuksesan The Raid yang sama. Jangan salah. Dalam film ini, Evans masih mengandalkan kehadiran deretan adegan aksi nan brutal yang dikoreografikan dengan indah untuk kembali memikat penontonnya. Evans bahkan meningkatkan dosis adegan aksinya dan mengeksplorasi formula andalannya dengan sajian darah yang lebih kental. Namun, lebih dari The Raid, The Raid 2: Berandal hadir dengan komposisi penceritaan yang juga lebih berani dan matang. Secara berani, Evans menyusun naskah cerita filmnya dengan karakter-karakter yang lebih kuat serta jalinan cerita yang lebih kelam dan kompleks. Tidak selamanya berjalan sukses. Kemampuan bercerita Evans mungkin masih belum seunggul kekuatan visinya dalam merangkai adegan aksi – yang membuat beberapa puluh menit durasi film ini terasa sedikit berjalan lamban dan bertele-tele. Meskipun begitu, The Raid 2: Berandal jelas merupakan sebuah kemajuan yang sangat signifikan dari seri sebelumnya. Sebuah kemajuan yang mampu menunjukkan bahwa Evans adalah salah satu sutradara film aksi paling cerdas dan dinamis di dunia sekaligus potensi sangat besar yang dimiliki oleh seri The Raid selanjutnya untuk menjadi salah satu film aksi terbaik sepanjang masa. [B-]

The Raid 2: Berandal (Action | Crime | Thriller, 2014)

Directed by Gareth Huw Evans Produced by Nate Bolotin, Ario Sagantoro, Aram Tertzakian Written by Gareth Huw Evans Starring Iko Uwais, Arifin Putra, Oka Antara, Tio Pakusadewo, Alex Abbad, Julie Estelle, Ryuhei Matsuda, Kenichi Endo, Kazuki Kitamura, Cecep Arif Rahman, Cok Simbara, Yayan Ruhian, Very Tri Yulisman, Donny Alamsyah, Epy Kusnandar, Roy Marten, Zack Lee, Fikha Effendi, Hengky Solaiman Music by Aria Prayogi, Joseph Trapanese, Fajar Yuskemal Cinematography Matt Flannery, Dimas Imam Subhono Editing by Gareth Huw Evans Studio PT. Merantau Films/XYZ Films Running time 150 minutes Country Indonesia Language Indonesian, Japanese, English

5 thoughts on “Review: The Raid 2: Berandal (2014)”

  1. Suka banget dengan penampilan cantik namun sangar dari Julie Estelle. Gayanya berkelas. Berharap ada prekuel khusus Hammer Girl, mengapa dia begitu dan seluk beluknya. Pasti keren. Hahaha.

  2. Filmnya keren banget, semoga kelanjutannya lebih keren lagi🙂
    kayaknya anggaran marketingnya perlu dinaikan deh, supaya bisa jadi #1 box office

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s