Review: Captain America: The Winter Soldier (2014)


Captain America: The Winter Soldier (Marvel Studios, 2014)
Captain America: The Winter Soldier (Marvel Studios, 2014)

So what went wrong with Captain America: The First Avenger (2011)? Well… terlepas dari pemilihan Chris Evans yang benar-benar memiliki penampilan, kharisma dan kemampuan yang tepat untuk memerankan sang karakter utama, Captain America: The First Avenger tidak pernah benar-benar terasa sebagai sebuah film yang diperuntukkan kepada Captain America secara keseluruhan. Dengan penggalian karakter utama yang cukup terbatas serta paruh penceritaan lanjutan yang kemudian menghadirkan beberapa karakter ciptaan Marvel Comics yang telah terlebih dahulu meraih popularitasnya, Captain America: The First Avenger lebih kental terasa sebagai media publikasi untuk mengenalkan karakter Captain America kepada penonton dalam skala luas sebelum karakter tersebut akhirnya diikutsertakan dalam The Avengers (2012) – yang sekaligus menjadikan Captain America: The First Avenger terasa seperti promosi berdurasi 125 menit bagi The Avengers. Bukan sebuah presentasi yang benar-benar buruk namun kurang mampu untuk memberikan kesan esensial sebagai pemicu hadirnya sebuah franchise superhero yang baru.

Kelemahan di bagian penulisan naskah itulah yang sepertinya menjadi fokus pembenahan utama dalam seri kedua pengisahan Captain America, Captain America: The Winter Soldier. Kali ini, duo penulis naskah Christopher Markus dan Stephen McFeely mencoba untuk memberikan sentuhan penceritaan yang lebih mendalam dan kuat, baik kepada kehidupan personal sang karakter utama, orang-orang yang berada di sekitarnya maupun berbagai konflik yang terjalin dalam interaksi mereka satu sama lain. And it works! Layaknya film-film yang didedikasikan untuk karakter superhero Marvel Comics lainnya, Captain America: The Winter Soldier akhirnya mampu menjelma menjadi sebuah film bagi Captain America secara seutuhnya. Namun apakah hal tersebut sekaligus berhasil menjadikan Captain America: The Winter Soldier sebagai salah satu film terbaik dalam Marvel Cinematic Universe? Let’s see.

Berlatar belakang masa penceritaan dua tahun semenjak berbagai konflik yang terjadi dalam The Avengers, Steve Rogers (Chris Evans) kini melanjutkan kehidupannya di Washington D.C., Amerika Serikat dengan melanjutkan tugasnya sebagai Captain America bersama agen spionase S.H.I.E.L.D. sekaligus terus berusaha untuk mengikuti perkembangan dunia yang telah ditinggalkannya ketika tubuhnya dibekukan selama beberapa puluh tahun. Suatu hari, setelah ia terlibat dalam sebuah operasi untuk membantu S.H.I.E.L.D. dalam membebaskan kapal laut mereka dari serangan bajak laut Algeria yang dipimpin oleh Georges Batroc (Georges St-Pierre) bersama dengan agen rahasia Natasha Romanoff (Scarlett Johansson), Steve mulai mempertanyakan sikap kepemimpinan Nick Fury (Samuel L. Jackson) ketika mengetahui bahwa Nick menyimpan rahasia dari dirinya mengenai misi sebenarnya dari keberadaan agen Natasha Romanoff dalam operasi tersebut. Keraguan Steve terhadap dirinya itulah yang membuat Nick kemudian mengenalkan sebuah misi rahasia milik S.H.I.E.L.D. bernama Operation:Insight kepada Steve.

Tidak lama sesudahnya, Nick justru kemudian kehilangan aksesnya pada Operation:Insight dan mengalami penyerangan bertubi-tubi dari seorang pembunuh misterius yang dikenal dengan sebutan The Winter Soldier. Beruntung, Nick dapat menyelamatkan diri dari serangan tersebut. Dalam keadaan terluka, Nick menemui Steve di apartemennya dan menyerahkan sebuah flash drive sekaligus mengingatkan Steve untuk tidak mempercayai orang-orang yang berada di sekitarnya. Sialnya, begitu mengetahui bahwa ia adalah orang terakhir yang ditemui oleh Nick, pimpinan senior S.H.I.E.L.D., Alexander Pierce (Robert Redford), justru menjadikan Steve sebagai seorang buronan setelah ia menolak untuk memberi informasi mengenai apa tujuan Nick ketika datang ke apartemennya. Diburu oleh orang-orang yang selama ini ia percayai, Steve Rogers kini harus terus berlari untuk menyelamatkan diri sekaligus mencari tahu mengenai apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam S.H.I.E.L.D. serta orang-orang yang terlibat didalamnya.

Christopher Markus dan Stephen McFeely harus diakui berhasil untuk meningkatkan kualitas penulisan penceritaan Captain America: The Winter Soldier dengan memberikan deretan intrik dan konflik yang lebih kuat sekaligus karakter-karakter yang lebih mampu dimanfaatkan keberadaannya untuk menjadikan gerakan cerita film menjadi lebih dinamis. Namun, di saat yang bersamaan, kekuatan penceritaan tersebut kurang mampu dieksekusi dengan baik oleh duo Anthony Russo dan Joe Russo (You, Me and Dupree, 2006) yang duduk di kursi penyutradaan menggantikan posisi Joe Johnston. Duo Russo serasa tidak pernah benar-benar mampu untuk mengeksplorasi jalan cerita yang ia tangani dengan sempurna. Terlalu lamban dalam mengalurkan sisi penceritaan drama film dan di saat yang bersamaan juga terasa tidak mampu untuk menghasilkan sajian aksi yang kuat di saat jalan cerita membutuhkan elemen tersebut. Hasilnya, meskipun telah didukung dengan jalan penceritaan yang lebih padat berisi, eksekusi lemah duo Russo gagal untuk memberikan kepuasan secara utuh dalam deretan tahapan penceritaan Captain America: The Winter Soldier.

Chris Evans sendiri masih tampil sangat prima sebagai Steve Rogers atau Captain America. Daya tarik keseluruhan yang dimiliki oleh Evans mungkin telah hampir menyamai dengan kharisma yang dimiliki oleh Robert Downey, Jr. dalam memerankan Tony Stark alias Iron Man: telah cukup sulit untuk membayangkan kedua karakter tersebut jika diperankan oleh aktor yang berbeda. Pemberian porsi penceritaan yang lebih besar pada karakter Natasha Romanoff juga mampu dibarengi dengan chemistry yang begitu erat antara Evans dan Scarlett Johansson. Meskipun sama sekali tidak pernah diberikan porsi penceritaan yang mengarah kepada terbentuknya jalinan kisah romansa antara kedua karakter yang mereka perankan namun Evans dan Johansson berhasil membentuk jalinan chemistry (secara seksual?) yang akan mampu membuat para penonton bahwa kedua karakter mereka mampu hadir dengan porsi penceritaan yang lebih dari sekedar jalinan persahabatan. Begitulah jalinan keeratan chemistry yang berhasil dijalin Evans dan Johansson dalam film ini.

Para pemeran pendukung lain juga mampu memberikan kontribusi akting yang sangat meyakinkan bagi Captain America: The Winter Soldier. Samuel L. Jackson mampu tampil prima dengan perannya sebagai Nick Fury yang juga mendapatkan porsi peran lebih besar di film ini. Kehadiran kembali karakter Bucky Barnes yang diperankan oleh Sebastian Stan juga mampu tampil mencuri perhatian – meskipun dengan porsi penceritaan yang harus diakui kurang memuaskan. Sayangnya, hal yang sama juga terjadi pada Robert Redford, Anthony Mackie dan Emily VanCamp. Karakter-karakter yang mereka perankan terasa memiliki peran yang cukup vital dalam jalinan penceritaan Captain America: The Winter Soldier. Namun, eksplorasi karakter yang begitu terbatas membuat karakter-karakter tersebut justru akhirnya terasa kurang esensial. Captain America: The Winter Soldier juga hadir dengan kualitas produksi yang berkelas – meskipun entah kenapa tidak pernah benar-benar terasa istimewa jika dibandingkan dengan film-film produksi Marvel Studios lainnya.

Mungkin jika Captain America: The Winter Soldier mampu mendapatkan pengarahan yang lebih kuat lagi maka film ini akan berhasil tampil lebih mengesankan. Bukan berarti bahwa film ini hadir dengan kualitas yang seadanya atau bahkan mengecewakan. Namun hasil penulisan naskah Christopher Markus dan Stephen McFeely yang mampu menyelipkan berbagai intrik lebih menegangkan jika dibandingkan dengan seri sebelumnya gagal dieksekusi dengan lebih layak oleh duo sutradara Anthony dan Joe Russo. Karenanya, meskipun didukung dengan kualitas naskah yang membaik, penampilan jajaran pengisi departemen akting yang begitu apik serta kualitas produksi yang cukup cemerlang, Captain America: The Winter Soldier masih saja kurang mampu menggenggam perhatian para penontonnya dengan seutuhnya pada banyak bagian ceritanya. Peningkatan dari seri sebelumnya namun jelas masih memiliki beberapa ruang narasi yang perlu mendapatkan perbaikan. [B-]

Captain America: The Winter Soldier (Action | Adventure | Sci-Fi, 2014)

Directed by Anthony Russo, Joe Russo Produced by Kevin Feige Written by Christopher Markus, Stephen McFeely (screenplay), Ed Brubaker (concept and story), Joe Simon, Jack Kirby (comics, Captain America) Starring Chris Evans, Scarlett Johansson, Sebastian Stan, Anthony Mackie, Cobie Smulders, Frank Grillo, Emily VanCamp, Hayley Atwell, Robert Redford, Samuel L. Jackson, Toby Jones, Maximiliano Hernández, Garry Shandling, Georges St-Pierre, Callan Mulvey, Chin Han, Jenny Agutter, Alan Dale, Bernard White, Danny Pudi, DC Pierson, Gary Sinise, Stan Lee, Ed Brubaker, Joe Russo, Christopher Markus, Stephen McFeely, Thomas Kretschmann, Elizabeth Olsen, Aaron Taylor-Johnson Music by Henry Jackman Cinematography Trent Opaloch Editing by Jeffrey Ford Studio Marvel Studios Running time 136 minutes Country United States Language English

8 thoughts on “Review: Captain America: The Winter Soldier (2014)”

  1. kl aq sh sngt sk adegan hand to hand fight di flm ini,serasa menonton film Bourne dh, trs porsi menguak rahasia di dlm SHIELD sndri sprti ntn MI-nya Tom Cruise ^.^ aq g bs lht extra scan di end Credit, g tau tuh bioskopntya sengaja matiin,yg buat ngejar jam tayang x,soalnya tiketnya sold out trs sh.Yh antara jam tayang yg satu dngn yg slnjtnya bnr2 mepet sh,byngkn biasanya ada 3-4 triler flm2 baru sblm flm dimulai,eh kmrn cm satu triler aja tuh.yg kpngn aq tanyain,apakah extra scan yg di end title msh berhubungan dngn the Avanger 2?

  2. Menurut wawancara, untuk hand to hand fighting-nya Russo bersaudara terinspirasi The Raid Redemption. Ga heran kalo koreografi+camera work+editing hand to hand fighting di film ini bercitarasa The Raid. Buat yg jeli, bakal ngerasain bgt taste fighting-nya The Raid di bbrp adegan (terutama di ruang tertutup).

  3. B- = 7 ya bang? Setuju! Kalo menurut saya malah yang agak mengganggu adalah beberapa adegan yang seharusnya bisa tampil mengharukan, tapi kemudian gagal karena “plesetan dialog” yang terdengar kacangan. Memang karakter Marvell sih, mau apa lagi? Yaaa, mungkin karena awalnya “expect more” aja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s