Review: The Wind Rises (2013)


The Wind Rises (Studio Ghibli, 2013)
The Wind Rises (Studio Ghibli, 2013)

Dikabarkan akan menjadi film terakhir yang diarahkan oleh sutradara legendaris asal Jepang, Hayao Miyazaki, The Wind Rises adalah sebuah film animasi dengan naskah cerita yang diadaptasi oleh Miyazaki dari buku komik miliknya yang berjudul Kaze Tachinu yang kisahnya sendiri merupakan hasil adaptasi lepas dari sebuah cerita pendek berjudul sama karya Tatsuo Hori yang pertama kali dirilis pada tahun 1937. Berbeda dengan beberapa filmnya terdahulu seperti Spirited Away (2001), Howl’s Moving Castle (2004) dan Ponyo (2008) yang alur ceritanya lebih berorientasi kepada para penonton muda, The Wind Rises memiliki usia penuturan yang jauh lebih dewasa ketika Miyazaki mencoba mengisahkan perjalanan nyata kehidupan Jiro Horikoshi, salah satu ahli penerbangan paling dihormati di Jepang yang salah satu pesawat tempur ciptaannya digunakan oleh Kerajaan Jepang pada masa Perang Dunia II. Sebuah pengisahan mengenai fantasi yang tentunya siap untuk menerbangkan setiap penontonnya.

The Wind Rises memulai pengisahannya dengan latar belakang kisah pada tahun 1918 ketika seorang anak bernama Jiro Horikoshi (Hideaki Anno) berfantasi tentang kemampuannya untuk dapat mengemudikan sebuah pesawat terbang. Fantasi tersebut berubah ketika suatu hari, Jiro bermimpi bertemu dengan ahli penerbangan legendaris asal Italia, Giovanni Battista Caproni (Nomura Mansai), yang mengatakan padanya bahwa seorang anak yang menggunakan kacamata tidak diperbolehkan untuk menerbangkan sebuah pesawat terbang. Namun, Caproni turut menambahkan, seperti dirinya yang juga tidak dapat menerbangkan pesawat terbang, Jiro dapat memulai sebuah mimpi baru: mendesain dan membangun sebuah pesawat terbang untuk dapat diterbangkan oleh orang lain. Jiro kemudian terbangun dari mimpinya dan segera sadar apa yang ia inginkan dalam kehidupannya.

Seiring dengan berjalannya alur penceritaan, Jiro telah menyelesaikan masa kuliahnya di bidang teknik mesin dan mulai bekerja di berbagai perusahan penghasil pesawat terbang di Jerman. Sayang, berbagai desain pesawat terbang yang ia kerjakan terus menerus berakhir dengan kegagalan. Merasa kecewa, Jiro kemudian memilih untuk menghabiskan waktunya untuk sementara di kampung halamannya, Jepang. Disana, Jiro kemudian bertemu kembali dengan gadis yang dulu pernah dikenalnya, Naoko Satomi (Miori Takimoto), dan kemudian jatuh cinta dengannya. Segera, Jiro dan Naoko bertunangan. Naoko sendiri menolak untuk segera dinikahi Jiro karena kondisi kesehatannya yang sedang memburuk. Naoko kemudian meminta Jiro untuk menunggu kepulihannya sebelum mereka memutuskan untuk menikah. Pada masa itulah Jiro kemudian mendapat tugas baru untuk mendesain sebuah pesawat terbang yang nantinya akan dikenal sebagai pesawat terbang yang digunakan pasukan Jepang untuk melakukan serangan pada angkatan militer Amerika Serikat di Pearl Harbor pada tahun 1941.

Adegan pembukaan The Wind Rises yang menampilkan mesin-mesin penerbang yang menakjubkan, adegan aksi dengan pewarnaan yang begitu indah serta karakter-karakter yang berlatarbelakang masa sebelum peperangan menyiapkan penonton untuk memasuki pengisahan biografi Jiro Horikoshi yang mengagumkan tersebut. Hayao Miyazaki bahkan kemudian menyempatkan diri untuk merangkum dan menampilkan visualisasi dari berbagai peristiwa sejarah yang mempengaruhi struktur masyarakat Jepang pada masa berjalannya alur cerita seperti gempa Bumi di Kanto pada tahun 1923, bangkitnya kekuasaan Nazi di Jerman hingga awal keterlibatan Jepang di Perang Dunia II untuk menambah kesan autentik dari jalan cerita film ini. Sayangnya, The Wind Rises kemudian berubah menjadi sebuah opera sabun tentang drama percintaan yang berjalan begitu lama dan mengambil alih paruh kedua masa penceritaan film. Masih ingat dengan Habibie & Ainun (2012)?

Jangan salah. Sama sekali tidak ada yang salah dengan sebuah kisah cinta. Namun, kisah cinta yang digarap Miyazaki tampil begitu datar. Terasa hadir tanpa adanya hasrat yang mampu membuat penonton turut larut dalam pengisahan romansa tersebut. Datang dari seorang pembuat film dengan kandungan pemikiran berfilosofi tinggi seperti Miyazaki, adalah sangat mudah untuk dimengerti bahwa Miyazaki ingin membentuk perbandingan antara manisnya sebuah kisah cinta dengan kegetiran hidup ketika masa perang melanda dalam jalan cerita yang digarapnya. Sebaliknya, adalah penulisan Miyazaki akan karakter-karakter yang terasa begitu hampa dan ritme penceritaan yang berjalan (terlalu) lamban yang kemudian membuat kisah cinta garapan Miyazaki justru kalah menarik dengan tampilan kisah perang ataupun usahanya mewujudkan mimpi dalam membangun sebuah pesawat terbang. Dengan abstainnya alur emosional dalam jalan cerita film, dapat dibayangkan bahwa perjalanan 126 menit dari The Wind Rises akan terasa begitu tersendat dan menjenuhkan.

Terlepas dari deretan kelemahan penceritaannya, The Wind Rises adalah sebuah pemandangan yang akan mampu mempesona siapapun yang melihatnya. Dengan deretan gambar di setiap adegan yang digarap oleh tangan-tangan jeli pelukisnya, The Wind Rises mampu menampilkan berbagai panorama seperti keromantisan di kala turunnya hujan, kekhawatiran dan ketegangan saat terjadinya bencana alam, kecantikan tubuh pesawat saat meliuk di langit lepas atau gambaran alam hutan dan pedesaan yang indah dengan menyamai (atau bahkan melebihi?) kualitas yang mampu dihasilkan oleh teknologi animasi komputer. Penggarapan gambar dan teknis produksi yang minimalis namun mampu menghasilkan kualitas presentasi maksimal.

The Wind Rises mungkin saja tidak akan sanggup berdiri tegak diantara deretan karya terbaik Hayao Miyazaki yang telah ia hasilkan di sepanjang lebih dari 30 tahun perjalanan karirnya. Lemahnya penggarapan sisi romansa cerita – yang mengambil durasi lebih dari separuh porsi penceritaan film, membuat banyak momen dalam film ini terasa hampa. Karakter-karakter yang tergambar dengan begitu datar serta penceritaan yang berjalan lamban jelas akan memberikan cukup banyak momen jenuh di sepanjang penceritaan The Wind Rises. Meskipun begitu, kelihaian Miyazaki dalam bercerita melalui media visual masih tergurat jelas dalam keindahan setiap detil gambaran yang ditampilkan film ini. Begitu indah dan (mungkin) akan cukup mampu membuat penonton (sedikit) melupakan kelemahan penggalian kedalaman jalan cerita film. Sajian indah namun, sayangnya, gagal untuk tampil lebih mengikat dalam bercerita. [C]

The Wind Rises (Kaze Tachinu) (Animation | Biography | Drama, 2013)

Directed by Hayao Miyazaki Produced by Toshio Suzuki Written by Hayao Miyazaki (screenplay), Hayao Miyazaki (comic, Kaze Tachinu) Starring Hideaki Anno, Miori Takimoto, Hidetoshi Nishijima, Masahiko Nishimura, Stephen Alpert, Morio Kazama, Keiko Takeshita, Mirai Shida, Jun Kunimura, Shinobu Otake, Nomura Mansai Music by Joe Hisaishi Cinematography by Atsushi Okui Editing by Takeshi Seyama Studio Studio Ghibli Running time 126 minutes Country Japan Language Japanese

3 thoughts on “Review: The Wind Rises (2013)”

  1. Entah kenapa masih kurang dapet esensinya film ini, gak seperti film-film lainnya. Tapi tetep akhir filmnya bikin sedih, keinget ini film terakhirnya Miyazaki-san.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s