Review: 300: Rise of an Empire (2014)


300: Rise of an Empire (Warner Bros. Pictures/Legendary Pictures/Cruel & Unusual Films/Atmosphere Entertainment MM/Hollywood Gang Productions/Nimar Studios, 2014)
300: Rise of an Empire (Warner Bros. Pictures/Legendary Pictures/Cruel & Unusual Films/Atmosphere Entertainment MM/Hollywood Gang Productions/Nimar Studios, 2014)

Diadaptasi dari novel grafis yang belum dipublikasikan karya Frank Miller yang berjudul Xerxes, 300: Rise of an Empire adalah sebuah prekuel sekaligus sekuel bagi film arahan Zack Snyder berjudul 300 yang berhasil meraih sukses secara komersial ketika dirilis pada tahun 2007 silam. Meskipun Snyder masih bertanggungjawab sebagai penulis naskah bersama dengan Kurt Johnstad, kursi penyutradaraan untuk 300: Rise of an Empire sendiri kini diduduki oleh Noam Murro yang sebelumnya hanya pernah mengarahkan film drama komedi Smart People di tahun 2008. Tidak banyak hal yang berubah dalam kualitas penceritaan maupun tampilan visual 300: Rise of an Empire jika dibandingkan dengan seri pendahulunya. Murro jelas terasa masih begitu mengandalkan berbagai trik yang pernah digunakan Snyder untuk memaksimalkan tampilan film yang ia arahkan. Bukan sebuah hal yang buruk. Mereka yang menggemari 300 jelas masih akan sangat mengapresiasi kualitas produk akhir yang dihasilkan Murro – meskipun repetisi dalam departemen penulisan cerita kemungkinan besar juga akan memberikan kejenuhan pada sebagian penonton lainnya.

Jalan cerita 300: Rise of an Empire sendiri berlatarbelakangkan masa penceritaan sebelum, ketika dan sesudah berbagai peristiwa yang terjadi dalam film 300. Filmnya sendiri dimulai dengan pengisahan mengenai kekalahan King Darius I (Yigal Naor) dari Persia oleh General Themistocles (Sullivan Stapleton) dari Athena, Yunani dalam Battle of Marathon. Oleh King Darius I, puteranya, Xerxes (Rodrigo Santoro), yang menyaksikan kekalahannya di medan perang, kemudian diberikan nasehat agar dirinya tidak melanjutkan peperangan karena King Darius I berpendapat bahwa hanya para dewa yang sanggup melawan bangsa Yunani. Namun, pimpinan angkatan laut King Darius I, Artemisia (Eva Green), justru memberitahukan Xerxes bahwa nasehat sang raja adalah sebuah tantangan bagi puteranya untuk menyelesaikan misi yang telah gagal ia selesaikan. Terbakar dengan perkataan Artemisia, Xerxes lantas melakukan sebuah perjalanan spritual yang memberikannya kekuatan luar biasa dan kemudian mendeklarasikan peperangan kembali terhadap Yunani.

Mengetahui bahwa Xerxes berniat kembali menyerang Yunani, General Themistocles lantas berusaha mempersatukan seluruh pimpinan wilayah di negara tersebut, termasuk King Leonidas (Gerard Butler) dari Sparta, untuk kemudian bersama melawan Xerxes. Sayang, keinginan General Themistocles tersebut mendapatkan penolakan secara sepihak. Dan benar saja, tanpa kekuatan yang menyeluruh, King Leonidas dan seluruh prajurit perangnya yang berjumlah 300 orang dengan mudah dapat ditundukkan Xerxes. Kini, Xerxes bersama pasukannya bergerak menuju wilayah kekuasaan General Themistocles, Thermopylae. Meskipun dengan jumlah pasukan yang jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan pasukan Persia, General Themistocles mau tidak mau harus menghadapi Xerxes dan pasukannya untuk tetap mempertahankan wilayah Thermopylae.

Tidak ada yang istimewa dalam presentasi cerita maupun tampilan visual 300: Rise of an Empire. Noam Murro masih melanjutkan tradisi slow motion pada setiap adegan aksi dan darah yang menyebar ke seluruh sudut layar yang dahulu diterapkan Zack Snyder dalam 300 untuk memberikan efek bombastis pada jalan penceritaan film ini. Berbicara mengenai naskah cerita, naskah cerita garapan Snyder dan  Kurt Johnstad sendiri juga tidak memberikan banyak perubahan berarti pada gaya penceritaannya. Karakter-karakter yang bertambah banyak malah kadang memberikan kebingungan bagi penonton ketika baik Snyder dan Johnstad gagal memberikan mereka porsi penceritaan yang sesuai. Meskipun begitu, seri penceritaan 300 jelas tidak dikenal karena kejeniusan penulisan ceritanya. Tampilan visual yang begitu kuat dalam menunjang kualitas penceritaan film cukup mampu menjadi alasan tersendiri bagi penonton untuk kembali menikmati petualangan berdarah yang disajikan seri film ini.

Secara mengejutkan, meskipun menampilkan Sullivan Stapleton yang cukup mampu menggantikan posisi Gerard Butler sebagai aktor utama dan sejumlah aktor bertubuh maskulin lainnya yang mengisi peran sebagai karakter-karakter prajurit yang siap berlaga di medan perang dalam film ini, adalah Eva Green yang berhasil mencuri perhatian dan memberikan banyak momen terbaik bagi 300: Rise of an Empire. Harus diakui, karakter Artemisia yang diperankan oleh Green memang terkesan kurang terbangun dengan baik di beberapa bagian cerita. Namun, bahkan dengan porsi penceritaan yang tergolong kurang berkembang tersebut, Green mampu membuat karakternya begitu mudah untuk dikenang setiap penonton film ini dengan penampilannya yang begitu kuat dan mematikan. Jika boleh memilih, mungkin karakter Artemisia lebih patut untuk dijadikan karakter antagonis tunggal di film ini daripada harus membaginya dengan karakter Xerxes yang kemudian justru membuat kedua karakter ini sama-sama tergali dengan kurang begitu baik.

Di bawah pengarahan Zack Snyder, 300: Rise of an Empire mungkin akan mampu berjalan lebih efektif dengan kemampuannya untuk menyeimbangkan antara tampilan visual yang bombastis dan jalan cerita yang kental dengan nuansa mistis. Bukan bermaksud untuk mendiskreditkan apa yang dicapai Noam Murro untuk film ini. Namun, tanpa bekal pengetahuan yang disajikan Snyder dalam seri sebelumnya, sulit untuk membayangkan Murro dapat menghasilkan kualitas visual yang sama menariknya. Secara keseluruhan, meskipun masih terasa sangat repetitif dari sisi departemen penceritaannya, 300: Rise of an Empire masih akan cukup sanggup memberikan elemen hiburan bagi para penontonnya, khususnya dengan tampilan visual yang cukup atraktif… dan penampilan Eva Green yang akan menghipnotis setiap mata yang memandangnya. [C]

300: Rise of an Empire (Action | Drama | War, 2014)

Directed by Noam Murro Produced by Mark Canton, Bernie Goldmann, Gianni Nunnari, Deborah Snyder, Zack Snyder, Thomas Tull Written by Zack Snyder, Kurt Johnstad (screenplay), Frank Miller (graphic novel, Xerxes) Starring Sullivan Stapleton, Eva Green, Lena Headey, Rodrigo Santoro, Jack O’Connell, Hans Matheson, Callan Mulvey, David Wenham, Andrew Tiernan, Yigal Naor, Andrew Pleavin, Ben Turner, Ashraf Barhom, Christopher Sciueref, Peter Mensah, Caitlin Carmichael, Jade Chynoweth, Gerard Butler, Michael Fassbender Music by Junkie XL Cinematography by Simon Duggan Editing by David Brenner, Wyatt Smith Studio Warner Bros. Pictures/Legendary Pictures/Cruel & Unusual Films/Atmosphere Entertainment MM/Hollywood Gang Productions/Nimar Studios Running time 102 minutes Country United States Language English

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s