Review: Killers (2014)


Killers (Nikkatsu/Guerilla Merah Films/Damn Inc./Media Prima Production/PT Merantau Films/Million Pictures/Holy Bastard, 2014)
Killers (Nikkatsu/Guerilla Merah Films/Damn Inc./Media Prima Production/PT Merantau Films/Million Pictures/Holy Bastard, 2014)

Dalam Killers, sebuah film thriller terbaru arahan duo Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel – atau yang lebih familiar dengan sebutan The Mo Brothers (Rumah Dara, 2010), garis kehidupan dua orang pria yang berasal dari dua negara dan latar kehidupan berbeda namun sama-sama menyimpan sebuah sisi gelap yang mengerikan di dalam diri mereka akan segera bertemu satu sama lain. Pria pertama bernama Nomura Shuhei (Kazuki Kitamura), seorang eksekutif muda asal Tokyo, Jepang yang meskipun memiliki wajah tampan dan mudah disukai banyak orang namun memiliki kegemaran untuk membunuh dan mendokumentasikan kegemarannya tersebut dalam bentuk video. Tidak berhenti disana, Nomura dengan giat mengunggah rekaman-rekaman video pembunuhannya ke internet demi mendapatkan kepuasan setelah mengetahui bahwa “mahakarya” yang ia hasilkan telah dilihat jutaan pasang mata.

Sementara itu, di Jakarta, Indonesia, Bayu Aditya (Oka Antara) adalah seorang jurnalis yang sedang berada dalam titik terendah dalam kehidupannya. Karirnya berantakan setelah kegagalannya untuk mengungkap kasus korupsi yang dilakukan oleh seorang politikus, Dharma (Ray Sahetapy). Kehidupan personalnya bahkan tidak lebih baik. Pernikahannya dengan Dina (Luna Maya) berada di ambang perceraian yang membuat dirinya seringkali kesulitan untuk menemui puterinya yang begitu ia sayangi. Di tengah-tengah berbagai himpitan hidup tersebut, Bayu menemukan video-video yang diunggah Nomura ke internet dan secara perlahan mulai terinspirasi untuk melakukan hal yang sama: untuk menjadi seorang pembunuh berantai berdarah dingin. Berkat dorongan hasrat sisi gelapnya tersebut, Bayu kemudian berusaha untuk menghubungi Nomura. Dan ketika Nomura memberikan tanggapan pada Bayu, kehidupan keduanya secara perlahan mulai berubah dan terhubung satu sama lain.

Disengaja atau tidak, Killers terasa mendapatkan pengaruh yang cukup kuat dari dari film-film thriller asal Korea Selatan seperti I Saw the Devil (2010) atau Bedevilled (2010) – sebuah presentasi psychological thriller yang kelam, gloomy dan benar-benar meminta perhatian penuh dari penontonnya untuk mampu menyelami karakter-karakter yang hadir di dalam jalan cerita. Keberadaan adegan-adegan sadis nan berdarah bukanlah menjadi santapan utama dalam film ini. Benar bahwa adegan-adegan tersebut merupakan bagian esensial dalam jalan cerita Killers namun The Mo Brothers terlihat lebih mengeksplorasi berbagai konflik yang terjadi pada dua karakter utama dan bagaimana konflik-konflik tersebut mempengaruhi kehidupan mereka berdua. Dalam beberapa bagian – khususnya bagian penceritaan yang melibatkan  karakter Nomura Shuhei, formula tersebut berhasil dieksekusi dengan baik. Sayangnya, di bagian lain yang presentasi ceritanya justru lebih besar, The Mo Brothers terasa masih begitu terbata-bata dalam menghadirkan ceritanya.

Permasalahan muncul pada bagian kisah yang melibatkan karakter Bayu Aditya ketika Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel berupaya menghadirkan susunan cerita yang lebih kompleks dengan kehadiran konflik dan karakter yang lebih berlapis jika dibandingkan dengan kisah penceritaan karakter Nomura Shuhei namun gagal memberikan penggalian yang kuat pada elemen-elemen penceritaan tersebut. Banyak bagian dari kisah penceritaan karakter Bayu Aditya terasa hanya menyentuh permukaan dari permasalahan yang dihadirkan, mulai dari konflik yang dihadapi sang karakter dalam urusan pekerjaannya, hubungan romansanya hingga pengembangan karakternya ketika sisi kelam dirinya mulai terasa mengambil alih seluruh kehidupannya. Hal inilah yang menyebabkan plot kisah yang menyajikan lebih banyak sisi drama ini gagal untuk benar-benar menghasilkan ikatan emosional yang sebenarnya cukup dibutuhkan agar penonton dapat merasakan perbedaan dari perubahan karakter Bayu Aditya dengan karakter Nomura Shuhei.

Ritme penceritaan yang diberikan The Mo Brothers sendiri cukup mampu memberikan atmosfer yang sesuai pada Killers. Melalui penataan cerita yang sederhana, The Mo Brothers memberikan ruang yang cukup luas pada konflik dan karakter yang hadir di dalam jalan cerita film ini untuk memberikan kesan mencekam yang lebih dalam. Tidak sepenuhnya berjalan lancar. Beberapa bagian Killers, khususnya di bagian pertengahan, terasa begitu lamban akibat kurang esensialnya cerita yang ingin disampaikan. Killers juga terasa antiklimaks dengan pemberian ending yang jauh dari kesan memuaskan – film ini, sejujurnya, akan terasa lebih kuat jika berakhir 20 menit lebih awal ketika karakter Nomura Shuhei selesai mengerjakan “tugas akhirnya”. Lebih dari itu, ending yang disajikan The Mo Brothers terkesan dipaksakan untuk memberikan ending yang berdarah namun gagal untuk dieksekusi dengan rapi.

Pengarahan dari The Mo Brothers sendiri terasa begitu kuat pada departemen akting dan tata produksi film ini. Meskipun beberapa karakter terkesan kurang tergali dengan baik porsi penceritaannya – seperti karakter-karakter yang diperankan oleh Luna Maya, Ray Sahetapy, Epy Kusnandar, Dimas Argoebie atau Tara Basro, namun para jajaran pemeran film ini mampu hadir dengan penampilan akting yang sangat kuat. Kazuki Kitamura tampil dengan sempurna dalam memerankan karakter Nomura Shuhei – sadis, dingin namun hadir dengan kharisma yang begitu kuat. Lawan mainnya, Oka Antara, juga hadir dengan penampilan akting yang berkelas. Berbeda dengan Kazuki Kitamura yang hadir sebagai seorang sosok yang murni bersifat sadis, karakter yang diperankan oleh Oka Antara memang memiliki lapisan penceritaan yang cukup mendalam – karakternya adalah seorang pecundang yang berusaha untuk mengambil alih pimpinan kehidupannya sendiri. Meskipun tampil goyah pada beberapa bagian penceritaan – dan akan mendapatkan perbandingan secara langsung terhadap penampilan Kazuki Kitamura, penampilan Oka Antara sebagai Bayu Aditya tetap hadir sebagai sebuah penampilan yang cukup cemerlang. Killers juga menampilkan penampilan apik dari aktris Jepang, Rin Takanashi, yang mampu mendampingi sekaligus menjadi padanan yang pas bagi penampilan dari Kazuki Kitamura.

Sama halnya seperti Rumah Dara, The Mo Brothers mampu menghadirkan kualitas produksi yang begitu berjelas bagi Killers. Tata kamera arahan Gunnar Nimpuno bergerak begitu dinamis sehingga mampu menangkap sudut-sudut gambar yang terasa begitu efektif dalam bercerita. Begitu juga dengan departemen artistik yang secara meyakinkan menghadirkan dukungan atmosfer suasana yang tepat bagi penceritaan Killers. Dukungan tata musik dan suara dari Fajar Yuskemal dan Aria Prayogi semakin menambah kuat kualitas departemen produksi dari film ini. Kualitas produksi yang benar-benar sangat memuaskan.

Sayangnya, Killers terasa seperti kembali mengulangi beberapa kesalahan yang dilakukan The Mo Brothers lewat debut penyutradaraan layar lebar mereka, Rumah Dara, beberapa tahun lalu. Memiliki konsep penceritaan yang sebenarnya sangat menyenangkan, keduanya lantas harus tersandung ketika menterjemahkan konsep tersebut dalam eksekusi akhirnya, khususnya ketika berhubungan dengan pengembangan konflik sekaligus karakter yang berlapis. Hasilnya jelas dapat dirasakan dari dua penceritaan yang disajikan dalam Killers: penceritaan karakter Nomura Shuhei yang minimalis mampu dieksekusi dengan lancar sedangkan bagian penceritaan dari karakter Bayu Aditya yang cenderung lebih kompleks terkesan hadir cukup berantakan pada kebanyakan bagiannya. Keputusan untuk mempertemukan dua karakter sentral tersebut juga gagal menghasilkan sebuah ending yang maksimal ketika The Mo Brothers kurang mampu memberikan sisi penceritaan yang lebih mendalam. Bukan berarti Killers adalah sebuah presentasi yang buruk – departemen produksi dan penampilan akting yang dihadirkan para pemeran film ini jelas hadir dalam kualitas yang kuat. Namun secara keseluruhan, Killers terasa cukup mengecewakan akibat lemahnya eksekusi cerita di banyak bagiannya. [C]

Killers (Action | Drama | Thriller, 2014)

Directed by Timo Tjahjanto, Kimo Stamboel Produced by Yoshinori Chiba, Shinjiro Nishimura, Takuji Ushiyama, Timo Tjahjanto, Kimo Stamboel Written by Timo Tjahjanto (screenplay), Takuji Ushiyama, Timo Tjahjanto (story) Starring Oka Antara, Luna Maya, Kazuki Kitamura, Rin Takanashi, Ray Sahetapy, Epy Kusnandar, Tara Basro, Mei Kurokawa, Dimas Argoebie Music by Fajar Yuskemal, Aria Prayogi Cinematography by Gunnar Nimpuno Editing by Arifin Marhan Japri Studio Nikkatsu/Guerilla Merah Films/Damn Inc./Media Prima Production/PT Merantau Films/Million Pictures/Holy Bastard Running time 137 minutes Country Indonesia, Japan Language Indonesian, Japanese, English

9 thoughts on “Review: Killers (2014)”

  1. Jadi… apakah “Killers” ini lebih buruk atau lebih baik daripada “Killers”-nya Ashton Kutcher? Just asking…. hehehe…
    Saya sendiri suka cara penuturannya yang simple dan tidak perlu berumit-rumit…
    Tetapi, andaikan Bayu lebih profesional dalam melakukan aksinya dan tidak melakukan kebodohan2 itu, filmnya pasti lebih seru

  2. KILLERS: A GOOD EFFORT FROM INDONESIAN FILMMAKERS BUT STILL NOT A SUNDANCE WORTHY

    ******************This review may contain spoilers*********************

    Dengan masuknya film Killers keajang bergengsi seperti Sundance telah membuat saya membangun ekspektasi yang tinggi untuk film ini. Sayangnya ekspektasi yang saya harapkan bisa saya dapat, tidak dapat dipuaskan oleh Killers, dan saya yakin banyak orang yang merasakan hal ini.

    The Mo Brothers perlu saya kasih jempol terutama untuk Timo Tjahjanto yang berani mengambil route berbeda selepas Rumah Dara (Macabre). Jika Rumah Dara hanya terlihat seperti homage untuk film-film seperti Texas Chainsaw Massacre dari segi plot, dalam Killers, Timo terlihat berusaha keras untuk membuat script yang lebih berbobot. Tapi duet screenwriters Timo dan Takuji Ushiyama tak mampu mempertemukan koneksi yang kuat antara dua tokoh utama: Bayu dan Nomura. Hingga akhirnya terasa sedikit dipaksakan. Kedua karakter seperti ditulis oleh dua orang yang berbeda dan kedua penulis kesulitan mencari urat nadiyang menghubungkan karakter masing-masing. Diawal film tiba-tiba saja Bayu sedang menonton video pembunuhan yang di download oleh Nomura, seakan writers tidak merasa perlu menceritakan bagaimana Bayu menemukan “pasangannya” lewat internet. Dan bagaimana dengan video-video Nomura yang juga ditonton pengguna internet dibelahan dunia lain? Timo dan Takuji seakan menutup kemungkinan ini, okelah saya nurut saja.

    Akting Kazuki Kitamura sebagai Nomura si pembunuh berdarah dingin tampil memukau dan meyakinkan. Begitu juga dengan Oka Antara sebagai Bayu, seorang jurnalis yang dilanda masalah keluarga dan juga karir. Tapi ketika Nomura dipukuli oleh Ahmed si germo, di scene ini Nomura si pembunuh sadis seperti ‘out of his character’, dia terlihat begitu lemah dan culun hingga membiarkan dirinya dipukuli. Namun di adegan lain dia digambarkan sebagai seorang kanibal yang memakan daging (terlihat seperti lidah manusia) dengan santainya. The Mo Brothers seperti terlihat bingung untuk menggambarkan detil karakter Nomura agar terlihat seperti psikopat yang sakit jiwa. Oka terlihat sangat tenggelam dalam karakternya, tapi dialog-dialog yang terucap darinya tetap terasa tidak real, apakah script nya yang tidak mampu menggambarkan dialog yang nyata seperti dialog sehari-hari, atau Oka yang tidak mampu men-delivernya agar terlihat natural.
    Setuju dengan Original Post, konflik rumah tangga dan karir Bayu yang kompleks tidak dieksekusi dengan baik sehingga penonton tidak merasakan penderitaan Bayu.

    Hal yang juga mengganjal di saya adalah backstory dibalik kisah kakak dan keluarga Nomura yang dituturkan secara sedikit-sedikit sepanjang film tanpa adanya penjelasan yang gamblang. I wait for the dots to be connected but it fails to happened. Ini mirip dengan alur film korea’Oldboy’ mengenai kakak Oh Dae Su, bedanya Oldboy memberikan full story mengenai masa lalu karakter Woo-Jin dengan clear dan brilliant hingga kita bisa menangkap kebencian dan dendam yang membentuknya menjadi karakter yang sadis, yang sayangnya tidak saya temukan dalam karakter Nomura, sehingga karakter Nomura terasa dangkal.

    karakter Roy Marten yang cuman muncul secuil membuat saya berharap dia akan muncul lagi di pertengahan film, untuk disebut cameo porsinya terlalu besar, tapi dengan menampilkan aktor sekelas Roy Marten untuk peran yg tidak begitu penting justru membuat saya mengira dia adalah tokoh penting dalam alur cerita, sayang justru tidak. Ini malah membuat saya jadi bertanya: kenapa musti Roy Marten?

    Penggunaan scoring sangat membantu membangun adegan, untuk department ini saya sangat acungkan jempol karena membantu membangun ketegangan. Sinematografi pun dibangun apik oleh Unay, seapik tata lightingnya di film Modus Anomali walaupun kadang focus kurang terjaga dan over shaky di beberapa adegan.

    Di akhir adegan saat klimaks, dimana adegan paling penting yang akan menutup film ini, penonton malah disuguhkan effect digital composite yang kacrut, yaitu pada saat Bayu tertembak di wajah dan pada saat Nomura dan Bayu terjatuh dari gedung. Tensi yang dibangun seakan buyar dengan sajian effect murahan, sangat disayangkan. Dibanding spesial effect adegan jatuh di film The Raid, Killers seperti menggunakan teknologi yang tertinggal 10 tahun.

    Walaupun masih banyak yang bisa diimprove dari film ini, secara keseluruhan saya berikan film ini 6.8. Sebuah pencapaian baru untuk sinema Indonesia. Mudah-mudahan Mo Brothers bisa berkarya lebih baik lagi walaupun tampaknya kolaborasi mereka akan terpending untuk beberapa tahun kedepan. Kita tunggu saja ‘The Night Come From Us’ dari Timo, dan ’24 Jam’ dari Kimo!

  3. Correction:

    Tertulis:
    “Ini mirip dengan alur film korea’Oldboy’ mengenai kakak dari karakter Oh Dae Su”

    Seharusnya:
    “Ini mirip dengan alur film korea ’Oldboy’ mengenai kakak dari karakter Woo Jin”

  4. Stuju bget. Kupikir Killers blum brhasil mnyndang Thriller Psikologis. konflik” yg coba dhadirkan ga’ brhasil mmnculkan tngkat emosi yg dlam..aga’ kcwa..
    Selebihnya Kazuki Kitamura dan Rin Takanashi brmain cmerlang..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s