Review: Comic 8 (2014)


Comic 8 9Falcon Pictures, 2014)
Comic 8 (Falcon Pictures, 2014)

Bahkan hanya dengan dua film layar lebar yang baru diarahkannya, Mama Cake (2012) dan Coboy Junior the Movie (2013), Anggy Umbara telah mampu mencuri perhatian para penikmat film Indonesia – kebanyakan karena kegemarannya untuk menampilkan visualisasi dari cerita filmnya dengan warna-warna benderang maupun tampilan a la komik yang begitu terkesan eksentrik. Kegemarannya tersebut kembali ia hadirkan dalam Comic 8, sebuah film aksi komedi yang menampilkan penampilan akting dari delapan pelaku stand up comedy – atau yang lebih akrab dikenal dengan sebutan komik – yang saat ini tengah meraih popularitas yang cukup tinggi di Indonesia. Momen-momen komedi memang mampu mengalir lancar dalam pilihan ritme penceritaan cepat yang dipilihkan Anggy untuk film ini. Namun, naskah yang terasa lemah dalam eksplorasi ceritanya seringkali membuat Comic 8 banyak menghabiskan durasi filmnya dalam atmosfer penceritaan yang cenderung datar daripada tampil benar-benar menghibur penontonnya.

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Fajar Umbara, Comic 8 memulai kisahnya ketika tiga penjahat amatir, Babe (Babe Cabiita), Bintang (Bintang Timur) dan Fico (Fico Fachriza), yang telah merasa lelah dengan kehidupan mereka yang selalu berjalan sulit kemudian memutuskan untuk mengubah nasib dengan merampok sebuah bank guna mendapatkan uang sebanyak mungkin. Setelah melakukan beberapa observasi serta persiapan sederhana, di hari yang telah ditentukan, ketiganya memasuki bank yang telah dipilih untuk dijadikan sasaran perampokan mereka. Sial, beberapa saat sebelum memulai aksi mereka, bank tersebut justru kemudian menjadi sasaran perampokan yang dilakukan oleh tiga orang penjahat yang lebih profesional, Ernest (Ernest Prakasa), Kemal (Kemal Palevi) dan Arie (Arie Kriting). Kacau? Tentu saja!

Tidak dapat dihindari, kedua kelompok penjahat tersebut mulai saling berseteru mengenai siapa yang lebih berhak melakukan perampokan di bank tersebut. Sialnya (lagi), ditengah perseteruan tersebut, hadir kelompok penjahat lain yang terdiri dari dua orang berpenampilan absurd, Mongol (Mongol Stres) dan Mudy (Mudy Taylor), yang (tentu saja juga) ingin merampok bank tersebut. Masalah semakin bertambah ketika pihak kepolisian mulai mencium keberadaan para penjahat tersebut dan kemudian mengepung sekeliling wilayah bank agar segera dapat meringkus mereka. Tidak ingin tertangkap, kedelapan penjahat yang berasal dari tiga kelompok berbeda tersebut memutuskan untuk menyingkirkan seluruh perbedaan mereka dan mulai saling bekerjasama dalam menemukan jalan keluar dari bank dan kepungan polisi.

Comic 8 sebenarnya memiliki potensi penceritaan aksi maupun komedi yang cukup kuat. Anggy Umbara dan Fajar Umbara jelas terlihat telah memiliki visi mengenai apa yang sebenarnya ingin mereka sajikan dalam film ini. Sayangnya, keduanya kurang mampu untuk menyajikan berbagai visi tersebut dalam sebuah satuan penceritaan yang erat. Keberadaan plot dan karakter dalam jumlah yang besar kemudian menimbulkan permasalahan tersendiri ketika plot dan karakter yang bervariasi tersebut dihadirkan secara potongan demi potongan cerita yang membuat aliran emosional cerita seringkali terasa melelahkan. Twist yang disajikan di penghujung cerita juga lebih terasa sebagai usaha yang “licik” dalam menyembunyikan ketidakmampuan Fajar Umbara untuk memadukan berbagai plot cerita yang dihadirkan sebelumnya daripada terasa sebagai sebuah pilihan yang cerdas dalam menyajikan jalan ceritanya.

Untungnya, meskipun dengan lemahnya pengelolaan jalan cerita, Anggy mampu menyajikan Comic 8 dengan ritme penceritaan lugas yang memang sesuai dengan jalan cerita film ini. Walaupun masih sering terasa sebagai presentasi yang style over substance akibat kegemaran Anggy dalam menyajikan pilihan warna benderang tanpa pernah benar-benar berguna bagi peningkatan kualitas penceritaan, tata produksi film ini hadir dalam kualitas yang cukup memuaskan, termasuk dari tata special effect dan tata musik – meskipun jelas terasa begitu “terinspirasi” dari tata musik arahan Hans Zimmer di film Sherlock Holmes (2009). Tidak adil rasanya untuk memberikan penilaian akting pada jajaran pengisi departemen akting film ini karena kebanyakan dari mereka tampil sebagai diri sendiri. Bukan sebuah masalah karena karakter-karakter yang diciptakan dalam jalan cerita film ini memang diciptakan untuk dihidupkan oleh masing-masing pemerannya. Dukungan penampilan dari Nirina Zubir, Nikita Mirzani dan Agung Hercules – yang benar-benar mencuri perhatian, Pandji Pragiwaksono, Agus Kuncoro dan Kiki Fatmala juga menambah solid kualitas departemen akting film ini.

Comic 8 bukannya hadir tanpa momen-momen menyenangkan. Beberapa kali, film ini mampu menyajikan tampilan komedi yang akan mampu memberikan hiburan yang cukup kuat bagi para penontonnya. Namun, lebih dari itu, eksplorasi cerita yang cukup lemah membuat banyak guyonan-guyonan tersebut kemudian menjadi terasa melelahkan dan akhirnya seringkali menjadi tidak efektif dalam eksekusinya. Meskipun begitu, kemampuan Anggy Umbara untuk menyajikan cerita filmnya dalam ritme penceritaan yang tepat serta kualitas tata produksi yang mumpuni cukup berhasil untuk membuat Comic 8 menjadi sebuah film aksi komedi yang layak untuk direkomendasikan. [C-]

Comic 8 (Action | Comedy, 2014)

Directed by Anggy Umbara Produced by Frederica Written by Fajar Umbara Starring Mongol Stres, Mudy Taylor, Ernest Prakasa, Kemal Palevi, Bintang Timur, Babe Cabiita, Fico Fachriza, Arie Kriting, Indro Warkop, Nirina Zubir, Nikita Mirzani, Pandji Pragiwaksono, Boy William, Candil, Bastian Simbolon, Iqbaal Dhiafakhri, Alvaro Maldini, Teuku Ryzqi, Coboy Junior, Jeremy Teti, Kiki Fatmala, Agus Kuncoro, Joehana Sutisna, Cak Lontong, Hengky Solaiman, Laila Sari, Agung Hercules, Ence Bagus, Ge Pamungkas Music by Indra Q Cinematography by Dicky R. Maland Editing by Bounty Umbara Studio  Falcon Pictures Running time 105 minutes Country Indonesia Language Indonesian

10 thoughts on “Review: Comic 8 (2014)”

  1. Saya kecewa dgn Hasil akhir dari film ini,penyelesaian dari semua plot yg dihadirkan dari awal terkesan “maksa” banget…

    1. setuju banget. maksa abis, ke seringan di slow motion, cuman untuk ngasih liat efek2 tembakan, jadi agak weirdo gimana gitu. terlalu dituntun untuk ngikutin jalan ceritanya, pas chapter “the truth” lebih tepatnya. piece of shi*

  2. Film apaan nih, jelek banget. Capek gue nontonnya. Yang suka film ini pasti anak-anak alay yang gak jelas. Yang punya sedikit selera, pasti bilang jelek buanget. Komedinya garing. Plot ceritanya “maksa”.

  3. saya baru menonton film ini. menurut saya film ini biasa biasa saja, kesalahan yg terjadi. pada saat adegan di bank ini. mereka diberondong tembakan tp hanya sedikit properti yg terkena tembakan. bahkan di salah satu scene kaca bank yg ada di dpn tidak ada yg pecah. -_-

    1. iya, ada beberapa scene yang mau nunjukin kalo film ini detail tapi malah jadi ga detail, contohnya waktu di mobil yang di menganalisis wajah tersangka,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s