Review: Devil’s Due (2014)


Devil's Due (Davis Entertainment/Twentieth Century Fox Film Corporation, 2014)
Devil’s Due (Davis Entertainment/Twentieth Century Fox Film Corporation, 2014)

Hollywood sepertinya ingin memastikan semua penikmat film dunia tahu bahwa tidak ada cara yang lebih buruk untuk menghabiskan waktu dan uang mereka daripada dengan menyaksikan film-film horor yang menyajikan kisahnya melalui teknik found footage. Selang beberapa waktu setelah Paramount Pictures merilis Paranormal Activity: The Marked Ones, 20th Century Fox memutuskan bahwa mereka juga ingin menikmati kesuksesan komersial yang begitu mudah diraih Paramount Pictures dengan merilis Devil’s Due. Diarahkan oleh duo Matt Bettinelli-Olpin dan Tyler Gillett yang sebelumnya turut mengarahkan segmen 10/31/98 dalam film antologi horor V/H/S (2012), Devil’s Due dapat digambarkan sebagai versi modern dari film Rosemary’s Baby (1968) arahan Roman Polanski namun disajikan dengan teknik penceritaan found footage. Menarik? Mungkin saja. Sayangnya, naskah arahan Lindsay Devlin serta pengarahan Bettinelli-Olpin dan Gillett terasa begitu terbatas sehingga membuat Devil’s Due hanya mampu tampil menarik ketika konflik penceritaannya telah memuncak… yang terjadi kira-kira 15 menit sebelum film ini berakhir.

Devil’s Due memulai visualisasi kisahnya dengan sang karakter utama, Zach McCall (Zach Gilford), sedang berada dibawah tekanan interogasi dari pihak kepolisian. Mundur kebelakang, Devil’s Due kemudian menggambarkan kehidupan Zach sebagai seorang pria yang baru saja menikahi wanita yang sangat dicintainya, Samantha (Allison Miller). Keduanya lantas memutuskan untuk menghabiskan masa bulan madu mereka dengan berliburan ke Republik Dominika. Jelas, sepanjang masa liburan tersebut, Zach dan Samantha terus menghabiskan waktu bersama untuk bersenang-senang. Bahkan, di hari terakhir sebelum berakhirnya masa liburan mereka, Zach dan Samantha menerima tawaran seorang supir taksi untuk membawa mereka ke sebuah pesta bawah tanah dimana keduanya mabuk berat sehingga lupa bagaimana cara mereka bisa kembali ke kamar hotel mereka keesokan paginya.

Seusai masa liburan, Zach dan Samantha mulai menjalani kehidupan mereka layaknya pasangan suami istri lainnya. Tidak ada masalah berarti… hingga akhirnya Samantha memberitahu Zach bahwa dirinya hamil. Meskipun hal tersebut terjadi di luar rencana mereka yang ingin menunda hadirnya seorang anak namun Zach dan Samantha tetap begitu bahagia dengan kehamilan tersebut. Sayang, seiring dengan berjalannya waktu, kehamilan tersebut memberikan dampak buruk bagi Samantha – kepribadiannya berubah menjadi sosok yang lebih senang menyendiri dan sering berbuat kasar terhadap orang lain. Secara perlahan, Zach mulai menyadari bahwa kehamilan bukanlah satu-satunya yang membawa perubahan dalam diri Samantha. Ada dorongan supranatural yang berniat untuk merenggut bayi yang kini sedang dikandung Samantha oleh istrinya.

Sama seperti halnya dengan Paranormal Activity: The Marked Ones, bagian terlemah dari Devil’s Due berada di dua paruh awal penceritaan dimana film ini berusaha memperkenalkan para karakternya sekaligus memperdalam penceritaan mengenai kehidupan sang karakter dan konflik yang mereka hadapi sebelum akhirnya menghadapkan para karakter tersebut dengan titik puncak konflik tersebut. Naskah arahan Lindsay Devlin memberikan opsi yang begitu minimal dalam pengembangan ceritanya. Penonton hanya disajikan keseharian dari pasangan karakter Zach dan Samantha McCall yang dihadirkan dari rekaman kamera milik Zach tanpa pernah membuatnya terasa benar-benar esensial untuk dihadirkan. Daripada terasa sebagai sebuah film horor, kebanyakan bagian dari dua pertiga penceritaan Devil’s Due terasa sebagai sebuah film romansa yang dihadirkan dalam teknik penceritaan found footage namun sama sekali tanpa kehadiran unsur romansa di dalam jalan penceritaannya. Datar.

Duo sutradara, Matt Bettinelli-Olpin dan Tyler Gillett, sendiri harus diakui masih mampu menghadirkan ritme penceritaan Devil’s Due dengan cukup lancar. Meskipun begitu, keputusan untuk menghabiskan hampir dua pertiga bagian film dengan penceritaan yang begitu datar jelas akan membuat banyak penonton merasa begitu kebosanan dengan jalan cerita yang mereka hadirkan. Jajaran pengisi departemen akting sendiri mampu tampil maksimal dengan keberadaan Zach Miller dan Allison Miller di barisan terdepannya. Keduanya mampu hadir dengan chemistry yang begitu erat dan meyakinkan serta berhasil tampil kuat ketika Devil’s Due membutuhkan keduanya untuk hadir dalam penampilan yang mambawakan nuansa horor nan menegangkan maupun misterius.

Harus diakui, membuat sebuah film dengan teknik penceritaan found footage berhasil dirilik oleh banyak produser film karena biaya produksinya yang cukup murah. Namun, dibalik kemudahan pembiayaan tersebut, found footage juga bukanlah sebuah teknik penceritaan yang mudah untuk dieksekusi. Penonton harus benar-benar dapat diyakinkan bahwa mereka sedang menyaksikan sebuah kejadian nyata yang mampu menarik minat, perhatian sekaligus sisi emosional mereka. Devil’s Due sayangnya sangat jauh dari keberhasilan tersebut. Seperti kebanyakan film horor yang menggunakan sistem found footage lainnya, Devil’s Due gagal memberikan landasan yang kuat bagi konflik utama filmnya untuk dapat benar-benar mencengkeram perhatian penontonnya. Hasilnya, Devil’s Due terasa begitu datar dan sama sekali gagal untuk dapat dinikmati dengan baik. [D]

Devil’s Due (Horror, 2014)

Directed by Matt Bettinelli-Olpin, Tyler Gillett Produced by John Davis Written by Lindsay Devlin Starring Zach Gilford, Allison Miller, Sam Anderson, Aimee Carrero, Vanessa Ray, Michael Papajohn, Griff Furst, Robert Belushi, Donna Duplantier Cinematography by Justin Martinez Editing by Rod Dean Studio Davis Entertainment/Twentieth Century Fox Film Corporation Running time 89 minutes Country United States Language English

Advertisements

10 thoughts on “Review: Devil’s Due (2014)”

  1. Agree. Saya juga baru ngeh hari ini kalau ternyata Bang Amir nilainya pake grade. Kemarin cari-cari icon popcorn di review Shadow Recruit kok ga ketemu :D. Atau mungkin huruf gradenya di perbesar biar lebih jelas ngeliatnya. Karena terus terang kadang aku baca reviewnya sekilas saja dan langsung lihat ratingnya. Anyway, makasih buat reviewnya ya Bang Amir. Blognya sudah jadi referensi buat saya kalau mau nonton film selama ini. Salam.

    1. Halo, Arik dan Yulia!

      Senang banget dapat reaksi dari pembaca blog tentang perubahan sistem rating yang diberikan di At the Movies. Sebenarnya tidak berubah banyak kok. Hanya presentasinya aja yang diubah dari popcorn menjadi grade alfabetikal. Penilaiannya tetap sama. A setara dengan lima popcorn, A- setara dengan empat setengah popcorn, B setara dengan empat pocorn dan begitu seterusnya. Perubahan ini dilakukan karena grade alfabetikal terasa lebih universal aja. Gak terkesan terlalu menyudutkan atau “menghakimi”. Menurut saya sih begitu. Semoga tidak terlalu mengganggu yah.

      Terima kasih banyak atas komentar dan kunjungannya. I really, really appreciate it.

      Thank you.

      1. ohh … biar yang baca dari luar negeri( amin ) ngerti juga ya.. jadi kesannya lebih mendunia gitu kan bang amir ??

        oh ya . websitepunya bang amir udah saya baca dari pas tahun 2009 lho . masih inget saya pas baca best movies 2009 :v hampir smuanya sama . kecuali watchmen . harusnya posisi watchmen digantiin sama mary and max tuh :p tapi saya kan silent reader jadi baru keliatan skrg

        _curcol_ :v

      2. Bang Amir, sama kaya Arik aku baca blognya hampir tiap hari buat cari referensi film, cuma memang jarang koment, keseringan SR, hehehe.

  2. oh ya bang amir kenapa akhir akhir ini jarang nulis review ?

    jujur aja kalo saya buka komputer , yang pertama saya buka pasti website bang amir ini , bukan facebook . facebook biasa nya ke 3 . ke dua website punya si mas raditherapy.

    sering sering ya nulis review 🙂

    1. Ha! Terima kasih udah sering mengunjungi At the Movies, Rik.
      Iyah. Ada kesibukan yang beneran gak bisa ditinggalin kemaren. Jadi banyak review film yang ketinggalan. Tapi ini udah mulai aktif nulis lagi kok. Mudah-mudahan gak ketinggalan lagi.

    1. Halo, Niken. Terima kasih atas saran/kritikannya. Semenjak awal tahun ini sistem rating di At the Movies menggunakan sistem alfabetikal. Sebenarnya setara aja kok penilaiannya. Cuma penampilannya saja yang dibedakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s