Review: The Hobbit: The Desolation of Smaug (2013)


The-Hobbit-The-Desolation-of-Smaug-header

So… where are we? Right! Dalam The Hobbit: The Desolation of Smaug, Bilbo Baggins (Martin Freeman) dan Gandalf (Ian McKellen) bersama dengan sekelompok kurcaci yang dipimpin oleh Thorin Oakenshield (Richard Armitage) melanjutkan perjalanan mereka menuju Lonely Mountain dengan memilih sebuah jalan pintas yakni melalui kawasan hutan Mirkwood. Tepat sebelum mereka memasuki kawasan hutan tersebut, Gandalf menemukan pesan rahasia yang terdapat pada sebuah reruntuhan bangunan tua. Penemuan tersebut membuat Gandalf memilih untuk meninggalkan Bilbo dan kawanannya tanpa memberitahukan alasan kepergiannya. Meskipun begitu, sebelum kepergiannya, Gandalf berpesan pada kelompok tersebut agar tetap mengikuti jalur jalanan yang telah tersedia di kawasan hutan Mirkwood dan menunggu kedatangan dirinya sebelum memasuki Lonely Mountain.

Setelah melalui kawasan hutan Mirkwood – dimana mereka harus menghadapi kumpulan laba-laba berukuran raksasa, pasukan Wood Elves pimpinan Legolas (Orlando Bloom) dan Tauriel (Evangeline Lilly) yang berusaha untuk menangkap mereka serta para Orc yang masih berkeinginan untuk menangkap Thorin, Bilbo dan kawanan kurcaci akhirnya tiba di kota Esgaroth yang berada di sebelah selatan Lonely Mountain berkat bantuan Bard the Bowman (Luke Evans). Walau awalnya keberadaan Thorin dan kelompoknya ditolak oleh penduduk Esgaroth, namun janji Thorin yang berkata bahwa ia akan membagi seluruh harta yang ia dapatkan dari Lonely Mountain untuk mensejahterakan kota tersebut membuat penduduk Esgaroth berbalik mendukung perjalanan mereka. Dengan perlengkapan dan persenjataan yang lengkap berkat dukungan penduduk Esgaroth, Bilbo dan kawanan kurcaci meneruskan perjalanan mereka menuju Lonely Mountain dimana mereka akan menghadapi musuh terbesar sekaligus paling berbahaya yang selama ini telah mereka nanti-nantikan, Smaug (Benedict Cumberbatch).

In case you’re wondering… dua seri film The HobbitThe Hobbit: An Unexpected Journey (2012), The Hobbit: The Desolation of Smaug dan The Hobbit: There and Back Again yang akan dirilis tahun mendatang – diadaptasi dari sebuah buku berjudul sama karangan J. R. R. Tolkien yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1937 dan memiliki ketebalan sebanyak 310 halaman. 310 halaman buku diterjemahkan menjadi… well… sekitar 480 menit atau delapan jam presentasi film. Adalah sangat mudah untuk memberikan tuduhan bahwa Peter Jackson hanya berusaha memperkaya dirinya sendiri melalui ketenaran tiga seri film The Lord of the Rings (2001 – 2003) dengan menghasilkan tiga film dari satu sumber cerita yang berhubungan namun sebenarnya (sangat) bisa dipadatkan menjadi satu film dengan durasi tiga jam penceritaan. The Hobbit: Unexpected Journey terasa terlalu bertele-tele akibat proses pengembangan cerita tersebut. Sayangnya, The Hobbit: The Desolation of Smaug juga menghadapi problema yang hampir serupa: berdurasi (sangat) panjang tanpa kehadiran alasan yang kuat untuk mendukungnya.

Sejujurnya, jika pada The Hobbit: An Unexpected Journey banyak yang mengeluhkan bahwa tidak banyak hal yang terjadi di sepanjang 169 durasi menit penceritaannya, maka Jackson kali ini menghadirkan The Hobbit: The Desolation of Smaug dengan cukup banyak adegan aksi yang melibatkan setiap karakternya. Jackson, tentu saja, dengan mudah mengeksekusi adegan-adegan yang akan mampu memberikan intensitas ketegangan cerita yang cukup kuat tersebut dengan alur cerita yang berjalan lebih cepat sekaligus bantuan efek visual yang begitu berkelas – meskipun siapapun yang telah menyaksikan trilogi The Lord of the Rings telah tahu pasti presentasi visual yang seperti apa yang akan mereka dapatkan dari film ini. Kehadiran sang naga raksasa, Smaug, juga terbukti mampu menjadi sebuah sajian visual yang begitu mengagumkan. Paduan efek visual sekaligus kemampuan Benedict Cumberbatch untuk memberikan gestur dan suara yang begitu meyakinkan membuat kehadiran karakter naga yang begitu gemar menenggelamkan dirinya dalam kumpulan emas tersebut menjadi begitu menarik di dalam jalan cerita. Bahkan melebihi karakter-karakter lainnya.

Berbicara mengenai karakter, sayangnya, kehadiran banyak adegan aksi dalam jalan cerita film terasa begitu mengorbankan pengembangan karakter-karakter yang dihadirkan di sepanjang cerita. Untuk sebuah film yang menggunakan The Hobbit sebagai judulnya, karakter hobbit yang diwakili oleh Bilbo Baggins bahkan hampir tidak pernah dilibatkan di dalam jalan penceritaan. Karakter Bilbo seringkali hanya dijadikan karakter kelas dua jika dibandingkan dengan karakter pemimpin para kurcaci, Thorin Oakenshield. Di saat yang bersamaan, karakter Thorin Oakenshield juga merupakan sesosok karakter yang begitu sulit untuk dapat membangun koneksi emosional dengan penonton akibat karakterisasinya yang terlalu kelam. The Hobbit: The Desolation of Smaug juga menghadirkan beberapa karakter baru seperti Tauriel (Evangeline Lilly) yang begitu mampu mencuri perhatian. Namun, potensi kisah cinta segitiga yang diemban karakternya dengan karakter Legolas (Orlando Bloom) dan Kíli (Aidan Turner) gagal untuk berkembang dengan baik serta terkesan begitu terpaksa untuk dihadirkan. Ditambah dengan kehadiran kedua belas kurcaci lain yang jelas hanya menjadi tim pendukung tanpa pernah benar-benar berfungsi kehadirannya di dalam jalan cerita, penonton akhirnya ditinggalkan dengan tanpa kehadiran sosok protagonis yang mampu benar-benar mereka dukung kehadirannya.

Soyahhh… bahkan dengan kehadiran deretan adegan aksi yang mampu dieksekusi dengan baik, tampilan visual yang tampil begitu menggiurkan serta alur cerita yang mampu dirangkai dengan ritme penceritaan yang lebih cepat dari seri sebelumnya, Peter Jackson sayangnya masih belum akan mampu meredam gelombang protes yang tertuju padanya sehubungan dengan keputusannya untuk mengadaptasi 310 halaman buku cerita The Hobbit menjadi tiga seri film yang masing-masing berdurasi lebih dari 120 menit. Jangan salah. The Hobbit: The Desolation of Smaug masih akan mampu menjadi sebuah sajian yang menghibur. Namun lebih dari itu, The Hobbit: The Desolation of Smaug jelas terasa sebagai sebuah presentasi yang berlebihan untuk sebuah alur cerita yang dangkal. Mungkin sudah waktunya bagi Peter Jackson untuk menyadari bahwa ia tidak akan pernah lagi mengulang masa-masa keemasan trilogi The Lord of the Rings – kecuali dari sisi komersial, tentu saja.

popcornpopcornpopcorn popcorn2popcorn2

The Hobbit: The Desolation of Smaug (Metro-Goldwyn-Mayer/New Line Cinema/WingNut Films, 2013)
The Hobbit: The Desolation of Smaug (Metro-Goldwyn-Mayer/New Line Cinema/WingNut Films, 2013)

The Hobbit: The Desolation of Smaug (Adventure | Fantasy, 2013)

Directed by Peter Jackson Produced by Carolynne Cunningham, Peter Jackson, Fran Walsh, Zane Weiner Written by Fran Walsh, Philippa Boyens, Peter Jackson, Guillermo del Toro (screenplay), J. R. R. Tolkien (novel, The Hobbit) Starring Martin Freeman, Ian McKellen, Richard Armitage, Benedict Cumberbatch, Orlando Bloom, Evangeline Lilly, Luke Evans, Lee Pace, Stephen Fry, Graham McTavish, Ken Stott, Aidan Turner, Dean O’Gorman, Mark Hadlow, Jed Brophy, Adam Brown, John Callen, Peter Hambleton, William Kircher, James Nesbitt, Stephen Hunter, Cate Blanchett, Mikael Persbrandt, Sylvester McCoy, Craig Hall, Ryan Gage, John Bell, Mark Mitchinson, Manu Bennett, Lawrence Makoare, Ben Mitchell, Richard Whiteside, Dallas Barnett, Peter Jackson, Katie Jackson, Peggy Nesbitt, Mary Nesbitt, Stephen Colbert, Jabez Olssen, Zane Wiener Music by Howard Shore Cinematography by Andrew Lesnie Editing by Jabez Olssen Studio Metro-Goldwyn-Mayer/New Line Cinema/WingNut Films Running time 161 minutes Country New Zealand, United Kingdom, United States Language English

Advertisements

3 thoughts on “Review: The Hobbit: The Desolation of Smaug (2013)”

  1. Saya sangat setuju dengan review-nya Mas Amir.
    Plot-nya terkesan dipanjang-panjangkan, love triangle yang dibuat-buat dan karakter-karakter protagonis yang tidak membuat simpatik dan bahkan beberapa terkesan tempelan.
    Untunglah ada Legolas sebagai bonus yang memanjakan mata… hehehe…

  2. Saya kurang setuju dengan penilaian mas Amir. The Hobbit aslinya adalah cerita anak-anak, ceritanya sangat sederhana. Penambahan serta modifikasi elemen yang dilakukan oleh Peter Jackson menurut saya pas karena cerita anak-anak dari versi novel menjadi lebih dewasa dan kelam di filmnya. Kalau mengikuti alur bukunya, maka anda perlu menonton versi animasi tahun 1977 nya, karena alur novel dan filmnya 100% sama.

    1. Halo! Sebenarnya saya tidak bermasalah dengan jalan cerita yang dibawakan trilogi ‘The Hobbit’. Mungkin lebih terganggu dengan usaha Peter Jackson yang meregangkan cerita yang sebenarnya singkat menjadi tiga bagian cerita. Kesannya menjadi sengaja dipanjang-panjangkan tanpa esensi cerita yang benar-benar kuat. Begitu sih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s