Review: Soekarno (2013)


soekarno-header

Setelah menggarap Sang Pencerah (2011) serta membantu proses produksi film Habibie & Ainun (2012), Hanung Bramantyo kembali hadir dengan sebuah film biopik yang bercerita tentang kehidupan presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Berbeda dengan sosok Ahmad Dahlan – yang kisahnya dihadirkan dalam Sang Pencerah – atau Habibie yang cenderung memiliki kisah kehidupan yang lebih sederhana, perjalanan hidup Soekarno – baik dari sisi pribadi maupun dari kiprahnya di dunia politik – diwarnai begitu banyak intrik yang jelas membuat kisahnya cukup menarik untuk diangkat sebagai sebuah film layar lebar. Sayangnya, banyaknya intrik dalam kehidupan Soekarno itu pula yang kemudian berhasil menjebak Soekarno. Naskah cerita yang ditulis oleh Hanung bersama dengan Ben Sihombing (Cinta di Saku Celana, 2012) seperti terlalu berusaha untuk merangkum kehidupan Soekarno dalam tempo sesingkat-singkatnya – excuse the pun – sehingga membuat Soekarno seringkali kehilangan fokus penceritaan dan gagal untuk bercerita serta menyentuh subyek penceritaannya dengan lebih mendalam.

Penceritaan Soekarno dimulai ketika Soekarno (Ario Bayu) bersama dengan istrinya, Inggrit Ganarsih (Maudy Koesnaedi), dibuang oleh pihak Belanda ke Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur dan ke Provinsi Bengkulu akibat pledoinya tentang kemerdekaan Indonesia yang dikenal dengan sebutan Indonesia Menggugat dianggap mengancam keberadaan Belanda di Indonesia. Di Bengkulu, Soekarno istirahat sejenak dari keriuhan dunia politik dan menghabiskan waktunya dengan mengajar para pemuda di provinsi tersebut. Meskipun telah memiliki istri, Soekarno tidak dapat menghindarkan hatinya dari rasa suka terhadap salah satu muridnya, Fatmawati (Tika Bravani). Hal ini jelas kemudian menghasilkan kemelut dalam rumah tangga Soekarno dan istrinya. Di tengah kemelut tersebut, Jepang kemudian berhasil menggeser posisi Belanda dan menduduki tanah Indonesia. Oleh Jepang, Soekarno kemudian dibebaskan dari masa pembuangannya. Ia lantas memilih untuk kembali ke dunia politik dan secara perlahan menyusun rencana untuk mengejar kemerdekaan dari negara yang begitu dicintainya.

Pada awalnya, Soekarno bersikap sangat permisif terhadap kedatangan pihak Jepang di Indonesia – sebuah sikap yang ditentang oleh dua lawan politiknya, Mohammad Hatta (Lukman Sardi) dan Sutan Syahrir (Tanta Ginting). Hatta dan Syahrir bahkan mengingatkan Soekarno bahwa pendudukan Jepang tidak akan kalah bengisnya dengan penjajahan Belanda. Namun, Soekarno sendiri beragumen bahwa Indonesia harus mampu memanfaatkan keberadaan Jepang untuk merebut kemerdekaan mereka sendiri – sebuah argumen yang kemudian berhasil memenangkan hati Hatta. Meskipun banyak dicemooh oleh kelompok pemuda progresif karena dinilai terlalu lemah terhadap Jepang, keyakinan Soekarno dan Hatta tidaklah goyah. Bersama Hatta, Soekarno berupaya mewujudkan cita-citanya mewujudkan kemeredekaan Indonesia.

Seandainya Hanung Bramantyo dan Ben Sihombing mau memilih beberapa konflik dalam kehidupan Soekarno dan mengembangkannya lebih dalam lagi sebagai sebuah presentasi cerita, mungkin alur penceritaan Soekarno akan dapat berjalan lebih efektif. Kehadiran banyaknya konflik dalam penceritaan Soekarno jelas membuat film ini tidak mampu memberikan penggalian yang lebih kuat pada masing-masing konflik. Hasilnya, banyak diantara konflik tersebut yang terkesan tumpang tindih, tersaji dengan kurang matang dan akhirnya membuat Soekarno gagal dalam menjalin hubungan emosional dengan penontonnya. Penonton seperti hanya datang untuk menyaksikan deretan reka ulang berbagai peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sang karakter utama tanpa pernah benar-benar dilibatkan untuk dapat merasakan bagaimana perjalanan emosi yang dirasakan sang karakter utama ketika melewati deretan peristiwa tersebut.

Hadirnya banyak konflik dalam jalan penceritaan Soekarno yang dipaparkan dalam durasi 150 menit ini jelas juga menumbuhkan banyaknya kehadiran karakter-karakter dalam jumlah yang cukup besar. Sayangnya, sama dengan kondisi penceritaan yang gagal untuk tersaji secara matang dengan sempurna, karakter-karakter yang muncul dalam alur penceritaan Soekarno juga seringkali hadir tanpa porsi maupun peran penceritaan yang berarti, termasuk beberapa karakter dengan bagian penceritaan yang sebenarnya cukup potensial untuk dikembangkan dengan lebih baik seperti karakter Muhammad Hatta maupun dua karakter istri Soekarno, Inggrit Ganarsih dan Fatmawati. Jika saja naskah cerita Soekarno dapat tertata dengan lebih sederhana dan efektif, mungkin banyak pemeran film ini yang akan dapat memberikan penampilan yang lebih kuat – dan, tentunya, durasi film juga akan hadir jauh lebih singkat.

Hanung Bramantyo juga sepertinya mengalami kesulitan dalam membagi porsi kisah kehidupan pribadi karakter Soekarno dengan kisah perjuangannya di dunia politik. Seringkali, porsi penceritaan kehidupan pribadi dari karakter Soekarno hadir dalam pengisahan yang terbatas sehingga justru mengganggu keseimbangan alur kisah mengenai perjuangan politik dari karakter Soekarno. Sejujurnya, tidak seperti Habibie & Ainun yang mampu memanfaatkan kisah asmara sang karakter utama untuk mengembangkan potensi drama romansa dari jalan cerita secara keseluruhan, kisah romansa dari karakter Soekarno dalam film ini sama sekali tidak pernah memberikan daya tarik yang kuat. Dipaparkan dengan terlalu sederhana dan sama sekali tidak begitu berarti sehingga dapat dihilangkan begitu saja.

Meskipun dengan kelemahan-kelemahan tersebut, Hanung Bramantyo masih mampu menghadirkan Soekarno dengan kualitas departemen akting dan tata produksi yang jempolan. Meskipun masih terlihat kurang meyakinkan sebagai seorang negarawan, Ario Bayu cukup mampu menghidupkan karakter Soekarno yang ikonik tersebut dengan baik. Bukan sebuah penampilan yang sangat istimewa dan mengesankan namun jelas bukanlah suatu hal yang mengecewakan. Departemen akting Soekarno juga didukung dengan penampilan-penampilan apik dari Maudy Koesnaedi, Lukman Sardi, Tika Bravani, Emir Mahira, Mathias Muchus, Tanta Ginting dan banyak nama pemeran lainnya. Tata produksi Soekarno hadir dengan kualitas yang begitu berkelas. Berkat sokongan departemen kamera dan artistik yang solid, Hanung Bramantyo dapat menghadirkan atmosfer masa-masa perjuangan kemerdekaan Indonesia denga sangat meyakinkan. Tata musik arahan Tya Subiakto Satrio masih saja terdengar terlalu berlebihan pada beberapa bagian, namun sama sekali bukanlah sebuah masalah yang berarti bagi kualitas presentasi film secara keseluruhan.

Hadir dengan dukungan penampilan akting dan tata produksi yang cukup solid, Soekarno yang diarahkan oleh Hanung Bramantyo sayangnya gagal untuk tampil dengan penceritaan yang kuat. Kehadiran banyaknya konflik tanpa pengembangan yang mendalam membuat Soekarno seakan hanya hadir bercerita tanpa pernah benar-benar mau memberikan penontonnya peluang untuk memahami maupun menjalin koneksi emosional dengan jalan cerita. Walaupun tidak sepenuhnya buruk – 30 menit terakhir yang berisi adegan detik-detik menjelang pelaksanaan proklamasi benar-benar mampu dieksekusi dengan baik – Soekarno tetap saja terasa sebagai sebuah presentasi yang megah namun kosong dalam penyampaiannya. Cukup mengecewakan.

popcornpopcornpopcornpopcorn2popcorn2

Soekarno (MVP Pictures/Dapur Film Production/Mahaka Pictures, 2013)
Soekarno (MVP Pictures/Dapur Film Production/Mahaka Pictures, 2013)

Soekarno (Biography | Drama, 2013)

Directed by Hanung Bramantyo Produced by Raam Punjabi Written by Hanung Bramantyo, Ben Sihombing (screenplay), Hanung Bramantyo, Ben Sihombing (story) Starring Ario Bayu, Lukman Sardi, Tanta Ginting, Tika Bravani, Maudy Koesnaedi, Sudjiwo Tedjo, Ayu Laksmi, Mathias Muchus, Rully Kertaredjasa, Ferry Salim, Agus Kuncoro, Stefanus Wahyu, Elang, Agus Mahesa, Hamid Salad, Hengky Solaiman, Ria Irawan, Emir Mahira, Aji Santosa, Michael Tju, Widi Dwinanda, Timo Scheunemann, Norman R. Akyuwen, Noel Kevas, Budiman Sudjatmiko, Nelly Sukma, Muhammad Abbe, Diel Sriyadi, Ade Firman Hakim, Patton Otlivio Latupeirissa, Anto Galon, Argo, Helmy Nonaka, Nobuyuki Suzuki, Keio Pamudji, Kedung Darma, Arif Nilman, Muhammad Santosa, Novia Ardhana, Agus WP, Khiva Iskak, Muhammad AB, Muhammad Effendi R Music by Tya Subiakto Satrio Cinematography by Faozan Rizal Editing by Cesa David Luckmansyah Studio MVP Pictures/Dapur Film Production/Mahaka Pictures Running time 150 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Advertisements

9 thoughts on “Review: Soekarno (2013)”

  1. sebagai Film Biopik Pertama tentang Soekarno seorang “Tokoh Indonesia” (baca : yang tidak pernah benar2 tau keadaan yang sebenarnya karena terlalu banyak kepentingan politik)
    Film ini mampu menghadirkan sisi yang aman di nikmati seluruh kalangan..

    mengajak kita mengenang kembali masa2 yang paling penting sebelum Indonesa merdeka yang teramat banyak namun mampu ditampilkan dengan baik.

    Ini Film Soekarno (bukan film Kemerdekaan) jadi wajar jika yang ditonjolkan adalah Soekarno itu sendiri.

    Film Biopik Pertama Soekarno (yang pasti banyak kepentingan Politik dibelakangnya) namun mampu dengan baik berkompromi dengan keadaan negara saat ini.

    Hanung pernah mengatakan “ini Film untuk para pemuda, bukan untuk para sejawaran atau kritikus Sejarah” dan saya yakin pemuda lewat Film ini mampung membayangkan kejadian2 penting sebelum Indonesia merdeka tanpa mengurangi porsi Humanis seorang Soerkarno itu sendiri..

    Salah Satu Film Terbaik Hanung
    karena mampu dan berani membuat Film ini di Negara yang sangat besar kepentingan Politiknya..
    dan sedikit banyak telah membangun rasa Nasionalisme.
    – 8/10

    1. Cuma karena Hanung bilang “ini film buat para pemuda, bukan untuk sejarawan” terus gak boleh gitu dikritik karena kurang riset sama yang pengen orang2 yang nonton dapet informasi yang bener?
      Cuma karena udah ngomong “ini Film untuk para pemuda, bukan untuk para sejawaran atau kritikus Sejarah” terus boleh gitu bikin film tentang founding father Republik ini gak pake fakta yang bener dan berpotensi menjatuhkan founding father itu sendiri?
      Besok2 mau bikin film bilang aja “ini film buat gue sendiri” bebas deh dari kritikus film apalagi kritikus sejarah 😀

  2. Nonton dengan tidak berharap banyak pada film ini. Sayang karakter Soekarno kurang tersampai dengan baik. Tapi meski secara kualitas cerita kurang greget dan fokus, film ini layak buat ditonton. Setidaknya buat yg tidak berminat mempelajari sejarah sebelum kemerdekaan dan siapa Soekarno dengan cara serius, bisa dapat gambaran tentang beliau dan apa yg terjadi masa itu.

  3. too bad… untuk Bang Amir Film ini tidak lebih bagus dari “9 Summers 10 Autumns”, “Madre”, “Manusia Setengah Salmon” atau “Pintu Harmonika” yang bisa dikasih score 3,5/5… dan tidak lebih bagus dari “Romantini” yang sama2 dapet score 3 dengan begitu indahnya tata produksi.. 😦

  4. Film yang mengangkat sisi humanis dari seorang Soekarno sebagai “Pria sejati”…yang secara kenyataan hidup nya (seperti yang sudah masyarakat ketahui tentang jumlah istri2 nya)…di tampilkan dengan cukup gamblang…ini lah Film…yang menampilkan kenyataan yang ada…ini bukan film kemerdekaan…bukan yang dibungkus demi kepentingan politik…tapi ini Film yang mengangkat bahwa Soekarno…Bapak yang sangat kita bangga2kan…yang akan harum nama nya sampai kapan pun…tetap mempunyai rasa “kemanunisiaan”…mencintai…keberanian meninggalkan istri yang selama ini mendampinginya untuk dapat menikah dengan Fatmawati…dan memiliki rasa takut…sehingga tidak berani mengucapkan proklamasi tanpa ada “paksaan…penculikkan oleh sejumlah mahasiswa”…sehingga menyakinkan Bapak kita ini mengucapkan proklamasi yang kita banggakan…selamat buat Hanung…akan keberanian mengungkapkan apa ada nya Soekarno dalam film ini…kepada Bu Rahma…bila tidak ada Ibu anda yang bisa membuat Soekarno rela meninggalkan istri yang telah mendampingi nya…maka anda tidak akan pernah lahir…itu lah kenyataan yang ada…

  5. Baru tahu, soekarno itu memang playboy ternyata. Makasih mas hanung udah kasih pencerahan untuk tidak mengidolakan soekarno yg ternyata tak hy seorang playboy kacangan jaman kemerdekaan, plus ternyata sedemikian pengecut ketika menghadapi penjajah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s