Review: 99 Cahaya di Langit Eropa (2013)


99-cahaya-di-langit-eropa-header

Sebagai sebuah novel, 99 Cahaya di Langit Eropa yang ditulis oleh Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra adalah sebuah fenomena tersendiri. Selain berhasil mendapatkan banyak pujian berkat kemampuan dua penulis untuk menggambarkan seluk beluk sejarah keberadaan Islam di benua Eropa, 99 Cahaya di Langit Eropa juga mampu meraih sukses komersial yang besar. Novel tersebut bahkan telah dirilis ulang puluhan kali semenjak cetakan pertamanya pada Juli 2011. Tidak mengherankan – ditengah menjamurnya film-film yang diadaptasi dari deretan novel best seller di industri film Indonesia – jika kemudian Maxima Pictures memilih untuk mengangkat novel yang kisahnya didasarkan pada pengalaman pribadi dua penulisnya tersebut menjadi sebuah film layar lebar. Namun, apakah versi film dari 99 Cahaya di Langit Eropa mampu turut sukses dalam memberikan pengalaman menggali sejarah Islam di Eropa dengan kuat bagi para penontonnya?

Diarahkan oleh Guntur Soeharjanto (Crazy Love, 2013) dengan naskah cerita yang ditulis oleh Alim Sudio bersama dengan Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra, 99 Cahaya di Langit Eropa menceritakan mengenai kisah pasangan Rangga (Abimana Aryasatya) dan Hanum (Acha Septriasa) yang tengah berdomisili di Wina, Austria. Keberadaan mereka di negara itu bukanlah dalam rangka berliburan. Rangga sedang menuntut gelar dokternya sementara Hanum… menjalankan tugasnya sebagai seorang istri dan menemani suaminya. Wina awalnya menjadi tempat yang sangat menyenangkan bagi Hanum. Ia dapat berjalan-jalan dan menemukan banyak tempat baru. Tapi, setelah melalui beberapa waktu dengan tanpa apapun yang harus dikerjakan, Hanum secara perlahan mulai merasa bosan. Karenanya, untuk mengisi waktu, Hanum akhirnya memilih untuk mengikuti sebuah kursus Bahasa Jerman. Di tempat itulah, Hanum kemudian berkenalan dengan Fatma (Raline Shah).

Fatma adalah seorang wanita Muslim keturunan Turki yang tinggal di Wina bersama dengan suami dan anaknya. Dalam kesehariannya, Fatma tidak pernah lupa untuk menggunakan jilbabnya – suatu hal yang ia anggap sebagai sebuah kewajiban bagi seorang Muslimah. Tidak jarang pula, karena jilbabnya tersebut, Fatma mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan dari orang-orang yang berada di sekitarnya. Meskipun begitu, Fatma tidak pernah membalas perbuatan jahat yang ditujukan padanya dan justru semakin menunjukkan bahwa seorang Muslim haruslah memiliki hati yang mulia. Perkenalan dengan Fatma telah memberikan banyak pandangan hidup yang baru bagi Hanum. Fatma tidak segan menunjukkan pada Hanum berbagai lokasi di kota Wina yang ternyata memiliki sejarah jejak Islam di dalamnya. Berkat pengetahuan yang diberikan Fatma, Hanum kini semakin penasaran dengan banyaknya jejak Islam di benua Eropa – sebuah benua yang dahulu dikiranya sangat minim akan sentuhan Islam – dan bertekad untuk terus menemukan jejak-jejak Islam tersebut.

Sayangnya, meskipun dengan kandungan kisah reliji yang padat terkandung di dalam tubuh penceritaannya, 99 Cahaya di Langit Eropa sama sekali tidak pernah berhasil untuk tampil lebih dari sekedar film yang hanya mengandalkan kekuatan tampilan visual dari keindahan lokasi latar belakang penceritaannya. Di sepanjang penceritaannya, 99 Cahaya di Langit Eropa terkesan hanya mengajak para penontonnya untuk menjelajahi berbagai wilayah di Eropa untuk kemudian menggali sejarah Islam yang berada di dalamnya tanpa pernah benar-benar mampu menjadikannya sebagai sebuah bagian narasi cerita yang kuat sekaligus mengikat sisi emosional penonton. Selain dari menghadirkan deretan gambar-gambar pemandangan yang indah, 99 Cahaya di Langit Eropa hadir dengan kapasitas penceritaan yang cukup mengecewakan – mulai dari pemilihan Guntur Soeharjanto akan alur penceritaan film, pengembangan setiap karakter hingga konflik-konflik yang mewarnai penceritaan film.

Masalah utama dari 99 Cahaya di Langit Eropa jelas terletak pada naskah cerita yang ditulis Alim Sudio, Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra. Naskah cerita 99 Cahaya di Langit Eropa seringkali terasa menghabiskan waktu terlalu banyak untuk berfokus pada plot kisah mengenai perjalanan untuk menggali sejarah-sejarah Islam di berbagai wilayah Eropa. Hal ini kemudian menciptakan ketimpangan pada fokus yang diberikan untuk konflik-konflik lain yang hadir di sepanjang penceritaan film. Lihat saja mengenai hubungan antara karakter Rangga dan Hanum yang gagal tergali dengan baik, atau kisah perjalanan Rangga dalam menempuh pendidikannya serta berbagai kejadian yang terjadi semasa kuliahnya hingga plot mengenai kehidupan karakter Fatma yang hadir tanpa pendalaman kisah yang kuat. 99 Cahaya di Langit Eropa juga tidak pernah mampu menghadirkan konflik bernuansa reliji yang hadir dalam ceritanya secara meyakinkan. Kebanyakan konflik tersebut hadir dalam kapasitas penceritaan yang klise layaknya berbagai konflik yang hadir dalam film-film sejenis.

Departemen akting 99 Cahaya di Langit Eropa juga harus diakui tidak hadir dalam kualitas penampilan yang istimewa. Tidak buruk, namun jelas masih jauh dari kualitas akting yang mengesankan. Yang cukup mencuri perhatian mungkin adalah penampilan dari Raline Shah yang berperan sebagai Fatma. Raline mampu tampil dengan penampilan akting yang begitu tertata dengan baik namun tetap menyuratkan ekspresi emosional yang mendalam. Ketika Abimana Aryasatya dan Acha Septriasa masih hadir dalam kapasitas akting yang biasa mereka hadirkan dalam setiap film mereka, penampilan Raline jelas mampu tampil begitu menonjol. Kualitas produksi film ini hadir cukup memuaskan. Selain tata sinematografi arahan Enggar Budiono yang mampu menangkap keindahan alam Eropa dengan baik, tata musik karya Joseph S. Djafar juga berhasil menghadirkan iringan musik yang cukup mampu merangkum getaran emosi yang ingin disampaikan oleh jalan cerita film.

Terlepas dari premis cerita yang sebenarnya cukup menjanjikan, versi film dari 99 Cahaya di Langit Eropa sayangnya tergarap dengan begitu dangkal. Naskah cerita garapan Alim Sudio, Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra seringkali kehilangan fokus pada banyak konflik yang dihadirkan sehingga konflik-konflik tersebut gagal untuk menghadirkan sebuah penceritaan yang menarik. Di sisi lain, pemilihan Guntur Soeharjanto untuk menyajikan jalan cerita 99 Cahaya di Langit Eropa dalam tempo yang terlalu lamban juga membuat film ini berkesan terlalu bertele-tele dalam bercerita. Kurang mampu untuk dinikmati secara lugas. 99 Cahaya di Langit Eropa mungkin masih mampu mempesona lewat tampilan kualitas produksinya yang cukup memuaskan. Namun lebih dari itu, 99 Cahaya di Langit Eropa harus diakui sebagai sebuah presentasi yang sangat menjemukan.

popcornpopcorn  popcorn3popcorn2popcorn2

99 Cahaya di Langit Eropa (Maxima Pictures, 2013)
99 Cahaya di Langit Eropa (Maxima Pictures, 2013)

99 Cahaya di Langit Eropa (Drama, 2013)

Directed by Guntur Soeharjanto Produced by Ody M. Hidayat Written by Alim Sudio, Hanum Salsabiela Rais, Rangga Almahendra (screenplay), Hanum Salsabiela Rais, Rangga Almahendra (novel, 99 Cahaya di Langit Eropa) Starring Acha Septriasa, Abimana Aryasatya, Nino Fernandez, Dewi Sandra, Alex Abbad, Raline Shah, Marissa Nasution, Geccha Tavvara, Dian Pelangi, Fatin Shidqia Lubis, Hanum Salsabiela Rais Music by Joseph S. Djafar Cinematography by Enggar Budiono Editing by Ryan Purwoko Studio Maxima Pictures Running time 105 minutes Country Indonesia Language Indonesian

5 thoughts on “Review: 99 Cahaya di Langit Eropa (2013)”

  1. Film terbaik dari sisi pencerahan. Klo mau lihat film hanya mau nonton teknis, cara penyampaian yang semuanya tangible, alias terukur, maka bukan film spt ini. Bagi kritikus film, disagreeableness level untuk film ini pasti sgt tinggi. Namanya juga kritikus film. Film yang bagus bagi kritikus film, adalah film comberan spt ”What the fuck the talk about when they fuck talk about love”, yg saya nonton itu, gara garanya ga dpt tiket Iron Man, trus kepaksa menerima dgn berattt hati pilihan istri, secara udah sampai mall dan sungguh itu adalah penyesalan hidup yang tak pernah bisa saya garisi kepedihannya. Mending sy waktu itu nonton film porno sekalian sama istri, cari donlotan di internet, gratis, gausa beli popkorn yang mahalnya ampe bikin mobil saya yang sudah jelek bertambah jerawatnya, dan tentu bisa langsung praktek.

    Film yang dianggap terbaik bagi kritikus film itu hanya saya lihat 23 menit saudara. Ingat, 23 menit yang yang menyengsarakan hidup seperti 1000 tahun. Direview pun tak layak, dpt bintang 1 pun tak mampu diraih, kalaupun ada, katrol nya sampek jebol baru dpt 1 star. Begitu keluar studio, saya muntah. Sekali lagi saudara, saya muntah-muntah. Sementara istri saya cirit birit selama seminggu. Melihat film nicholas saputra dan perempuan yg entah sy tidak tahu, yang saya tahu hanya aktingnya begitu menjijikkan, itu seperti meminum comberan dari selokan rumah saya. Apakah ini berarti para kritikus film adalah peminum comberan sejati daripada peminum arak sejati? 50 Ribu rupiah melayang, tapi saya ikhlas, mungkin untuk mendapatkan film 99 Cahaya di Langit Eropa tahun ini, yang begitu sendu tapi mengharukan luar biasa, begitu membanggakan dan mencerahkan, mungkin memang jalan saya dan istri saya untuk muntah muntah darah, plus bonus kecirit birit dahulu 8 bulan lalu. Terimakasih.

    1. @Ferro Darmawan:
      Mas, kalo ngomong tuh rapih dan tertata dong🙂
      Sama aja kaya penulis skenario di film 99 Cahaya di Langit Eropa ini, ga ada rapih-rapihnya dalam memperkenalkan dan menyelesaikan konflik.

      Review ini sangat objektif menurut saya, karena memang banyak penonton yang kecewa akan film ini. Film ini lebih seperti dokumenter NatGeoAdventure episode Islam on Europe, bukan film yang bercerita. Film memang harus memberi pesan. Tapi pesan yang disampaikan terlalu eksplisit dan klise, dan tanpa ada cerita…? itu bukan film namanya, itu namanya dakwah.

      Kalo mau objektif, sutradara dan penulis skenario memang terlalu lambat dan seringkali kehilangan fokus saat ada konflik yang sebenernya menarik untuk didalami. Contohnya konflik dimana ada artikel di koran tentang orang yang sholat di gereja, konflik itu sebenernya menarik, tapi sutradara memilih untuk menyajikannya sesaat (ga sampai 5 menit) dan seolah menjadi bumbu tanpa penyelesaian yang jelas. Atau bagaimana sutradara menyajikan “kejemuan” Acha Septriasa dengan sebuah narasi. “Show don’t tell” itu aturan yang sangat umum di dunia perfilman, dan Guntur Soeharjanto bahkan gagal mengaplikasikan hal ini. Kematian Aisya (atau siapapun anak kecil itu) yang klise, bagaimana kanker itu menyerang tak pernah diceritakan. Hanya agar terdapat ‘twist’ yang mengharukan (walaupun gagal) dibuatlah kanker itu tak pernah terlihat gejalanya (kecuali mimisan yang notabene mimisan pun bukan tanda kanker). Rambut (panjang) yang rontok padahal sebelumnya menjalani kemoterapi dan dipotong habis.

      Saya bukan kritikus film, saya hanya mahasiswa teknik yang gemar menonton film. Dan jujur bahkan untuk level saya pun saya akan mengatakan pengembangan karakter, cerita dan konflik film ini sangat buruk. Jadi jangan salahkan kritikus film apabila mereka mengkritik film ini dengan kritikan yang cukup tajam.
      Just be objective Mr. Ferro Darmawan, ini bukan masalah apakah film ini menyajikan pencerahan atau tidak. Ini masalah FILM, dan FILM tak hanya dinilai dari apa nilai yang diberikannya, namun juga bagaimana menyajikan dan mengemas nilai nilai itu.

      Makasih kalo udah

  2. Saya barusan nonton film ini. Menurut saya secara visual bagus banget yah, seolah-olah memang mengajak kita untuk explore Eropa dan segala keindahannya dan kaitannya dengan sejarah Islam.
    Namun, kesan yang saya tangkap film ini maunya dakwah, ga diperlihatkan jalinan antara cerita si tokoh dengan perkembangan sejarah islam di eropa itu, benang merahnya ada tapi tipiiiis dan ga greget. Jadi sorry to say, hambar.
    Tapi burhubung saya ini jaraang nonton film Indonesia, setahu saya kok ya mayoritas film Indonesia yang tayang di bioskop menawarkan horor yang seksi atau seksi yang horor dengan kualitas akting yang bodoh, jadi menurut saya film ini ibarat oase yang menyegarkan, tp memang bisa dikemas dengan lebih baik lagi seharusnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s