Review: Apartment 1303 (2013)


apartment-1303-header

Kesuksesan besar The Ring (2002) baik secara kritikal maupun komersial tidak dapat disangkal telah menjadi langkah awal bagi banyak produser film Hollywood untuk mencoba peruntungan mereka dalam mengadaptasi film-film horor buatan Jepang – dan Asia. Sayangnya, selepas The Ring, tidak ada lagi remake film horor Asia yang mampu meraih kesuksesan kritikal dan komersial di saat yang bersamaan. Beberapa diantaranya bahkan mendapat predikat sebagai film-film dengan kualitas terburuk yang pernah diproduksi Hollywood. Well… sayangnya, Apartment 1303, yang diadaptasi dari film horor Jepang berjudul sama, sepertinya juga akan menambah panjang daftar film-film horor remake berkualitas buruk tersebut. Naskah yang buruk. Akting yang buruk. Pengarahan yang buruk. Apartment 1303 is simply a mess.

Apartment 1303 sendiri memulai kisahnya ketika Janet Slate (Julianne Michelle) memutuskan untuk pindah dari rumah yang selama ini ia tempati bersama ibu, Maddie (Rebecca De Mornay), dan kakaknya, Lara (Mischa Barton), akibat semakin memburuknya hubungan antara dirinya dengan sang ibu yang merupakan seorang alkoholik. Janet kemudian pindah ke apartemen 1303 yang terletak di pinggiran kota Detroit, Michigan, Amerika Serikat. Awalnya, Janet begitu menikmati kehidupan di apartemen barunya tersebut. Namun, secara perlahan, Janet mulai merasakan adanya sosok lain berada di apartemen tersebut dan berusaha untuk mengganggu kehidupannya. Gangguan-gangguan tersebut berakhir tragis. Beberapa hari setelah kepindahannya, Janet ditemukan tewas secara mengenaskan akibat terjatuh dari balkon apartemen.

Maddie dan Lara jelas merasa kaget dengan tewasnya Janet, khususnya Lara yang memiliki hubungan begitu dekat dengan adiknya. Lara sendiri tidak mempercayai laporan pihak kepolisian yang memutuskan bahwa kematian Janet terjadi akibat tindakan bunuh diri. Lara lantas memilih untuk melakukan investigasi tersendiri atas kematian sang adik. Dengan bantuan kekasih Janet yang juga merupakan seorang polisi, Mark Taylor (Corey Sevier), Lara menemukan bahwa para penghuni apartemen 1303 sebelumnya juga ditemukan tewas dengan cara terjatuh dari balkon apartemen tersebut. Seiring dengan penemuannya tersebut, Lara mulai turut mengalami berbagai gangguan yang dahulu pernah dialami Janet. Meskipun begitu, Lara menolak untuk menyerah dan terus berusaha untuk menemukan penyebab sebenarnya dari kematian Janet.

Versi asli dari Apartment 1303 yang diarahkan oleh Ataru Oikawa sendiri bukanlah tergolong sebuah film horor yang sukses baik secara kritikal maupun komersial ketika dirilis di Jepang pada tahun 2007. Jelas mengherankan untuk melihat Hollywood mau bersusah payah untuk mengadaptasi sebuah materi yang jelas tergolong lemah. Naskah cerita adaptasi yang diolah sutradara Michael Taverna juga sama sekali tidak menunjukkan perbaikan yang berarti. Taverna hanya mampu mengisi jalan penceritaan Apartment 1303 dengan konflik-konflik klise yang biasa ditemukan dalam film horor Hollywood. Sama sekali tidak menarik dan jauh dari kesan mampu untuk menakuti para penontonnya. Arahan Taverna juga semakin memperburuk penampilan film ini. Apartment 1303 seringkali hadir dengan inkonsistensi penceritaan di banyak bagiannya serta alur penceritaan yang terlalu kacau untuk dapat diikuti dengan baik.

Yang paling menggelikan dari Apartment 1303 adalah bagaimana kemampuan akting para jajaran pengisi departemen akting film ini. Sangat menyedihkan! Lihat bagaimana Julianne Michelle yang tampil dalam ekspresi wajah dan suara yang sama di sepanjang kehadiran kaakternya di film ini. Begitu datar. Juga Mischa Barton yang tampak begitu kesulitan untuk dapat menjiwai karakternya. Penampilan Barton dalam Apartment 1303 terlihat seperti seseorang yang dipaksa untuk melakukan sesuatu hal yang sama sekali ia tidak sukai. Meskipun tidak istimewa, penampilan Rebecca De Mornay dan Corey Sevier setidaknya tidak terlihat seburuk penampilan Michelle dan Sevier. Khusus untuk De Mornay – yang terakhir kali tampil lewat film Mother’s Day (2010) yang cukup memuaskan, jelas adalah cukup menyedihkan untuk melihat aktris senior yang dulu dikenal begitu bertalenta ini kini terjebak dalam film-film berkualitas sejenis Apartment 1303. De Mornay memiliki kemampuan lebih baik dari apa yang dapa diberikan film ini.

Soyahhh… tambahkan Apartment 1303 ke dalam daftar panjang remake film-film horor Jepang buatan Hollywood yang berkualitas buruk. Tidak hanya Apartment 1303 memiliki jalan penceritaan yang terkesan sebagai rangkuman dari berbagai konflik klise yang sering Anda temui dalam film-film horor produksi Hollywood, namun film ini juga mendapatkan eksekusi yang sangat lemah dari sutradaranya, Michael Taverna. Eksekusi lemah itulah yang kemudian membuat ritme penceritaan Apartment 1303 tampil begitu kacau sekaligus para jajaran pemerannya hadir dengan kemampuan akting yang cukup memalukan. Dengan mudah akan menjadi salah satu film horor terburuk yang pernah disaksikan setiap penontonnya.

popcornpopcorn2popcorn2popcorn2popcorn2

Apartment 1303 (1303 Productions/Fullum Films Studios/Monte Cristo Entertainment/MonteCristo Pictures/Storm Pictures, 2013)
Apartment 1303 (1303 Productions/Fullum Films Studios/Monte Cristo Entertainment/MonteCristo Pictures/Storm Pictures, 2013)

Apartment 1303 (Horror, 2013)

Directed by Michael Taverna Produced by Cindy Nelson-Mullen, Michael Taverna Written by Michael Taverna (screenplay), Kei Ôishi (novelApartment 1303Starring Mischa Barton, Rebecca De Mornay, Julianne Michelle, Corey Sevier, John Diehl, Gordon Masten, Madison McAleer, Kathleen Mackey, Katherine Cleland Music by Davy Bernagoult, Yoann Bernagoult, John Lissauer Cinematography Paul M. Sommers Editing by Edward Brizio, Roberto Silvi Studio 1303 Productions/Fullum Films Studios/Monte Cristo Entertainment/MonteCristo Pictures/Storm Pictures Running time 101 minutes Country United States Language English

Advertisements

3 thoughts on “Review: Apartment 1303 (2013)”

  1. nyesel banget gw nonton tuh pelem, udah isinya ga jelas, isinya tuh ga saling berkaitan, endingnya pun gantung, ckckck, ilang 30 rebu gw, wkwkwk, film terburuk yang pernah gw tonton, masih bagusan wiro sableng dah haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s