noah-awal-semula-header

Penggunaan film sebagai media promosi bagi para musisi jelas bukanlah sebuah hal yang baru di industri hiburan Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir saja, penonton film Indonesia telah menyaksikan banyak film yang naskah ceritanya dibuat berdasarkan inspirasi sebuah lirik lagu popular atau malah menyaksikan sendiri sang musisi atau para personel sebuah kelompok musik tampil berakting dalam sebuah film – dengan cerita yang biasanya berhubungan dengan karir sang musisi atau kelompok musik tersebut. Langkah tersebut jelas jauh berbeda dengan langkah yang diambil oleh banyak musisi maupun kelompok musik dunia seperti Céline Dion, Katy Perry, Justin Bieber maupun One Direction yang lebih memilih untuk menggunakan film dokumenter untuk mengenalkan kehidupan pribadi maupun karya musik terbaru mereka kepada kalangan penonton film. Dan harus diakui, tata penuturan film dokumenter yang lebih intim memang jauh lebih berhasil untuk digunakan sebagai media promosi pribadi seorang musisi maupun sebuah kelompok musik daripada jika harus memaksa mereka untuk tampil berakting dalam sebuah film.

“Kesalahan” itulah yang sepertinya tidak ingin diulang kembali oleh salah satu kelompok musik terbesar – jika Anda masih enggan menyebut mereka sebagai yang terbesar – di industri musik Indonesia saat ini. Daripada memaksa diri mereka untuk tampil berakting, NOAH memilih untuk menggandeng sutradara Putrama Tuta (Catatan Harian Si Boy, 2011) dan menyelami kembali perjalanan karir mereka dari awal kelompok musik ini terbentuk sebagai Peterpan, mengalami pergantian personel, berbagai konflik internal dan eksternal yang mendera hingga akhirnya mampu bangkit kembali sebagai NOAH. Sebuah perjalanan panjang, tentu saja. Namun mampukah Putrama Tuta merangkumnya menjadi sebuah presentasi dokumenter yang efektif?

NOAH: Awal Semula sendiri dibuka dengan narasi berbentuk tulisan yang menyebutkan awal mula terbentuknya NOAH pada tahun 1997, perjuangan mereka untuk mendapat rekognisi dari para penikmat musik Indonesia (dan dunia) hingga akhirnya berhasil menjual jutaan keping album dan memenangkan puluhan penghargaan musik baik dari dalam maupun luar negeri. NOAH – yang saat itu masih bernama Peterpan – mulai menemui tantangan bermusiknya ketika dua anggota mereka, Hendra Suhendra dan Andika Wirahardja, keluar akibat perbedaan visi dengan para anggota Peterpan lainnya. Empat personel Peterpan lain yang tersisa, Nazril Irham, Mohammad Kautsar Hikmat, Loekman Hakim dan Ilsyah Ryan Reza mau tidak mau akhirnya memutuskan untuk melanjutkan bermusik namun dengan menggunakan nama yang berbeda.

Sial, dua minggu sebelum nama Peterpan resmi dinonaktifkan dan nama baru mereka akan dimumkan ke publik, vokalis kelompok musik ini, Nazril Irham – atau yang lebih popular dengan sebutan Ariel, tersandung masalah hukum yang mengharuskannya mendekam di penjara selama tiga tahun. Ketiadaan seorang vokalis jelas memberikan pengaruh yang besar bagi sebuah kelompok musik. Meskipun begitu, ketiga personel Peterpan yang tersisa tetap berusaha untuk bertahan di dunia musik sambil menunggu selesainya masa hukuman Ariel. Sebuah penantian yang tidak sia-sia. Setelah Ariel selesai menjalani masa hukumannya, keempat personel dari kelompok yang dahulu bernama Peterpan tersebut, ditambah dengan seorang personel baru bernama David Kurnia Albert, mulai merintis kembali karir mereka di dunia musik dengan nama NOAH… dan berhasil muncul bahkan dengan kekuatan yang lebih solid dari sebelumnya.

Dengan durasi yang hanya mencapai 74 menit, harus diakui bahwa Putrama Tuta cukup lihai untuk merangkum segala intrik yang terjadi di tubuh kelompok musik NOAH di sepanjang perjalanan karir mereka yang telah berusia lebih dari satu dekade. Putrama Tuta juga tidak menyia-nyiakan akses luas yang diberikan kelompok musik ini kepada dirinya untuk mewawancarai langsung para personel NOAH serta dua mantan personel Peterpan dan mencari tahu langsung mengenai apa yang sebenarnya terjadi di balik perpecahan kelompok musik tersebut. Cukup informatif meskipun harus diakui kurang begitu tergali secara mendalam. Banyak informasi yang diberikan dalam NOAH: Awal Semula telah banyak diekspos sebelumnya sehingga hanya terasa sebagai kompilasi sekaligus penjelasan dari berbagai cerita lama – bahkan bagi mereka yang bukan penggemar berat kelompok musik ini.

Satu hal yang sangat mengganggu dalam NOAH: Awal Semula adalah ketidakmampuan Putrama Tuta untuk mengalirkan berbagai intrik yang ada dalam kelompok musik tersebut dengan sempurna. Pada kebanyakan bagian, Putrama Tuta sepertinya hanya mengumpulkan berbagai kisah para personel NOAH secara acak dan lantas menyatukannya begitu saja. Berbagai kisah, intrik dan kejadian datang dan menghilang begitu saja dalam presentasi film ini. Kurang jelasnya informasi mengenai waktu terjadinya berbagai kisah tersebut juga membuat NOAH: Awal Semula menjadi cukup membingungkan. Hasilnya, NOAH: Awal Semula terkesan hanya merekam dan memberitahu tanpa pernah sekalipun berkeinginan untuk penonton mampu merasakan gejolak emosi yang terjadi di dalam penceritaan film ini.

Untuk mereka yang merasa ingin bernostalgia dengan menikmati berbagai kisah mengenai perjuangan kelompok musik asal Bandung, Jawa Barat, ini, NOAH: Awal Semula menampilkan cukup banyak informasi untuk dinikmati penontonnya. Meskipun begitu, sebagai sebuah dokumenter, NOAH: Awal Semula terasa begitu dangkal dalam menggali kisah-kisah yang terdapat di dalam tubuh kelompok musik tersebut. Berbagai kisah yang disajikan terkesan hanya tampil begitu saja tanpa pernah mendapatkan penggalian yang lebih dalam. Putrama Tuta juga kurang mampu untuk merangkum kisah-kisah tersebut dan menyajikannya dalam satu aliran kisah yang mampu berjalan dengan senada. Sebagai sebuah dokumenter musik yang masih jarang ditemukan di industri film Indonesia modern, NOAH: Awal Semula jelas patut untuk dirayakan. Namun lebih dari itu… NOAH: Awal Semula lebih terlihat sebagai sebuah strategi pemasaran kelompok musik ini daripada sebagai sebuah penggalian lebih dalam mengenai siapa kelompok musik ini sebenarnya.

popcornpopcorn popcorn3 popcorn2popcorn2

NOAH: Awal Semula (700 Pictures/Berlian Entertainment/Musica Studio’s, 2013)

NOAH: Awal Semula (700 Pictures/Berlian Entertainment/Musica Studio’s, 2013)

NOAH: Awal Semula (Documentary | Music, 2013)

Directed by Putrama Tuta Produced by Putrama Tuta Written by Putrama Tuta (screenplay), Putrama Tuta (story) Starring Nazril Irham, Mohammad Kautsar Hikmat, Ilsyah Ryan Reza, Loekman Hakim, David Kurnia Albert, Hendra Suhendra, Andika Wirahardja Music by Aghi Narottama Editing by Cesa David Luckmansyah, Aline Jusria, Faesal Rizal Studio 700 Pictures/Berlian Entertainment/Musica Studio’s Running time 74 minutes Country Indonesia Language Indonesian

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s