Review: Emergo (2012)


emergo-header

Mudah-mudahan Anda masih belum merasa lelah dengan premis berikut: sekelompok orang melakukan dokumentasi atas berbagai aktivitas supranatural yang terjadi di sebuah rumah dengan menggunakan perlengkapan kamera yang diletakkan di beberapa sudut rumah tersebut. Familiar? Yep. Emergo, atau yang di beberapa negara dirilis dengan judul Apartment 143, adalah sebuah film horor yang memanfaatkan teknik penceritaan found footage seperti yang dipopulerkan kembali oleh Paranormal Activity (2007) dan kemudian diadaptasi oleh (sangat) banyak film horor lainnya. Penggunaan formula penceritaan yang kembali berulang dalam sebuah film tentu saja bukanlah sebuah masalah besar. Namun, ketika formula familiar tersebut dihadirkan dalam eksekusi yang dangkal, jelas akan membuat presentasi sebuah film, khususnya film horor, terasa monoton dan kehilangan daya tariknya. Emergo, sayangnya, hadir dengan kesalahan tersebut.

Emergo berkisah mengenai Alan White (Kai Lennox) yang merasa bahwa ia dan kedua anaknya, Caitlin (Gia Mantegna) dan Benny (Damian Roman), berada dalam ancaman teror dari arwah almarhumah istrinya, Cynthia (Laura Martuscelli), yang meninggal karena sebuah penyakit beberapa waktu yang lalu. Gangguan supranatural tersebut secara perlahan mulai mempengaruhi kehidupan Alan dan kedua anaknya. Alan kini telah kehilangan pekerjaannya dan hubungan pribadinya dengan Caitlin juga terus memburuk. Keputusan Alan untuk membawa kedua anaknya pindah dari rumah yang telah mereka tempati selama bertahun-tahun juga tidak berpengaruh banyak ketika gangguan supranatural dari arwah Cynthia terus mengikuti mereka ke apartemen yang mereka tempati sekarang.

Merasa bahwa keluarganya membutuhkan bantuan profesional untuk mengatasi berbagai masalah tersebut, Alan lantas menghubungi sekelompok ahli parapsikologi – ilmu yang mempelajari berbagai fenomena psikologi yang tidak dapat dijelaskan keberadaannya oleh sains – yang dipimpin oleh Dr. Helzer (Michael O’Keefe) untuk menolongnya. Bersama dengan dua orang asistennya, Ellen Keegan (Fiona Glascott) dan Paul Ortega (Rick Gonzalez), Dr. Helzer memulai penelitiannya untuk menyelidiki berbagai fenomena supranatural yang terjadi di apartemen yang didiami Alex dan kedua anaknya. Secara perlahan, Dr. Helzer mulai mendapatkan berbagai petunjuk yang sekaligus membuka sejarah kelam dari keluarga yang dibina Alan.

Seperti yang dihadirkannya dalam Red Lights (2012), Rodrigo Cortés mencoba untuk menyajikan jalan cerita yang mengkonfrontir sebuah fenomena supranatural dengan penjelasan sains. Jika dibandingkan dengan kebanyakan film horor sejenis, pendekatan yang diberikan Cortés – yang juga menjadi produser sekaligus editor bagi film ini – jelas terasa cukup segar. Sayangnya, potensi cerita menarik yang digarap Cortés untuk Emergo tidak pernah benar-benar mampu berkembang dengan baik di sepanjang 80 menit presentasi film ini. Deretan konflik dan karakter yang hadir dalam jalan cerita gagal untuk tergali dan membuat Emergo berjalan monoton. Pendekatan sains yang dihadirkan oleh Cortés juga cenderung membingungkan daripada memberikan penonton sebuah cara pandang yang baru. Hasilnya, tidak hanya Emergo gagal untuk menakuti penontonnya, film ini juga tidak mampu menghadirkan daya tarik yang kuat dalam jalan ceritanya.

Kelemahan yang terdapat dalam naskah cerita Emergo juga mendapatkan eksekusi yang lemah dari sutradara Carles Torrens. Pemilihan Torrens untuk menghadirkan jalan cerita Emergo dengan ritme penceritaan yang terlalu lamban membuat film ini kehilangan begitu banyak sentuhan emosionalnya. Penggunaan kamera yang menghasilkan gambar-gambar dari berbagai sudut apartemen juga kurang mampu membentuk atmosfer horor yang mencekam. Dan tidak dapat disangkal, penggalian karakter yang kurang mendalam dalam naskah cerita Emergo membuat jajaran pemeran film ini tidak mampu mengembangkan karakter yang mereka perankan dengan lebih baik – meskipun penampilan Gia Mantegna masih cukup mampu mencuri perhatian.

Terlepas dari pendekatan yang cukup menyegarkan atas formula cerita yang semakin lama telah terasa semakin menjemukan, Emergo sayangnya gagal untuk dieksekusi untuk menjadi sebuah sajian horor yang memuaskan. Carles Torrens memang masih mampu menghadirkan beberapa adegan yang akan cukup mampu memberikan kejutan pada penontonnya. Namun, naskah arahan Rodrigo Cortés gagal untuk tampil cemerlang dalam menggali setiap elemen penceritaannya, mulai dari konflik hingga deretan karakter yang dihadirkan, yang kemudian menyebabkan film ini terasa begitu dangkal. Berjalan monoton dengan tanpa kemampuan bercerita yang kuat, Emergo bukanlah sebuah presentasi akhir yang benar-benar buruk… namun jelas masih sangat jauh dari memuaskan.

popcornpopcorn popcorn3 popcorn2popcorn2

Emergo ( Nostromo Pictures/Kinology, 2012)
Emergo (Nostromo Pictures/Kinology, 2012)

Emergo (2012)

Directed by Carles Torrens Produced by Rodrigo Cortés, Adrián Guerra Written by Rodrigo Cortés Starring Kai Lennox, Gia Mantegna, Fiona Glascott, Francesc Garrido, Rick Gonzalez, Michael O’Keefe, Damian Roman, Laura Martuscelli, Fermí Reixach Music by Victor Reyes Cinematography Óscar Durán Editing by Rodrigo Cortés, José Tito Studio Nostromo Pictures/Kinology Running time 80 minutes Country Spain Language English

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s